Wajah Baru Ibu Pertiwi

Oleh Yuniman Taqwa Nurdin

Awal tahun ini saya berkesempatan naik kapal ferry dari Terminal Eksekutif Sosoro Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung.  Mulanya tak terbayang dalam fantasi bahwa  pelabuhan penyeberangan eksekutif   itu memberi  nuansa berbeda dibandingkan pelabuhan penyeberangan Merak yang selama ini  saya gunakan.

Di pelabuhan penyeberangan eksekutif bernuansa mall itu  membuat calon penumpang terasa tak berada di pelabuhan penyeberangan.  Di sana tersedia sejumlah kafé dengan aneka pilihan menu, arena bermain anak-anak, kios-kios penjual souvenir dan aneka produk-produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sampai department store. Saya merasa UMKM  disejajarkan dengan brand-brand nasional yang meramaikan ruang tunggu pelabuhan eksekutif itu.

Di ritel modern ini UMKM diberi kesempatan menawarkan produk-produknya. Ada keberpihakan kepada UMKM untuk berusaha di tempat-tempat eksklutif yang selama ini banyak didominasi pemodal besar. Untuk yang satu ini, saya pun acungkan jempol kepada pemerintah yang telah memberi kesempatan itu. Karena kesempatan merupakan “anak tangga” mendaki jenjang usaha yang lebih tinggi.

Saya pun berdecak kagum, Pelabuhan Merak – Bakauheni telah  bertransformasi – lebih manusiawi – dengan memanfaatkan teknologi digital.  Penumpang yang ingin menyeberang harus menggunakan uang elektronik  untuk mendapatkan tiket penyeberangan.  Cukup menempelkan e-money, misalnya, dengan men-scan KTP atau mengisi biodata penumpang, penumpang pun langsung mendapat tiket penyeberangan kapal ferry yang hanya ditempuh dalam waktu satu jam.

Transformasi pembelian tiket tak bermasalah.  Gaptek (gagap teknologi-pen) dapat diedukasi dalam tempo singkat. Petugas  akan membimbing calon penumpang dalam memasuki peradaban digital. Edukasi yang dijalankan petugas berjalan on the track. Dan penumpang pun  merasa puas dengan fasilitas digital yang ditawarkan pelabuhan eksekutif itu.

Semua serba digital. Jadwal kedatangan dan keberangkatan kapal tersaji dalam layar-layar media digital yang dapat diketahui oleh penumpang. Penumpang sudah dapat memperkirakan jam keberangkatan. Namun teknologi tetap dikendalikan oleh Sumber Daya  Manusia (SDM). Ada operator yang mengendalikan teknologi digital supaya informasi yang tersaji  bisa update atau dengan kata lain real time.

Namun ketidaksiapan SDM dalam menyesuaikan peradaban baru jangan dipandang sebelah mata.  Ketidaksesuaian informasi yang disajikan media digital akan  menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru. Bila terjadi penundaan keberangkatan karena ada gangguan kapal, misalnya, langsung direspon secara digital. Jangan direspon dengan pengeras suara. “Keberangkatan kapal tertunda karena ada gangguan kapal.” Ok, metode penyampaian informasi itu dianggap efektif, karena tidak semua penumpang  melakukan cross check di media digital.

Tapi secara pararel sebaiknya juga langsung di-update bila terjadi penundaan keberangkatan jadwal kapal. Itulah peradaban zaman now! Semua informasi  tersaji secara digital. Inilah peradaban baru! Walaupun juga dilakukan dual system penyampaian informasi lewat pengeras suara, juga harus di-update informasi media digital.

Inilah gambaran modernitas  peradaban. Sebaiknya arus informasi di ruang-ruang public dilakukan multi-channel, sehingga masyarakat dapat mengetahui informasi  jika terjadi perubahan-perubahan jadwal apapun melalui banyak media.

Respon pelabuhan eksekutif penyeberangan Merak terhadap penundaan keberangkatan kapal yang disampaikan melalui pengeras suara berkali-kali sudah tepat sasaran. Saya yakin calon penumpang mendengar pesan tersebut. Namun akan lebih baik lagi bila terjadi perubahan keberangkatan atau kedatangan kapal langsung di-update di media digital. Bila perlu dilakukan melalui multi-channel.  Teknologi memungkinkan hal itu. Tinggal dibuatkan sistem untuk memanfaatkan muti-channel.

Terlepas dari hal itu, kita telah merasakan manfaat besar dari perubahan suatu peradaban.  Perjalanan kapal ferry dari Merak ke Bakauheni yang sebelumnya dengan  fasilitas reguler   ditempuh dalam waktu  dua jam, tapi sekarang ada alternatif layanan ferry eksekutif dengan jarak tempuh dipangkas menjadi satu jam. Walaupun harus merogoh kocek sedikit lebih mahal dari fasilitas reguler, tapi sesuai dengan harapan.

Waktu tempuh Jakarta – Bandar Lampung kini semakin cepat. Bila sebelumnya  waktu tempuh Jakarta – Bandar Lampung  mencapai sembilan jam, kini waktu tempuh bisa dipangkas menjadi  lima sampai enam jam dengan cara menggunakan kapal ferry eksekutif dan jalan tol Trans Sumatera yang saat ini sudah tembus sampai Palembang, Sumatera Selatan. Kabarnya bila tidak ada aral melintang – jalan Tol Trans Sumatera akan tembus sampai Banda Aceh pada 2024 mendatang.

Bila dulu waktu tempuh dari Bandar Lampung ke Palembang bisa mencapai delapan sampai sembilan jam, tapi kini waktu tempuh Bandar Lampung ke Palembang hanya sekitar empat jam. Sedikitnya 50% waktu terpangkas untuk mengunjungi kedua kota tersebut dengan kehadiran Tol Trans Sumatera.

Masyarakat kita semakin dipersatukan dalam gugusan “Ibu Pertiwi”. Antara Jawa dan Sumatera, umpamanya,  bagai lipatan kertas yang dapat dengan singkat dipersatukan dengan infrastruktur terintegrasi. Alternatif pilihan antarmoda yang disatukan dalam fasilitas infrastruktur (jalan tol, kapal ferry, dll) telah membuat  mobilitas manusia dan produk komoditi lebih cepat sampai dan terdistribusi dalam tempo singkat.

Fenomena demikian menjadi daya ungkit peningkatan ekonomi masyarakat lokal. Lokasi-lokasi pariwisata di provinsi Lampung, misalnya, mulai banyak dikunjungi wisatawan nusantara. Awal tahun ini saya melihat banyak  mobil-mobil bernomor plat Palembang dan beberapa daerah di Jawa (Jakarta, Bandung, Serang dan sebagainya) memadati kota Bandar Lampung.

Denyut ekonomi mulai tercium marak di jalan-jalan lintasan menuju pariwisata. Banyak pedagang UMKM menuai berkah dari lancarnya mobilitas transportasi lintas Sumatera dan Jawa. Namun memang perlu dipikirkan oleh Pemprov/Pemkot/Pemkab untuk mengintegrasikan jalan tol Trans Sumatera ke lokasi-lokasi pariwisata, industri, pelabuhan dan pusat-pusat perkebunan serta pusat ekonomi lainnya.

Konektivitas yang terintegrasi antarmoda, infrastruktur angkutan (pelabuhan, bandara, jalan tol dan lain-lain) menjadi suatu keniscayaan dalam meningkatkan daya saing ekonomi suatu daerah. Infrastruktur itu merupakan fondasi yang dapat menjadi magnet geliat ekonomi suatu daerah.

Perlahan tapi pasti – saya berharap – mungkin kita semua sepakat bahwa nusantara sebagai wilayah kepulauan dapat  dipersatukan dengan kehadiran infrastruktur terintegrasi antarmoda. Kehadiran itu dapat membuat mobilitas  diantara kita  menjadi “tali perekat”, bukan jarak pemisah yang justru membuat ketimpangan antara barat dan timur Indonesia semakin menganga!

Itu sebabnya – membangun bangsa dari desa ke kota — memberantas korupsi dari kota ke desa adalah Indonesia sentris yang telah lama tertidur lelap. Kini ia bangkit dari tidur panjangnya dan menyapa kita: “Selamat hospitality dalam menyambut saudara kita maupun lintas negara di Ibu Pertiwi!”.[]Foto : pelakubisnis.com

 

*Penulis pimpinan redaksi pelakubisnis.com