Produksi Minyak 1 Juta Barrel Bukan Mimpi

Meski kejayaan sektor minyak bumi Indonesia mulai berakhir, tapi masih ada optimisme sektor ini bisa ditingkatkan produksinya. SKK Migas canangkan target produksi 1 juta barrel per hari pada 2030. Bagaimana Strateginya?

Dalam berbagai kesempatan Presiden Joko Widodo mengatakan,  kejayaan sektor minyak nasional sudah selesai. Beliau menekankan pentingnya pembangunan SDM untuk mengandalkan teknologi di ekonomi mendatang. Namun demikian, di sisi lain, Indonesia masih punya mimpi untuk memproduksi minyak 1 juta barrel sehari.

Apakah harapan itu bukan “mimpi di siang bolong?” Pertanyaan ini seakan bernada pesimis! Pasalnya, secara nasional pun produk minyak kita terus tergerus, karena produk minyak kita 80% berasal dari lapangan-lapangan tua (area mature) yang secara alami produksinya mulai menurun.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto dalam acara Pembukaan Joint Convention Yogyakarta 2019 (JCY 2019), di Hotel Tentrem, Kota Yogyakarta, 26 November lalu mengatakan, dalam beberapa tahun ke belakang, capaian produksi dan lifting di Indonesia relatif menurun. Eksplorasi yang masif menjadi salah satu pekerjaan jangka panjang untuk menjaga, atau bahkan meningkatkan produksi migas pada masa mendatang.

Pada tahun 2017, misalnya, produksi minyak kita berada di angka 815.000 barrel/hari. Sementara hingga kuartal III tahun lalu, produksi minyak kita baru mencapai 750.000 barrel. Padahal  target  produksi siap jual minyak APBN 2019 tercatat 775.000 barrel/hari.

Dwi Soetjipto menjelaskan tengah terjadi tren turun lifting minyak. Setelah lifting minyak naik 5% pada 2016, lifting minyak turun sekitar 3-4% per tahun pada 2017-2019. Laju penurunan produksi (decline rate) pada 2017 tercatat sebesar 3,1%, kemudian pada 2018 sebesar 3,3%, dan pada 2019 sebesar 3,1%. Target lifting minyak dalam nota keuangan 2020 yaitu 734 ribu BOPD pun sudah jauh lebih tinggi dari usulan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yaitu 672 ribu BOPD. Untuk bisa mencapai target lifting migas, ia menyatakan KKKS perlu melakukan peningkatan investasi.

Menteri ESDM melakukan kunjungan ke integrated operation center (IOC) dan Cafe GGR SKK Migas/foto doc. SKK Migas

Tahun lalu, target produksi siap jual minyak APBN 2019 tercatat 775.000 barrel per hari, dengan begitu, pemerintah setidaknya perlu mencari tambahan produksi sekitar 225.000 barrel per hari untuk mencapai target lifting 1 juta barrel per hari.

Dengan kata lain, pemerintah wajib menemukan cadangan migas sekaliber Lapangan Banyuurip, Purworejo yang mampu memproduksi 225.000 barrel per hari. Dwi menambahkan akan memberikan penjelasan mengenai target produksi tersebut.

Soetjipto menambahkan, undeveloped resources tidak kalah pentingnya. Sumber daya yang sudah ada, tetapi tidak bisa diproduksi sehingga perlu bersama-sama mencari cara untuk memproduksi potensi yang sudah ada tersebut. Dijelaskannya, saat ini produksi minyak baru 750.000 barrel per hari, dan ditargetkan produksi minyak menyentuh angka 1 juta barrel per hari pada 2030.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menambahkan,  harapan produksi minyak nasional menyentuh 1 juta barel per hari  agar produksi migas nasional kembali Berjaya. Hal itu disampaikan di hadapan para investor migas pada upacara penutupan The 43rd IPA Convex 2019.

Dwi Soetjipto menargetkan produksi minyak Indonesia pada 2030 dapat mencapai satu juta barel per hari..Target tersebut bisa diwujudkan mengingat potensi minyak di Indonesia sangat besar. Dari 128 cekungan migas, belum ada setengahnya yang dieksplorasi.

“Sekarang yang dieksplor baru 54 cekungan, jadi masih ada 74 cekungan,” kata Dwi saat membuka acara Joint Convention Yogyakarta 2019 di Hotel Tentrem Yogyakarta, November lalu, sebagaimana dikutip dari beritasatu.com.

Namun Dwi mengakui untuk meningkatkan produksi dan melakukan eksplorasi terhadap 74 cekungan migas membutuhkan investasi yang tidak sedikit. “Tantangannya memang cukup besar karena kita membutuhkan investor-investor yang mempunyai kekuatan finansial karena ini nafasnya harus panjang,” ujarnya.

“Kami juga butuh banyak investasi untuk mendorong efisiensi, dan mengoptimalkan produksi. Selain itu kami juga berupaya menghadirkan stabilitas investasi. Kami ingin terus membangun komunikasi yang lebih baik,” katanya, sebagaimana dikutip dari bisnis.com.

Investasi hulu migas hingga kuartal tiga 2019 sebesar USD8,4 miliar meningkat 11% dibandingkan dengan investasi di kuartal III 2018 sebesar USD7,6 miliar. SKK Migas  berani memberikan jaminan bahwa investasi hulu migas ke depannya diprediksi terus meningkat mengingat hingga 2027 terdapat 42 proyek utama dengan total investasi USD43,3 miliar dan proyeksi pendapatan kotor (gross revenue) sebesar USD20 miliar, sebagaimana disarikan dari berita bertajuk “Mengejar Target Produksi 1 Juta Barel di 2031”, dikutip dari Indonesia.go.id.

Total produksi dari 42 proyek tersebut 1,1 juta bopd yang mencakup produksi minyak sebesar 92.100 bopd(barrel oil per day) dan gas sebesar 6,1 miliar kaki kubik per hari. Empat di antaranya merupakan proyek strategis nasional (PSN) hulu migas yang menjadi prioritas untuk meningkatkan produksi migas demi memenuhi konsumsi migas domestik yang semakin meningkat.

Dwi Soetjipto menyampaikan lima aspek transformasi SKK Migas untuk mencapai target rencana jangka panjang produksi migas nasional satu juta bopd, yaitu Clear Vision, Smart Organization, One Door Policy, Commercialization dan Digitalization. Rencana jangka panjang produksi migas nasional sendiri merupakan tindak lanjut dari rapat kerja SKK Migas pada 12 Januari 2019.

sekitar 80 persen sumur-sumur produk minyak sudah berusia tua, perlu kegiatan EOR untuk mempertahankan produksi/foto: ist

Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Wisnu Prabawa Taher, dikutip dari Antara, Kamis (19/12/2019) mengatakan,  effort kita harus dobel, menggenjot produksi sekaligus menekan penurunan produksi alamiah sumur-sumur minyak. Untuk mewujudkan target peningkatan produksi minyak tersebut, Wisnu menjabarkan empat strategi yang dijalankan oleh SKK Migas. Pertama, menahan penurunan produksi alami serta mendorong peningkatan produksi.

Caranya, antara lain dengan memaksimalkan kegiatan kerja ulang (work over) dan perawatan sumur, reaktivasi sumur tidak berproduksi,dan inovasi teknologi, serta menjaga keandalan fasilitas produksi.

Strategi kedua adalah mempercepat potensi sumber daya menjadi produksi minyak yang siap jual (lifting). Hal ini dilakukan dengan mengakselerasi monetisasi penemuan yang belum dikembangkan (undeveloped discovery) melalui POD baru atau POP (27 proyek migas), optimalisasi POD yang tertunda, World Class Project Management, dan juga mengelompokkan sumber daya gas, peluang proyek, dan pasar gas.

Ketiga, mendorong penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR) di lapangan tua (mature). “SKK Migas akan mempercepat proyek-proyek EOR di antaranya Field Trial EOR di 2019 meliputi Lapangan Tanjung, Jatibarang, dan Gemah. Juga melakukan strategi aliansi dengan pemain EOR kelas dunia,” katanya.

Kemudian, terakhir strategi eksplorasi yang masif. SKK Migas memiliki Komitmen Kerja Pasti (KKP) sebesar USD 2,1 miliar. Selain itu SKK Migas juga melakukan KKP di Open Area Seismic di akhir Juli 2019.

Melalui kegiatan tersebut, seluruh pemangku kepentingan industri hulu migas diharapkan dapat berbagi pengalaman dan memberikan masukan berbagai metode baru untuk meningkatkan cadangan dan produksi migas nasional.

Forum Eksplorasi dan Produksi (EP) yang digelar di Bandung mulai 9 hingga 11 Desember 2019. Forum tersebut  mempertemukan seluruh pemangku kepentingan industri migas nasional. Dalam pertemuan tersebut, dibahas isu utama kegiatan pencarian, eksploitasi, serta upaya peningkatan cadangan dan produksi nasional.

Pada kesempatan tersebut, Deputi Perencanaan SKK Migas Jaffee Suardin, memaparkan mengenai identifikasi potensi pada masing-masing 4 pilar utama strategi untuk mendukung perkiraan produksi migas nasional jangka panjang dalam rangka mencapai produksi 1 juta bopd di tahun 2031. “Potensi Indonesia masih sangat besar, SKK Migas akan terus berupaya mengajak seluruh investor dan pemangku kepentingan industri hulu migas untuk bekerja sama. SKK Migas siap untuk mengawal investasi yang masuk,” tegasnya, sebagaimana dikutip dari sindonews.com.

Pada diskusi panel, SKK Migas sebagai pengawas dan pengendali kegiatan hulu migas nasional, bersama-sama dengan Pertamina yang akan memegang lebih dari 50% kontribusi produksi nasional, serta Dirjen Migas sebagai perwakilan pemerintah, menyampaikan strategi besar, terobosan, serta business unusual yang akan dilakukan untuk peningkatan cadangan dan produksi untuk mencapai 1 juta bopd. Harapannya, pemerintah dapat mendukung melalui regulasi yang diperlukan untuk mempermudah investasi dan proses-proses dalam peningkatan produksi nasional.

Namun demikian, bila dilihat dari potensi migas di Indonesia masih sangat besar. Masalahnya sejauhmana seluruh stakeholder di industri ini bersinergi sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya, sehingga potensi itu dapat dieksploitasi dan target produksi 1 juta barrel per hari bisa tercapai.[] Yuniman Taqwa/foto ilustrasi utama/Shutterstock