Cara Bakmi Naga Resto Bertahan di Tengah Pandemi

Berdiri tahun 1979 dan berkembang di kisaran 2010 – 2018, kini di tengah pandemi Bakmi Naga Resto  berupaya survive lewat inovasi, kreatifitas, kolaburasi dan menjaga hubungan baik dengan para mitra waralabanya.

Susanty Widjaya bersama Presiden Joko Widodo dalam salah satu pembukaan outlet Bakmi Naga Resto/Foto: Ist

Kalau bicara bakmi ‘jadul’ ada beberapa merk yang amat popular bahkan melegenda di tanah air khususnya di wilayah Ibukota Jakarta. Salah  satunya  yang lahir di kawasan Hayam Wuruk Jakarta, namanya Bakmi Naga.

Bakmi Naga lahir dari usaha gerobakan Ny Liong. Mengambil kata Liong dari nama pemiliknya, yang berarti naga dalam bahasa Mandarin, usaha ini dikelola dengan skala UMKM –usaha mikro kecil menengah– dan saat itu hanya menjual satu menu bakmi ayam saja.

Seiring berjalannya waktu,  di kisaran tahun 1980-an  usaha Bakmi Naga pindah ke ruko. Namun  tak lama kemudian masuk ke pusat belanja modern persisnya di lantai 2  Plaza Hayam Wuruk Jakarta. Kali ini menu makanan yang dijual semakin beragam. Selain beberapa item bakmi ayam, dijual juga bakso,  bihun, kwetiau, nasi goreng, siomay, puyunghai dan lain-lain. “Saat itu di sekitar Jalan Hayam Wuruk  banyak perkantoran dan pusat belanjanya ramai pengunjung,”jelas Susanty Widjaya, Direktur Utama dan Franchisor Bakmi Naga Resto ini.

Pada milestone 1980-an hingga 2009,  perkembangan bakmi naga mengalami  up and down.  Dari gerobakan kemudian masuk ke ruko-ruko masuk pusat belanja seperti Gajah Mada plaza dan Jakarta sekitarnya.  “Sebelum diwaralabakan sampai dengan  2009 jumlah outlet masih sekitar 18 gerai,” ungkap wanita yang akrab disapa Susan ini.

Hingga di tahun 2010 Bakmi Naga Resto mulai difranchisekan atau diwaralabakan. Bakmi Naga Resto ditawarkan sebagai restoran yang menyajikan menu utama bakmi dan menu-menu masakan oriental yang bercitarasa Indonesia. “Saat itu kami lakukan rebranding dan rejuvenate menjadi Bakmi Naga Resto. Mengubah konsep  dari resto lama yang klasik menjadi lebih modern dan minimalis dengan atmosfir interior desain yang  menyesuaikan  pasar anak muda dan keluarga muda. Di tahun 2011 kami juga meluncurkan Bakmi Naga Express dengan skala usaha lebih kecil karena saat itu ada kesempatan masuk ke foodcourt,”papar Susanty yang sukses membesarkan bisnis waralaba Lembaga  Kursus Bahasa Inggris ILP (International Language Programs-red) sejak 1997 ini.

Diakuinya, Bakmi Naga Resto merupakan satu-satunya resto bakmi yang diwaralabakan se-Indonesia.  “Banyaknya permintaan dari daerah-daerah khususnya luar Pulau Jawa. Dengan waralaba, orang yang ingin punya usaha jadi lebih dimudahkan. Dalam bisnis kuliner yang sulit itu kan membuat standardisasi menu,  menjaga kualitas dan me-manage franchisee serta SDM,” kata Susanty.

Menurutnya di tahun pertama waralaba Bakmi Naga Resto, peminatnya cukup banyak. Pada tahun 2010, launching di Pameran Franchise License JCC –Jakarta Convention Center–  untuk pertama kalinya Bakmi Naga membuka kesempatan franchise dan membuka lebih dari 12 outlet sepanjang tahun 2010-2011.

Milestone kejayaan bisnis Bakmi Naga Resto berada pada rentang tahun 2010 sampai 2018 /Foto: Ist

Puncak kejayaan pertumbuhan bisnis Bakmi Naga Resto berada pada rentang tahun  2010 sampai 2018 dimana saat  itu Bakmi Naga Resto mencapai sekitar  100-an gerai  yang tersebar di seluruh Indonesia dengan dua konsep  yaitu Bakmi Naga Resto dan Bakmi Naga Express. Sementara untuk  family owned outlet, Bakmi Naga menggunakan logo Ny  Liong di kanan atas.

Satu difrensiasi yang membedakan Bakmi Naga dengan bakmi-bakmi ayam lainnya terletak pada kandungan bakminya yang sehat. Susanty mengklaim  positioning bakminya adalah bakmi sehat. Bakmi yang digunakan adalah bakmi hasil produksi sendiri dan  tidak mengandung bahan kimia yang merugikan kesehatan karena Bakmi Naga tidak menggunakan air abu dan tanpa bahan pengawet. Demikian juga dengan  bakso yang dijualnya, tidak mengandung boraks. Intinya, bakmi yang dijualnya  aman dikonsumsi bahkan aman bagi penderita  sakit maag dan aman  dikonsumsi anak-anak. Sekedar informasi, Bakmi Naga Resto telah memenangkan puluhan penghargaan bergengsi dari MURI, Top Brand dan penghargaan franchise lainnya.

Dijelaskan Susanty, bisnis makanan waktu itu sedang booming dan bakmi menjadi salah satu makanan pokok orang Indonesia.  Waktu itu hampir sebulan sekali buka 1 gerai Bakmi Naga Resto. Kekuatan keuangan masyarakat yang memiliki idle money   saat itu boleh jadi yang membuat bisnis waralaba makanan  booming.  Setidaknya pertumbuhan bisnis waralaba Bakmi Naga Resto terus menggeliat hingga tahun 2018.

Maraknya bisnis waralaba makanan pun menginspirasi Susanty membesut second brand  untuk wilayah  kotamadya dengan menggunakan nama Mie Batavia.

Bila harga paket franchise  Bakmi Naga Resto mencapai Rp 250 juta/5 tahun, harga paket franchise Mie Batavia dipatok  Rp 75 juta/5 tahun.  “Harga franchise yang kami tawarkan di awal hanya Rp 100 juta/5 tahun. Karena demand tinggi waktu itu harga franchise terus naik hingga Rp 250 juta/5 tahun. Tapi situasi pandemi ini  kami diskon sampai Rp 100 juta,”papar Susanty.

Mie Batavia dikemas ke dalam 3 macam bentuk usaha. Ada semi resto yang buka di ruko-ruko, format menggunakan booth, hingga menggunakan motor 3 roda. “Tahun 2015 kami dapat rekor MURI karena menjadi usaha waralaba kuliner pertama  menggunakan  konsep motor 3 roda,”terang Susanty yang semasa SMA nya pernah menjadi salah satu siswi  Pertukaran Pelajar Indonesia-Amerika  ini.

Susanty yang sudah memiliki pengalaman di bidang waralaba (franchise) lebih dari 20 tahun dan tercatat sebagai orang ketiga di Indonesia yang meraih gelar  (Certified Franchise Executive) dari Amerika Serikat ini mengaku, tidaklah mudah menjalankan usaha waralaba. Merupakan sebuah tantangan buatnya membesut  sebuah usaha kecil dan berkembang  dari perusahaan keluarga kemudian melibatkan pihak ketiga. “Ini pasti tidak mudah, butuh passion. Kita bicara franchasing dan licensing berarti kita berbicara tentang standarisasi produk. Standard Operating Procedure (SoP) yang harus dituangkan,  harus memenuhi syarat dan kriteria dari usaha franchise. Karena saya memegang teguh syarat dan ketentuan franchising, yang saya jalani  memang butuh kerja keras dan passion,”ungkap ibu dari Ryan Widjayana dan Sandy Widjayan ini.

Pihaknya membuat SoP, salah satunya bidang interior untuk memenuhi kriteria usaha franchise. Contoh!  Desain interior  resto yang awalnya menggunakan meja  marmer, kursi kayu jati dan sebagainya yang berbau klasik dan membutuhkan investasi mahal, kemudian diubah dan diganti dengan tampilan  lebih ‘cozy’ yang lebih menyasar pasar anak muda dan keluarga muda dengan menggunakan perlengkapan interior gaya modern minimalis dengan harga terjangkau. Hal tersebut dilakukan agar konsep interior untuk semua gerai Bakmi Naga Resto seragam mengikuti SoP. Demikian halnya dengan kualitas rasa,  paling tidak 95% harus sama.

Menerapkan  protokol kesehatan di era pandemi/Foto: YouTube

Ia rasakan juga  susahnya merekrut sumber daya manusia (SDM) handal dan mengelolanya  mulai dari  karyawan dapur hingga ke bagian pelayanan seperti waitress dan bagian  front office.  Dan sejak membuka di luar pulau hingga kini  sebagai franchisor  ia  menyediakan bank SDM  terutama untuk gerai-gerai tim SDM di daerah Indonesia Timur. “Semua harus memiliki  visi misi yang sama. Hingga contoh sederhana seperti  pada saat greeting (memberi salam-red),  SoP nya harus  sama,”tambah Susanty Widjaya.

Untuk itu perlu adanya pelatihan. “Yang namanya franchising kita harus menjadi franchisor atau pemberi waralaba yang baik dengan melakukan pelatihan awal dan memberikan pelatihan berkesinambungan, dibuatkan SoP dan  manual book yang harus diterapkan,”papar peraih Top Brand, Top of Mind and Fasted Growing  Franchise Award 2012 – 2019 untuk brand Bakmi Naga Resto ini.

Kini semakin tak mudah bagi pebisnis resto waralaba ketika di era pandemi Covid-19, hampir semua bisnis waralaba khususnya resto dan makanan mengalami pukulan keras. Hal ini sempat diungkap Susanty pada momen acara  Webinar Indonesia Brand Forum 2020 awal Juli lalu. “Ada yang terdampak, ada yang menemukan momentum,” ujar Susanty.

Menurutnya, dalam urusan pengelolaan operasional, selain tetap harus menjaga cash flow, mereka juga mesti menjaga ritme bisnisnya. Untuk bisa survive, revival, dan tetap tumbuh (grow), produk atau layanan tetap mesti bisa diserap pasar agar bisnis tak ambruk. Itu artinya bisnis tetap harus jalan.

Karena pandemi, pelaku bisnis harus melakukan shifting. Dimana layanan dine in seperti di masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar-red) kini ditiadakan. Tentunya ia harus putar otak berinovasi. Seperti  bulan April  2020 ini ia meluncurkan layanan  makanan frozen noodle  yang  ready to boil noodle. Langkah ini dilakukan sebagai salah satu upaya  menjaga cash flow Ia juga berakrobatik memangkas biaya paket kemitraan waralaba  yang  seharga  Rp250 juta/5 tahun dengan memberi diskon hingga Rp 100 juta/paket menjadi Rp150 juta/5 tahun saja di Pameran 18th IFRA 2020.

Sama halnya dengan pebisnis waralaba yang lain, sejauh ini semuanya hampir tiarap. Omzet  usaha Bakmi Naga Resto  anjlok sampai 60 – 70%. “Bahkan kemarin ini sehari  kami cuma dapat omset kurang dari Rp 200 ribu,”kata Susanty memberi gambaran kondisi yang tengah dialami rata-rata pebisnis resto.

“Dulu tiap satu sampai tiga bulan kami selalu buka outlet baru. Sekarang baru mulai bangkit untuk para pelaku usaha. Melakukan relokasi usaha ke rest area. Karena mal tidak ada keringanan sewa, ditambah lagi sekitar 20% dari franchisee kami sudah menutup usahanya. Harusnya ada keringanan dari pihak mal atau mungkin  seperti dalam masa PSBB  seperti sekarang dikasih free sewa dulu.  Seperti di luar negeri, pemerintahnya  juga bantu,”ungkapnya.

Lantas, bagaimana agar bisa bertahan? Ia berharap pemerintah bisa membantu mencarikan jalan keluar dan memberikan dukungan.  Sementara sebagai pelaku usaha harus berjuang keras melakukan inovasi, mengikuti perkembangan jaman, shifting dari offline ke online.  Kalau dulu dine in sekarang tidak boleh,  otomatis berinovasi agar tetap bisa  berjualan lewat online salah satunya.

Tapi sekali lagi, orang Indonesia senang datang ke coffee shop.” Orang Indonesia sukanya ngumpul, meeting di coffee shop.  Orang kantoran senang  makan siang bareng, Kalau sudah duduk orang pesan offline bisa tambah. Kalau lewat online tidak seperti itu perilakunya,”kata Susanty.

Salah satu hal penting yang juga dilakukan dalam urusan operasional adalah mengelola hubungan, kolaborasi dan kemitraan yang makin erat antara franchisor dan franchisee. “Dalam kondisi seperti ini, kita harus seperti keluarga. Saya sebagai franchisor harus maintain hubungan yang empatik dengan para franchisee,” ujarnya.

Bersama franchisee dalam pembukaan outlet baru di Palm Square Rest Area, Serpong Tangerang/Foto: Ist

Kini, dengan para franchisee-nya, dia melakukan beberapa hal untuk bisa survive. Pertama, sharing inovasi. Kepada para franchisee diberikan resep atau produk baru menyiasati pandemi  seperti developing menu baru  dan inovasi produk ready to boil atau bakmi siap rebus. Inovasi ini merupakan cara baru menghadapi perubahan perilaku dan protokol kesehatan di mana layanan dine-in dilarang di Jakarta. Kedua, menjaga morale dan meningkatkan semangat para franchisee dengan cara komunikasi yang kontinyu. Ketiga, memberi keringanan kepada franchisee seperti royalty fee dan biaya marketing. “Sebab saya juga merasakan kesulitan mereka. Kami ada di perahu yang sama. Intinya, untuk survive dibutuhkan kolaborasi yang erat antara franchisor dan franchisee,” tegas Susanty.

Di samping pengelolaan operasional yang tetap prima, Susanty melanjutkan, pelaku franchise juga tetap harus menjaga branding-nya. Banyak hal bisa dilakukan untuk mem-branding-kan usaha franchise, tapi intinya akan kembali untuk memenangkan benak (mind) juga hati (heart) para pelanggannya.

Di luar kondisi yang sulit ini, ia bersyukur karena adanya pandemi juga membuat bisnisnya kian memiliki momentum untuk go-digital. Mereka bukan hanya meluaskan pasar ke kanal e-commerce, juga makin payless, touchless demi meminimalkan sentuhan fisik dan mengikuti protokol kesehatan.

Bahkan di tengah  wabah Covid 19 bahkan di  saat pemprov DKI Jakarta kembali memberlakukan PSBB,  Bakmi Naga Resto justru membuka outlet baru di Palm Square Rest Area, Km 13,5, Serpong Tangerang (12/9).

Susanty mengungkapkan, dalam situasi sulit seperti ini banyak pelaku usaha merasakan dampak secara langsung mulai dari anjloknya omzet hingga hal terburuknya adalah pada pengurangan dan pemberhentian tenaga kerja.”Kita ingin memberi spirit bahwa kita harus bangkit, memanfaatkan peluang yang ada, ini loh kita bisa dan masih ada peluang untuk tetap bertahan dan maju perlahan di tengah krisis yang ada,”ujar Ketua Umum Asosiasi Lisensi Indonesia (ASENSI) ini  memberi semangat bagi para pelaku usaha kecil menengah.

Dengan dibukanya outlet tersebut, Bakmi Naga Resto ingin memperlihatkan bahwa outlet franchise Bakmi itu tetap eksis walaupun Indonesia dan industri pariwisata tengah di landa wabah Covid 19.”Artinya bahwa masih ada hal yang bisa kita lakukan, masih ada peluang yang bisa kita raih ditengah kondisi seperti ini,” ujarnya.

Tak dipungkiri ekspansi Bakmi Naga Resto yang luar biasa sejak 2010  hingga harus bertahan di era pandemi di tahun ini merupakan hasil karya Susanty Widjaya. Bermodal passion dan pengetahuan serta pengalaman puluhan tahun di bisnis waralaba  sebelumnya, ia telah membawa perubahan yang signifikan bagi Bakmi Naga Resto yang kini telah tersebar dari Sabang hingga Marauke. “Sekarang sudah sampai Marauke, kota paling timur Indonesia. Kami bangga ada di Papua. Franchisee kami di Papua mengambil franchise Bakmi Naga Resto dan lisensi Batavia Café yang menyajikan berbagai minuman kopi nusantara dan menu masakan nusantara,”demikian tutup Susanty. []Siti Ruslina