Naomi Creation, Tingkatkan Nilai Tambah Kain Ulos

Mengandalkan hasil kerajinan tenun saja tak cukup.  Harus dikembangkan menjadi sesuatu yang bernilai jual dengan membuat kreasi-kreasi baru. Naomi Creation mampu bertahan menghasilkan craff bernuansa etnik Tarutung, Sumatera Utara.

Naomi Butarbutar bersama istri Panglima TNI, Ibu Nanik Istumawati (Foto: dok. Pribadi)

Masih lekat dalam ingatan Naomi Butarbutar 15 tahun silam. Ia coba bangkit dari keterpurukan paska berhenti bekerja sebagai professional di perusahaan bank swasta yang saat itu terlikuidasi.  Di tahun-tahun pertama terasa berat untuk ibu tiga anak ini. Pasalnya sebelumnya sang suami dalam kondisi jobless,  berhenti  bekerja di perusahaan multinasional.

“Terus terang di awal kami sangat shock menghadapi realita. Bayangkan, dulu kami pernah tinggal di apartemen mewah di luar negeri. Dari kehidupan yang high level tiba-tiba harus merasakan terpuruk jatuh  yang teramat sakit rasanya. Saat itu saya berpikir bagaimana caranya untuk bisa melanjutkan kehidupan karena waktu itu anak-anak masih kecil,” tutur wanita berdarah Batak ini.

Ia pun memutar otak, mengumpulkan energi untuk kembali bangkit. Bangkit merupakan suatu keniscayaan. Tak pelak, ia pun mencari peluang usaha. Terlintas dalam pikirannya membuat aksesoris dengan menggunakan asset keluarga yang dimiliki. Kebetulan ia mengoleksi banyak batu-batuan semasa masih bekerja,  yang dapat disusun menjadi perhiasan.   Akhirnya dengan modal Rp5 juta, ia mulai serius mendesain aksesoris batu-batuan dan mutiara untuk kemudian ia jual.

Di tahun kedua, sekitar 2008 Naomi mulai berpikir mengembangkan usahanya dari batu-batuan ke industri tenun. Itupun  setelah ia melihat peluang  di daerah asalnya, Tarutung, Sumatera Utara. Banyak pengrajin kain tenun ulos yang menghasilkan kain tenun apik,  namun terbentur  masalah pemasarannya. Maklum saja, saat itu kain songket Palembang  sedang naik daun sementara tenun ulos kurang mendapat perhatian.

Menurut  ibu tiga anak ini, tenun ulos asal Sumatera Utara itu jarang sekali yang aware. Padahal penggunanya banyak sekali. “Saya melihat ada peluang di situ. Saya coba mendesain yang mungkin orang lain nggak terpikir,” katanya seraya menambahkan kalau ada ide jangan takut dengan persaingan. Dari situ lahirlah Naomi Creation yang focus mengembangkan nilai tambah dari kain tenun ulos, Sumatera Utara.

Bahkan menurut Naomi, desain kain tenun  ulos yang pertama diciptakannya dibeli Ibu Rini Sutiyoso, istri mantan Gubernur DKI Jakarta. Boleh jadi momentum itu yang membuatnya makin bersemangat untuk berkarya. Ia mulai memberanikan diri mengikuti sejumlah pameran. Dari situ terbentuk jaringan ke berbagai institusi, seperti Kemenkop dan UKM, Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas).

Naomi menambahkan, ia mendapat bimbingan dan pelatihan dari institusi-institusi itu, sehingga membuat kreativitas makin meningkat, disamping membuka akses pasar.”Saya pernah mendapat pinjaman modal kerja dari  BNI  pada tahun 2008. Bahkan, di-support  menggelar fashion show,” katanya kepada pelakubisnis.com. Bahkan, BNI pun sempat  mengajak Naomi Creation pameran sampai ke Jepang.

Tak hanya sampai di situ. Setelah kerjasama dengan BNI, tak lama ia mendapat dukungan dari Pertamina melalui kegiatan CSR  dimana Pertamina men-support usaha dalam bentuk pendanaan, pelatihan dan marketing. Pertamina, kata Naomi membantu modal kerja sebesar Rp 70 juta selama tiga tahun. Di samping itu membuka akses pasar dengan diikutsertakan dalam pameran-pameran.

Lima tahun pertama barulah break event point (BEP), lanjut Naomi.  Selama rentang waktu tersebut belum dapat menikmati hasil usaha. Kurun waktu tersebut lebih banyak memperkenalkan produk-produk Naomi. “Untuk memperkenalkan kerajinan kain tenun  ulos yang sudah ditingkatkan nilai tambahnya, memang butuh waktu,” tandasnya serius.

Bersama artis Bella Saphira (Foto: Dok.Pribadi)

Sementara para pengrajin yang umumnya ibu-ibu rumah tangga di Tarutung, Sumatera Utara  diarahkan untuk menghasilkan kain tenun  ulos dengan  warnanya lebih kekinian. Bila sebelumnya para pengrajin ulos memilih motif warna jadul yang dominan warna hitam dan merah. “Saya arahkan  menggunakan komposisi warna yang kekinian. Saya kirim sampel benang ke Tarutung dan petunjuk komposisi warna,” katanya sambil menambahkan jadilah kain ulos dengan warna yang lebih atraktif dan diterima pasar.

Kini Naomi memperkerjakan 5 pengrajin yang khusus membuat kain tenun ulos dan satu orang yang ditempatkan di Tarutung khusus mengontrol standar kualitas kain tenun  ulos yang dihasilkan. “Orang tersebut yang melakukan transfer knowledge untuk menghasilkan kain ulos berkualitas,” katanya.

Dari kain ulos tersebut, kata Naomi, dikembangkan untuk ditingkatkan nilai tambah. Dari kain ulos, dibuat tas ransel, dompet, pouch, home decore dan banyak lagi merchandise. “Orang Eropa menyukai home decoration dari bahan kain tenun ulos,” urainya sambil menambahkan produk-produk Naomi Creation disukai orang-orang Eropa dan Jepang.

Menurut Naomi, untuk bisa bertahan di lini bisnis ini adalah adalah kreativitas. Pasalnya, product lifecycle kerajinan kain tenun ulos sangat singkat.  Ada titik jenuh yang harus diantisipasi dengan membuat kreasi-kreasi baru.

Bahkan, belakangan ini Naomi Creation merambah ke segmen perkantoran. Beberapa produk-produk kerajian Naomi Creation dapat dijumpai di kementerian, lembaga maupun korporasi. Misalnya membuat tas dari kain tenun ulos untuk pesanan Pusdiklat Kementerian Dalam Negeri dan banyak lagi lainnya. “Saya juga membuat cinderamata untuk pernikahan yang basic-nya dari bahan kain tenun ulos,” tambahnya.

Saat ini  omzet Naomi baru mencapai Rp50 juta-an per bulan. Bahkan sempat menembus angka penjualan Rp 1 milliar per tahun. Diakuinya, meski frekuensi mengikuti pameran berkurang. Bila dulu setahun bisa mengikuti sekitar tujuh event pameran, sekarang setahun hanya ikut  satu kali pameran. Pasar produk Naomi Creation semakin terbantu dengan mengembangkan pemasaran ke lembaga/instansi pemerintah dan swasta.

Target tahun ini (2020-red) adalah memperluas pasar di segmen perkantoran, di samping meng-create produk-produk baru. Untuk meng-create produk-produk baru, perlu dilakukan survei untuk mengetahui apa yang diinginkan pasar.

Lebih lanjut ia menambahkan, banyak pembelajaran yang dapat dipetik dari bantuan lintas sektor tersebut. Kuncinya jangan cepat down bila menghadapi masalah. Karena pada akhirnya Tuhan akan memberi jalan keluar dari masalah yang kita hadapi.[] Siti Ruslina