Optimisme Pertamina Menghadapi Triple Shock

Pertamina berupaya mempertahankan performa produksi pada 2020. Meski menghadapi triple shock akibat pandemi COVID-19, Pertamina optimis menjalankan perekonomian dan menghindari Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dengan tetap mengoperasikan wilayah kerja hulu maupun sejumlah proyek strategis lainnya.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mendesak Pertamina EP untuk meningkatkan produksi dan lifting minyak dan gas bumi (migas). Seruan ini menanggapi kinerja Pertamina EP yang masih berada di bawah target.

Data SKK Migas per 31 Juli 2020, produksi minyak Pertamina EP sebesar 80.336 barel minyak per hari (bopd) dan lifting minyak sebesar 78.661 bopd dengan pencapaian 87% terhadap target lifting APBN yaitu 90.000 bopd. Sedangkan produksi  gas  sebesar 866 juta standar kaki kubuk per hari (mmscfd) dan lifting gas sebesar 667 mmscfd atau 85% dari target APBN sebesar 787 mmscfd. Pencapaian kinerja Pertamina EP berada dibawah rata-rata secara nasional yang saat ini sebesar 96,5% untuk lifting minyak dan 93,5% untuk salur gas dari target APBN.

“Sebelumnya, pada Juni 2020 Manajemen SKK Migas telah berkoordinasi dengan Dirut Pertamina (Persero) untuk meminta Pertamina EP melakukan optimalisasi kegiatan operasinya. Namun kami monitor kinerja mereka hingga kini masih di bawah target,” ujar Plt Kepala Divisi Program dan Komunikasi, Susana Kurniasih di Jakarta pada 26/8.

SKK Migas kembali meminta Pertamina EP agar mengoptimalkan kinerja mereka sesuai dengan target yang telah disepakati bersama dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) 2020.

Untuk mengejar target di sisa 2020 ini, kata Susana Manajemen SKK Migas meminta agar Pertamina EP fokus pada peningkatan kegiatan sumur pengembangan, kerja ulang, dan perawatan sumur. “Kegiatan sumur pengeboran baru terealisasi 43 dari 96 kegiatan, kegiatan kerja ulang 99 dari 204 kegiatan, dan untuk perawatan sumur 1.844 dari 2.852 kegiatan. Hal ini yang menyebabkan pencapaian produksi dan lifting migas belum tercapai” tambahnya.

Sementara SKK Migas berkomitmen membantu Pertamina EP untuk merealisasikan RKA 2020. “RKA ini kan merupakan komitmen bersama, jadi kami pun akan berupaya secara maksimal agar Pertamina EP tidak menghadapi kendala dan hambatan dalam merealisasikannya, seperti kendala perizinan dan persetujuan, SKK Migas akan membantu secara penuh,” tambah Susana.

Pertamina EP mengapresiasi dukungan dan kerjasama yang sangat baik dari SKK Migas agar perusahaan bisa mencapai target-target yang telah disepakati. Presiden Direktur Pertamina EP Eko Agus Sardjono mengatakan jika pihaknya tetap melakukan usaha terbaik dalam pemenuhan target-target yang disepakati dengan dukungan semua pihak.

PEP-TAJAK-SUMUR-MUARA-ENIM-tingkatkan-produksi/foto: ist

Dukungan baik internal maupun eksternal dan terus secara konsisten mengutamakan HSSE serta penerapan protocol Covid 19 agar dapat terus beropasi secara aman dan optimal. “Dalam kondisi yang berat ini, Pertamina EP selaku anak usaha PT Pertamina (Persero) mengalami triple shock, yaitu Pandemi Covid 19, harga minyak yang rendah serta kondisi ekonomi yang lesu,” jelas dia, sebagaimana dikutip dari  liputan6.com, pada 27/8.

Suai dengan RKAP revisi tahun 2020 Pertamina EP, sampai dengan Juli 2020 produksi minyak 80.3 MBOPD atau 99,6 persen dari target dan produksi gas sebesar 866 MMSCFD atau 95 persen dari target. Sedangkan untuk lifting minyak sampai dengan Juli 2020 telah mencapai 77.1 MBOPD atau 96 persen  dari target dan gas mencapai 671 MMSCFD atau 92 persen  dari target.

CEO Subholding Hulu PT Pertamina Budiman Parhusip mengatakan, dari total realisasi migas 884 MBOEPD per Juni 2020, sebanyak 414 ribu barel per hari (MBOPD) merupakan produksi minyak yang terdiri 99 MBOPD dari internasional dan 315 MBOPD dari domestik. “Raihan itu di bawah target 421 MBOPD,” kata Budiman dalam virtual media briefing ‘Upaya Terbaik Pertamina Melayani Bangsa di Tengah Pandemi’ di Jakarta, sebagaimana dikutip dari republika.co.id, pada 17/8

Sementara, produksi gas hingga Juni 2020 mencapai 2.721 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) yang mencakup 277 MMSCFD dari internasional dan 2.444 MMSCFD dari domestik. “Raihan itu di bawah target 2.742 MMCSFD,” kata dia.

Berdasarkan lifting, dia mengatakan, masih dari sumber republika.co.id, realisasi migas hingga Juni 2020 mencapai 723 MBOEPD atau di bawah target sebesar 730 MBOEPD. Perinciannya, lifting minyak sebanyak 369 MBOPD yang terdiri 67 MBOPD dari internasional dan 302 MBOPD dari domestik.”Raihan itu di bawah target 382 MBOPD,” kata dia.

PT Pertamina EP, sebagai anak perusahaan PT Pertamina (Persero) sekaligus Kontraktor Kontrak Kerja Sama di bawah pengawasan SKK Migas, ditengah pandemic COVID-19, selain berusaha memenuhi target pencapaian produksi migas sesuai ketetapan pemerintah, juga berupaya meningkatkan cadangan migas untuk kelangsungan ketahanan energy nasional. Salah satu upayanya adalah percepatan penemuan cadangan baru di Area Eksplorasi Kalimantan.

Sementara,  Novy Hendri, Vice President Exploration Planning & Operation Pertamina EP  dalam keterangannya menjelaskan,  Pertamina EP melakukan Strategi Growth Resource to Production Ratio,  yaitu cara untuk meningkatkan ratio antara minyak atau gas yang diproduksikan dengan temuan cadangan yang baru. Secara hitungan, apabila memproduksi 1 MMBOE maka minimal harus menemukan cadangan dengan volume 3 MMBOE. Hal ini  agar Pertamina EP dapat tumbuh maka diperlukan dua sampai tiga kali penemuan cadangan migas dibandingkan produksi migas.

Dalam melaksanakan strategi ini, PT Pertamina EP melakukan survei seismik 2D Sangatta Batu Utak dan survei Seismik 2D Tanjung Barat. Survei seismik 2D Sangatta Batu Utak sepanjang 963 KM ini terletak di Blok Sangatta Batu Utak, Kalimantan Timur. Sementara Seismik 2D Tanjung Barat sepanjang 923 KM ini terletak di Blok Tanjung Raya I, meliputi 2 Provinsi yaitu Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Novy Hendri mengungkapkan Survei Seismik 2D Sangatta Batu Utak dilakukan untuk membuktikan keberadaan hidrokarbon pada lapisan batuan berumur Paleogene sebagai “New Potential Play” di sebelah barat laut Lapangan Sangatta. Sementara itu, survei seismik 2D Tanjung Barat dilakukan untuk membuktikan keberadaan hidrokarbon pada Formasi Tanjung, Berai dan Warukin. Survei 2D Tanjung Barat ini diharapkan dapat membuka peluang Eksplorasi di area yg baru yaitu Area Tanjung Barat.

Kedua program survei seismik ini ditargetkan dapat diselesaikan pada kuartal kedua tahun 2021, dengan target akuisisi data seismik pada RKAP tahun 2020 sepanjang 690 km.

“Dengan kondisi pandemi covid-19 serta tantangan operasi survei seperti area rawa-sungai di lokasi survei seismik 2D Tanjung Barat, remote area dengan tantangan topografi disertai litologi keras pada survei seismik 2D Sangatta Batu Utak, kami optimis dapat menyelesaikan target yang telah ditetapkan oleh perusahaan,” lanjut Novy, yang dikutip dari rilis Pertamina pada 2/9.

Sementara  tengah berada di kondisi Pandemi COVID-19, upaya pemenuhan terhadap pemenuhan target produksi migas nasional terus berlangsung. Hal ini merupakan komitmen PT Pertamina EP, sebagai anak perusahaan PT Pertamina (Persero) sekaligus Kontraktor Kontrak Kerja Sama di bawah pengawasan SKK Migas, melalui Pertamina Asset 4 Donggi Matindok Field, yang mampu mencatatkan kinerja produksi yang positif. Secara year to date, Donggi Matindok Field mampu produksi Gas mencapai 121,77 % dan Minyak mencapai 144,41 %.

VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman, tetap melakukan pengeboran di tengah pandemi

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menjelaskan industri hulu migas global mengalami dampak yang sangat berat di masa pandemi COVID-19. Pengurangan aktivitas di luar rumah (Lockdown) yang terjadi di hampir semua negara, mengakibatkan turunnya demand terhadap bahan bakar. Ketika itu, terjadi supply yang melimpah baik bahan bakar maupun minyak mentah, sehingga harga minyak mentah berada di level terendah.

“Atas dampak COVID-19 tersebut, perusahaan migas terus berupaya mempertahankan performa produksi. Pertamina juga telah memproyeksikan hal ini, namun tetap beroperasi dengan melakukan berbagai penyesuaian, baik itu penyesuaian terhadap protokol Covid-19 maupun penyesuaian aspek operasional. Sebagai perusahaan negara yang bertugas mengelola energi nasional, Pertamina bersama anak usaha sektor hulu bergerak mengejar target produksi demi menjaga keberlangsungan industri migas nasional,” ujarnya.

“Hingga Juli 2020, meskipun dalam kondisi yang mengharuskan dilakukannya optimalisasi biaya dan efisiensi, secara umum kinerja hulu Pertamina (domestik dan internasional) tetap berjalan baik dengan menyelesaikan pengeboran eksplorasi sebanyak 8 sumur, pengeboran eksploitasi sebanyak 182 sumur dan pekerjaan workover sebanyak 362 sumur. Jadi kita terus berupaya maksimal mencapai target produksi migas,” imbuhnya dalam rilisa yang disampaikan pada 1/9.

Selain eksploitasi, Pertamina juga terus mengintensifkan kegiatan eksplorasi. Terbukti, PEP mampu menorehkan capaian terbaik dengan discovery sumber daya migas baru di Cekungan Jawa Barat, tepatnya di sumur Akasia Prima-1 (AKP-1) dan di sumur Wolai-002 di Sulawesi Tengah.

Fajriyah menambahkan, walaupun menghadapi triple shock akibat pandemi COVID-19, Pertamina juga optimis menjalankan amanah untuk memutar roda perekonomian dan menghindari Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dengan tetap mengoperasikan wilayah kerja hulu maupun sejumlah proyek strategis lainnya, seperti Proyek RDMP Balikpapan, Proyek Aromatic TPPI, Proyek Jambaran Tiung Biru, dan Proyek PLTG Jawa-1. Selain itu, seluruh aktivitas di Hilir maupun distribusi juga tetap berjalan baik. [] Yuniman Taqwa