Kiprah Bisnis  Yudha Setiawan Membangun Usaha Kuliner

Yudha Setiawan, CEO PT Lazizaa Rahmat Semesta/Foto: ist

Yudha Setiawan berakrobatik masuk ke industri kuliner yang tak pernah ia geluti sebelumnya. Namun berkat keyakinan, keuletan dan mafhum tentang dunia digital,  ia mampu membesarkan usahanya hingga muncul era pandemi Covid-19.  Lalu, bagaimana kelanjutan usaha Yudha kini?

Mengutip pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani  yang menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III relatif lebih baik dibanding kuartal II tahun 2020, dimana terjadi kontraksi ekonomi pada kuartal kedua dan masih akan berlanjut meski kuartal ketiga ini diprediksi relatif  lebih baik.

Namun, di tengah kontraksi ekonomi karena pandemi Covid-19 ini menurut Menkeu ada sejumlah sektor usaha, yang justru bertumbuh, seperti bisnis e-commerce, bisnis penjualan makanan dan minuman (mamin), serta ekspedisi dan kurir. “Persis seperti dikatakan Bu Sri Mulyani, selama kuartal kedua kemarin adalah puncak badai pandemi COVID-19 di sektor ekonomi,” Yudha Setiawan, CEO PT Lazizaa Rahmat Semesta {Lazizaa)  menanggapi pernyataan MenKeu.

Tak ia pungkiri, bisnis kulinernya, Lazizaa juga terdampak pandemi. Bahkan ada beberapa cabang yang terpaksa ditutup sementara. Namun, pada bulan September beberapa cabangnya sudah mulai membaik. Bahkan  rencananya oktober mendatang kembali membuka gerai yang sempat tutup dan membuka cabang baru dengan konsep yang mengikuti perkembangan situasi terbaru di masa pandemi ini.

Pada 2020 awal, pertumbuhan omset Lazizaa positif dan sesuai harapan. Hingga datang  pandemi COVID-19. Tepatnya Maret 2020. “Omset Lazizaa pada bulan-bulan itu turun hingga 40%. Kondisi ini baru membaik pada bulan-bulan terakhir ini. Untuk pencapaian omzet 2019 kita mampu tumbuh di angka 10-20% dari tahun sebelumnya,” kata pria kelahiran 12 Desember 1970 ini.

Menurut Yudha, jika menengok kinerja Lazizaa di 2020,  saat ini  dalam posisi bertahan, karena pasar juga masih belum siap untuk kembali normal. Beruntung di tahun ini ada program 1000 retailer Lazizaa (bisa cek di www.lazizaa.com-red) yakni suatu program yang diharapkan menjadi solusi bagi perusahaan ini maupun mitra selama pandemi.

Kita kilas balik tentang lahirnya Lazizaa dulu.  Bagaimana awal Yudha membangun bisnis ini? Apa latarbelakang ia terjun ke bisnis kuliner? “Sebenarnya usaha utama saya tepatnya pada 2011 adalah bisnis pulsa, perusahaan server pulsa stokpulsa.com. Untuk keberlangsungan jangka panjang, stokpulsa tidak bisa dikembangkan secara nasional. Sehingga, saya yang punya mimpi memiliki perusahaan skala nasional namun harus membangun perahu baru yang bisa berlayar jauh. Kemudian untuk memulai saya bergabung dengan salah satu franchise fried chicken asal Bandung.  Setelah paham dan memiliki team, maka pada 8 agustus 2015 Lazizaa berdiri hingga sekarang memiliki puluhan cabang,”ungkap Yudha di awal terjun ke bisnis kuliner.

Mengadopsi dari kata LAZIZ menjadi LAZIZAA yang juga berarti enak dalam Bahasa Arab/Foto: YouTube

Nama Lazizaa diambil karena Yudha suka nonton kuliner yang dibintangi Benu Belu, dengan kata khas yang diucapkan “LAZIZ” maka dari situ ia mengadopsi menjadi LAZIZAA yang juga berarti enak dalam Bahasa Arab.

Pembukaan Lazizaa di awal sampai gerai kelima di beberapa wilayah di Jawa Timur tidak banyak mengalami kendala karena memang 100% berasal dari modal sendiri. Kebetulan Yudha memiliki tenaga Public Relations untuk operasional agar semakin baik melayani pelanggan. “Tantangan ada di cabang berikutnya yang melibatkan mitra. Proses mendapatkan mitra dan maintenance ini yang seru. Kita menggandeng Lembaga ataupun perorangan. Tercatat kita mendapat mitra yang pasti familiar di dengar : Hidayatullah, JMMI, Koperasi pesantren Sidogiri, Tazkia dan lain-lain,”papar Sarjana Teknik Lingkungan ITS ini.

Dari situ  Lazizaa tumbuh sangat cepat dan menjadi fenomenal di dunia kuliner wilayah Jawa Timur. “Saat itu kami membuka 30 cabang dalam kurun tidak sampai satu tahun,”ungkap Yudha seraya menambahkan, Lazizaa membangun pola kemitraan dengan sistem bagi hasil 40:60 dimana Lazizaa mendapatkan  bagian 40% dan 60% untuk mitra dari keuntungan bersihnya.

Dalam hal ini Yudha membangun kemitraan usaha kulinernya dengan sistem business opportunity (BO) dimana manajemen outlet terpusat dengan sistem bagi hasil, tidak ada instrument franchise fee ataupun royalty fee.

Lazizaa menjual menu dari Ayam Krispy, Kopi Kekinian, Arabian Food hingga Rice Box/Foto: ist

Yudha menjelaskan, melalui brand Lazizaa,  rentang produk yang ditawarkan dibagi menjadi 4 kelompok besar yang juga mempresentasikan program 1000 retailler yang terdiri dari  Ayam Krispy, Kopi Kekinian, Arabian Food dan Rice Box. “Setiap kategori produk tersebut memiliki segmen market sendiri, misal: kopi kekinian yang sedang digandrungi anak muda, ricebox untuk yang suka praktis dan sering order via ojol,”terang suami dari Naeny Ruriko Dewi ini.

Terkait persaingan, semua produk Lazizaa masuk Red Ocean atau zona yang memiliki pesaing banyak. Kecuali Arabian Food yang memang memang memiliki  pasar sendiri, tentunya dengan cara penyampaian dan penyajian yang berbeda. Produk Arabian Food yang terdiri dari nasi biryani, roasted chicken dan lain-lain, ternyata cukup digemari secara luas. “Saat launching produk kategori ini kita buat jadi campaign “grab signature” yang cukup sukses diterima pelanggan,”cerita Yudha.

Diakuinya dulu pernah ada kategori produk pizza dan menjadi salah satu positioning dari outlet Lazizaa namun kondisi sunset membuat produk pizzanya kalah bersaing dengan pemain lain yang  menjual produk sejenis, akhirnya sementara distop.

Ia memaparkan, tentu tak mudah membangun bisnis di area red ocean.  Namun ia membangun strategi yang membuat usahanya  bisa hadir secara massif dan  sebenarnya umum dilakukan kuliner lain.  “Kita hadir di setiap ‘kesempatan membeli’ yang dialami customer. Kita sebut itu menjadi channel penjualan : Organik ( dine in, Take Away), Online ( Gofood, Grabfood dan aplikasi lain), B2B atau penjualan skala besar antar perusahaan (Event, kerjasama konsumsi perusahaan, komunitas dan lain-lain) juga semua channel penjualan kita membangun team yang bertanggung jawab. Itu mungkin yang tidak dilakukan beberapa kuliner lain,”papar mantan Sales Executive Boehringer Manheim PT Rajawali Nusindo ini.

Seiring berjalannya waktu,  dari lima gerai resto menjadi 30 gerai, hanya dalam waktu tak sampai satu tahun dimana saat itu 18 outlet milik sendiri (own company) dan 12 outlet kemitraan BO dengan sistem manajemen.  Usahanya pun  berkembang hingga melibatkan   total 500-an karyawan yang tersebar di 50 cabang. Bahkan  di tahun 2019  Yudha mampu meningkatkan skala usahanya ke level UKM dengan perolehan omzet  mencapai Rp 80 milyar/tahun. Namun tiba-tiba kita digoncang dengan wabah COVID-19 yang membuat perekonomian anjlok dan berimbas ke hampir semua sektor usaha. Meski sektor mamin dianggap masih terbilang  baik, namun tak sedikit dari para pelaku bisnis mamin yang mengalami penurunan omzet. Tak terkecuali bagi usaha Yudha yang mengalami penurunan omzet hingga setengah dari tahun sebelumnya.

Mengutip dari Kompas.com, Yudha sempat mengaku  omzet turun 50%.  “Omzet turun 50%. Karena apa yang kita jual bukan produk makanan pokok, dari 50-an outlet sudah 8 outlet yang tutup. Store kita yang di rest area juga kita tutup.  Solusi bertahan hanya dua, pertahankan revenue atau cutting cost,”kata Yudha.

Lantas, apalagi yang bisa ia siasati di tengah kondisi pandemi yang terjadi sekarang? Yudha menjelaskan,  tak patah arang di saat pandemi ini Lazizaa meluncurkan program 1000 retailler.  Program ini adalah program kemitraan dengan skala rumah tangga. Dengan paket yang terjangkau dan full support dari management Lazizaa. Penjualan juga dioptimasi di channel online ataupun organik.  “Program ini kita canangkan memiliki 1000 cabang sampai tahun depan,”kata Yudha yakin mampu mewujudkan visi Lazizaa menjadi jaringan fast food terkemuka yang dimiliki masyarakat luas, berorientasi pada pemberdayaan ummat, pemenuhan kebutuhan dan harapan konsumen, serta mampu bersaing secara global.[]Siti Ruslina/Ilustrasi: Facebook