Lika-Liku Boy Sembiring Membangun Bisnis Aquascape

Membangun bisnis aquascape membutuhkan  wawasan  tentang tumbuh-tumbuhan dan segala ekosistemnya, termasuk ph air, sirkulasi udara, dan bagaimana cara merawat ekosistem di dalam akuarium. Namun tak sedikit masyarakat yang gagal paham tentang apa itu aquascape.  

Lima tahun belakangan ini aquascape  marak di Indonesia. Hal ini tak lepas dari banyaknya  bermunculan konten-konten public figure seperti Irfan Hakim dan Baim Wong di YouTube  tentang seni mengatur tata letak tanaman, mendekorasi  dan ekosistemnya seperti batu, kayu dan media lainnya.

Uniknya, aquascape ini tak hanya sekedar meletakkan tanaman-tanaman bawah air, batuan atau kayu-kayuan di dalam akuarium, tapi juga menuntut estetika, ketelatenan dan kesabaran yang tinggi. Lebih dari itu, aquascape juga bagaikan membuat tanaman hidup di dalam akuarium. Di dalamnya terdapat tanaman air, kayu, batu, dan ikan, sehingga membentuk ekosistem seperti di alam yang natural. Keindahan ekosistem dalam aquascape kini banyak diburu pencinta akuarium sebagai interior di dalam rumah. Tak pelak, hobi itu melahirkan peluang bisnis tersendiri.

Boy Sembiring/Foto: dok. pribadi

Adalah Boy Sembiring yang mulai tertarik pada bisnis aquascape sejak duduk di bangku SMA, 19 tahun lalu. Tapi baru pada  2013 ini ia membangun toko aquascape di daerah Cikunir, Pondok Gede, Bekasi, kemudian pindah ke Jatibening 2 Pondok Gede, Bekasi. “Dari melihat toko aquascape waktu itu saya tertarik menekuni bisnis ini. Dengan modal Rp30 juta saya membuka toko dengan membeli 12 akuarium.  Sebelumnya saya sudah memiliki 3 akuarium, sehingga total aquarium yang saya miliki ada 15 akuarium,” katanya kepada pelakubisnis.com, pada 25 Juli lalu.

Padahal sebelum menekuni bisnis aquascape, Boy sudah bekerja di sebuah perusahaan pertambangan, bagian pemetaan. Tapi justru ia lebih kepincut menekuni bisnis ini yang awalnya berangkat dari hobbi. “Dasarnya karena hobbi ikan hias, lalu merambah ke aquascape,” kata Sarjana Informatika ini seraya menambahkan bahwa usaha yang ia jalani merupakan usaha yang  berangkat dari hobbi. Tak urung kreativitas muncul tanpa batas menjadi keyakinannya bisa bertahan di usaha  ini.

Menurut Boy kondisi pasar saat awal berkiprah di bisnis ini cukup bagus. Pasalnya, pemain belum begitu banyak. Umumnya mereka yang terjun ke bisnis ini yang mengerti dekorasi-dekorasi aquascape. Saat itu aquascape bukan  dianggap “barang receh” yang bisa digeluti semua orang. “

Tapi sekarang hanya sedikit orang yang bisa membuat aquascape dan belum mengerti teori terjun ke bisnis ini. Mereka menjual aquascape dengan harga murah. Sementara dekoratif aquascape seperti Boy yang bekerja berdasarkan konsep, teori dengan penuh perhitungan akhirnya dihitung jadi murahan.

Boy menambahkan, fenomena itu yang merusak harga pasar. Banyak pemain aquascape yang asal jadi – tidak memahami dekorasi – menyebabkan harga  menjadi turun. “Pasar kan seperti itu, kalau banyak penyedia, sementara permintaan sedikit, akhirnya harga pun jadi turun,” tandas pemilik Aquaboy Aquarium, di bilangan Jatibening 2 Pondok Gede, Bekasi ini.

Lebih lanjut ditambahkan, dulu aquascape berukuran  60 x 30 cm dengan  tinggi 36 cm,  Boy bisa menjual dengan harga kisaran Rp2.500.000 – Rp3.000.000,-. Angka tersebut harga standar, tanpa penunjang yang lengkap. Tapi kalau dilengkapi penunjang lengkap minimal harganya bisa mencapai Rp5.000.000,-.

Hasil karya Boy Sembiring/Foto: dok.pribadi

Sayangnya saat ini, kata Boy, dengan ukuran sebesar itu, banyak yang menjual dengan harga Rp 1 jutaan. Harga sebesar itu tidak dilengkapi dengan peralatan yang sesuai kebutuhan tanaman, Padahal paling utama peralatan aquascape yang tidak boleh tidak adalah karbondioksida (tabung gas). Harga standar tabung gas mencapai Rp1,5 juta. “Masak jasa dekorasi untuk ukuran 60 cm x 30 cm hanya dihargai Rp1 juta!” katanya serius.

Sejak lima tahun terakhir  menurut Boy pasar aquascape turun, karena ulah  para pedagang yang  menjual aquascape dengan harga murah. Tak urung, kondisi demikian juga berimbas pada usaha Boy. Ia mengakui ada penurunan omzet sejak dua tahun terakhir ini.

Biasanya mereka, kata Boy, menjual aquascape, pada orang awam yang tidak tahu metabolisme kehidupan di dalam aquascape, sehingga dalam waktu singkat akan menimbulkan masalah. Tanaman di dalam akuarium akhirnya tidak tumbuh subur dan lama kelamaan akan mati.

Itu baru dari satu sisi. Kemudian, lanjut Boy, mereka yang tidak meng-update dekorasi aquascape akan ketinggalan model. Padahal tren dekorasi aquascape berkembang cepat. Pertanyaannya apakah pedagang-pedagang aquascape selalu mengikuti tren dekorasi  dunia? Setiap tahun pasti ada kontes aquascape, baik nasional maupun internasional. Tapi karena saat ini masih pandemi Corona, maka kontes Aquascape ditunda untuk tahun ini.

Sementara harga termahal Aquascape untuk ukuran yang sama itu bisa mencapai Rp. 17.000.000. Biasanya harga sebesar itu hasil karya para senior dekorasi aquascape yang telah memenangkan berbagai kontes ajang aquascape internasional. Perlu diketahui, 10 dekorasi pemenang kontes aquascape internasional, lima diantara orang Indonesia.

“Saya salah satu pemain aquascape yang tetap mempertahankan harga jual. Beberapa produsen penunjang peralatan aquascape, seperti Aqua Jaya, mengontrol harga di pasaran. Seperti harga pupuk tanaman aquascape dan lain-lain tak ikut-ikutan latah membanting harga jual. Aqua Jaya sering mengontrol harga di pasaran. Bila kedapatan yang menurunkan harga jual, maka pasokan dari Aqua Jaya akan distop,” ungkap Boy sambil menambahkan Aqua Jaya merupakan toko aquascape pertama di Indonesia yang menyediakan seluruh pelengkapan aquascape.

Namun demikian, di era pandemi Covid-19 ini justru penjualan aquascape  meningkat. Sejak pandemi omzet Aquaboy Akuarium bisa mencapai Rp 30-an juta perbulan. Padalah sebelum pandemi untuk menembus omzet Rp 15 juta perbulan saja sulit sekali. “Nilai tertinggi dari aquascape ada pekerjaaan dekorasi. Pekerjaan ini memerlukan keahlian, dan tidak semua orang bisa mengerjakannya,” katanya serius.

Lebih lanjut ditambahkan, Aquaboy Akuarium menjual perlengkapan aquascape dari hulu sampai hilir. Dari mulai mengerjakan dekorasi, menjual tanaman-tanaman untuk aquascape, batu karang, pupuk sampai pekerjaan perawatan. “Pekerjaan perawatannya sebetulnya simpel. Misalnya seminggu tiga kali tanaman diberi pupuk cair, ganti air, membersihkan filter,  membersihkan Koral di batuan,” katanya sambil menambahkan klien kadang-kadang tidak punya waktu merawat aquascape. Sedikitnya perlu waktu satu jam untuk merawat aquascape dalam seminggu.

Boy menambahkan, kebanyakan pemain aquascape sebagai dekorasi  justru yang tidak memilik toko. Mereka umumnya menggunakan media online dalam memasarkan jasa dokarasi aquascape. Sedangkan pemilik toko yang juga merangkap sebagai dekorasi tidak banyak. Dalam satu komplek pasar ikan hias, paling hanya ada satu atau dua pedagang yang lengkap menawarkan jasanya dari hulu sampai hilir. “Aquaboy Akuarium satu toko aquascape yang menawarkan perlangkapan aquascape dari mulai mendesain (dekorasi-red) sampai menyediakan perlengkapan serta perawatan,” katanya serius.

Menurut Boy, untuk terjun ke bisnis aquascape harus terintegrasi, dari mulai mengerjakan dekorasi, penyediaan peralatan yang lengkap, mulai dari tabung gas, tanaman, batu-batuan, pupuk, ikan hias sampai perawatan. “Kalau hanya mengandalkan pekerjaan dekorasi aquascape saja tidak bisa diandalkan. Justru pendapatan yang rutin adalah penjualan peralatan aquascape. Order pekerjaaan dekorasi anggap saja bonus,” tambahnya.

Justru pendapatan terbesar berasal dari bahan-bahan perlengkapan aquascape. Boy mengakui omzet rata-rata bisa sekitar Rp 15 juta per bulan bahkan sampai Rp 30 juta. Ke depannya ia ingin  mengikuti kontes-kontes aquascape baik, nasional maupun internasional seperti yang telah diperoleh para pendahulunya. “Saya juga memanfaatkan sosial media sebagai digital marketing untuk memperkenalkan Aquaboy Akuarium,” tandasnya.

Yang terpenting dalam menjalani bisnis ini menurut Boy adalah pertama, perbanyak display dekorasi di toko. Dalam hal ini pasar aquascape memiliki banyak genre/macam  dekorasi aquaspace seperti pasir terjun, ‘Dutch Style, atau model natural yang dominan fokus pada akar-akar yang besar, kemudian desain iwagumi yang lebih banyak menonjolkan bebatuan seakan berada di wilayah pegunungan, lalu ada Indonesian Style dan lain-lain.

Kedua, Selain after sales service, yang tak kalah penting adalah penjualnya harus bisa menjelaskan product knowledge dengan memperkaya story telling pada setiap karya yang dihasilkan. Ketiga, hadirkan produk-produk yang high technology seperti pada mesin filter, pompa dan lain-lain. “Bila ketiga hal ini bisa dijalankan, kemungkinan bisa naik level. Jangan salah juga, tak sedikit pembeli yang bertanya hanya ngetest saja, padahal dia sudah lebih dulu tahu ilmunya,”terang Boy.

Tak dipungkiri peran influencer sangat berpengaruh dalam menjual produk ini. Salah satu upaya yang dilakukan Boy adalah membangun komunikasi lewat media sosial. Satu diantaranya yang kian atraktif  adalah channel instagram nya melalui aquaboy.tank. [] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa