Nutrifood Bekerja Dengan Hidup Balance  

Di era pandemi ini   Nutrifood menjadi daya tarik untuk rekrutmen dan engaged individu di dalam perusahaan ini. Sekaligus menjadi basis untuk memungkinkan program penerapan WFH  atau pun working from every where!

Sejak  merebaknya pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia pada Maret lalu, mendorong  perusahaan menyesuaikan sistem kerja yang fleksibel. Tak pelak, munculnya konsep bekerja dari rumah (Work From Home/WFH).

Namun demikian, bagi perusahaan yang  terbiasa menerapkan sistem kerja konvensional akan mengalami kesulitan menyesuaikan model kerja yang sekaligus mempertahankan efektivitas kinerja para karyawan. Tapi, bagi perusahaan-perusahaan yang siap menyambut model kerja baru tersebut, merasakan benefit cukup luar biasa.

Salah satunya PT Nutrifood Indonesia yang merupakan perusahaan swasta nasional yang bergerak dalam bidang industri makanan dan minuman kesehatan. Sejak 10 tahun terakhir justru sudah menerapkan new normal. Untuk urusan kerja, kulturnya luar biasa, keseharian mereka tak mesti berpakaian formil tapi yang penting adalah result.

Mardi Wu, CEO PT Nutrifood Indonesia/Foto: endeavorindonesia.org

Jauh sebelum pandemi Covid-19 merebak di Indonesia, WFH di Nutrifood bukan hal tabu. Di Nutrifood masalah rekrutmen, talent management merupakan satu hal yang sangat strategis. “Kami percaya Nutrifood bisa berkembang karena orang-orangnya. Makanya sebagai CEO banyak menyempatkan waktu membangun  corporate culture, melihat langsung recruitment. Era pandemi  ini menjadi bagus  untuk memperkuatkan positioning branding Nutrifood di employee branding,” kata CEO PT Nutrifood Indonesia, Mardi Wu, pada Webinar Indonesia Brand Forum 2020 secara virtual, awal Juli lalu.

Menurut Mardi Wu, kondisi pandemi justru mendorong perusahaan mempercepat proses transformasi model kerja bagi para karyawannya menjadi lebih fleksibel selama tiga bulan terakhir.

Bila budaya perusahaan telah dibangun dengan baik, kata Mardi Wu, maka fleksibilitas yang diberikan kepada karyawan akan mendorong mereka mencapai target dan berkontribusi pada mencapai target-target perusahaan. Pasalnya, dengan fleksibilitas tersebut, karyawan dapat bekerja lebih sehat tidak hanya secara fisik, namun juga secara mental.

“Karena dengan fleksibilitas, orang bisa punya hidup lebih balance, kalau kita paksakan semua orang bekerja di kantor dengan macetnya Jakarta,  itu cukup stressful bagi sebagian orang. Dengan adanya keleluasaan ini, memperkuat kebebasan ini karyawan bisa bekerja secara lebih sehat,” terang Sarjana Teknologi Pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Mungkin sebagaian orang sudah tahu kalau Nutrifood mempunyai culture memaintain anggotanya (karyawan-karyawan-red) dengan sangat baik. Kuncinya apa sih mengelola karyawan, membangun kepercayaan, sehingga membuat karyawan benar-benar  di-enpower?

Mardi Wu mengatakan, manajemen perlu memiliki keyakinan dalam memberikan fleksibilitas tersebut. Perlu ada unsur kepercayaan yang tinggi terhadap karyawan. Oleh karena itu, corporate culture dan rekrutmen juga harus diperhatikan untuk membangun suatu budaya kerja yang fleksibel namun tetap engaging bagi karyawan.

“Memang culture penting sekali terutama terkait WFH ini karena justru di Nutrifood, culture yang kami bangun menjadi daya tarik rekrutmen dan engagement bagi karyawan,” kata alumni Program S2, Krannert Graduate School of Management Purdue University, Amerika Serikat (AS) ini.

Dulu sebelum pandemic, lanjutnya,  sudah punya policy seperti  boleh memakai pakaian bebas,  jam kerja bebas, jadi fleksibel bisa bekerja dari mana saja karena sudah menggunakan sistem IoT. Ketika pandemi covid-19 muncul, sekarang  semua level di Nutrifood benar-benar menerapkan WFH. “Hampir tiga bulan kami jalankan cara seperti ini dan ke depannya hingga pandemi selesai sepertinya kami akan menerapkan gaya kerja seperti ini,” tambah  Mardi Wu yang memulai karir di Nutrifood sejak 1995 ini.

Lebih lanjut ditambahkan,  bukan masalah WFH,  tetapi lebih kepada bagaimana mereka bisa mengatur jam kerjanya. Jadi fleksibilitas menjadi sangat penting. Karena manajemen percaya, dalam perebutan talent ini ada berbagai segmen. Kalau bicara marketing, kita akan ketemu dengan yang namanya segmen consumer, di dunia talent juga ada berbagai segmen. Jadi talent-talent yang berjiwa entrepreneur,  mereka adalah talent-talent yang kreatif, mereka lebih memilih kebebasan untuk bisa mengatur diri sendiri. Mereka berjiwa entrepreneur dia akan sejalan dengan mereka-mereka yang kreatif. Oleh karena itu pihak Nutrifood yang harus bisa menyesuaikan diri.

Penyelenggaraan Program Nutrifood Leadership Award, salah satu wujud komitmen Nutrifood di bidang pendidikan dan kepemimpinan/Foto: Nutrifood

Adapun budaya perusahaan yang dikenal sebagai “I Care ( Integrity, Collaboration, Innovation, Respect and Excellence) ” yang  menitikberatkan pada unsur  integritas, dan self control. Selain itu, rekrutmen pun diperketat agar calon karyawan yang bergabung hanyalah mereka yang memang memiliki visi dan misi yang searah dengan perusahaan, sehingga tanpa perlu adanya insentif ataupun kontrol terhadap kinerja karyawan yang terlalu ketat, mereka tetap mampu mencatat kinerja yang luar biasa.

Penerapan WFH, kata Mardi Wu, tentu saja memiliki risiko tinggi. Semisal, manajemen agak sulit mengontrol dan memantau kinerja karyawan. Akan tetapi, risiko tersebut justru menghasilkan return yang cukup tinggi karena fleksibilitas mendorong inovasi dan budaya kewirausahaan yang kuat bagi para karyawan hingga muncul budaya yang dikenal sebagai “I Care”. Ini menitikberatkan unsur integritas, dan self control menjadi hal yang sangat penting.

Sistem di Nutrifood itu tidak mengandalkan kontrol yang berlebihan. Juga penting untuk memperketat rekrutmen agar calon karyawan yang bergabung hanyalah mereka yang memang memiliki visi dan misi yang searah dengan perusahaan. “Kami jalan dengan teori manajemen yang agak beda.  Salah satunya kami tidak punya formal performance appraisal,” kata pria kelahiran Riau ini.

Ia melanjutkan, dalam mengelola karyawan teori manajemen mungkin mengenal Teori motivasi manusia X and Y, Professor  Douglas McGregor. Dalam teori tersebut dimulai dengan asumsi bahwa perusahaan memulai proses manajemennya dengan asumsi bahwa karyawan yang akan diterima ini adalah orang asing yang punya interest sendiri dan belum tentu bisa dipercaya. Oleh karena itu  system teori X itu sangat transaksional  kemudian membangun sistem manajemen yang berdasarkan kontrol yang sangat ketat yang berdasarkan system stick and carrots.

Untuk itu di Nutrifood lebih menerapkan teori Y. Dimana perusahaan berusaha mencari calon  karyawan  yang memiliki motivasi dan keinginan untuk berkembang lebih tinggi lagi selain dari sekedar mencari uang.

Dengan demikian, tanpa perlu adanya insentif ataupun kontrol terhadap kinerja karyawan yang terlalu ketat, mereka tetap mampu mencatat kinerja yang luar biasa. “Jadi sistem kami lebih unggul dalam hal ini karena kami percaya bahwa yang direkrut pengen selalu berusaha terbaik. Saya selalu katakan kalau sampai Nutrifood perlu dimotivasi karyawannya, kita sudah salah jalan. Yang kita perlu bangun adalah kultur yang tidak mendemotivasi karyawan,” pungkasnya.

Dengan adanya WFH, Mardi akui, memang terdapat unsur resiko yang lebih tinggi karena semakin sulit bagi manajemen untuk mengendalikan dan memantau kinerja karyawan. Namun ia menegaskan bahwa dengan risiko tersebut juga dapat menghasilkan return yang cukup tinggi. Sebab fleksibilitas dalam bekerja justru dapat mendorong inovasi dan budaya entrepreneurship yang kuat bagi para karyawan.

Menurut Mardi Wu, tidak ada perbedaan signifikan menjalankan WFH, tapi justru menguatkan bahkan menginspirasi untuk orang hidup sehat. “Kami mulai pertama dengan karyawan, bagaimana karyawan bisa bekerja dengan sehat. Dengan ada kesempatan ini semakin memperkuat brand Nutrifood bahwa karyawan bisa sehat jasmani dan rohani,”ujarnya.

Selama ini kalau semua orang dipaksakan harus ke kantor, seperti di Jakarta, dengan kemacetan yang seperti dulu, kata Mardi Wu, membuat stress sebagaian karyawan  karena tinggal jauh dari kantor. Tiap hari menghabiskan waktu cukup lama di jalan. Dengan adanya keleluasaan ini sebenarnya justru memperkuat karyawan bisa bekerja jauh lebih sehat.

Di samping itu, lanjutnya, dengan semakin banyaknya karyawan yang jarang ke kantor,  secara  otomatis membuat fasilitas kantor makin irit. “Di wilayah Jabodetabek kami ada dua kantor kecil dimana untuk karyawan yang berada di lokasi itu bisa bekerja dari situ. Jadi kalau memang di rumah tidak ada ruang kantor yang memadai, dia bisa kerja di situ dengan kapasitas 5 lantai.  Kami punya satellite office yang mudah dijangkau karyawan,” urai S-3 bidang  Strategic Management,  Universitas Bina Nusantara yang lulus dengan Magna Cum Laude ini.

Menurutnya, kultur itu penting sekali terutama di era pandemi karena justru  menjadi daya tarik bagi setiap insan di perusahaan yang memproduksi produk NutriSari, Tropicana Slim, HiLo, L-Men dan W’dank ini, untuk rekrutmen dan untuk engage individu di dalam perusahaan. Sekaligus juga menjadi basis untuk memungkinkan program penerapan WFH atau pun working from every where.[] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa