Serundeng Kalapa Indung, Kolaborasi Tini Gustini Dengan Milenial

Tak mudah bagi generasi baby boomers  berkolaburasi dengan anak-anak muda  yang  inovatif.  Tapi ibu dari generasi X ini mampu  bersinergi dengan generasi milenial bahkan generasi Z. Membuka diri, berarti membuka seribu kesempatan untuk sebuah usaha berkembang.  UMKM Tini Gustini  telah membuktikannya.

Deia dari Kalapa Indung bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama (Foto: Dok. Pribadi)

Berawal  dari berjualan baju impor branded.  Di mana saat itu Tini Gustini  menjadi penanggungjawab butik  milik temannya di Bandung.  Namun setelah dua tahun berjalan, bermunculan baju-baju branded luar negeri yang membuat pasarnya semakin tergerus, ditambah lagi dengan kehadiran satu mall bergengsi  yang menjual produk fashion branded di kisaran tahun 2011.

Lantas, bagaimana akhirnya Tini Gustini  terjun ke usaha serundeng?  Rupanya,  yang membuka jalan bagi suksesnya hari ini mengembangkan usaha  Serundeng Kalapa Indung  ini tak lain berasal dari butik tersebut. “Dulu kalau ke butik saya suka bawa masakan, salah satunya lauk serundeng,”Tini  bercerita tentang awal terjun ke bisnis kuliner.

Hingga suatu saat seorang temannya yang memiliki anak masih kecil-kecil memintanya untuk membuat makanan sehat. Karena di kalangan teman-temannya Tini memang dikenal pintar masak, saat itu ia pun tak kuasai menolaknya.  Ia pun mulai berbisnis katering kecil-kecilan. Awalnya  ia membuat masakan sesuai dengan pesanan seperti pepes, sayur asem dan lain-lain.  Lalu terlintas dalam pikirannya  membuat  makanan yang menjadi identitas bagi usahanya.  Makanan itu adalah serundeng daging.

Kenapa serundeng?  Rupanya  selain  resep  warisan keluarga yang sudah turun temurun, Tini juga sudah lama bermimpi mempunyai usaha membuat makanan bergizi. “Memang sudah lama saya ingin membuat makanan bergizi, makanan tak berminyak dan enak.  Akhirnya bersama adik sepupu kami teringat dengan resep warisan nenek yang dari dulu memang  disukai  keluarga, makanan itu adalah serundeng,” terang  wanita kelahiran 1967 ini.

Kemudian  bersama beberapa   penggiat UMKM  ia pun menyewa tempat  sebagai gallery.  Saat itu ia masih mengemas serundengnya dengan  kemasan plastik  zipper.  “Dari pelatihan UMKM saya dapat ilmu baru soal kemasan produk. Ternyata menjual makanan seperti serundeng dengan kemasan plastik akan cepat basi dan hanya bertahan 2 minggu,”ungkapnya.

Setelah  serundengnya mulai dikenal, muncul  lagi permintaan dari pelanggan untuk membuat nasi serundeng.  Hingga suatu hari ia bersempatan mengikuti pelatihan dan  perlombaan Woman Award yang diketuai Rosa Rai Dinopatijalal selaku Founder  Woman For The World Foundation.

Dari event perlombaan tersebut terbuka link ke event-event kompetisi lain seperti event Wonderful Start Up.  Sempat belajar di Wonderful Start Up Academy yang diinisiasi  Kementerian Pariwisata bersama MarkPlus selama 8 bulan. Lalu ia mengikuti kompetisi Blibli.com,  dimana saat itu ia berkompetisi dengan 100 pengusaha  yang mayoritas  anak-anak muda.  Namun sulit baginya bersaing dengan start up-start up muda.

Tapi ia bisa  masuk  10 besar dalam ajang Kompetisi Food Startup yang diadakan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) angkatan pertama.  Dari 600 peserta yang terkurasi hingga masuk 10 besar.  Saat itu ia dibantu Komunitas Benua Citra Niaga-Balantik (Benua Balantik) dari  Komunitas Kewirausahaan Universitas Padjdjaran Bandung, yang kebetulan putera sulungnya, Reggy Adi Pratama juga terlibat di dalamnya.

Tini Gustini (kanan ) di Acara Raker Kemendag (Foto: Dok. Pribadi)

Menurut Tini, yang  paling berkesan dalam proses pembelajaran UMKM ini  adalah ketika ia terlibat di Industri  Dagang Kota Bandung.  Ada Program Little Bandung  di mana saat itu produknya dipasarkan Tim Little Bandung binaan Ridwan Kamil. Kang Emil saat  itu masih menjabat sebagai Walikota Bandung.  “Produk saya  dibawa Tim Little Bandung hingga ke Perancis, Korea, dan Malaysia,”ungkap pemenang I di ajang kompetisi UMKM Awards Kota Bandung tahun 2018 ini.

Dari Little Bandung,  ia mengikuti  program  Food Startup binaan Bekraf pada tahun 2017.  Dari lembaga yang kini masuk dalam bagian Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) ini,   Tini mendapat banyak ilmu tentang ilmu pemasaran, diversifikasi produk, ilmu manajemen,  cara menghitung HPP (Harga Pokok Penjualan-red) dan sebagainya.

“Peranan yang sangat besar  sekali itu dari Bekraf.  Di situ produk kita bantu dipasarkan oleh tim dari Bekraf.  Bagus banget! Saya dapat ilmu dari coach-coach hebat disitu,” papar Pendamping Lapangan Komunitas Perempuan Kepala Keluarga  (PEKA) Provinsi Jawa Barat  ini.   PEKA merupakan program dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak  dan tak sedikit dari anggotanya yang kini terjun berwirausaha.

Dari kamar salah seorang puteranya  Tini membuat  gallery/display untuk produk-produk  UMKM selain Kelapa Indung  di bawah Komunitas Benua Balantik.  Sejak ada komunitas wirausaha ini, Kalapa Indung semakin berkembang .”Dan sekarang saya sudah punya pasar dari luar Indonesia. Lumayan repeat ordernya dan produk-produk selain Serundeng  Kelapa Indung pun akhirnya ikut terangkat,”aku Tini.

Kalapa Indung  mengandung arti buah kelapa resep dari ibu.  Boleh jadi penetrasi pasar produk ini  tak lepas dari kolaburasi Tini bersama komunitas   Benua Balantik. Beberapa mahasiswa  Administrasi Bisnis dari UI  magang di tempatnya. Bahkan sampai ada yang  memberi modal  hingga Rp 6 juta untuk mengembangkan Serundeng Kalapa Indung, khususnya fokus belajar tentang penggunaan kemasan yang baik dan benar.

Kemasan  Serundeng Kalapa Indung yang awalnya menggunakan plastik zipper dan curah, kemudian dibuat kemasannya   dengan  desain  yang  lebih menarik dan higienis. Jadilah  kemasan Serundeng Kalapa Indung dengan desain warna dasar hitam yang elegan dan lebih higienis,  juga membuat isi serundeng tak cepat basi.

“Saya jadi ingat si neng dari UI itu, sekarang dia sudah jadi kepala cabang Bank BRI. Dia yang bantu saya sampai mempromosikan lewat sosial media. Dia yang buatkan instagram Kalapa Indung,”kenang Tini yang mengaku banyak anak-anak mahasiswa dari perguruan tinggi bidang bisnis yang turut mendevelop produknya hingga diterima pasar.

Kini  Kalapa Indung melakukan diversifikasi produk dengan mengembangkan  produksi bawang  goreng. Tini sudah semakin mafhum dalam mengembangkan produk makanan yang berkualitas.”Sekarang kami banyak gunakan kemasan pouch dan dus. Namun, masih ada juga beberapa reseller yang memesan  dengan kemasan toples plastik.  Sebenarnya kurang awet dengan menggunakan kemasan toples plastik, hanya bertahan sekitar  1-2 minggu.  Namun mereka meyakini produknya cepat laku dan 1 sampai 2 hari juga sudah habis dimakan,”terang  ibu dua putera ini.

Sejauh ini konsumen Tini tak hanya perorangan, ia juga menerima pesanan bentuk curah dari perusahaan-perusahaan  besar yang kemudian me-repackage dan menggunakan mereknya.  Komposisi  kerjasama  business to business  dalam bentuk curah dari segi volume lebih besar daripada segmen ritel. “Kalapa Indung bukan perusahaan besar. Kami  juga harus menutup biaya produksi setiap hari. Karena  pasar yang curah ini belinya cash mau tidak mau segmen ini jadi lumayan besar , “ulas Tini yang kini  meng-outsource produksinya ke beberapa saudara dan industri rumahan perempuan.

Yang jelas, di kisaran tahun 2013, jumlah produksi belum stabil. Kadang produksi, kadang tidak produksi. Tidak menentu. Dan volume produksinya paling tinggi 5 kg.  Tak seperti sekarang, sejak 2017 volume produksi  Serundeng Kalapa Indung sudah mencapai  ratusan kilogram.

Kemajuan yang diraih  Serundeng Kalapa Indung menurut Tini tak lepas dari suksesnya  berkolaburasi dengan anak-anak muda penggiat UMKM yang mampu membawa produk dalam negeri ini hingga ke luar negeri  seperti Singapura dan Eropa. “Sekarang kami bekerjasama kemitraan distribusi dengan Eropa dan ternyata mereka lebih menghargai makanan yang unik dan bersih.  Sekarang mereka repeat order sekali kirim sekitar 50 – 100 kg sebulan 2 kali,”ujar Tini yang menjual putus produknya ke perusahaan trading di tanah air yang telah membawa serundeng nya hingga ke Eropa.

Kini produknya bisa ditemui di SMESCO Jakarta, di Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah), Dago Bandung , dan beberapa reseller seperti di Bali yang saat ini pasar Kalapa Indung cukup bagus omzetnya.

Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto tengah mengunjungi booth Kalapa Indung dalam Raker Kemendag di Hotel Borobudur, 4 – 5 Maret 2020 (Foto: Dok.Pribadi)

Banyak link terbuka sejak Tini  berkolaburasi  dengan Komunitas Benua Balantik dan mengikuti beberapa ajang kompetisi  produk UMKM  hingga  kini mampu bersinergi dengan Kementerian Perdagangan dan Dinas UMKM, serta kerjasama dengan BUMN seperti Bandara Husein Sastranegara dan  PT Angkasa Pura 2. “UMKM itu memang harus ngelink dengan banyak pihak. Karena perusahaan kecil akan sulit bila berjalan sendirian, kita harus bisa buka link ke Kementerian meski hanya sebatas ikut programnya. Karena akan terbuka banyak link disitu,”tukas Tini.

Anak-anak muda itu inovatif, tidak ada salahnya kita bersinergi dengan mereka. Demikian dalam pandangan Tini yang kini banyak berinteraksi dengan anak-anak mahasiswa  yang magang di tempatnya.  “Rata-rata mereka  dari sekolah  manajemen bisnis  dan ada juga dari fakultas pertanian. Mereka bantu saya membuat pembukuan yang baik, membuatkan business plan, mereka bantu packaging, dan sesekali mereka juga mewakili saya  hadir di pelatihan-pelatihan UMKM bila saya sedang bentrok dengan pekerjaan,”demikian ungkap Tini tentang kolaburasinya dengan anak-anak mahasiswa yang magang di tempatnya yang hingga kini tak sedikit dari mereka meski sudah bekerja dan sukses tetap bersilaturahmi ke rumahnya.

“Ada dari mereka yang sudah dapat panggilan kerja dari  tempat lain, malah memilih bertahan membantu Kalapa Indung meski digaji sangat kecil karena kami baru merintis masih meraba-raba  dalam mengelola bisnis,”tambahnya.

Komunitas  social preneur PEKA  juga aktif menjual produk Kalapa Indung.  Yang tadinya hanya membantunya  dalam hal pengemasan dan pemasaran,  kini tak sedikit dari para wanita single parents ini mengikuti jejaknya berwiraswasta.

Tini bersyukur  banyak pihak yang turut membantunya membesarkan  UMKM yang dibangunnya sejak 2011. Ia sendiri saat ini hanya  memiliki karyawan tetap sekitar 8 orang, termasuk dirinya.  Apalagi saat ini ia banyak meng-outsource produksinya ke UMKM-UMKM lain.  Dari kerjasama gotong-royong ini omzet yang diraihkannya juga terus meningkat.  Saat ini per akhir Desember 2019 ia mampu meraup omzet Rp 30 – 35 juta per bulan.

Banyak channel distribusi yang telah digunakan Tini untuk mengembangkan produk serundeng dan bawang  goreng Kalapa Indung juga produk-produk UMKM  lain yang pengelolaanya tak lepas dari kontribusi anak-anak muda yang tergabung di Benua Balantik. Alhasil, semua saluran komunikasi digital digunakan, dan channel distribusi pun tak hanya berkutat di area offline lewat para reseller, bazaar dan sejenisnya, tapi produk serundeng Tini sudah bisa diperoleh di marketplace melalui platform  Indonesia Mall.

Ketua Komunitas Benua Balantik Muhammad Fadli  termasuk sosok yang disebut-sebut Tini yang turut membantu sukses usahanya. “Mereka memikirkan modal, pemasaran, Mas Fadli ikut memajukan  usaha ini,”tutur Tini.

Diakuinya,  Kalapa Indung  saat ini sudah seperti flagshsip bagi rentang produk UMKM yang berada dalam  naungan Benua Balantik. Link pemasaran saat ini memang banyak dari Kalapa Indung.  Dari merek Kalapa Indung, Tini melakukan diversifikasi  usaha memproduksi bawang goreng dan  makanan siap saji seperti tutuk pindang tongkol dan Ketan Besek yang banyak diminati peranakan Tionghoa di momen Imlek.

Makanan siap saji diakui Tini tak seperti Serundeng Kapala Indung yang masa kadaluarsanya paling lama bisa setahun kurang 5 hari. Sedangkan Aneka Bawang  kadaluarsanya sampai 9 bulan.  “Tapi di kemasan ditulis kadaluarsa  7 bulan. Kalau pakai silica gel mungkin bisa lebih lama lagi.  Kalau nenek saya dulu  tak memakai silica gel tapi serundeng buatannya bisa awet sampai 1,5 tahun. Memang jaman dulu nenek pakai kemasan wadah beling yang tebal,”ungkap Tini.

Diakuinya sampai hari ini ia belum bisa menghasilkan serundeng sekering buatan neneknya. Ia bermimpi, suatu saat nanti ia ingin memiliki alat masak serundeng yang canggih. “Karena serundeng ini dimasak bisa sampai tujuh jam. Saya bermimpi bisa punya alat memasak serundeng yang canggih, yang bisa meringankan pekerjaan kami.  Yang kami pakai sekarang spinner buatan sendiri yang dibuat dari mesin cuci. Hasilnya bisa kering sekali, tapi itu pengering mesin cuci. Saya sedang cari investor yang bisa bantu membesarkan usaha ini. Saya ingin punya workshop mini atau gallery  yang memadai. Saat ini untuk sementara pakai kamar anak saya yang berukuran kurang lebih 3 x 3 meter persegi,”terang UMKM ini yang menyebut satu unit alat pengering yang canggih itu seharga kurang lebih Rp150 juta. []Siti Ruslina