Katalis Merah Putih “Derek” Energi Hijau

Pembangunan pabrik katalis Merah Putih mampu mengurangi impor BBM dan meningkatkan nilai tambah di banyak proses industri. Ini bahan bakar hijau yang ramah lingkungan dan bernilai tambah tinggi.

Akhirnya pembangunan pabrik katalis teralisasi juga! Akhir Juli lalu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif  bersama Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro menyaksikan penandatanganan kesepakatan pendirian perusahaan patungan atau Joint Venture Company (JVC) pabrik katalis nasional pertama di Indonesia.

Menteri ESDM Arifin Tasrif : pembangunan pabrik katalis, mendukung ketahanan energi nasional/foto: biro klik esdm

Pabrik katalis ini nantinya akan disebut sebagai pabrik Katalis Merah Putih melalui PT Katalis Rekacipta Inovasi ITB. Pabrik ini adalah yang pertama dikembangkan dan dibangun oleh anak bangsa.

Penandatanganan JVC pabrik katalis merah putih dilakukan langsung oleh Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, Plt. Direktur Utama PT Pupuk Kujang Rita Widayati, dan Direktur Utama PT Rekacipta Inovasi ITB Alam Indrawan.

Pabrik ini rencananya dibangun pada akhir tahun 2020 dan diharapkan akan mulai beroperasi pada tahun 2021. “Semoga ini bisa mendukung ketahanan energi di masa mendatang,” harap Arifin.

Dengan pembangunan pabrik katalis di Indonesia, maka membuka peluang bagi kemandirian teknologi proses dan ketahanan energi. Hampir setiap proses industri, seperti industri kimia, petrokimia, pengilangan minyak dan gas, termasuk energi terbarukan berbasis biomassa dan minyak nabati, semuanya  memerlukan katalis.

Selama ini Indonesia mengimpor hampir seluruh kebutuhan katalis nasional. Pembangunan pabrik katalis nasional ini dimaksudkan untuk mengurangi porsi impor katalis nasional, mengembangkan katalis untuk teknologi proses, dan penguatan industri proses dalam negeri.

Pendirian pabrik katalis ini merupakan upaya Kementerian ESDM mendorong pembangunan energi bersih melalui peningkatan teknologi proses. “Katalis merupakan suatu bagian yang penting untuk mempercepat reaksi proses pembentukan produk akhir. Hampir seluruh industri proses, baik industri kimia, petrokimia, termasuk di dalamnya teknologi energi terbarukan berbasis biomassa dan nabati memerlukan katalis,” kata Arifin di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Penelitian dan pengembangan katalis di Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis serta Pusat Rekayasa Katalisis ITB itu sejak 1982. Prof. Subagjo sejak saat itu  sudah belajar tentang katalis. Dirinya berpikir minyak sawit  juga sebetulnya hidro karbon. Maksudnya hidro karbon itu seperti minyak bumi, tapi diujungnya ada CO2. Menurunya jika itu diputus langsung bisa menjadi seperti minyak bumi.

”Karena saya belajar katalis, saya mencari katalis yang cocok untuk memutus itu. Kami lakukan dan memang kami sangat gembira. Waktu itu reaksinya  kadang-kadang baunya seperti solar tergantung kondisi. Dalam temperatur tinggi hasilnya gas LPG,  kalau temperatur lebih rendah nanti diperoleh bensin, lebih rendah lagi kerosin itu bahan baku avtur, lebih rendah lagi bisa solar, lebih rendah lagi enggak jadi apa-apa,” cerita Prof. Subagjo.

Sementara inovasi teknologi katalis buatan Institut Teknologi Bandung (ITB) diklaim mampu menghemat biaya produksi bahan bakar minyak jenis diesel sekitar Rp25 triliun per tahun. Pemerintah tak lagi harus mendatangkan katalis dari luar negeri agar bisa mensubstitusi minyak mentah dengan minyak sawit untuk membuat BBM, sebab 10% kebutuhan minyak mentah bahan baku BBM bisa disubtitusi oleh minyak sawit, sebagaimana dikutip dari vibizmedia.com.

Penguasaan teknologi katalis, sambung Arifin, menjadi langkah awal bagi kemandirian dalam bidang teknologi proses. Hal ini sejalan dengan kebutuhan katalis nasional selama tiga tahun terakhir yang mengalami peningkatan cukup signifikan. “Tahun 2017 sebesar USD500 juta, sementara pada tahun 2020 tumbuh kurang dari 6% per tahun menjadi USD595,5 juta,” urainya.

Arifin menjelaskan, keberadaan pabrik katalis nasional akan menjadi kunci teknologi proses sekaligus memperkuat industri proses dalam negeri sehingga mengurangi ketergantungan akan porsi impor katalis. “Ini akan menciptakan kedaulatan teknologi proses nasional,” jelasnya.

Sementara Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN), Bambang Brodjonegoro mengatakan, Program Strategi Nasional Pabrik Katalis Merah Putih yang dikembangkan Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis (TRKK) Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, akan segera dibangun pada September 2021.

Menristek/Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro: Program itu sudah didanai Kemenristek sejak 2017/foto: itb.ac.id

Program itu sudah didanai Kemenristek sejak 2017. Pabrik katalis nasional ini akan jadi yang pertama di Indonesia, dimana 100 persen dikembangkan dan dibangun oleh anak bangsa. Adanya Pabrik Katalis Merah Putih ini, lanjut Bambang,  nantinya bensin nabati termasuk disel nabati, avtur nabati akan bisa dihasilkan dalam jumlah besar. Selain itu memberi keuntungan untuk kebun rakyat, karena yang dipakai minyak inti sawit.

Menteri Bambang pada kesempatan tersebut mengungkapkan kegembiraannya karena hari ini triple helix di bidang energi nabati akhirnya bisa terealisasi. Ia menyebut, butuh kegigihan dan “kegilaan” dalam merealisasikan pabrik katalis merah putih ini.

“Kita bisa menjadikan bensin nabati ini sebagai salah satu strategi nasional bersama dengan drone untuk militer dan industri garam yang terintegrasi. Semoga ITB bisa terus melakukan penelitian dan akhirnya hilirisasi di bidang bio energi,” ungkap Menristek/Kepala BRIN, sebagaimana dikutip dari covid19.go.id.

Dengan membangun industri katalis nasional, menurut Presiden Joko Widodo, dalam  Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek)/Badan Riset dan Inovasi (BRIN) Tahun 2020, di Graha Widya Bhakti Kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong, Tangerang Selatan, Provinsi Banten (30/1), akan menjamin harga sawit. ”Hati-hati bukan urusan impor minyak tapi harga. Kemarin waktu B20 kita pakai harga, sawit langsung naik, begitu B30 kita pakai lagi harga, otomatis semuanya yang berkaitan dengan sawit naik semuanya. Petani kita mendapatkan keuntungan.

Dengan membangun industri katalis nasional, lanjut Presiden, akan menjamin harga sawit dan Indonesia tak bisa lagi dimainkan oleh negara lain seperti diskriminasi dalam hal jual beli kelapa sawit. ”Sekali lagi meningkatkan kesejahteraan petani sawit swadaya yang saat ini menguasai kurang lebih 42-45% dari perkebunan sawit nasional. Apalagi jika industri katalis tersebut bisa dibuat dalam skala menengah bisa dioperasikan oleh kelompok-kelompok petani sawit,” ujar Presiden seraya menambahkan pasokan diesel biohidrokarbon itu akan mengurangi biaya logistik dan biaya produksi sehingga petani pasti jauh lebih efisien juga murah karena tidak ada transportasi yang lain-lain, sebagai dikutip dari artikel bertajuk: Bangun Pabrik Katalis Suatu Keniscayaan, di pelakubisnis.com.

Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan dukungannya untuk pengembangan Katalis Merah Putih. “Kami sangat mendukung rencana pembangunan pabrik katalis skala besar atau komersial. Apalagi, hampir seluruh produksi bahan kimia membutuhkan katalis sebagai jantung proses produksi, sehingga pasar katalis dalam negeri menjadi sangat potensial,” kata Agus Gumiwang.

“Atas nama pemerintah, kami mengucapkan selamat dan sukses kepada PT Pertamina yang telah berhasil mengembangkan teknologi dan menguji secara langsung teknologi Katalis Merah Putih untuk produksi diesel hijau 100% dari Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBD Palm Oil),” imbuhnya, dalam rilis yang disampaikan 15 Juli 2020.

Bahkan, Menperin terus mendorong diversifikasi produk bahan bakar yang berbasis nabati, termasuk avtur. “Kami minta juga energi berbasis nabati nantinya tidak hanya berasal dari CPO saja, tetapi komoditas lain yang bisa dikembangkan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Agus, inovasi tersebut menjadi momen tepat untuk menyampaikan pesan bahwa Indonesia akan mandiri dalam penyediaan energi nasional di tengah maraknya kampanye negatif terhadap minyak sawit Indonesia oleh Uni Eropa dan negara importir lainnya. “Indonesia akan mengurangi impor BBM dan menggantinya dengan bahan bakar hijau yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” tegasnya.

Di samping itu, penguasaan lisensi teknologi produksi katalis di dalam negeri akan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi katalis dan mengurangi ketergantungan impor. “Kami sangat mendukung rencana pembangunan pabrik katalis skala besar atau komersial. Apalagi, hampir seluruh produksi bahan kimia membutuhkan katalis sebagai jantung proses produksi, sehingga pasar katalis dalam negeri menjadi sangat potensial,” tandasnya.

Penguasaan lisensi teknologi produksi katalis di dalam negeri akan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi katalis dan mengurangi ketergantungan impor. “Kami sangat mendukung rencana pembangunan pabrik katalis skala besar atau komersial. Apalagi, hampir seluruh produksi bahan kimia membutuhkan katalis sebagai jantung proses produksi, sehingga pasar katalis dalam negeri menjadi sangat potensial,” tandasnya.

Kementerian Perindustrian akan siap memberikan dukungan berupa kemudahan perizinan industri, penyusunan rancangan SNI Katalis, hingga fasilitasi insentif perpajakan seperti tax holidaytax allowance, dan super deduction tax. “Selama ini, kami turut berpartisipasi aktif dalam penyusunan kebijakan dan pengembangan teknologi produksi bahan bakar hijau, termasuk diesel hijau,” jelasnya.

Menteri AGK mengemukakan, setelah produksi diesel hijau 100% dari RBD Palm Oil, ke depannya ada potensi bahan baku alternatif berupa Industrial Vegetable Oil/Industrial Lauric Oil (IVO/ILO) yang spesifikasinya memenuhi technical requirement Katalis Merah Putih dengan biaya produksi yang lebih ekonomis. “Pada tahun 2019, Kemenperin melalui Ditjen Industri Agro telah menyelesaikan penyusunan SNI untuk produk IVO/ILO sebagai bahan baku industri Greenfuel dengan kode SNI 8875:2020 Minyak Nabati untuk Produksi Biohidrokarbon,” ungkapnya.

Kemenperin akan fokus pada program pengembangan sistem kemitraan agribisnis antara sektor industri pengolahan sebagai pengguna minyak nabati dan kelompok tani atau koperasi tani sebagai penyedia bahan baku. “Kemitraan yang berimbang ini akan membawa manfaat bagi petani, antara lain pengenalan best practice pertanian modern dan sistem pengelolaan menyerupai korporasi, yang akan bermuara pada penguatan posisi tawar petani,” pungkasnya.[] Yuniman Taqwa/foto utama: itb.ac.id