Pandemi Dorong Penggunaan Produk Indonesia

Pandemi Covid-19 harus menjadi momentum agar produk dalam negeri bisa Berjaya. Salah satu strateginya dengan meluncurkan kampanye #SemuanyaAdaDisini. Fenomena ini mempercepat tren deglobalisasi yang mendorong produk dalam negeri menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Pandemi Virus Corona atau Covid-19 menyebabkan disrupsi supply chain  global. Banyak negara melakukan karantina wilayah untuk menangkal penyebaran virus itu yang sampai  saat ini belum ditemukan vaksinnya.  Akibatnya tak hanya memakan korban jiwa, tapi memukul  ekonomi banyak negara di dunia akibat terhambatnya arus barang, jasa, dan manusia.

Menurut Managing Partner Inventure, Yuswohadi, pandemi itu merupakan antitesis dari globalisasi. Dunia semakin tidak mengglobal dengan adanya pandemi, justru semakin menolak. Orang akan cenderung cari sourcing, bahan baku, customer di level lokal. Negara makin tersekat-sekat. Ini arus besar yang kita hadapi.

Dilansir dari Bloomberg, pandemi mempercepat tren deglobalisasi yang mengganggu kemapanan rantai pasok global. Banyak negara eksportir yang lebih mementingkan kebutuhan dalam negerinya dan mengurangi kapasitas produksinya. Daya beli masyarakat yang terpukul akibat mata pencahariannya terganggu pun turut mempengaruhi laju permintaan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai impor bulan Mei yang anjlok cukup dalam sebesar 42,4% dibanding Mei tahun lalu (year on year) ini perlu diwaspadai. Pasalnya, kinerja impor utamanya pada bahan baku maupun bahan penolong sangat berhubungan erat dengan kesediaan bahan baku industri. Dampaknya, sektor manufaktur akan terganggu produksinya dalam tiga hingga enam bulan ke depan. “Impor ini menghalangi kemampuan mereka untuk memproduksi,” ucapnya saat jumpa pers APBN Kita, pada 16/6.

Sementara Presiden Joko Widodo  mendorong dunia industri untuk lebih banyak berinvestasi di sektor farmasi dan kesehatan untuk mendukung penanggulangan wabah Covid-19. Harapannya, dunia industri dapat memproduksi pelbagai hasil penelitian lembaga pendidikan tinggi dan riset secara massal.

 

Presiden Joko Widodo saat meninjau uji klinis faese III vaksin Covid-19, di Bandung?foto do. Sekretariat Presiden

Dan memang tidak selamanya pandemi merontokkan korporasi. Di tengah pandemi merupakan peluang meningkatkan akselerasi portfolio korporasi. Salah salahnya adalah BUMN Kesehatan, Bio Farma. Holding BUMN farmasi ini – dalam hitungan bulan – selama pandemi melanda Indonesia, telah melahirkan inovasi yang mempunyai prospek  yang cukup menjanjikan.

Bio Farma melihat Covid-19 dari sudut pandang berbeda. “Kami justru melihat bencana pandemi ini sebagai golden opportunity untuk mempercepat ekspansi perusahaan,” kata Sri Harsi Teteki, Direktur Marketing, Riset, dan Pengembangan Bio Farma, pada acara  Indonesia Brand Forum 2020, pada 30/6  lalu.

Beberapa inisiatif yang sudah dan sedang dikembangkan Bio Farma adalah produksi RT-PCR hasil kolaborasi dalam Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan COVID-19 (TFRIC19).  Bio Farma juga mengembangkan Mobile Laboratorium Biosafety Level 3 (Mobile Lab BSL-3). “Kita membutuhkan ribuan Mobile Labs COVID-19 untuk melayani ratusan juta rakyat Indonesia, jadi potensi pasarnya luar biasa besar,” tambahTeki.

Bio Farma juga  bekerjasama dengan perusahaan china Sinovac Biotech Ltd. Di mana uji klinis fase I mulai April lalu untuk mengevaluasi keamanan, toleransi dan imunogenisitas awal vaksin Covid-19. Uji Fase II dimulai Mei lalu yang melibatkan sekitar 1000 relawan, sebagaimana dikutip dari Majalah Gatra, edisi 3 Juli 2020.

Uji coba fase III sudah dilakukan di Bandung  Agustus ini. Sasarannya untuk melihat efektivitas vaksin dalam skala luas. Fase ini melibatkan lebih banyak orang dan dilakukan di banyak tempat. Dalam pengujian ini Sinovac  melakukan pengujian di dua tempat, yaitu China dan Bandung. Bila tidak ada aral melindang vaksin Corana mulai diproduksi akhir tahun ini.

Paling tidak, itulah sebagian peluang di antara peluang-peluang lain yang sebetulnya dapat dieksplorasi di tengah pandemi saat ini. Disrupsi supply chain global memaksa kita kreatif dan inovatif menghadapi situasi demikian. Kondisi demikian mendorong produk-produk dalam negeri menjadi pilihan konsumen.

Fenomena ini semoga mendorong pelaku usaha cerdas dan inovatif menangkap peluang. Tapi sayangnya lemahnya daya beli masyarakat yang menyebabkan banyak pelaku usaha yang “terkapar”. Itu sebabnya, belanja negara harus cepat dibelanjakan agar daya beli masyarakat bergerak naik.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan, Presiden Joko Widodo memberikan arahan dalam situasi Pandemi Virus Korona (Covid-19) ini momentum untuk mendorong penggunaan produksi dalam negeri itu didorong. “Agar seluruh kementerian dan lembaga mengutamakan pembelian barang yang diproduksi di dalam negeri sehingga ini dapat mendorong demand dan juga untuk mencegah pemutusan hubungan kerja sehingga nanti industri dalam negeri bisa recover lebih awal,” ujar Menko Perekonomian saat memberikan keterangan usai Rapat Terbatas, pada 30/4.

Sementara Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasnita mengatakan, pandemi Covid-19 harus menjadi momentum agar produk dalam negeri bisa berjaya. Lemahnya permintaan seharusnya bisa diserap oleh pelaku usaha lokal, bukan asing lewat produk impor. Kemenperin, kata dia, akan berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk memastikan pengendalian impor berjalan. Beberapa instrumen perdagangan internasional akan dimanfaatkan untuk melindungi industri domestik

Pemerintah juga   berupaya meningkatkan penjualan produk lokal hasil produksi Industri Kecil dan Menengah (IKM) nasional. Salah satu strateginya dengan meluncurkan kampanye #SemuanyaAdaDisini. Kampanye #SemuanyaAdaDisini merupakan bagian dari gerakan nasional Bangga Buatan Indonesia, dilaksanakan 1-15 Juli 2020 dan diluncurkan secara virtual oleh Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, didampingi Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita.

kampanye cinta produk indonesia/foto: ist

“Kampanye #SemuanyaAdaDisini membawa pesan utama bahwa industri nasional telah mampu menghasilkan produk berkualitas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata Menperin saat memberikan laporan pada peluncuran kampanye #SemuanyaAdaDisini, pada 1/7.

Kampanye #SemuanyaAdaDisini bertujuan mengajak masyarakat untuk belanja produk industri dalam negeri, sekaligus mendorong IKM dapat memanfaatkan teknologi digital dalam strategi pemasarannya. “Kampanye ini didukung sepenuhnya oleh asosiasi, pemerintah daerah, paguyuban dan komunitas industri, dewan kerajinan nasional dan daerah, pelaku industri itu sendiri, serta seluruh masyarakat Indonesia,” jelasnya.

Penyelenggaraan kampanye #SemuanyaAdaDisini disinergikan dengan program e-Smart IKM pada tahun 2020. Hanya dalam waktu kurang dari 1 bulan sejak dibukanya pendaftaran pada 5 Juni 2020 lalu, sebanyak 2.925 IKM berpartisipasi dalam kampanye tersebut.

Menurut Menperin, capaian tersebut menunjukkan potensi pemasaran produk melalui e-commerce. Pemanfaatan media digital untuk penjualan IKM juga telah sejalan dengan Peta Jalan Making Indonesia 4.0. “Penjualan secara online memudahkan pemasaran hasil industri Indonesia yang sekaligus berguna untuk merevitalisasi IKM menuju industri 4.0,” sebutnya.

Gerakan nasional Bangga Buatan Indonesia juga diproyeksi mampu memperkuat program peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN), terutama melalui ajakan kepada masyarakat Indonesia untuk mendukung produk dalam negeri dengan belanja produk IKM Indonesia.

Sementara Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi menuturkan, Indonesia sebagai bangsa yang besar harus mampu bekerjasama untuk mengembangkan produk dalam negeri yang berkualitas, guna memenuhi kebutuhan konsumen dalam dan luar negeri. “Kampanye #SemuanyaAdaDisini sangat pas, karena menunjukkan optimisme yang tinggi bahwa Indonesia mampu memproduksi kebutuhan sehari-hari kita,” ujarnya.

Ia memaparkan, gerakan nasional #BanggaBuatanIndonesia dengan mengedepankan penjualan secara online, salah satunya melalui marketplace diyakini akan mampu mengakselerasi perputaran ekonomi, menjadi sarana pemerataan ekonomi di seluruh Indonesia, serta menunjukkan keberpihakan bagi produk-produk dalam negeri.

“Sebagaimana arahan Presiden, target kita adalah dua juta UMKM masuk dalam eksositem digital. Hari ini kita sudah memiliki total 8,6 juta yang masuk dalam ekosistem digital. Kita semua telah menunjukkan komitmen dengan memberikan berbagai dukungan bagi UMKM, seperti pelatihan daring, e-learning, hingga relaksasi perizinan,” jelasnya.

Wakil Ketua Umum Bidang Ekonomi Digital idEA, Bima Laga menyampaikan, sebagai salah satu wadah bagi UMKM untuk bisa mengembangkan usahanya, idEA dan seluruh anggotanya sangat mendukung pemerintah dalam mendorong kemajuan ekonomi digital Indonesia. “Terlebih produk buatan Indonesia juga pada dasarnya memiliki kualitas yang layak dibanggakan,” ungkap Bima.

“Kami juga akan melakukan penguatan nilai bea masuk anti dumping, kepada harga barang produksi luar yang lebih rendah dari harga normal di pasar domestik, agar produksi lokal bisa jaya,” kata Menperin Agus Gumiwang.

Tak hanya itu, kata Menperin, penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) juga diperkuat di samping pembatasan impor di pelabuhan lewat kebijakan larangan terbatas (lartas). “Tentu ini membutuhkan dukungan dari kementerian/lembaga lain, karena memang pada dasarnya untuk mengembangkan industri manufaktur, Kemenperin tidak bisa bekerja sendirian, membutuhkan dukungan berbagai pihak termasuk di luar pemerintah,” tuturnya. [] Yuniman Taqwa Nurdin/foto ilustrasi utama: ist

 

 

 

.