Kartini Bukan Menggugat Paternalistik

Oleh: Yuniman Taqwa Nurdin

Masih relevankah kita berbicara masalah  diskriminasi kaum hawa  di tengah modernitas zaman  yang sudah tidak membatasi siapa pun berkiprah dalam menunjukkan eksistensi diri? Pertanyaan ini meluncur melihat fenomena  kaum hawa mampu menunjukan jati dirinya tanpa ada batas dari budaya  paternalistik!

Kini tak ada lagi “sinisme” di kalangan masyarakat melihat wanita berada di posisi puncak. Dari mulai pimpinan Chief Executive Officer (CEO) di perusahaan multinasional, sampai jabatan-jabatan di birokrasi dan politik sekalipun – bukan lagi hal tabu – bila diduduki wanita.

Tak jarang posisi yang dipimpin wanita mendapat respon positif di tengah masyarakat. Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, umpamanya, menjadi klimaks. kebijakannya menenggelamkan  kapal yang tertangkap mencuri ikan (illegal fishing) di perairan Indonesia oleh kapal-kapal asing, menjadikan kekuatan mental dalam mengambil keputusan.

Telah lama bangsa ini tak membuat efek kejut terhadap pengingkaran norma hukum. Hukum berjalan seakan “tumpul ke atas dan tajam ke bawah”, sehingga membuat law enforcement dipertanyakan anak negeri. Apa ini sebuah “keputus-asaan kolektif” atau hanya sebatas oknum, sehingga budaya penegakan hukum masih tetap terjaga orisinalitasnya…!

Boleh jadi kebijakan Susi itu merupakan langkah revolusioner yang telah lama terkungkung dalam wajah penegakan hukum di negeri ini. Bertahun-tahun kekayaan laut di Indonesia dieksploitasi secara illegal oleh pihak asing. Menurut perhitungan Susi Pudjiastuti, kerugian negara per tahun bisa mencapai US$ 20 miliar.

“Apa yang terjadi di laut kita sulit sekali dibayangkan, ada ribuan kapal dan nilainya triliunan rupiah. Kalau kita duduk sama-sama, kita hitung bersama, saya percaya kerugian yang kita terima US$ 12,5 miliar (paling kecil), sampai US$ 15 miliar hingga US$ 20 miliar,” papar Menteri KKP, di acara Chief Editors Meeting, di Ballroom, Gedung Mina Bahari III Jakarta, sebagaimana di kutip dari Buku  Bertajuk Facing Global Maritime Fulcrum (Menyongsong Poros Maritim Dunia), Between Threats & Opportunities (Di Antara Ancaman dan Peluang), tahun 2017 Oleh: Laksamana Muda TNI Aan Kurnia,S.Sos.

Bertahun-tahun opportunity loss itu terjadi di Indonesia. Baru setelah kepemimpinan Susi Pudjiastuti sebagai Menteri KKP, angka itu mulai menurun. Tak perlu skeptis terhadap kepemimpinan kaum hawa. Hasil akhir bukan dilihat berdasarkan “casing” di tengah budaya partenarlistik.

Terlalu naif bila kita melihat wanita hanya sebatas “perhiasan”. Ia diciptakan  bukan hanya semata pelengkap. Melainkan setara dan saling melengkapi. Masalah ini sebetulnya jauh hari sudah selesai. Stempel gender yang masih tercium “bau sinis”, membuat peradaban kita mundur puluhan tahun silam, lihat artikel bertajuk: Kesetaraan Wanita Yang Termaginalkan, Laporan Utama, pelakubisnis.com, edisi April 2019.

Aktivis hak-hak perempuan berkomitmen menjadikan tahun 2020 sebagai tahun penting dalam perjuangan global untuk kesetaraan, tidak hanya untuk perempuan dan anak perempuan, tapi untuk semua orang. Di India, misalnya, perempuan memimpin protes melawan peraturan kewarganegaraan baru yang diskriminatif terhadap kaum muslim, lihat artikel bertajuk: Hak-Hak Perempuan Apa Saja yang Dipertaruhkan di Tahun 2020, oleh: Francoise Girard, project syndicate.org.

Bila saya cermati, gerakan feminism menurut perspektif RA. Kartini bukan menggugat budaya paternalistik yang hanya berdasarkan perspektif “simbolis” dalam sosiologis keluarga. Di mana kaum Adam kerap dijadikan patron. Padahal power yang dimiliki hanya merupakan simbol penerus keluarga. Ya, hanya sebatas itu!

Tapi yang digugat Kartini adalah kesetaraan masalah pendidikan, sosial, politik dan hal yang lebih luas. Bila tuntutan Kartini seperti ini, memang harus mendapat dukungan kita semua. Dan seharusnya tuntutan seperti ini sudah khatam jauh-jauh hari.

Wanita jangan hanya diimajinasikan lemah lembut di “sangkar emas”. Pada dasarnya ia justru lebih kuat sebagai problem solving dalam keluarga. Ketika “periuk nasi” terdegradasi karena tekanan ekonomi, umpamanya, tak jarang naluri bertahan justru lebih bertuah ketika menghadapi tekanan-tekanan kehidupan. Banyak kisah heroik wanita tangguh yang tak mungkin terabaikan dalam ritme semesta ini.

Meskipun negeri ini — sebagian besar suku bangsa-nya —  menganut budaya paternalistik,  tapi   ada juga beberapa wilayah yang menganut sistem matrilineal, di mana perempuan memiliki peran lebih dominan dibanding laki-laki, lihat artikel bertajuk: Perempuan Dalam Persimpangan Budaya, pinterpolitik.com.

Bahkan di Pemerintahan Amerika Serikat saat ini, Presiden Amerika Trump, masih menurut sumber pinterpolitik.com,  kerap mengeluarkan pernyataan maupun menetapkan kebijakan-kebijakan yang kerap beraroma misoginis (ketidaksukaan atau diskriminatif terhadap perempuan). Begitu juga dengan pendukung-pendukungnya yang cenderung seksisme, menjadi ancaman tersendiri bagi para aktivis kesetaraan gender.

Beda dengan di Indonesia. Wanita mempunyai kesempatan seluas-luasnya dalam menjalankan profesi. Untuk pengembangan potensi diri – dalam lintas profesi – kaum hawa patut bersyukur. Tak ada tuntutan radikal yang menolak keberadaan wanita. Kalau pun ada itu hanya semata-mata pragmatisme, hanya untuk kepentingan politis semata. Munculnya tuntutan penolakan presiden dari kaum Hawa, misalnya, hanya semata-mata politik praktis.

Tapi dengan adanya kesempatan yang luas  bagi perempuan, bukan berarti menghilangkan peran domestik yang menjadi kodrat kaum hawa.  Membangun komunikasi dalam keluarga – untuk menciptakan harmonisasi di keluarga – menjadi  keniscayaan untuk menciptakan “bangunan keluarga” yang harmonis.

Simbol-simbol itu  akan melekat dalam alam bawah sadar anak-anaknya, sehingga menjadi nilai yang membentuk karakter anak. Kita tak ingin anak-anak kehilangan kesempatan emas  sejak dini sebagai pondasi membangun karakter bangsa ini ke depan.

Dari kaum Ibulah akan lahir generasi berkarakter sebagai pemimpin penerus bangsa. Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno mengatakan: “Wanita adalah tiang negara, apabila dia baik maka baiklah negara, dan apabila dia rusak maka rusaklah negara itu.”

Itulah renungan hari Kartini yang tak lekang ditelan waktu. Kita ada di situ dan kita pelihara legacy-nya. Semoga! *** []

*Penulis pemimpin redaksi pelakubisnis.com