Adaptasi UMKM di Tengah Pandemi

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan sektor yang mudah beradaptasi. Ketika bisnisnya jatuh, mereka bisa cepat pindah ke bisnis  lain yang lebih potensial. Namun demikian, sektor ini paling terdampak atas pandemi Covid-19. Perlu segera dibantu agar bangkit dan menjadi tulang punggung ekonomi nasional.

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) boleh jadi merupakan tulang punggung ekonomi nasional. Ketika krisis ekonomi 1998, misalnya, kemudian ratusan perusahaan, mulai dari skala kecil hingga konglomerat bertumbangan. Sekitar 70 persen lebih perusahaan yang tercatat di pasar modal mendadak berstatus insolvent alias bangkrut.

Stimulus untuk UMKM, mampu selamatkan ekonomi dari keterpurukan/foto: ist

UMKM justru yang  menjadi penyelemat ekonomi bangsa dari keterpurukan pada saat itu. Di tengah situasi yang serba sulit, UMKM masih menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah tenaga kerja pada saat krisisi ekonomi 1998 di UMKM sebanyak 64,31 juta. Angka ini sedikit turun 1,96 % dibandingkan 1997 yang mencapai 65,6 juta jiwa. Setahun setelah krisis, tenaga yang terserap kembali meningkat 4,4 % menjadi 67,16 juta orang.

Sama halnya pada 2008. Saat itu negeri turut terimbas krisis keuangan global yang dipicu subprime mortgage dimulai di Amerika Serikat. UMKM pun berkontribusi besar dalam mempertahankan gairah ekonomi masyarakat. Data BPS, jumlah penyerapan tenaga kerja malah meningkat 3,9 % menjadi 90,49 juta jiwa dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun demikian, pandemi Covid-19 memukul UMKM. Sebanyak 47 persen usaha mikro. kecil, dan menengah (UMKM) gulung tikar akibat terdampak pendemi Covid-19. Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki mengatakan berdasarkan hasil survei yang dilakukan sejumlah lembaga dan Kementerian UMKM, wabah virus Corona memberikan dampak besar terhadap keberlangsungan UMKM.

“Diramalkan survei 47 persen UMKM berhenti berusaha, kami juga mencatat hal yang sama,” katanya dalam diskusi virtual yang digelar Himpuni pada 20/5 lalu, seraya menambahkan kebanyakan UMKM mengalami masalah kesehatan arus kas, sehingga harus merumahkan tenaga kerjanya.

Berdasarkan survei Himpuni soal UMKM perlu dukungan untuk bangkit dengan responden survei yang berasal dari kalangan pemilik atau pengelola UMKM, pemerhati UMKM, mahasiswa, dosen dan alumni perguruan tinggi berpendapat,  krisis ekonomi sebagai dampak pandemi Covid-19 membutuhkan dukungan untuk bangkit. “Dukungan dibutuhkan khususnya dalam upaya meningkatkan penjualan dan aliran masuk kas,” ujar Maryono, Koordinator Presidium III Himpuni.

Tak pelak lagi, pemerintah pun menggelontorkan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk UMKM  dengan mengalokasikan dana sejumlah Rp123,46 triliun untuk penyehatan kegiatan usaha.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam webinar bertajuk Gotong Royong Jaga UMKM untuk Indonesia, Selasa (11/8), menjelaskan,  per 3 Agustus 2020, realisasi anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dalam bentuk dukungan bagi UMKM telah tercatat Rp32,5 triliun atau 26,4% dari alokasi  Rp123,46 triliun.

Di samping itu, bantuan modal usaha mikro  juga  akan dirilis untuk menggerakkan aktivitas usaha di kalangan pelaku UMKM, hingga gerakan dan stimulasi Bangga Buatan Indonesia untuk mengajak lebih banyak pelaku usaha hadir dalam ekosistem digital dijalankan pemerintah sebagai bentuk nyata keberpihakan negara terhadap para pelaku usaha dan krusialnya UMKM bagi perekonomian Indonesia.

Menurut mantan Menteri Pariwisata periode 2014 – 2019, Arief Yahya, hampir semua sektor terdisrupsi karena ada covid 19. Sebut saja media, product and services,  ritel,  financial service dan  communication. “Hipotesis saya adalah, kalau media sekarang terdisrupsi karena digital maka  harus menggunakan solusi-solusi digital. Dengan kata lain, transformasi digital di dalam perusahaan itu menjadi sebuah keniscayaan,” lanjut Arief.

Sementara Brand Expert Subiakto Priosoedarsono mengatakan, meskipun terdampak, UMKM adalah sektor yang mudah beradaptasi. Dibandingkan dengan perusahaan, variabel bisnis UMKM cenderung lebih sederhana. Ketika bisnis UMKM jatuh, mereka bisa cepat pindah ke bisnis yang lain yang lebih potensial. Berbeda dengan perusahaan yang perlu mempertimbangkan banyak aspek.

Pria yang akrab disapa Pak Bi ini membagikan kunci keberhasilan strategi branding bagi UKM. Menurutnya, UKM harus “kenal banget” dengan perilaku konsumen. Ia menganalogikan bagaimana tukang sayur bisa laris bukan karena dagangannya tetapi karena tukang sayur tersebut mengenal betul dan dekat dengan kehidupan si pembeli. Sementara itu, Pak Bi memiliki perspektif yang berbeda ketika ditanya apakah di era yang begitu menonjolkan digital, UKM justru jangan terlalu mendewakan digital. Punya akun Instagram dan Facebook tapi hanya dipakai untuk jualan.

”Media yang bikin closing lewat media personal”, jelas Pak Bi. Ia mencontohkan media personal seperti Whatsapp dan email yang interaksinya bisa 24 jam. Pak Bi menegaskan, meskipun jualan lewat online namun interaksi yang diterima konsumen harus seolah-olah seperti face-to-face.

Dalam gelaran Indonesia Brand Forum 2020, Pak Bi memberikan saran bagi UKM, branding yang berhasil yaitu branding yang bisa mendapatkan kepercayaan pelanggan. Membangun brand itu membangun cerita yang dapat dipercaya. Selain itu, ia juga menambahkan, strategi word of mouth marketing akan kembali booming.

Pria yang mengawali karir sebagai Art Director Packaging ini mengungkapkan, strategi word of mouth marketing bisa melalui packaging. “Packaging is the ultimate marketing for Brand”, ujar Pak Bi. Baginya, lewat packaging brand dapat bercerita banyak yang kemudian dapat menumbuhhkan trust pelanggan.

Mengambil momentum pandemi COVID-19, ini adalah momentum yang tepat bagi UKM sebagai brand lokal untuk bangkit. Kuncinya, UKM harus memahami strategi branding. Branding yang efektif yaitu dengan memanfaatkan rasa takut dengan melawan. Terdapat 3 naluri mendasar yang dirasakan pelanggan di situasi saat ini. Ia menyebutkan naluri dasar tersebut ialah takut, marah dan sedih. “Kita sentuh hatinya, kita rogoh dompetnya”. Saat ini konsumen mengalami tiga emosi tersebut. Ketika UKM bisa membangun narasi dengan menyentuh hati konsumen, maka sebagai imbal baliknya, konsumen akan memberikan loyalitas.

Di akhir sesi Branding for SME Indonesia Brand Forum 2020, Pak Bi memberikan tips bagi UKM yang sedang merintis usaha. Pertama, UKM harus fokus membuat sesuatu yang spesial dan unik sehingga tidak mudah ditiru. Untuk bisa mencapai keberhasilan branding, UKM harus bisa menemukan nama dan makna. Kedua, cara untuk menemukan makna yaitu UKM harus memiliki purpose yang diikuti oleh passion. Purpose + Passion menjadi prestasi dan prestasi yang diakui menjadi legenda.

Tips terakhir yang disampaikan oleh Pak Bi yaitu bangunlah brand tentang cerita. Jangan hanya menceritakan tentang produk tetapi juga bercerita tentang hal-hal di sekitar produk sehingga konsumen percaya bahwa produk UKM memiliki kualitas yang bagus.

Di awal pandemi, Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki melihat tantangan besar ini sekaligus merupakan peluang bagi produk-produk lokal terutama UMKM Indonesia dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki saat meninjau pedagang UMKM/foto: doc. Depkop.go.id

“Bara mimpi ini terus kita gelorakan dan jaga, salah satunya selain melakukan onboarding dan transformasi digital bagi pelaku usaha agar bisa hadir dan bertransaksi dalam ekosistem digital, juga melakukan pendampingan dan pelatihan agar pelaku usaha tidak hanya bertahan, namun juga terus adaptif dan kompetitif,” terang Teten Masduki dalam keterangan tertulis, sebagaimana dikutip dari liputan6.com, 15/8 lalu.

“Dalam kesempatan ini juga saya mengajak seluruh pegiat UMKM agar terus melakukan inovasi, adaptasi. Tinjau ulang model bisnis, tren barang yang diminati, tekan sumber-sumber pengeluaran yang belum mendesak, optimalkan lingkaran terdekat (keluarga, teman, sesama pelaku UMKM) untuk menjadi perpanjangan tangan pemasaran. Berjejaring, berkolaborasi, berkonsolidasi agar UMKM Indonesia dapat naik kelas dan bersaing secara global,” tambahnya.

Masih dari sumber yang sama, Hermawan Kartajaya dari MarkPlus, Inc, meyakini produk lokal semakin banyak diminati, terutama di masa pandemi. Alasannya, karena produk lokal jelas lebih mudah didapat dan lebih terjamin dari segi kebersihan maupun kesehatan dan tentunya harganya lebih terjangkau.

“Produk lokal kalau untuk di dalam negeri bisa dibilang sudah jadi tuan rumah di negeri sendiri, contoh jelasnya, naik sepeda sekarang kan lagi tren itu kan banyak pakai produk lokal juga,” ucapnya saat dihubungi Liputan6.com, pada 13/8 yang dikutip pelakubisnis.com.

Kementerian Perindustrian memacu daya saing industri di tanah air agar mampu kompetitif, baik di pasar domestik maupun kancah internasional. Apalagi, di saat kondisi perekonomian yang terdampak Covid-19, perlu adanya langkah strategis untuk meningkatkan penyerapan produk industri dalam negeri.

“Produk industri kita harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Sebab, kita punya pasar domestik yang sangat besar, yang merupakan potensi bagi kita. Bahkan, kita banyak memiliki produk industri unggulan yang kompetitif dibanding produk dari impor,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, pada 10/6.

Menurut Agus Gumiwang, pemerintah bertekad untuk proaktif mendukung kegiatan industri manufaktur, tidak hanya bagi skala besar saja, tetapi juga termasuk sektor industri kecil menengah (IKM). Pasalnya, selama ini industri manufaktur memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sehingga dinilai berperan penting untuk memulihkan kembali geliat perekonomian nasional.

“Karena dampak pandemi saat ini, demand menjadi rendah. Artinya, kue market di domestik sangat terbatas. Jadi, sudah sewajarnya kita berikan kepada industri dalam negeri untuk menikmatinya,” tegas Agus.

Namun demikian, sektor industri membutuhkan kepercayaan tinggi dari masyarakat agar dapat terus berproduksi. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan Presiden Joko Widodo ketika peluncuran Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia, beberapa waktu lalu.[] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa/foto ilustrasi utama: ist