Transformasi Menuju Indonesia Maju

Indonesia akan jadi negara sejahtera, dan disegani negara lain. Sekarang dipandang sebagai negara yang berpeluang naik kelas menjadi negara maju. Pandemi ini merupakan momentum untuk melakukan transformasi untuk mengejar ketertinggalan…!

Presiden Joko Widodo mengatakan, masih banyak langkah-langkah besar yang harus dilakukan dan masih tersedia waktu 25 tahun lagi untuk menyiapkan seabad Indonesia merdeka, untuk membangun Indonesia yang dicita-citakan.

”Target kita saat ini bukan hanya lepas dari pandemi, bukan hanya keluar dari krisis. Langkah kita adalah melakukan lompatan besar memanfaatkan momentum krisis yang saat ini sedang terjadi. Krisis memberikan momentum bagi kita untuk mengejar ketertinggalan, untuk melakukan lompatan transformasi besar, dengan melaksanakan strategi besar,” tutur Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo  (Jokowi) dalam  pidato Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI Dalam Rangka HUT Ke-75 Proklamasi Kemerdekaan RI, pada 14/8, di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Senayan,  Jakarta.

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo  (Jokowi) dalam  pidato Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI Dalam Rangka HUT Ke-75 Proklamasi Kemerdekaan RI, pada 14/8, di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Senayan,  Jakarta/foto: doc DPR RI

Kepala Negara mengajak untuk memecahkan masalah fundamental yang dihadapi dan akan melakukan lompatan besar untuk kemajuan yang signifikan. ”Kita harus bajak momentum krisis ini. Kita harus serentak dan serempak memanfaatkan momentum ini. Menjadikan Indonesia setara dengan negara-negara maju. Menjadikan Indonesia Maju yang kita cita-citakan,” ujar Presiden.

Presiden Jokowi menyampaikan pada tahun 2019, pemerintah berhasil memproduksi dan menggunakan B20 dan tahun 2020 dimulai dengan B30, sehingga mampu menekan nilai impor minyak di tahun 2019 agar dapat membangun kemandirian energi.

”Pertamina bekerjasama dengan para peneliti telah berhasil menciptakan katalis untuk pembuatan D100, yaitu bahan bakar diesel yang 100 persen dibuat dari minyak kelapa sawit, yang sedang uji produksi di 2 kilang minyak kita. Ini akan menyerap minimal 1 juta ton sawit produksi petani untuk kapasitas produksi 20 ribu barel per hari,” tutur Presiden Jokowi.

PT Pertamina (Persero) berhasil melakukan lompatan besar dengan sukses melakukan uji coba produksi Green Diesel D100 sebesar 1.000 barel per hari di Kilang Dumai, Riau, pada Juli lalu. Produksi D100 menggunakan bahan baku 100% minyak sawit tersebut menjadi kado Pertamina menjelang HUT Ke-75 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2020.

Nicke Widyawati, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) mengatakan Indonesia punya semua apa yang diperlukan, tinggal kemudian bagaimana kita secara smart mengolah sumber daya ini menjadi energi yang bisa menciptakan kemandirian dan kedaulatan energi nasional.

Menurut Nicke, bahan bakar ramah lingkungan D100 menjadi ikhtiar Pertamina mewujudkan Nawacita yakni mengoptimalkan sumber daya dalam negeri untuk membangun ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi nasional.

Nicke menambahkan, Green Diesel D100 memanfaatkan sumber daya minyak sawit yang melimpah di dalam negeri sebagai bahan baku utamanya, sehingga bahan bakar tersebut memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang sangat tinggi.

“Dengan demikian, produksi D100 ini sekaligus juga akan menekan defisit impor bahan bakar minyak dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Nicke.

Uji coba produksi Green Diesel di Kilang Dumai sendiri, imbuh Nicke, sudah dimulai sejak 2014 dengan melakukan injeksi minyak sawit jenis Refined, Bleached, and Deodorized Palm Oil (RBDPO) secara bertahap. Dimulai dari injeksi 7,5 persen RBDPO pada Desember 2014, kemudian 12,5 persen pada Maret 2019, dan terakhir 100 persen pada Juli 2020.

Sementara hilirisasi bahan mentah yang lain, menurut Presiden Jokowi, juga terus dilakukan secara besar-besaran. Ia menambahkan, batubara diolah menjadi metanol dan gas dan beberapa kilang dibangun untuk mengolah minyak mentah menjadi minyak jadi, sekaligus menjadi penggerak industri petrokimia yang memasok produk industri hilir bernilai tambah tinggi. ”Biji nikel telah bisa diolah menjadi feronikel, stainless steel slab, lembaran baja, dan dikembangkan menjadi bahan utama untuk baterai litium. Hal ini akan memperbaiki defisit transaksi berjalan kita, meningkatkan peluang kerja, dan mulai mengurangi dominasi energi fosil,” kata Presiden.

Menurut Presiden Jokowi, hal ini akan membuat posisi Indonesia menjadi sangat strategis dalam pengembangan baterai litium, mobil listrik dunia, dan produsen teknologi di masa depan. Prinsip yang sama, juga digunakan dalam membangun kawasan-kawasan industri lainnya, termasuk pembangunan super koridor ekonomi pantai utara Jawa. ”Kawasan Industri Batang serta Subang-Majalengka sedang dikembangkan dalam waktu singkat, dirancang untuk mampu mengundang investasi berkualitas, yang bersinergi dengan UMKM kita, yang memberikan nilai tambah signifikan untuk perekonomian nasional, serta menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar,” ujarnya.

Kawasan industri serupa, menurut Presiden, juga akan dibangun di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Pembangunan tersebut bersinergi dengan kewirausahaan masyarakat dan UMKM, untuk menyediakan kesempatan kerja bagi generasi muda yang belum bekerja, dan meningkatkan pemerataan pembangunan di seluruh pelosok negeri.

”Oleh karena itu, ekosistem nasional yang kondusif bagi perluasan kesempatan kerja yang berkualitas harus kita bangun. Penataan regulasi harus kita lakukan. Regulasi yang tumpang tindih, yang merumitkan, yang menjebak semua pihak dalam risiko harus kita sudahi,” imbuh Presiden. Semua ini, menurut Presiden, didedikasikan untuk perekonomian nasional yang adil, kepentingan yang sudah bekerja, kepentingan yang sedang mencari kerja, mengentaskan kemiskinan, dengan menyediakan kesempatan kerja yang berkualitas seluas-luasnya karena semua harus bekerja dan sejahtera.

Tak pelak lagi, terjadinya pandemi Covid-19 mendorong pemerintah mempercepat reformasi fundamental di sektor kesehatan. Orientasi pada pencegahan penyakit dan pola hidup sehat harus diutamakan.

Pada kesempatan itu, Jokowi menyampaikan perjuangan untuk menghambat penyebaran Covid-19, mengobati yang sakit, dan mencegah kematian sudah luar biasa dilakukan.” Atas nama rakyat, bangsa dan negara, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para dokter, perawat, serta seluruh petugas di rumah sakit, di laboratorium, di klinik-klinik kesehatan, dan di rumah isolasi, kepada tokoh masyarakat, para relawan, awak media, aparat TNI dan Polri, serta para ASN di pusat dan di daerah,” imbuhnya.

Dengan peristiwa pandemi ini, Presiden sampaikan, reformasi fundamental di sektor kesehatan juga harus dipercepat serta orientasi pada pencegahan penyakit dan pola hidup sehat harus diutamakan. ”Penguatan kapasitas SDM, pengembangan rumah sakit dan balai kesehatan, serta industri obat dan alat kesehatan harus diprioritaskan. Ketahanan dan kapasitas pelayanan kesehatan harus kita tingkatkan secara besar-besaran,” ungkap Presiden.

Menanggapi pernyataan Presiden tersebut, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, pihaknya terus berupaya mewujudkan industri obat dan alat kesehatan bisa menjadi sektor yang mandiri di dalam negeri. Artinya, mampu memenuhi kebutuhan masyarakat domestik sehingga secara bertahap dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk-produk impor.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita wujudkan industri obat dan alat kesehatan bisa mandiri/foto: ist

“Kami mendorong agar sektor industri obat dan alat kesehatan dapat menjadi pemain utama dan tuan rumah di negeri sendiri. Apalagi, sektor ini masuk dalam kategori high demand di tengah masa pandemi Covid-19. Ini sebagai salah satu potensinya,” tutur Menperin di Jakarta, pada 14/8.

Menurut Agus, kemandirian industri obat dan alat kesehatan perlu ditopang dengan pendalaman struktur manufakturnya, mulai dari sektor hulu, menengah hingga hilir. Guna mendukung kemandirian sektor ini, telah diterbitkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 16 Tahun 2020 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Nilai TKDN Produk Farmasi. “Peningkatan utilisasi TKDN merupakan kunci utama agar Indonesia dapat menjadi negara yang mandiri di sektor farmasi, khususnya dalam hal produksi bahan baku obat,” ungkapnya.

Berikutnya, Presiden menyampaikan, beberapa kilang sedang dibangun untuk mengolah minyak mentah menjadi minyak jadi, dan sekaligus menjadi penggerak industri petrokimia yang memasok produk industri hilir bernilai tambah tinggi.

Demikian pula halnya dengan ketahanan pangan, Presiden sampaikan. dengan menjamin kelancaran rantai pasokan makanan dari hulu produksi sampai hilir distribusi, ke seluruh wilayah negeri. Kepala Negara menyampaikan, efisiensi produksi pangan, peningkatan nilai tambah bagi petani, penguatan koperasi, dan metode korporasi petani akan terus ditingkatkan.

”Food estate, lumbung pangan, sedang dibangun untuk memperkuat cadangan pangan nasional, bukan hanya di hulu, tetapi juga bergerak di hilir produk pangan industri. Bukan lagi menggunakan cara-cara manual, tetapi (menggunakan) teknologi modern dan pemanfaatan kecanggihan digital,” ungkapnya.

Bukan hanya untuk pasar domestik, sambung Presiden, tetapi juga untuk pasar internasional. ”Saat ini sedang dikembangkan food estate di Provinsi Kalimantan Tengah dan Provinsi Sumatra Utara, dan akan dilakukan kemudian di beberapa daerah yang lain, yang merupakan sinergi antara pemerintah, pelaku swasta, dan masyarakat sebagai pemilik lahan maupun sebagai tenaga kerja,” jelas Presiden.

Saat ini, biji nikel telah mampu diolah menjadi ferro nikelstainless steel slab, lembaran baja, dan dikembangkan menjadi bahan utama untuk baterai lithium. Hal ini diharapkan dapat memperbaiki defisit transaksi berjalan, meningkatkan peluang kerja, dan mulai mengurangi dominasi energi fosil. Bahkan, bakal menempatkan Indonesia di posisi yang sangat strategis dalam pengembangan baterai lithium, mobil listrik dunia, dan produsen teknologi di masa depan.

“Pemerintah terus mendorong peningkatan nilai tambah bahan baku mineral di dalam negeri. Kebijakan hilirisasi ini diyakini dapat memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional, di antaranya melalui capaian nilai ekspor,” imbuh Agus.

Upaya lainnya yang sedang digenjot pemerintah, yakni membangun kawasan industri terpadu, termasuk pembangunan super koridor ekonomi pantai utara Jawa. Misalnya, Kawasan Industri Batang, Subang, dan Majalengka yang tengah dikebut pengembangannya. Langkah ini untuk menarik investasi potensial, serta upaya menyinergikan industri skala besar dengan industri kecil menengah (IKM).

“Seperti yang disampaikan Bapak Presiden, kawasan industri akan dibangun di berbagai daerah di seluruh Indonesia, yang selalu bersinergi dengan kewirausahaan masyarakat dan UMKM, untuk menyediakan kesempatan kerja bagi generasi muda yang belum bekerja, dan meningkatkan pemerataan pembangunan di seluruh pelosok negeri,” jelas Menperin.

Oleh karena itu, pemerintah perlu menata regulasi yang tepat bagi pelaku usaha sehingga menciptakan ekosistem yang kondusif. “Artinya, peraturan nantinya tidak tumpang tindih atau menjadi rumit. Tujuannya untuk mengentaskan kemiskinan dan menyejahterakan masyarakat,” tandasnya.

Menperin menyatakan, pemerintah bertekad untuk terus memacu aktivitas sektor industri manufaktrur supaya tetap menjadi motor penggerak bagi roda perekonomian nasional. “Selama ini, kegiatan industri terbukti memberikan efek yang luas, mulai dari penerimaan devisa berupa investasi dan ekspor hingga menambah jumlah penyerapan tenaga kerja yang berkualitas secara luas,” pungkasnya.

Sekretaris Kabinet (Seskab), Pramono Anung, mengajak untuk melangkah bersama-sama, menjaga Indonesia jadi negara maju, sejahtera, dan disegani negara lain. Indonesia, menurut Seskab, sekarang dipandang sebagai negara dengan peluang untuk naik kelas menjadi negara maju.“Kita sudah menjadi anggota G20, PDB kita sudah mencapai nomor 8, demokrasi kita sudah mengalami proses pendewasaan,” kata Seskab.

Ia menyatakan bahwa ada kekurangan di sana-sini dan meyakini itu akan bisa teratasi dengan baik. “Maka syarat dasar untuk Indonesia menjadi negara besar sudah terpenuhi, kita harus menjaga bersama-sama.

Kalau ini bisa dilakukan, menurut Seskab, di tahun 2030 seperti prediksi IMF, World Bank, ataupun lembaga-lembaga dunia lainnya Indonesia akan menjadi negara dengan kemajuan di antara 5,6, sampai 7 negara-negara maju di dunia.“Itu menjadi kesempatan bagi anak-anak muda di Indonesia untuk berkiprah di masa mendatang,” pungkas Seskab.

Keberhasilan inovasi di sektor industri alat kesehatan selama pandemic Covid-19 ini, merupakan langkah  sinergi membangun budaya  riset. Lembaga-lembaga riset, lembaga-lembaga pendidikan dan dunia usaha perlu membangun frame bersama dalam perspektif membangun bangsa melalui kompetensi yang dimiliki masing-masing

Dalam kompetensi yang dimiliki masing-masing tersebut, perlu ditarik (dirumuskan benang merah) untuk tujuan bersama. Lembaga riset, umpamanya, melakukan penelitian terhadap realita industri yang dihadapi negeri ini. Jangan hanya “asyik” terhadap pergumalan penelitian yang hasil akhirnya hanya sampai ke rak-rak perpustakaan

Lembaga pendidikan (universitas dan sebagainya) perlu mengkaji penelitian yang aplikatif yang sesuai dengan kondisi ril industri. Sementara  dunia usaha bisa menggelontorkan sejumlah dana penelitian untuk membantu lembaga-lembaga tersebut, untuk bersama-sama membangun penelitian yang dapat diterapkan di dunia usaha.

Paling tidak, sinergi itu yang dilakukan selama pandemi ini. Dan ternyata kita mampu mandiri memenuhi kebutuhan produk-produk alat kesehatan yang dibutuhkan masyarakat di tengah pandemic Covid-19 saat ini. [] Yuniman Taqwa/foto ilustrasi utama: ist