Optimisme Bisnis Kurir di Tengah Pandemi

Kendati daya beli masyarakat di tengah pandemi Covid-19  menurun, tapi   permintaan  jasa pengiriman meningkat. Permintaan pengiriman antar kantor pemerintah (G2G) dan kiriman antar kantor swasta (B2B) justru yang terkena dampak pandemi.

Namun demikian, yang harus dibangun adalah optimisme dan kesiapsiagaan tetap memberikan pelayanan prima. Masalah pandemi atau kesehatan ini yang harus dipulihkan dahulu. Selama kondisi tren terdampak Covid19 belum bisa dipulihkan kondisinya, tetap tidak bisa diprediksi akurat.

Direktur Utama  PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE), Mohamad Feriadi/foto: Dok. JNE

“Saya lihat adalah demand logistik dalam negeri meningkat, logistik yang bertumpu langsung dengan kebutuhan masyarakat yang tumbuh membaik saat ini,” kata Direktur Utama  PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE), Mohamad Feriadi kepada pelakubisnis.com, minggu kedua, September lalu.

Menurut Feriadi, ada tiga komitmen bersama yang disepakati para anggota asosiasi. Pertama, pelayanan jasa pengiriman harus tetap prima. Bagaimana pelayanan atau jasa pengiriman yang melibatkan banyak orang dan tersebar di seluruh pelosok Indonesia ini harus disikapi? Harus ada pernyataan yang kuat dari pelaku usaha tentang apa yang harus dilakukan.

“Dari hasil benchmark di negara lain yang sudah terkena pandemi lebih dulu dimana jasa pengiriman tetap beroperasi dengan menjalankan protokol kesehatan Covid-19 sesuai ketentuan pemerintahnya, maka kami selaku Ketua Asperindo memberikan dukungan moral kuat kepada semua anggota agar tetap beroperasi dan mampu tetap memberikan pelayanan prima,” kata Feriadi.

Lebih lanjut ditambahkan, seluruh jajaran operasional dan khususnya para kurir harus tetap beroperasi dan memberikan kualitas pelayanan terbaik. “Pada tanggal 26 Maret 2020 bertepatan dengan hari lahir Asperindo ke-34, kami juga melakukan deklarasi untuk ikut berjuang menghadapi Covid-19,”ujarnya.

Kedua, pada  20 Maret 2020, ASPERINDO telah mengeluarkan surat edaran kepada para anggota perihal pedoman singkat tentang kesiapsiagaan penanganan corona virus disease (Covid-19). Saat itu pedoman adalah instruksi Kepala Badan Nasional Penanggulangan  Bencana (BNPB) selaku Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Pedoman tersebut sangat penting dan mendesak harus diketahui dan dipatuhi oleh seluruh anggota karena resiko yang ada pada pekerjaan, khususnya karyawan yang langsung berinteraksi dengan pelanggan. “Kami bersyukur surat edaran yang kami keluarkan sangat efektif dan tepat waktunya dalam menyadarkan pada anggota untuk menjalankan protokol ,” tambahnya.

 Ketiga, pada 26 Maret 2020 bertepatan dengan Ulang Tahun Asperindo ke 34, mendeklarasikan kesiapsiagaan dan kepedulian ASPERINDO dalam menghadapi wabah-pandemi global Covid-19 dengan melakukan bakti sosial berupa penyemprotan disinfektan di wilayah kacamatan Tomang dimana waktu itu wilayah tersebut merupakan red zone dan jumlah warga yang terjangkit terbesar di DKI.

Feriadi  menambahkan, tren Industri Pengiriman Jasa Pos (express & courier) pada 2020 tidak terlepas dari tren global yang terjadi. Secara global, dipicu oleh naiknya transaksi perdagangan dunia melalui elektronik (e-commerce), maka telah terjadi pertumbuhan berkelanjutan di industri ini. Salah satu pusaran pertumbuhan yang cepat di negara negara Asean adalah Indonesia. Indonesia sebagai negara destinasi, origin, sebagai hub logistik regional dan sebagai negara kepulauan yang sangat luas berpeluang meningkatkan volume pengiriman barang domestik maupun internasional di 2020.

Di samping itu, pemerintah  mulai mengakui eksistensi industri ekpres, pos dan logistik. Buktinya di era pandemi Covid-19, industri ini yang dikecualikan dan diperbolehkan tetap beroperasi. “Kami sedang intensif bekerjasama dengan pemerintah dalam hal menyikapi perkembangan maraknya perusahaan IT yang terjun ke bisnis kurir sebagai agregator. Kami melihat adanya potensi pelanggaran terhadap perijinan penyelenggaraan pos dan juga menyentuh aspek lain terkait perlindungan konsumen.

 Pertumbuhan JNE

Sepuluh tahun terakhir ini, PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) mengalami peningkatan pertumbuhan kiriman di kisaran angka  20-30% setiap tahunnya. Pertumbuhan tersebut dipacu oleh booming e-commerce. Namun demikian, saat ini JNE masih pada posisi menyesuaikan situasi pandemi covid-19.

Saat ini JNE masih melihat apa yang terjadi ke depan. Hal-hal baru apa yang bakal terjadi? Mungkin juga ada kondisi yang bisa mendisrupsi?  Pertanyaan-pertanyaan itu, menurut Feriadi, mendorong JNE terus melakukan digital transformation di berbagai bidang. Mulai dari berbagai hal untuk meningkatkan kinerja internal, sampai dengan pengembangan produk layanan maupun fasilitas untuk customer.

Sementara belakangan ini, tren pengiriman barang yang langsung ke konsumen (C to C) kian meningkat. Fenomena ini, kata Feriadi, mendorong JNE  terus mengembangkan berbagai hal yang dapat memenuhi kebutuhan pengiriman. Sebut saja meningkatkan kualitas produk layanan atau fasilitas seperti  cash and delivery (COD), e-payment atau cashless, Friendly Logistic, dan sebagainya.

Di tengah pandemi, JNE terus meningkatkan kualitas produk layanan/Foto: Doc. JNE

Di sisi lain, meningkatnya kebutuhan pengiriman masyarakat di tengah pandemi saat ini juga merupakan tantangan. Itu sebabnya, JNE terus menjalankan pengembangan dan pembangunan sesuai rencana. Di antaranya pembangunan mega hub yang terus berjalan serta jaringan maupun infrastruktur lainnya agar dapat terus menangani kapasitas pengiriman yang terus bertambah.

Lebih lanjut ditambahkan, ada dua langkah yang dijalankan JNE, baik sebelum maupun di saat pandemi Covid-19. Pertama, secara internal, JNE terus meningkatkan kapabilitas perusahaan dengan pengembangan di sektor-sektor penting seperti IT, infrastruktur maupun jaringan dan SDM. Hal ini memungkinkan inovasi-inovasi dilakukan, baik dalam produk layanan maupun fasilitas, untuk menyesuaikan dan memenuhi kebutuhan pengiriman masyarakat yang berkembang di era digital.

Kedua, secara eksternal, JNE terus mendukung kemajuan ekosistem, terutama ekosistem e-commerce dimana perusahaan ini memegang peran penting sebagai salah satu pilar di dalamnya yaitu logistik.

Sejauh ini jumlah kiriman JNE didominasi oleh retail customer yang didominasi pelaku UKM. Oleh karena itu, produk layanan atau fasilitas untuk memudahkan jual-beli online terus ditingkatkan. “JNE menyediakan Pesona (Pesanan Oleh-Oleh Nusantara). Begitu juga program untuk mendorong jual-beli online, seperti diskon ongkir, cashback, dan yang lainnya,”  ujar Feriadi,

Saat ini kiriman JNE mencapai rata-rata 1,7 juta paket per hari. Kemudian, ada sekitar 7.700 lebih titik layanan di seluruh Indonesia (termasuk 56 kantor cabang utama), dan  11 ribu lebih armada (dari kendaraan roda dua sampai truk besar). Adapun jumlah karyawannya saat ini mencapai sekitar 50 ribu orang, terdiri dari karyawan kantor pusat, kantor cabang, sampai karyawan mitra atau agen JNE.

“Saat ini JNE fokus mengedepankan inovasi yang dapat melancarkan proses bisnis secara keseluruhan. Terkait persaingan perusahaan logistik lokal,  kami tetap bekerjasama dalam naungan organisasi ASPERINDO dengan motto ‘bersanding namun bersaing’ dan tetap menjaga etika bisnis untuk memperlancar dan meningkatkan perekonomian rakyat terutama kemajuan UKM,” kata Feriadi mengunci percakapan. [] Siti Ruslina