PLB  E-Commerce Dorong UMKM Tembus Pasar Ekspor

Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mendapat kesempatan mengembangkan pasar ekspor. PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) dan PT Sarinah (Persero) ditunjuk sebagai fasilitator yang akan mengumpulkan semua produk yang siap diekspor, termasuk produk milik IKM. Tangkap peluang itu!

Boleh jadi sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) belum didorong maksimal untuk meningkatkan ekspor nasional. Saat itu,  dari total jumlah 62 juta UMKM di Indonesia, ditengarai baru 14% UMKM yang melakukan ekspor. Artinya masih banyak potensi di sektor ini yang dapat dieksploitasi supaya dapat melakukan penetrasi pasar ekspor.

Direktorat Jenderal Bea Cukai Jakarta meresmikan Pusat Logistik Berikat e-commerce (PLB-e) di Marunda Center Jakarta Utara yang dioperasikan oleh PT Uniair Indotama Cargo. “Layanan PLB-e ini merupakan pertama kalinya di Indonesia sebagai antisipasi maraknya pertumbuhan bisnis e-commerce (perdagangan elektronik),” kata Kepala Kantor Wilayah Bea dan Cukai DKI Jakarta, Decy Arifinsjah di Jakarta, 9/8.

Direktur Fasilitasi Kepabeanan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan, Oentarto Wibowo berharap layanan ini membuat kegiatan niaga daring lintas batas di Indonesia semakin berkembang. “Keberadaan PLB e-commerce pasti akan berdampak pada peningkatan dari sisi penerimaan bea masuk dan pajak, karena adanya transparansi barang-barang yang diimpor ke Indonesia baik dari sisi jumlah, jenis, dan, juga harga. Karena itu pada akhirnya, keberadaan PLB e-commerce ini akan mampu menaikkan dasar penerapan pajak,” papar Oentarto, sebagaimana dikutip dari republika.co.id.

PLB e-commerce akan menjadi saluran bagi masuknya barang-barang impor yang dijual melalui platform niaga daring secara legal. Sistem perdagangan niaga daring, sudah tidak bisa lagi dibendung. Diduga kuat produk yang dijual melalui e-commerce, masuk ke Indonesia dengan sistem impor borongan.

Hadirnya PLB e-commerce  tidak semata-mata bertujuan menarik barang-barang impor yang akan diperjualbelikan pada platform niaga daring, tapi juga mendorong ekspor produk-poduk produk Industri Kecil dan Menengah (IKM) Indonesia.

Tak urung pemerintah menugaskan dua BUMN yakni PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) dan PT Sarinah (Persero) sebagai fasilitator yang akan mengumpulkan semua produk yang siap diekspor, termasuk produk milik IKM. Mekanisme yang dijalankan dengan memanfaatkan Pusat Logistik Berikat (PLB) e-commerce (niaga elektronik) sebagai sarana membantu proses ekspor produk UMKM. PLB e-commerce.

Kehadiran PLB E-commerce membantu UMKM menembus pasar ekspor/foto: ist

“Produk UMKM Indonesia yang berkualitas dan beragam harus didorong terus agar menembus pasar global dan mampu bersaing dengan produk-produk negara lain. Salah satu strategi yang dilakukan adalah melalui pemanfaatan PLB e-commerce selain perdagangan yang konvensional,” tegas Menteri Perdagangan Agus Suparmanto saat meresmikan ekspor perdana produk UMKM melalui PLB e-commerce di Pusat Pergudangan Marunda Center, Bekasi, Jawa Barat, pada 19/12.

Acara ini dihadiri Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki. Selain itu, hadir pula Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi, Dewan Pengawas Koperasi NU Circle Nusantara Lily Wahid, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Benny Soetrisno, serta Ketua Komite Tetap Pengembangan Ekspor Kadin Handito Joewono.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Oktober 2019 lalu (kini mantan Menteri Perdagangan) mengatakan,  untuk dapat mengendalikan maraknya peredaran produk-produk impor yang membanjiri Indonesia, pemerintah mendorong pengusaha impor dan ekspor untuk memanfaatkan Pusat Logistik Berikat (PLB) e-commerce. Selama ini produk yang dijual oleh pengusaha yang bergerak di bidang perdagangan online (daring) adalah produk-produk asing.

“Untuk dapat mengendalikan peredaran produk-produk tersebut yang kebanyakan adalah produk impor, kami mendorong supaya produk yang sudah ber-SNI wajib agar memenuhi ketentuan tersebut, termasuk juga dilakukan kontrol terhadap aspek kesehatan dan pengendalian produk yang ada di bawah Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM),” jelas Enggar dalam keterangannya, 9/10/2019, sebagaimana dikutip kompas.com.

“Keberadaan PLB e-commerce diharapkan dapat meningkatkan peran UMKM dalam menembus pasar internasional tanpa harus dipusingkan dengan masalah pemasaran dan proses pengiriman barang yang selama ini menjadi kendala utama,” jelas Agus Suparmanto, sebagaimana yang dimuat pelakubinis.com, 19 Desember lalu.

Menurut Agus, dengan adanya fasilitas bantuan pemasaran melalui PLB e-commerce, UMKM akan dapat fokus pada pengusahaan modal, sistem produksi, dan distribusi. Para UMKM berorientasi ekspor juga dapat memanfaatkan PLB e-commerce untuk memenuhi kebutuhan bahan baku melalui fasilitas KITE (Kemudahan Impor Tujuan Ekspor).

Selain itu, fasilitas pergudangan yang tersedia juga dapat memangkas waktu pesanan karena importir dan pemilik barang tidak perlu menunggu lama untuk memasukan barang ke Indonesia. PLB e-commerce juga dapat berfungsi sebagai hub wilayah untuk pasokan barang ke negara tetangga dan dengan menerapkan sistem mempermudah arus kas, UMKM menjadi lebih mudah dalam mengelola keuangan.

Agus menambahkan, PLB e-commerce memberikan peluang  lebih luas bagi kegiatan ekspor UMKM dan dapat memicu tumbuhnya industri jasa penunjang lainnya seperti jasa logistik, transportasi, dan kegiatan ekonomi berbasis elektronik lainnya. PLB e-commerce secara langsung akan berdampak pada transparansi barang-barang yang diekspor maupun diimpor, baik dari sisi jumlah, jenis, dan harga.

“Bagi pemerintah, hal ini sangat membantu dalam menyiapkan kebijakan dan program pengembangan UMKM berorientasi ekspor, sekaligus mengendalikan dan menekan impor barang ilegal. Nantinya, hal ini akan membantu pemerintah dalam meningkatkan iklim usaha yang kondusif bagi pelaku usaha nasional,” terang Mendag.

Kemendag telah memfasilitasi kegiatan ekspor dan impor melalui kemudahan pengurusan dokumen dengan layanan berbasis elektronik. Selain itu, mempermudah UMKM berorientasi ekspor dari sisi pembiayaan dan pembayaran kegiatan ekspornya dengan melibatkan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).

“Diharapkan kolaborasi dan kerjasama pemerintah dan pengelola PLB e-commerce ini dapat meningkatkan kinerja ekspor UMKM nasional,” pungkas Mendag.

Sementara itu, Menteri Teten Masduki.  mengemukakan, target kontribusi ekspor UMKM di tahun 2024 akan mencapai lebih dari 30 persen. Saat ini, kontribusi ekspor usaha mikro dan UMKM sebesar 14,17 persen dan 60,34 persen dari total PDB nasional.

“Adanya PLB e-commerce ini merupakan salah satu upaya penguatan eksistensi produk lokal di pasar internasional, menumbuhkan eksportir skala kecil baru, sekaligus dapat dimanfaatkan untuk memperkuat produksi dalam negeri dengan mengakomodasi bahan baku impor,” imbuh Menteri Teten.

Presiden Direktur PT Uniair Indotama Cargo (UIC) Lisa Juliawati menambahkan, PLB e-commerce merupakan kendaraan logistik bagi UMKM dari seluruh Indonesia untuk membantu mengekspor produknya, melalui sistem perdagangan elektronik.

Lisa mengungkapkan, ada beberapa keuntungan UMKM yang melakukan ekspor produknya melalui PLB e-commerce. Di antaranya, produk UMKM akan dikenal lebih luas karena masuk dalam katalog perusahaan marketplace di luar negeri. Berikutnya, produk UMKM yang lolos kurasi dari perusahaan penilai di Indonesia, akan memperoleh kemudahan dalam pengurusan prosedur ekspor dan kepabeanan produk-produknya karena secara kolektif akan difasilitasi oleh PT Uniair Indotama Cargo.

PT UIC merupakan perusahaan pertama di Indonesia yang mendapatkan izin penyelenggaraan PLB e-commerce Tujuan Ekspor dari Bea Cukai pada 28 Maret 2019 lalu dalam rangka mendorong ekspor produk-produk UKM di Indonesia.

“Produk IKM tidak hanya didorong dalam ekspor tetapi juga akan dibantu untuk dipasarkan melalui marketplace di China yaitu Taobao dan Kaola pada Februari 2020. Kehadiran PLB e-commerce ekspor merupakan bagian dari PLB generasi II,” kata Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi, sebagaimana dikutip dari sindonews.com.

Keunggulan keberadaan PLB e-commerce ekspor sebagai penyaluran/kanalisasi adalah adanya kewajiban menyediakan alokasi tempat dan/atau pengusahaan untuk IKM/UKM paling banyak 15% dari total luas penyelenggaraan PLB serta kewajiban menampilkan barang-barang tersebut pada platform e-commerce, yang tentunya hal ini sangat membantu IKM/UKM dalam mempromosikan produknya.

“PLB e-commerce ekspor akan memberikan dampak positif bagi perdagangan di Indonesia antara lain database yang akurat, media promosi IKM/UKM, dan membantu IKM/UKM dengan mengkonsolidasikan barang yang akan diekspor,” jelasnya.

Keberadaan  PLB e-commerce ini  bertujuan mensejajarkan posisi daya saing Indonesia di mata dunia internasional. Selain itu, agar para pengusaha dan produsen IKM di Indonesia yang memiliki produk berkualitas dan setara standar ekspor, lebih banyak lagi yang memanfaatkan platform e-commerce, baik di dalam negeri, maupun ke pasar tujuan ekspor.[] Yuniman Taqwa