Investasi Migas: Antara Harapan dan Kenyataan

Harapan menggenjot investasi migas, terganjal anjloknya harga minyak dan pendemi COVID-19. Investasi migas diprediksi menurun karena fenomena itu! Langkah  apa yang harus diambil agar investasi migas tidak tergerus lebih dalam?

Aktivitas kegiatan hulu migas di offshore/foto ist

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai sektor minyak dan gas bumi dinilai tetap punya peluang besar dalam menggaet investor dengan total nilai investasi sekitar USD117 miliar hingga tahun 2024. Nilai sebesar itu sumbangan dari sektor hulu dan hilir.

Total investasi tersebut diperoleh secara bertahap di mulai dari tahun 2020 sebesar USD15 miliar, USD20 miliar di tahun 2021, kemudian berturut-turut pada tahun 2022 (USD25 miliar), 2023 (USD29 miliar) dan 2024 (USD28 miliar).

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan, investasi migas, mempertimbangkan realisasi tahun 2019 sebesar USD12,5 miliar yang mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir, terutama di sektor hulu migas. Investasi hulu migas tercatat senilai USD11,49 miliar pada 2019  atau meningkat dibandingkan dengan capaian 2017 yang senilai USD10,27 miliar.

Target investasi tersebut, kata Agung Pribadi,  cukup realistis mengingat akan berjalan beberapa proyek strategis migas serta masih adanya 128 cekungan berisi minyak dan gas yang akan beroperasi. Bahkan beberapa wilayah kerja migas yang sudah dieksploitasi lama masih punya potensi.

Sementara Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memperkirakan investasi sektor hulu migas bakal turun setidaknya 2 miliar dolar AS. Penurunan ini terjadi karena anjloknya harga minyak dunia dan perlambatan permintaan minyak akibat pandemi Corona atau COVID-19

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto memperkirakan aliran investasi di sektor hulu hulu akan turun  pada tahun ini akibat rontoknya harga minyak dunia dan nasional. Ia proyeksi ini muncul dari asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Oils Price/ICP) yang kemungkinan hanya berada di kisaran US$38 per barel.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto : investasi hulu migas akan turun/foto: ist

Asumsi ini turun jauh dari target ICP di APBN 2020 mencapai US$60 per barel pada tahun ini. “Untuk sampai akhir tahun kemungkinan akan terjadi penurunan terhadap investasi karena harga minyak dunia rendah. Ini sedang kami review akan turun berapa,” imbuhnya, pada 16/4 yang dikutip dari cnnindonesia.com.

Proyeksi penurunan aliran investasi juga berasal dari realisasi sampai kuartal I 2020. SKK Migas mencatat realisasi investasi baru mencapai US$2,87 miliar atau 21 persen dari target US$13,8 miliar pada tahun ini. Dwi juga mengatakan realisasi investasi hulu migas akan lesu karena permintaan terhadap minyak dunia juga menurun. Hal ini terjadi akibat penyebaran pandemi virus corona atau covid-19 di seluruh dunia.

Lesunya investasi hulu migas boleh jadi akan membuat target pembiayaan proyek hulu migas meleset. Proyeksi awal, pembiayaan ke hulu migas bisa mencapai US$32,09 miliar pada tahun ini. Namun, perkiraannya akan susut US$12,14 miliar atau 37,83 persen dari target menjadi US$19,95 miliar. Proyeksi ini muncul dari realisasi pembiayaan proyek hulu migas yang baru mencapai US$6,39 miliar atau 19,91 persen dari target tahun ini.

Rincian proyeksinya, pembiayaan dari dalam negeri akan susut dari US$14,46 miliar menjadi US$6,7 miliar. Lalu, cost recovery turun dari US$10,02 miliar menjadi US$9,11 miliar dan sumbangan kontraktor turun dari US$7,6 miliar menjadi US$4,15 miliar.

Dwi mengatakan saat ini ia masih akan terus memantau pergerakan bisnis sektor hulu ini. Ia bilang realisasi kuartal pertama 2020 kemarin baru mencapai 2,87 miliar dolar AS. Nilai itu setara 21 persen dari target tahun 2020 senilai 13,8 miliar dolar AS.

Adapun pada tahun 2019 lalu, realisasi investasi sektor ESDM sudah berada dalam tren penurunan. Dari 32,9 milair dolar AS di tahun 2018 turun menjadi 31,9 miliar dolar AS di tahun 2019, sebagaimana dikutip dari tirto.di

Untuk sektor migas sendiri, angkanya sudah turun dari 12,6 miliar dolar AS menjadi hanya 12,5 miliar dolar AS di tahun 2019. Realisasi pada tahun 2019 itu juga menunjukkan target investasi hulu migas senilai 13,4 miliar dolar AS tidak tercapai.

Dwi mencatat terjadinya penurunan aktivitas kegiatan hulu migas sepanjang kuartal 2020. Ia mencontohkan aktivitas pemetaan dengan seismic 2D dan 3D turun 49 persen dan 84 persen dari target 2020. Lalu aktivitas pengeboran minyak dipastikan bakal turun. Aktivitas pengembangan turun 5 persen dari 395 menjadi 376 sumur dan aktivitas eksplorasi turun 56 persen dari 61 menjadi hanya 33 sumur.

Dalam beberapa tahun ke depan, investasi di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) diproyeksikan turun. Penurunan ini merupakan imbas pandemi korona.Semula, SKK Migas menargetkan investasi hulu migas hingga tahun 2024 mencapai sekitar US$ 82,12. Namun estimasi tersebut berpeluang terganjal akibat pandemi corona. SKK Migas bahkan sudah memastikan investasi migas tahun ini turun menjadi US$ 11,8 miliar, dari target awal senilai US$ 13, 8 miliar, sebagaimana dikutip dari kontan.co.id

Tahun 2021, SKK Migas menargetkan nilai investasi migas sebesar US$ 14,48 miliar, dan tahun 2022 sebesar US$ 14,31 miliar. Nilai investasi diprediksikan naik pada tahun 2023 menjadi US$ 17,72 miliar, naik menjadi US$ 21,8 miliar pada tahun 2024.

Sementara proyeksi investasi hilir migas akan terus meningkat hingga 2024 mendatang. Peningkatan investas hilir migas tersebut dihasilkan dari program pembangunan kilang PT Pertamina (Persero). Berdasarkan laporan Direktorat Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), diperkirakan sepanjang 2020 investasi hilir migas mencapai USD3,22 miliar dan akan meningkat pada 2021 mencapai USD7,23 miliar.

Investasi sektor hilir terbesar dari pembangunan kilang/foto: ist

Peningkatan akan berlanjut hingga 2022 mencapai USD11,82 miliar dan kembali meningkat pada 2023 mencapai USD14,53 miliar. Selanjutnya hingga 2024 investasi hilir migas diperkirakan mencapai USD13,92 miliar. “Jadi invetasi hilir migas diproyeksikan akan terus meningkat hingga tahun 2024,” ujar Direktur Pembinaan Program Migas Kementerian ESDM Soerjaningsih, DI Jakarta, pada 19/5, sebagaimana dikuti dari sindonews.com.

Menurut dia, investasi hilir migas tahun ini mayoritas diperoleh dari aktivitas pembangunan kilang baru maupun peningkatan kapasitas kilang. Pihaknya menyebut investasi yang diperoleh dari kegiatan tersebut mencapai 80% dari perkiraan awal sebesar USD3,22 miliar. “Selebihnya investasi hilir migas diperoleh dari sektor pengangkutan 14%, penyimpanan 4% dan bisnis niaga mencapai 2%,” ungkapnya.

Total investasi kilang-kilang tersebut diperkirakan 68 miliar dolar AS selama periode 2019-2026. Untuk tahun depan, Soerja menjelaskan investasi hilir migas diproyeksikan sebesar 7,23 miliar dolar AS. Selanjutnya, pada 2022 target investasi hilir sebesar 11,82 miliar dolar AS. Adapun target investasi 2023 mencapai 14,53 miliar dolar AS dan ditargetkan 13,92 miliar dolar AS pada 2024.

Sementara Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Ignatius Tallulembang mengatakan bahwa selain berkontribusi terhadap peningkatan investasi hilir migas, pembangunan kilang juga bakal meningkatkan serapan tenaga kerja. Pihaknya menyebut pembangunan membutuhkan tenaga kerja hingga mencapai 150.000 orang di masa konstruksi dan 12.000 orang saat kilang beroperasi.

Berdasarkan Global Competitivenes Index 2017-2018, investasi migas Indonesia berada di posisi 36 dari 137 negara. Pemerintah terus berupaya memperbaiki iklim investasi, termasuk di bidang migas. Faktor utama iklim bisnis adalah birokrasi Pemerintah, stabilitas politik, regulasi perpajakan dan produktivitas tenaga kerja.

Mantan Direktur Utama Pertamina Ari Soemarno mengatakan pemerintah perlu menggenjot investasi migas secara agresif. Pasalnya, Indonesia memerlukan investasi hulu migas sebesar US$ 25 miliar atau setara Rp 353,73 triliun per tahun. Selain itu, Indonesia memerlukan investasi hilir migas sebesar US$ 45 miliar atau sekitar Rp 636,79 triliun dalam lima tahun ke depan. Dana tersebut dibutuhkan untuk mengembangkan kilang eksisting dan membangun kilang baru serta infrasturktur distribusi hilir migas, sebagaimana dikutip dari katadata.co.id

Namun, investasi di sektor hulu migas sejak 2014 terus turun dan mencapai titik terendahnya pada 2017. Hal itu terjadi karena Indonesia tidak masuk dalam daftar negara tujuan investasi migas.

Terlebih lagi, menurut dia, masih dari sumber katadata.co.id, pemerintah tidak memiliki terobosan dan upaya nyata untuk memperbaiki iklim investasi. “Iklim investasi tidak menarik karena insentif fiskal tidak menarik, dan ini sudah disampaikan pihak investor, perlu bersaing dengan negara lain,” ujar Ari dalam diskusi virtual, pada 23/6 lalu. [] Yuniman Taqwa/foto ilustrasi utama:  Shutterstock