Siasat Telkomsel Lewat Inovasi Digital

Transformasi digital menjadi telco digital company ini, menjadi syarat penting bagi Telkomsel  memenangkan persaingan. Digital menjadi tools  berinovasi memanfaatkan momentum yang muncul dari perubahan kondisi masyarakat dan perilaku konsumen.

Era pandemi Covid-19 ini merupakan momentum yang menantang perusahaan untuk melakukan transformasi digital. Pasalnya, pandemi Covid-19 mengubah landscape menjadi  low touch economy. Artinya aktivitas ekonomi yang sangat meminimalkan sentuhan fisik.

Dengan low touch economy, maka konsumen akan semakin terdorong mengadopsi teknologi digital. Bahkan teknologi digital diyakini menjadi senjata dan solusi dalam kondisi low touch economy. Hal itu pun terlihat dari makin berkembangnya aktivitas masyarakat yang sangat mengandalkan teknologi digital seperti belanja (shopping), belajar (learning), rapat (meeting), hingga berobat (telemedicine). Dan ke depan, fenomena low touch economy ini diyakini akan menjadi aktivitas keseharian mengingat masyarakat masih khawatir dengan penularan virus corona.

Kondisi ini tentu saja mendorong perusahaan untuk semakin going digital. Terlebih bagi perusahaan telekomunikasi seperti Telkomsel yang memang sedang bertransformasi menjadi digital telco company. Telkomsel seakan menemukan momentumnya. “Bahkan harus diakui, Covid-19 mempercepat transformasi digital,” ungkap Setyanto Hantoro, CEO Telkomsel dalam acara Indonesia Brand Forum 2020 yang dihadiri lebih dari 500 peserta secara live webinar.

CEO Telkomsel, Setyanto Hantoro,: pandemi Covid-19 mempercepat transformasi digital/foto: doc.Telkomsel

Dalam transformasi digital yang dijalankan, Telkomsel memiliki tiga lapisan. Pertama, digital connectivity. Ini menjadi semacam core of the core. Telkomsel menyediakan konektivitas digital untuk semua segmen masyarakat. “Ini main competence kami, bagaimana  bisa menyediakan connectivity   digital kepada semua lapisan masyarakat, lapisan bisnis sesuai dengan kebutuhan mereka menghadapi low touch economy dan new normal itu,” tambah Setyanto.

Menurut Setyanto,  Telkomsel saat ini sudah meng-cover 99% populasi dari seluruh kepulauan di Indonesia. Tapi masih ada 2G, 3G dan 4G. kalau bicara low touch economy, digitalisasi berarti harus 4G. Kalau bicara 4G population base sekitar 94%. “Angka itu seolah-olah besar, tapi kalau kita lihat jumlah desa  di Indonesia ada 82.000 desa. Yang belum ada 4G itu sekitar  12.000 desa.

“Kalau menurut saya kita masih belum berbangga diri. Memang secara populasi kecil, sekitar 5 sampai 6 persen, tapi ada 12.000 dengan belum tersentuh  oleh internet yang cukup baik agar mereka bisa beradaptasi dengan new normal, low touch economy. Menjadi  digital ekonomi merupakan challenge bagi kita,” tambahnya.

Kedua, digital platform. Menyediakan platform digital yang andal. Di digital platform  ini adalah bagaimana kita bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat, kita memberikan  enabler buat masyarakat baik itu consumer market maupun business market.”Kami melakukan peran kolaborasi atau partnership dengan yang lain. Kerena digital connectivity yang menjadi ahli Telco dan Telkomsel,” jelasnya

Lebih lanjut ditambahkan, ketiga, digital services, menyajikan layanan yang berkualitas di atas platform yang dimiliki. Di sini Telkomsel membuka ruang selebar-lebaranya melakukan partnership dengan pihak lain yang mempunyai core competence masing-masing bidang.

Setyanto  menambahkan, menjual service  juga banyak challenge lagi. Misalnya di Indonesia  ada 4500 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Dari jumlah tersebut belum  semuanya siap untuk melakukan digital.

Tidak hanya itu, ada  banyak mahasiswa  yang tidak mampu atau tidak memiliki ases digital yang baik. “Kami banyak melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi itu, dengan ruang digital mereka. Kami  kasih special packed. Saat ini Telkomsel bekerjasama dengan 450 perguruan tinggi negeri maupun swasta di seluruh  Indonesia  untuk menyediakan ruang digital, menyediakan platform di conference telkomsel.  Kami juga menjediakan special packed, berupa subsidi kepada mahasiswa untuk mengakses platform digital, ” katanya seraya menambahkan Telkomsel  baru menyentuh sekitar 10% di di sektor pendidikan, belum di sektor kesehatan   dan lain-lain.

Misalnya konten pendidikan atau  digital learning  ada banyak ahlinya, seperti genius, ruang guru. Pertanyaannya apakah Telkomsel juga bikin konten pendidikan? Telkomsel menurut  Setyantu  bukan  ahlinya di situ. Mari kita berkolaborasi . Cara kolaborasinya bisa bikin paket-paket khusus bagi pelanggan Telkomsel untuk bisa mengakses ke situ .

Telkomsel berkolaborasi dengan lembaga pendidikan/foto: ist

Menurut Setyanto, terjadi fenomena  menarik. Dulu Telkomsel kalau memberi service kepada pelanggan ada yang traditional channel dan modern channel. Traditional channel yang ada di lapak-lapak pinggir yang menjual pulsa. Sedangkan modern channel, Telkomsel punya beberapa partner channel atau Telkomsel punya sendiri. Dulu 60% di traditional channel dan 40% di modern channel. Sekarang terbalik, sekitar 60 sampai 70% di modern channel dan 30 sampai 40% di traditional channel.“Kami beradaptasi dengan itu. Ini cara kita untuk bisa memudahkan pelanggan agar hidupnya lebih sukses,” jelasnya.

Lebih lanjut ditambahkan, sejak dua tahun yang lalu Telkomsel serius menggarap market B to B, di mana Telkomsel berkolaborasi  induk (Telkom) untuk melayani B to B customers. Walaupun secara prosentase saat ini masih kecil, sekitar 5% B to B. “Pelan-pelan kami garap B to B  dengan tetap memanfaatkan core competence, yaitu connectivity internet  yang sudah menjangkau di seluruh Indonesia,” lanjutnya.  Telkomsel memberikan solusi B to B seperti video conference kita ada aplikasi IoT (internet of things-red) yang banyak dipakai oleh ritel, mining industry dan lain-lain.

Telkomsel melakukan embrace teknology 4.0 dengan case utamanya  adalah big data. Sampai saat ini, tambah Setyanto,  Telkomsel melayani 170 juta pelanggan yang setiap hari berinteraksi  dan Telkomsel meng-college sedemikian banyak data analytic. Jadi, kita punya big data analytic technology, sehingga kita bisa  melayani  konsumen korporasi selama 24 jam.

Pertanyaannya bagaimana peran CEO Telkomsel dalam melakukan transformasi digital? Menurut Setyanto, Telkomsel sangat serius  melakukan transformasi. “ Ujian Covid-19 ini hikmahnya membuat kita mempercepat transformasi. Telkomsel melihatnya bahwa men-transformasi dari mindset, yaitu cara pikir dan pola kerja. Jadi, kita merubah diri kita bagaimana cara kerja dengan menggunakan rumus yang disebut 4D,” lanjutnya  serius. Keempat itu adalah discoverdefinedevelop, dan deliver. Adapun tim pengembangan produk akan dibagikan berdasarkan rumus tersebut.

“Jadi discover itu menemukan point point dari pelanggan karena kita ingin membuat hidup mereka lebih mudah. Kemudian kita men-define bagaimana kita memberikan solusi atas point point tersebut. Kemudian kita develop (solusinya) secara internal, namun kalau  butuh mitra kita akan cari mitra. Terakhir kita deliver solusinya ke pelanggan,” tutur Setyanto.

Keempat itu di Telkomsel, kata Setyanto, dikerjakan sangat serius. Di mana Telkomsel memiliki divisi transformasi bernama Transformation Management Office (TMO) yang berada di bawah kepimpinanannya langsung. Salah satu tujuan dari transformasi tersebut, untuk membuat perusahaan telco yang raksasa ini menjadi lebih agile dan adaptif ke depan.

Hal ini seperti startup di dalam korporasi. Di mana korporasinya ini kita buat pekerjaannya atau berpikirnya atau men-delivery product-nya dengan cara startup. “Saat ini ada 30 tim diberbagai bidang, interaksi kita dengan pelanggan,” lanjutnya.

Transformasi digital dalam rangka menjadi telco digital company ini, Setyanto, melanjutkan, menjadi syarat penting bagi Telkomsel untuk memenangkan persaingan. Terlebih di era low touch economy. Digital menjadi tools untuk berinovasi memanfaatkan momentum yang muncul dari perubahan kondisi masyarakat dan perilaku konsumen. Dengan konektivitas luas yang dimiliki, banyaknya  platform, dan beragamnya  layanan, Setyanto yakin Telkomsel sangat besar. “Dengan potensi yang ada, kami ingin nantinya Telkomsel ini sebesar gajah, tapi selincah merpati,” ujarnya sambil tersenyum.

Setyanto menambahkan, 10 tahun ke depan Telkomsel akan dikenal sebagai digital telco yang ikut memiliki semua service  top number one. Misalnya e-commerce yang paling top apa? Telkomsel mempunyai kepemilikan di situ dan memanfaatkan digital platform dan  connectivity Telkomsel.[] Yuniman Taqwa/foto ilustrasi utama: telkomsel.com