Ketika Kaktus Menjadi Souvenir

Banyak cara mengisi waktu selama work from home (WFH) karena pandemic ini. Salah satunya mengoleksi tanaman kaktus. Banyaknya informasi yang kita serap dari ruang virtual sekarang ini memungkinkan kita mencari hobbi baru bahkan menjadi peluang mengelola bisnis baru.

Ragam jenis tanaman kaktus/Foto: Dok. Pribadi

Sejak diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) banyak merubah pola kebiasaan masyarakat. Dari mulai work from home (WFH), stay at home dan belajar dari rumah, ternyata menimbulkan beban psikologis yang mendorong kebiasaan baru. Termasuk hobbi baru dalam mengisi  waktu sehari-hari selama di rumah.

Salah satunya adalah mengoleksi tanaman hias! Dari sekian banyak tanaman hias yang diburu masyarakat selama pandemi adalah tanaman hias kaktus. Kaktus tumbuh subur di lingkungan padang pasir. Tanaman hias ini tumbuh dengan postur yang tinggi. Namun demikian, di   Amerika Selatan dan Meksiko tumbuh dengan bentuk lebih pendek dari gen sebelumnya.

Koleksi KaktusQuLucu/Foto: Dok.Pribadi

Pada umumnya, kaktus memiliki duri pada daunnya. Namun, kaktus hias jenis Ariocarpus justru tidak memiliki duri sama sekali. Daun kaktus mini ini memiliki bentuk prisma. Ada yang ujungnya melengkung, tumpul, atau runcing. Bunganya berukuran besar hampir seukuran batangnya dan memiliki aneka ragam warna seperti ungu, putih, pink, kuning, dan merah.

Ada juga kaktus mini jenis Astrophytum yang bentuknya menyerupai bintang atau buah belimbing. Bunganya ada berwarna kuning, merah, dan pink. Bagian batangnya membentuk seperti bola. Kaktus mini jenis ini termasuk yang cukup mudah berbunga. Untuk memancing pertumbuhan bunganya, kita bisa meletakkan kaktus hias ini di ruangan dengan suhu sekitar 40º Celcius namun tidak terlalu banyak mendapat paparan sinar matahari.

Sementara ada kaktus mini jenis Lobivia oganmaru yang batangnya tidak bulat atau memanjang melainkan pipih. Uniknya, di bagian ujung batang yang pipih ini ada bagian lainnya yang berwarna kuning seperti jambul. Kaktus yang bisa tumbuh hingga 10 cm ini cocok diletakkan di mana saja misalnya untuk dekorasi kamar tidur.

Namun demikian, untuk merawat kaktus tidak semudah membalik telapak tangan. Kartina Ika Sari yang tinggal di bilangan Kota Wisata, Cibubur, kepincut menekuni tanaman Kaktus. Beberapa kali bibit kaktus yang dibeli, hanya dalam hitungan hari, kaktusnya menguning dan akhirnya mati.

Pengusaha yang berkutat di digital marketing ini berulang kali melakukan eksperimen menanam kaktus dengan menggunakan berbagai media tanam. Dan akhirnya ia menemukan formula menanam kaktus dengan menggunakan media tanam pasir asal Malang. Hasilnya? Kaktus tumbuh dan bertahan hidup di luar ruang.

Hanya dalam beberapa bulan Ika menjual 300 pot kaktus/Foto: Dok. Pribadi

Tak pelak, Ika pun melakukan browsing di google tentang tren kaktus. Dan ternyata  banyak peminatnya. Permintaan akan tanaman kaktus ternyata cukup tinggi. Ia pun mencoba membeli tanaman sukulen.

Sekedar diketahui, sukulen adalah tumbuhan yang menyerap dan menyimpan air pada batang utamanya. Kaktus adalah salah satu jenis tanaman sukulen namun bila tanaman sukulen umumnya memiliki kelopak seperti daun, kalau kaktus mengganti jaringan daunnya dalam bentuk duri.

“Kaktus yang dibeli dari petani tanaman hias itu saya tanam menggunakan media tanam pasir malang yang dicampur sekam bakar. Kemudian dibuat rak untuk meletakkan tanaman hias Kaktus,” Ika kepada pelakubisnis.com, minggu ketiga Agustus 2020.

Kurang lebih enam bulan ia terus mempelajari cara menanam kaktus yang sehat. Awalnya dia menggunakan pupuk kandang dan pasir bangunan.   Sampai akhirnya ia menemukan cara menanam dengan meramu tanah dengan media pasir  malang dan sekam bakar. “Satu hal, ketika saya cek ombak (istilah Ika ketika melakukan survey ke petani kaktus-red) ke Lembang,  ternyata treatmentnya beda! Petani disana pakai tanah, olahan tanah bekas bakaran sampah, pasir bangunan biasa lalu pakai sekam mentah, kok ya kaktus-kaktus di Lembang itu tumbuh subur, tapi ketika dibawa ke Jakarta, mati! Saya pelajari terus bagaimana caranya agar kaktus-kaktus ini tidak mati,”demikian penelusuran Ika tentang cara memelihara kaktus.

Namun diakui Ika,  ia belum begitu paham tentang tanaman kaktus. Ia justru tertarik mengemas kaktus menjadi souvenir. Dari kesukaan barunya menanam kaktus, ternyata ia menemukan ide agar kaktusnya terlihat lebih indah, yakni dengan menghiasnya dengan pot-pot yang lucu dan menarik perhatian.

Muncullah ide mengoleksi pot-pot yang dihiasi dengan beragam jenis kaktus. Ia pun terus browsing mencari  pengrajin pot tanah liat yang kualitasnya bagus. Dari Yogyakarta hingga akhirnya ia menemukan pengrajin di daerah Plered, Purwakarta, Jawa Barat.  “Alhamdulillah dari orderan pot 50 pieces,  habis hanya dalam waktu beberapa hari. Saya trial dulu! Coba menjual koleksi souvenir kaktus ini,”jelas Ika.  Lalu  ia terpikir, mungkin akan lebih bernilai dan memiliki makna bila diberi merek. Muncullah saat itu merek KaktuQuLucu. Segmen yang ia bidik bukan pengkoleksi kaktus melain orang-orang yang menjadikan rangkaian tanaman kaktus ini  untuk souvenir.

Pembelinya tak hanya sebatas wilayah rumahnya. Melainkan sampai ke daerah lain seperti Ngawi, Jawa Timur, Surabaya, Lampung, Makasar, hingga Pontianak, Kalimantan Barat. “Bahkan ada yang dari Makasar beli untuk temannya  di Cibubur. Beda konsumen!  Alhamdulillah hanya dalam beberapa bulan 300 pot plus kaktus laku. Saya buatkan bentuk parcel juga. Kebetulan suami saya buat rak-rak dari kayu landa. Sebelumnya saya kemas pakai besek. Tapi ternyata dibuat parcel justru lebih terlihat estetikanya,”terang alumnus Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Ilmu Jurnalistik, Universitas Padjajaran, Bandung ini.

Dengan maraknya koleksi tanaman kaktus, ia berharap para petaninya bisa   hidup sejahtera. Demikian juga dengan para pengrajin pot tanah liat yang juga ikut kena imbasnya  karena tren koleksi tanaman sukulen ini orang banyak mencari pot tanah liat.  Dari usaha souvenir kaktus ini Ika membangun  workshop dan targetnya bila pandemic telah usai, ia ingin membuka kelas bagi anak-anak untuk berkreasi melukis dengan medium pot.[]Siti Ruslina