Tren Bersepeda di Masa Pandemi

Kekhawatiran menggunakan transportasi massal mendorong masyarakat mencari opsi menggunakan sepeda sebagai alat transportasi alternatif  menuju tempat kerja. Tak ayal, pengguna sepeda kini semakin meningkat, bahkan menjadi gaya hidup masyarakat perkotaan.

Komunitas bersepeda kian menjamur. Banyak alasan yang muncul tak sekedar jawaban untuk kegiatan berolahraga saja melainkan sudah menjadi lifestyle. Pasar sepeda pun booming.  Dimana ada kebutuhan, disitu ada permintaan. Boleh jadi ini asal muasal yang membuat harga sepeda sekarang naik berlipat-lipat dan bernilai prestige!

Komunitas Sepeda ‘Muncang Bicycle Club’ (MBC) /Foto: Ist

Menurut Tri Yuwono(34), anggota komunitas sepeda  Muncang Bicycle Club (MBC), boleh jadi yang membuat harga sepeda sekarang mahal karena peminatnya tambah banyak, sementara ketersediaan stok barang di pasaran kurang. Ada salah satu merek lokal yang dalam situasi seperti sekarang banyak dimanfaatkan orang dengan menjualnya lebih mahal. Sementara bila kita membeli langsung ke toko resminya, dijamin harga masih sama tidak ada kenaikan.

Ada juga merek-merek sepeda lipat yang harganya wow! Sebut saja Bromie (Brompton-red). Merek ini salah satu merek yang sedang naik daun. Penggunanya akan merasa bangga sekali ketika menggowes sepeda yang harganya ratusan juta rupiah ini.

Hendro: “Kenapa harga sepeda jadi mahal? Karena sepeda hanya untuk mereka yang merasa perlu punya aja”/Foto: Dok. Pribadi

Kata salah satu pengguna Bromie,  Hendro Cahyono (50), terjadi  permintaan yang tinggi di pasar sepeda sebenarnya akibat kejenuhan selama masa pandemi. Naik sepeda menjadi solusi sehat untuk mengatasi kejenuhan. Lantas, kenapa harganya jadi mahal? “Karena sepeda hanya untuk mereka yang merasa perlu punya aja,” ujar bapak beranak satu ini seraya menyebut merek Bromie yang memiliki daya tarik karena menggunakan aplikasi iklan word of mouth (dari mulut ke mulut). Dari pembicaraan di kalangan pencinta sepeda ini terbentuk imej prestige bahwa siapapun yang pakai Bromie,  positiongnya sudah jelas sebagai sepeda lifestyle dan dia punya kelas yang berbeda.

Bersepeda menjadi bagian dari gaya hidup di masa pandemi/Foto: Ist

 

Sepeda mahal mempunyai storytelling yang kuat /Foto: Dok Pribadi

Bila sebelum pandemi Covid-19 bersepeda sebagai lifestyle hanya dilakukan komunitas-komunitas yang banyak bertebaran di kota-kota, seperti Jakarta, Bandung, Jogya dan kota-kota lain di Indonesia. Ada komunitas sepeda gunung, sepeda onthel, sepeda jangkung dan sebagainya. Tapi kini masyarakat di luar komunitas itu pun mulai ramai-ramai bersepeda.

Memasuki era new normal masyarakat banyak menggunakan sepeda. Belakangan ini menjadi tren. Tidak hanya terjadi di kota-kota besar di Indonesia, tapi kota-kota kabupaten sekali pun kerap dijumpai masyarakat bersepeda pada hari-hari libur. Inilah gaya hidup baru masyarakat  urban di era new normal. Ada beberapa alasan mengapa di era pandemi Covid-19 banyak masyarakat menggunakan sepeda.

Tak hanya di libur, tapi hari kerja pun kerap dijumpai masyarakat perkotaan menggunakan sepeda. Boleh jadi sepeda menjadi alternatif transportasi. Di mana pada saat pandemi ini, menimbulkan budaya baru, yaitu menggunakan masker, cuci tangan dan jaga jarak. Protokol kesehatan ini sebagai pemicu mengapa timbul rasa khawatir menggunakan transportasi massal.

Sementara olah raga rutin dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh dengan cara merangsang kinerja sel darah putih. Tidak hanya untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, olahraga juga baik untuk mengurangi stres, menurunkan berat badan, memperkuat otot dan tulang, serta membuat tidur lebih nyenyak.

Olah raga yang disarankan adalah selama 20-30 menit setiap hari. Pilihan olahraga yang baik dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh , satah satu jenis olahraga adalah bersepeda.

Seorang Profesor ahli olahraga di Universitas Cape Town, Afrika Selatan, yang bernama Tim Noakes, mengatakan olahraga ringan, seperti bersepeda, dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan meningkatkan produksi protein penting dan membangun sel darah putih yang berguna pada sistem kekebalan tubuh, sebagaimana artikel bertajuk: Bersepeda Punya Banyak Manfaat Kesehatan Tak Terduga, Tidak Perlu Mahal !, dimuat di medium.com.

Bersepeda menjadi salah satu alternatif olah raga untuk menjaga kebugaran tubuh. Apalagi di masa pandemi saat ini, masyarakat disarankan berolahraga untuk meningkatkan immunities tubuh  yang dapat meningkatkan kekebalan tumbuh, sehingga  terhindari  dari serangan virus.

Tren bersepeda di tengah pandemi corona / Covid-19 juga disemarakkan para pejabat pemerintah.  Terbaru, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria (Ariza) bersama komunitas Bike to Work kompak berangkat kerja dengan bersepeda ke Balai Kota dari kediaman masing-masing pada 16/6 pagi.

Anies pun mengajak masyarakat untuk sering-sering gowes sepeda. Menurut Anies, sepeda harus dipandang bukan sekadar alat olah raga, tetapi juga alat transportasi dari satu tempat ke tempat lainnya.

“Saya mengajak kepada seluruh masyarakat, mari lihat sepeda bukan sekedar sebagai alat olahraga, tapi sebagai alat transportasi. Jadi, kalau mau pergi ke warung, bisa naik sepeda. Mau pergi ke toko, bisa naik sepeda. Mau pergi ke rumah ibadah, sepeda. Mau ke kantor bisa naik sepeda,” ujar Anies, dikutip dari situs Beritajakarta.id yang dikelola Pemprov DKI Jakarta.

Berarti dengan bersepeda , ada dua hal yang dapat diperoleh, pertama meningkatkan kebugaran dan immunities tumbuh. Kedua, bila ke kantor menggunakan sepeda, maka  dapat meminimalisasi resiko terpapar Covid-19 karena terhindar berada dari kerumunan bila menggunakan transportasi massal.

Semenjak pandemi Corona, naik sepeda ikut membantu mengurangi dampak tertular Covid-19 serta baik untuk pelestarian alam. Semakin banyak yang mau bersepeda maka dampaknya makin baik bagi kehidupan dan lingkungan.

Bahkan,  PT MRT Jakarta (Perseroda) telah menyediakan 25 rak sepeda yang tersebar di 13 stasiun. Satu rak sepeda mampu menampung hingga 10 unit sepeda. Rak tersebut disediakan secara gratis dan dapat digunakan oleh pesepeda yang ingin melanjutkan perjalanannya dengan MRT Jakarta. PT MRT Jakarta (Perseroda) juga telah menjalin kerjasama dengan Yayasan Institute for Transportation and Development Policy dalam program Sepeda Berbagi.

Saat ini, terdapat 35 unit sepeda yang dapat dipinjam dan dipergunakan secara gratis oleh masyarakat. Sepeda-sepeda ini tersebar di rak sepeda di lima stasiun MRT Jakarta, yaitu Stasiun Bundaran HI, Dukuh Atas BNI, Bendungan Hilir, Senayan, dan Blok M BCA. Agar dapat menggunakan sepeda ini, calon peminjam dapat menggunakan aplikasi peminjaman sepeda dan mengisi sejumlah informasi yang dibutuhkan. Setiap sepeda di rak sepeda juga diberi gembok numerik yang dilengkapi dengan sistem proteksi deretan kode angka yang dapat diperoleh setelah calon peminjam mendaftarkan dirinya.

Sementara Anies juga menjelaskan, selama masa PSBB, masyarakat mulai banyak yang memakai sepeda sebagai alat transportasi sehingga terdapat peningkatan jumlah pengguna sepeda sebesar 10 kali lipat di sepanjang Sudirman-Thamrin. Karena itu, Gubernur Anies menyatakan jalur sepeda disiapkan melalui penggunaan pembatas traffic cone (kerucut jalan), selain dari jalur sepeda khusus yang telah dibangun sebelumnya.

Sayangnya, peningkatan tren bersepeda kurang diimbangi dengan kesadaran untuk mematuhi lalu lintas ketika berada di jalanan. Masih banyak mereka yang bersepeda  mendapat kritikan karena tak patuh lalu lintas dan bergerombol memenuhi jalan hingga membahayakan pengendara lain.[] Siti Ruslina