Kesiapan Banyuwangi Menghadapi New Normal

Banyuwangi tengah menyiapkan prakondisi menuju new normal. Walaupun destinasi wisatanya bagus, hotel bagus, tapi protokol kesehatannya tidak jalan, mungkin orang akan datang sekali, setelah itu tidak kembali lagi. Bagaimana Banyuwangi mempersiapkan protokol kesehatan di sektor pariwisatanya?

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, dinilai berhasil mengendalikan pandemi virus Corona (COVID-19), bahkan diakui sebagai salah satu pemimpin yang terbaik di dunia. Ia mengatakan, pandemi ini membuat pemimpin melakukan langkah-langkah yang luar biasa.

“Saya setuju pernyataan dari Perdana Menteri Selandia Baru bahwa Covid 19 membuat para pemimpin dunia diuji jiwa leadership nya. Kita semua, di kantor, di perusahaan-perusahaan, di Kabupaten diuji leadership masing-masing. Sebab tidak ada teks yang memberikan pengajaran bagaimana mengatasi masalah ini,” kata Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, pada  webinar Indonesia Brand Forum (IBF) 2020, awal Juli lalu.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, ketika diwawancarai Teguh Sri Pambudi dari Majalah Swa di acara IBF 2020/foto: doc. Inventure

 

Menurut  Azwar Anas, Banyuwangi merupakan  daerah terdampak luar biasa akibat pandemi. Banyuwangi   mengalami   current account deficit  (CAD) mencapai Rp 500 milliar. Akibatnya banyak kegiatan dijadwal  ulang.

Problemnya bukan soal bantuan, tapi soal policy yang tidak bisa diterima dengan baik oleh para pemimpin di lapis paling bawah. Karena selama ini diselesaikan lewat webinar. Tidak semua orang mempunyai kapasitas menyerap informasi dan mengimplementasikan informasi lewat webinar. Maka ada distorsi kebijakan dari Jakarta (pemerintah pusat-red) di Kabupaten dengan kebijakan di tingkat desa. Padahal ini bukan soal angka, tapi bagaimana leadership di tingkat desa bisa menjelaskan setiap kebijakan bantuan ini.

Azwar Anas menambahkan, selama bulan Ramadhan lalu, keliling  menemukan  kepala  desa.  Tujuannya agar kebijakan yang diambil pimpinan bisa sampai level  bawah dengan pemahaman yang sama. Sebab, bila terjadi distorsi pemahaman kebijakan, maka akan menjadi masalah yang justru akan menimbulkan negative campaign bagi pemerintah daerah.

Lebih lanjut ditambahkan, teknologi bisa menjadi infrastruktur di era pandemi. Kebetulan di Banyuwangi  ada 189 desa sudah terhubung dengan fiber optic. “Kami dengan cepat menvalidasi data berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK), sehingga terhindar dari double data kependudukan .  Dan ini sudah disiapkan empat tahun yang lalu teknologi infrastruktur berbasis desa,” ujarnya.

Tahapan new normal yang dilakukan di Banyuwangi, kata Azwar Anas, pertama pelayanan publik. Hal ini menyangkut keseharian rakyat, di mana protokol harus jalan dengan sistem teknologi yang sudah tersedia.  Kedua tempat ibadah, setelah itu baru sektor pariwisata.

Sektor pariwisata berdampak luar biasa. Bukan hanya direct income atau Pendapatan Asli  Daerah (PAD) yang turun dari pariwisata.  Padahal yang lebih besar adalah indirect income. Bagaimana travel rontok, orang yang kredit mobil tiba-tiba tidak bisa bayar kredit, orang yang berjualan tidak bisa berjualan di sekitar objek wisata, warung-warung tiba-tiba tutup, suplai terganggu dan seterusnya.

Namun demikian, momentum pandemi, menurut Azwar Anas, melakukan inovasi,  termasuk membuat video kunjungan wisata ke Banyuwangi. Sementara kabupaten lain belum ada konsep bagaimana  menghadapi new normal. “Kami melihat di Belanda sudah siap, di Thailand sudah siap, Perancis sudah siap. Dari situ kami modifikasi dan itu menjadi inspirasi untuk memasuki new normal sektor pariwisata,” tambahnya.

“Saya sampai kesemua pihak, kalau dulu wisata yang dijual hanya tempat yang bagus, service yang bagus, yang kompetitif, sekarang tidak bisa lagi. Nomor satu adalah menjual kesehatan. Kalau destinasi bagus, hotel bagus, protokol kesehatannya tidak jalan, mungkin orang akan datang sekali, setelah itu tidak kembali lagi,” tandasnya serius.

Artinya, yang dijual saat pandemi ini, menurut Azwar Anas, adalah kesehatan. Lalu apa implementasinya? “Saya keluarkan surat edaran di Banyuwangi bahwa semua destinasi wisata, ke depan transaksi lewat elektronik, kapasitasnya harus dibatasi. Kalau sebelumnya ke  kawah Ijen tidak dibatasi, sekarang harus reservasi, maksimum 450 orang dibagi dua sesi. Kami sudah simulasikan kemarin. Dalam sejam tiket habis terjual,” katanya seraya menambahkan semua destinasi tidak boleh buka 7 hari dalam seminggu. Tapi maksimum 5 hari, dua harinya untuk bersih-bersih.

Begitu juga restoran. Restoran buka maksimum seminggu hanya 6 hari, satu hari untuk bersih-bersih. Semua tour guide dilakukan sertifikasi. Restoran-restoran juga sama. Jika tidak sesuai dengan Standard Operating  Procedure (SOP) , maka stiker new normal  yang sudah diperoleh pelaku usaha bisa langsung dicopot.

“Apa yang kami kerjakan ini, kami  publikasikan. Alhamdulillah, survei Traveloka yang terbaru mengejutkan bagi kami. Hasil survei menempatkan  Banyuwangi termasuk tiga destinasi yang akan dikunjungi para traveller.  Nomor satu Bali, nomor dua Yogyakarta dan nomor tiga Banyuwangi. Baru di bawah Banyuwangi ada Bandung, ada Labuan Bajo dan sebagainya,” tambah Azwar Anas.

Pertunjukan tari dengan menerapkan protokol kesehatan di Banyuwangi/foto: ist

Sebetulnya yang diinginkan masyarakat adalah kebijakan apa yang akan dibuat oleh daerah karena pandemic. Kemudian  kesungguhan daerah menyiapkan  new normal, atau kebiasaan baru yang menjamin para traveller nyaman dan yang paling penting adalah sehat.

Oleh karena itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengajak para pelaku seni dan pariwisata untuk bersiap menggiatkan kembali sektor tersebut untuk menyambut era new normal ini. Azwar Anas pun menegaskan bahwa pariwisata yang diusung Banyuwangi kini adalah pariwisata bersih, sehat, dan aman.

“Kami terus melakukan sosialisasi kepada pelaku wisata dan pelaku seni untuk terus menerapkan protokol kesehatan di sektor wisata. Termasuk kemarin dengan pelaku seni, saya mengajak mereka bagaimana menampilkan atraksi yang menarik namun tetap bisa aman dari sisi kesehatan baik untuk pelaku maupun wisatawannya,” kata Azwar Anas, pada 18/6, sebagaimana dikutip dari beritajatim.com.

Lebih lanjut ditambahkan, akan dimulainya era new normal oleh pemerintah pusat tentu menjadi angin segar bagi banyak pihak di berbagai sektor ekonomi termasuk pariwisata. Namun di era ini protokol kesehatan ketat menjadi syarat yang harus dipatuhi semua orang termasuk seniman dan budayawan. “Kita harus mulai bangkit kembali untuk menggeliatkan pariwisata. Maka, perlu diingat jika paradigma pariwisata kita sekarang adalah pariwisata sehat dan aman,” ujar Azwar Anas.

Azwar Anas menjelaskan terkait penerapan pariwisata sehat dan aman. Termasuk sejumlah strategi baru pariwisata new normal ala Banyuwangi. Antara lain penekanan pada protokol kesehatan bagi pelaku wisata. “Misalnya, para penampil seni harus memastikan dirinya dalam kondisi fit saat perform. Jaga jarak saat tampil, begitu juga interaksi dengan penonton, jangan terlalu dekat. Itu nanti jadi jualan yang memikat wisatawan,” ujarnya.

Selain itu, Pemerintah bakal membuka wisata alam yang berisiko rendah penularan Covid-19 setelah ditutup beberapa bulan terakhir akibat pandemi. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusbandio mengatakan pembukaan pariwisata alam dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan. “Banyak pelaku sektor pariwisata yang sangat menanti kebijakan ini karena selama tiga bulan terakhir mereka sangat terdampak,” ujarnya dalam konferensi video di Jakarta, pada  22/6.

Kesiapan pemerintah daerah, kata dia, pelaku industri, dan masyarakat secara umum dinilai sangat penting di samping kondisi Covid-19 di setiap daerah juga harus sudah kondusif. Sejauh ini, Wishnutama memandang persiapan protokol kesehatan di Bali dan Banyuwangi sudah berjalan baik. Diharapkan daerah-daerah lain juga melakukan hal yang sama sebelum membuka sektor pariwisata dan wisata alam di tengah kenormalan baru.

Ada beberapa objek wisata yang dipersiapkan  dibuka, seperi Kawah Ijen, Taman Gandrung. Outdoor Tourism yang kita siapkan lainnya adalah G-land, pantai Selatan di Banyuwangi dan banyak tempat wisata outdoor lainnya. “Jadi kalau mau wisata  outdoor, Banyuwangi salah satu pilihannya. Banyuwangi menjadi kabupaten terbaik untuk penyelenggaraan festival  selama  tiga  tahun berturut-turut. Event tersebut rata-rata tidak pakai APBD, tapi gotong royong masyarakat,” Azwar Anas menambahkan.

Presiden Jokowi: “Banyuwangi adalah daerah yang paling siap dalam  menyiapkan prakondisi menuju normal baru,” /Foto:Ist)

“Puncaknya Bapak Presiden berkunjung ke Banyuwangi.  Kunjungannya mendadak. Kami baru dikasih tahu tiga hari sebelum kunjungan. Ini bagian dari surprise dan apresiasi pemerintah pusat terhadap pengembangan  wisata dalam kebiasaan baru,” kata Azwar Anas. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi Villa So Long dan Pantai So Long di Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, dalam rangka meninjau persiapan prakondisi menuju adaptasi kebiasaan baru.

Menurut Jokowi, Banyuwangi merupakan salah satu daerah yang paling serius membenahi sektor pariwisata di tengah pandemi agar nantinya dapat kembali bergerak dan memastikan keamanan serta keselamatan para pengunjungnya. “Sore hari ini saya melihat secara langsung persiapan prakondisi Banyuwangi dalam rangka menyiapkan menuju tatanan baru di sektor pariwisata,” ujarnya, pada 25/6.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memang tidak main-main dalam mematuhi protokol kesehatan di sektor pariwisata mereka. Sejumlah upaya dilakukan untuk menjalankan hal itu seperti salah satunya penerapan teknologi yang dapat mengatur kapasitas destinasi wisata.

Wisatawan yang nantinya akan mengunjungi satu destinasi tertentu diharuskan untuk memesan tiket secara online kemudian sistem secara otomatis akan langsung menghentikan proses apabila kapasitas destinasi tersebut telah mencapai batas kunjungan sesuai protokol jaga jarak aman.

Pemerintah setempat juga melakukan sertifikasi dan uji kompetensi protokol kesehatan bagi para pemandu wisata dengan melibatkan para ahli kesehatan. Para pemandu juga dilatih secara khusus mengenai protokol kesehatan.

“Saya melihat di lapangan Banyuwangi adalah daerah yang paling siap dalam  menyiapkan prakondisi menuju normal baru,” kata Presiden.

Dalam kunjungan tersebut, Presiden tampak mengenakan masker dan pelindung wajah serta mencuci tangan terlebih dahulu sebelum memasuki area Villa So Long untuk mendengarkan paparan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengenai persiapan prakondisi sektor pariwisata setempat.

Selain itu, sektor pariwisata di Banyuwangi juga melibatkan dan memberi porsi kepada masyarakat setempat untuk turut bergerak mendukung sektor pariwisata.

Di kabupaten tersebut, misalnya, hotel-hotel bertaraf serupa bintang tiga ke bawah seperti rumah singgah atau homestay merupakan ceruk pasar warga setempat sehingga perizinannya hanya diperuntukkan bagi rakyat kecil. “Hotel-hotel misalnya bintang tiga ke bawah semuanya diberikan pada rakyat, yang bintang empat lima dan seterusnya diberikan kepada investor,” kata Presiden Jokowi.

Kepala Negara mendukung penuh apa yang dilakukan pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam menggerakkan sektor pariwisatanya, utamanya dalam hal prakondisi menuju adaptasi kebiasaan baru.“Kita mendukung penuh apa yang dilakukan Pak Bupati dan Gubernur dalam menyiapkan prakondisi menuju tatanan normal baru sehingga nantinya saat timing yang tepat dibuka kembali, masyarakat terutama sektor pariwisatanya betul-betul sudah siap,” tandasnya.[] Yuniman Taqwa/Ilustrasi: Surfertoday