Sky Energy Tetap Jaga Pasar Ekspor

Meski mengalami perlambatan, PT Sky Energy Indonesia Tbk tetap jaga pasar ekspor di tengah pandemic Covid-19. Jaringan ekspor ke negara yang membutuhkan sel surya seperti Rumania, Turki dan lain-lain, ternyata  responnya cukup positif. Permintaan pun cukup besar melebihi 100 Mw.

Produsen panel surya PT Sky Energy Indonesia Tbk (Sky Energy) bolehlah berbangga. Pasalnya, perusahaan ini merupakan satu-satunya manufacture di Indonesia yang memproduksi sel surya. Walaupun belum sampai memproduksi proses utama yang dikenal sebagai “Cz-Si wafers“(Czochralski Silicon wafers).

Kurniadi Widyanta, CEO PT Sky Energy Indonesia Tbk/Foto: pelakubisnis.com

Chief Executive Office (CEO) PT Sky Energy Indonesia Tbk, Kurniadi Widyanta, mengakui, perusahaan masih   impor wafers. Dari bahan ini diolah menjadi sel surya. Dengan produksi sel surya, maka Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) meningkat di angka sekitar 43%. Angka itu hanya berdasarkan hitungan raw material belaka. Tapi, kalau dihitung juga dengan SDM, maka angkanya bisa lebih dari 50%.

Seharusnya bila tidak ada pandemi virus Corona atau Covid-19, kata Kurniadi, Sky Energy semester II tahun ini dapat memproduksi sel surya di pabrik ke-2 di Cisalak. Bahkan, perusahaan sudah mempersiapkan lahan untuk ekspansi pembangunan pabrik sel surya yang ketiga. “Sebab, perkembangannya cepat sekali. Untuk meng-cover order dari kami saja tidak cukup,” tandas Kurniadi  yang juga merangkap sebagai Chief Commercial Officer  Sky Energy.

Namun demikian, tambah Kurniadi, proses penyelesaian pabrik sel surya  mengalami perlambatan karena pandemi. Tapi  tetap menjadi target manajemen   agar bisa selesai tahun ini. “Kami akan memfokuskan produksi sel surya untuk kebutuhan internal dan domestik sebagai penunjang TKDN,” tandasnya seraya menambahkan produk sel surya  dalam negeri pertumbuhannya belum signifikan.

Padahal rencananya  tahun ini Sky Energy mulai membidik pasar ritel. Strategi masuk ke ritel mengkombinasikan pola pembayaran dengan menggunakan leasing. Sekarang perusahaan leasing yang tertarik memasukkan list untuk melakukan pembiayaan kredit RoofTop Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS Atap).

Lebih lanjut ditambahkan, bila sudah masuk ke ritel, Sky Energy  akan melakukan penawaran terintegrasi, mulai dari pemasangan, service sampai pembiayaan. Sistemnya menggunakan blockchin,  “Konsumen yang ingin membeli RoofTop Sky Energy tinggal buka handphone, pilih kapasitas yang diinginkan, misalnya 1 KW, 2KW dan sebagainya. Tinggal klik, konsumen dapat informasi lengkap, termasuk berapa cicilan yang harus dibayar tiap bulannya,” lanjutnya.

Kurniadi menambahkan strategi masuk ke pasar ritel dengan mengkampanyekan penggunaan panel surya sebagai lifestyle. Sampai saat ini sedang didiskusikan bagaimana pendekatannya seperti apa. Sebab, masuk ke segmen B2C jauh lebih sudah dibandingkan di segmen B2B. “Kalau ada kesalahan sedikit memasang atau instal panel surya di segmen B2B, tidak terlalu bermasalah, tapi kalau ada kesalahan sedikit saja pemasang panel surya di segmen B2C, langsung komplen,” jelasnya.

Tapi menurut Kurniadi, sejak diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada pertengahan Maret lalu, ada beberapa penundaan kegiatan proyek domestik. “Ada koreksi pertumbuhan karena terjadi perlambatan hampir tiga  bulan akibat pandemi. Kendati demikian kegiatan produksi masih berjalan,” katanya kepada pelakubisnis.com, minggu ketiga Agustus lalu.

Tak pelak lagi, menurut Kurniadi, pandemic Covid-19   merubah pengembangan bisnis di dalam negeri dan  rencana JSKY masuk pasar ritel pun terjadi  perlambatan. Namun persiapan internal tetap di jalankan, sambil menunggu momentum yang tepat.

Suasana pabrik PT Sky Energy Indonesia Tbk/Foto: Ist

Emiten berkode saham JSKY mengalami penurunan penjualan netto sebesar 29,02% (yoy) menjadi Rp 89,67 miliar di kuartal I-2020. Laba bersih JSKY juga merosot 36,19% (yoy) menjadi Rp 5,63 miliar. Hingga saat ini, JSKY belum merilis laporan keuangan untuk semester I-2020. Walau begitu, Kurniadi Widyanta mengklaim, tren kinerja bisnis JSKY terlihat sudah mulai membaik semenjak pelonggaran PSBB, sebagaimana dikutip kontan.co.id, pada 29 Juli lalu.

Mantan Operational Director PT Bangun Prima Semesta ini, memprediksi satu dua tahun ke depan PLTS RoofTop akan berkembang cepat. Tinggal bagaimana Sky Energy menurunkan harga, menjaga kualitas dan meng-cover end to end orang yang memasang dijamin aman dan tidak merugikan.

Sementara menurut perhitungan, Break Event Point (BEP) menggunakan RoofTop mencapai tujuh sampai delapan tahun. Itu sebabnya Sky Energy, kata Kurniadi, mulai memikirkan bekerjasama dengan financial service.

Kurniadi, memprediksi satu dua tahun ke depan PLTS RoofTop akan berkembang cepat. Tinggal bagaimana Sky Energy menurunkan harga, menjaga kualitas dan meng-cover end to end orang yang memasang dijamin aman dan tidak merugikan.

Mengingat arah pengembangan energi di Indonesia ke sektor Energi Baru Terbarukan (EBT). Saat itu masyarakat dunia begitu konsen terhadap perubahan iklim. Fenomena itu menjadi pemicu berkembangnya EBT sebagai suatu keniscayaan untuk menjaga suhu bumi agar jangan sampai di atas 2 derajat celcius.

Kelihatannya pemerintah tidak ada cara lain untuk mencapai target 23% penggunaan energi terbarukan di Indonesia. Apalagi dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri ESDM Nomor 49 Tahun 2018 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap oleh Konsumen PLN, membuka peluang bagi masyarakat menjual listrik ke PLN. Regulasi ini boleh jadi mendorong akselerasi penggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap/RoofTop  di Indonesia.

Lebih lanjut ditambahkan, pertumbuhan bisnis Sky Energy  di tengah pandemi masih dalam batas yang wajar. “Kami melakukan efisiensi di segala bidang dan fokus pada kebutuhan yang pasti-pasti saja. Sementara kegiatan ekspor tetap berjalan. Hanya awal pandemi terjadi perlambatan karena ada raw material yang terlambat datang karena  masih impor.

Kurniadi menambahkan, permintaan panel surya dalam skala kecil di Amerika Serikat sangat besar. Panel surya dalam ukuran kecil banyak dijumpai di depo-depo bangunan di Amerika Serikat. “Baru-baru ini pengusaha depo bangunan di Amerika Serikat yang memiliki 3600 outlet datang ke pabrik Sky Energy dan tertarik dengan produk panel surya dalam ukuran skala kecil. Tapi kritiknya adalah masalah kemasan. Kemasannya harus didesain menarik,” tambahnya.

Indonesia berpeluang besar untuk memasarkan panel surya skala kecil di Amerika Serikat. Dulu segmen pasar ini dikuasai China. Tapi, karena ada perang dagang antara Amerika Serikat dengan China, sehingga menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperbesar pasar panel surya di AS, khususnya dalam ukuran di bawah 100 WP.

Permintaan pasaran ekspor ke USA masih sangat besar dan tetap stabil sehingga target untuk ekspor tetap menjadi prioritas untuk menyerap hasil produksi sekitar 60%, sama seperti tahun sebelumnya.

“Kami tetap melakukan pengembang jaringan ekspor ke negara yang membutuhkan seperti Rumania, Turki dan lain-lain. Ternyata  responnya cukup positif. Permintaan/kebutuhan nya cukup besar melebihi 100 Mw,” lanjutnya Kurniadi.[] Siti Ruslina/Foto: pelakubisnis.com