New Normal: Pro Kontra Gairahkan Ekonomi

Pandemi  virus corona  atau Covid 19 terbukti berdampak pada perekonomian nasional. Pilihan pemirintah untuk menjalankan new normal,  masih menimbulkan pro kontra. Antara pesimisme dan optimisme, menjadi realitas yang harus dihadapi.

Riset Lembaga Survei Indoensia (LSI) Denny JA mengungkapkan ada 158 daerah di Indonesia siap melakukan new normal atau kehidupan normal baru. LSI menilai penyebaran virus Covid-19 di ratusan daerah tersebut kini cenderung telah terkendali.

Peneliti LSI Denny JA, Ikrama Masloman, akhir Mei lalu  di Jakarta, mengatakan, kehidupan normal baru perlu segera diterapkan menyusul kebutuhan ekonomi. Pasalnya,  pandemi corona terbukti berdampak pada perekonomian nasional. Pandemi telah membuat jutaan orang terkena PHK.

Menurut Ikrama, dibukanya kembali aktivitas perekonomian akan meghindarkan negara dari bencana ekonomi yang lebih buruk. Rapuhnya ekonomi negara berpotensi memunculkan bencana yang tidak jauh lebih besar layaknya pandemi covid-19.

Namun demikian, LSI meminta masyarakat agar tidak terlena dengan kehidupan normal baru yang akan segera berlangsung. LSI mengimbau masyarakat agar tetap beraktifitas mengikuti semua protokol kesehatan yang telah ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan pemerintah.

“Kami merekomendasikan ada 158 wilayah yang siap melakukan new normal dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan yang ketat,” kata Peneliti LSI Denny JA, ini serius.

Kepala Lembaga Manajemen FEB Universitas Indonesia Toto Pranoto mengatakan, penyesuaian di tengah kondisi pandemi menjadi kewajaran yang sulit terhindarkan. Menurutnya, ketika ekonomi terpuruk seperti saat ini, skenario dan protokol new normal diperlukan agar ekonomi bisa bergerak secara gradual.

“Pemberlakuan New Normal pada akhirnya memang harus diberlakukan dengan beberapa syarat dan ketentuan yang berlaku ketat. Intinya Ekonomi diupayakan bergerak secara gradual sambil menjalankan protokol New Normal dengan ketat, law enforcement diberlakukan tegas dan konsisten,” ujar Toto sebagaimana yang dikutip pelakubisnis.com  dari kontan.co.id (26/5).

“Kalau periode PSBB terus diperpanjang, nafas ekonomi sebagian besar dunia usaha termasuk BUMN akan semakin sulit. Maka new normal memberikan harapan baru bagi kembalinya nafas ekonomi. Sepanjang lokasi kantor ada di zona hijau dan protokol covid dijalankan dengan ketat, saya kira kebijakan ini bisa ditolerir,” ungkap Toto.

Menghadapi wabah Covid-19, pemerintah memilih jalan berdamai dengannya. Hal tersebut membuat terbentuknya skenario new normal di Indonesia. Hal ini pun sudah dipersiapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi.

Mall mulai dibuka dengan menjalankan protokol kesehatan?foto: ist

Ketua MPR Bambang Soesatyo mengatakan, pola hidup baru atau new normal ini akan menjadi angin segar bagi perekonomian dalam negeri. Sebab, produktivitas ekonomi akan kembali bergairah setelah sempat mati suri beberapa waktu lalu. “Dengan menerapkan pola hidup baru yang memungkinkan semua aktivitas produktif bisa dimulai lagi, kinerja perekonomian nasional pada kuartal II 2020 diharapkan tidak terlalu buruk,” ujarnya melalui keterangan tertulis, pada 14/6, sebagaimana dikutip dari okezone.com.

Menurut Bamsoet, kembali produktifnya ekonomi RI akan membuat pertumbuhan ekonomi RI bisa positif di kuartal II-2020. Ada beberapa alasan yang menjadi faktor mengapa dirinya sangat optimis.

Lebih lanjut ditambahkan, ada faktor pertumbuhan ekonomi RI di kuartal I-2020 yang relatif baik. Bahkan dibandingkan dengan negara maju seperti Amerika Serikat atau China, Indonesia masih lebih baik.

Meskipun, angka tersebut di bawah dari perkiraan pemerintah dan pengamat ekonomi. Adapun pada kuartal I-2020, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah sebesar 2,97%. “Harapan itu cukup beralasan. Selain oleh faktor pertumbuhan positif pada kuartal I 2020, faktor rupiah yang terapresiasi cukup signifikan oleh mekanisme pasar menjadi lainnya,” jelasnya.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur (Jatim) Adik Dwi Putranto mengatakan, “The New Normal” yang diperkirakan bakal mulai bulan depan (Juni-red) sebagian kegiatan ekonomi memang harus dijalankan agar ekonomi tidak seterusnya mandeg dan berhenti. Ekonomi harus mulai dipulihkan, utamanya untuk UMKM yang memiliki nyawa pendek dalam bertahan hidup. Karena kegiatan ekonomi menjadi detak jantung kehidupan yang akan menentukan nasib dan kondisi bangsa selanjutnya.

Anggota Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun meyakini fase normal baru (New Normal) pada masa Pandemi COVID-19 akan kembali menggerakkan perekonomian Indonesia. Menurutnya, melalui New Normal pula akan ada reaktivasi perekonomian. Ia  sudah melihat tanda-tanda positif dari fase New Normal yang masih dalam tahap persiapan. “Era New Normal sudah disambut baik dengan menguatnya rupiah di mata dunia dan sentimen investasi yang terus tumbuh pada IHSG,” ujar Misbakhun melalui akun Twitternya, pada 3/6.

Sementara Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo mengungkapkan fase new normal tidak bisa dihindari sebagai konsekuensi mengembalikan roda perekonomian. Menurutnya, jika sektor ekonomi tidak dijalankan, maka krisis akan semakin parah.

“Ada beberapa prediksi jika virus ini bertahan hingga Agustus 2020, itu diperkirakan bakal mengalami sosial ekonomi yang lebih parah lagi. Oleh karena itu mau tidak mau kita harus masuk ke dalam era baru atau new normal,” kata Karyono dalam diskusi yang diselenggarakan IPI, minggu pertama Juni lalu, sebagaimana dikutip dari ayobandung.com.

Meski begitu, kata Karyono, pro dan kontra terhadap era kenormalan baru cukup kuat. Tak sedikit masyarakat merasa pesimis terhadap kenormalan baru yang dianggap menjadi solusi untuk mengatasi krisis ekonomi. “Memang ada pro kontra new normal. Banyak juga yang menghadapi new normal ini dengan pesimisme. Oleh karena itu, pemerintah saya kira perlu membangun optimisme agar kita bisa melewati new normal ini dengan keberhasilan,” ujar Karyono.

Sementara Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira, new normal tak akan membawa perubahan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi RI dalam jangka pendek ini. Justru, dengan adanya new normal ekonomi RI bisa berjalan lebih lambat dari PSBB karena kemungkinan terjadinya lonjakan kasus COVID-19 lebih tinggi dari sebelumnya.

Bhima Yudhistira, new normal tak akan membawa perubahan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi RI dalam jangka pendek/foto: ist

“New normal belum mampu memulihkan ekonomi dalam jangka pendek, justru dikhawatirkan pemulihan berjalan lambat karena masyarakat belum yakin beraktivitas di pusat-pusat perbelanjaan di saat kasus positif masih tinggi,” kata Bhima kepada detik, 19/6 yang dikutip pelakubisnis.com..

Selama new normal nanti, kinerja ekspor diprediksi masih akan menerima tekanan karena permintaan global masih rendah. “Situasi di AS misalnya masih cukup kompleks, ada krisis ekonomi, krisis kesehatan dengan jumlah kasus positif tembus 2 juta orang sekaligus, ditambah krisis politik jelang pemilu November mendatang. Sebagai negara tujuan ekspor utama, Indonesia sama sekali tidak diuntungkan dengan kondisi tersebut, demikian juga ekspor kita dengan China,” terangnya.

Pengamat Ekonomi Indef Bhima Yudhistira mengatakan penerapan new normal ini akan menyebabkan pemulihan ekonomi berjalan lebih lambat karena masyarakat khawatir ke pusat perbelanjaan atau mal di saat kurva positif virus corona masih meningkat.

Menurut dia, konsumen lebih mengkhawatirkan keselamatan dan biaya kesehatan dirinya. Situasi ini membuat omzet dari penjual juga tidak maksimal. Dampak new normal di Indonesia yang terburu-buru akan membuat ketimpangan semakin lebar. Protokol kesehatan mudah diterapkan di sektor usaha yang sedang dan besar, sebagaimana dikutip okezone.com.

“Sementara pelaku UMKM harus menghadapi kenaikan biaya untuk pembelian APD, hand sanitizer dan sebagainya. Tanpa bantuan pemerintah, new normal akan jadi beban UMKM,” ungkap Bhima.

Bhima Yudhistira mengatakan, new normal paska pandemi virus corona membuat bisnis menjadi berbeda. “Konsumen yang berbelanja secara fisik berkurang, berubah menjadi porsi digital yang lebih besar,” kata Bhima.

Sementara Bank Indonesia  memprakirakan proses pemulihan ekonomi mulai menguat pada triwulan III 2020 sejalan relaksasi PSBB sejak pertengahan Juni 2020 serta stimulus kebijakan yang ditempuh. Perkembangan tersebut disertai dengan ketahanan eksternal perekonomian yang tetap baik, inflasi yang rendah, serta stabilitas sistem keuangan dan kelancaran sistem pembayaran yang tetap terjaga. Namun, risiko pandemi COVID-19 tetap perlu terus dicermati.

Ke depan, BI dalam rilisnya pada 22/6,  memprakirakan perekonomian yang menurun pada 2020 akan kembali membaik pada 2021. Pertumbuhan ekonomi diprakirakan menurun pada kisaran 0,9%-1,9% pada 2020 dan kembali meningkat pada kisaran 5%-6% pada 2021. Pertumbuhan tersebut disertai dengan inflasi yang terjaga dalam sasarannya 3,0%±1%. Sedangkan defisit transaksi berjalan diprakirakan sekitar 1,5% PDB pada 2020 dan di bawah 2,5%-3,0% PDB pada 2021.

BI tetap melihat ruang penurunan suku bunga seiring rendahnya tekanan inflasi, terjaganya stabilitas eksternal, dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi. Dalam Rapat Dewan Gubernur 17-18 Juni 2020, Bank Indonesia memutuskan untuk menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 4,25%, melanjutkan kebijkakan stabilisasi nilai tukar rupiah dan pelonggaran likuiditas (quantitative easing), serta memberikan jasa giro kepada bank sebesar 1,5% per tahun.[] Yuniman Taqwa Nurdin/foto ilustrasi utama/ist