Perdagangan Drop, Logistik pun Terimbas

Secara total bisnis logistik turun jauh dibandingkan 2019. Hanya logistik yang berhubungan dangan e-commerce dan distribusi bahan pokok yang tetap stabil, sedangkan sektor yang lain drop. Bagaimana stakeholders menyikapinya?

Boleh jadi bisnis logistik di tahun 2020 ini mendapat pukulan berat. Hanya bisnis logistik yang berhubungan dengan e-commerce yang bisa “tersenyum”di tengah pandemi Covid- 19. Di luar itu, semua lini bisnis logistik terkoreksi cukup dalam. Salah satu faktor pendorongnya karena diberlakukannya Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) sejak April lalu.

Dampak pandemi ini “menghantam” hampir seluruh lini bisnis. Sektor industri, misalnya, IHS Markit mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia, yang merupakan indikator aktivitas manufaktur, pada Juni 2020 naik menjadi 39,1% dari 28,6 pada Mei 2020. Meski membaik, indikator tersebut masih menunjukkan kontraksi pada sektor manufaktur Indonesia, dimana ekspansi terjadi jika PMI di atas 50.

Namun demikian, Agustus lalu, PMI Indonesia berada di level 50,8 pada Agustus 2020. CEO CARAKA Group, Rocky J Pesik berharap momentum ini bisa terus dijaga kenaikan PMI tersebut. Dampak pemberlakukan PSBB yang diberlakukan di Jakarta pada 14 September lalu, tidak terlalu berdampak besar terhadap Industri. “Saya khawatir industri ritel yang berdampak besar, baik itu property owner maupun penjual barangnya. Saya btidak tahu sampai kapan mereka bisa bertahan,” kata Rocky serius.

Menurut Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Ilham Masita menjelaskan wabah Corona telah merubah prilaku konsumen yang pada akhirnya mengubah juga peta bisnis logistik. Pelaku bisnis logistik di lini Business to Customer (B2C) dan Customer to Customer (C2C) mengalami peningkatan permintaan yang signifikan. Sebaliknya pemain logistik Business to Business (B2B) mengalami penurunan. Ini terjadi karena ada perubahan perilaku belanja dari konsumen yang bergeser ke ranah online untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Meski bisnis logistik di lini B2C dan C2C mengalami peningkatan, tapi menurut Rocky,  tidak bisa bertahan lama, karena daya beli masyarakat secara umum turun. Upaya pemerintah untuk mempercepat belanja APBN dan APBD, menjadi salah satu instrumen untuk menjaga daya beli masyarakat agar perekonomian tetap berputar. “Akselerasi belanja negara akan terasa juga pada sektor logistik,” tambah Rocky.

Sementara penurunan daya beli, kata Zaldy, sudah kita rasakan sejak lebaran berakhir, dan mempengaruhi kinerja dari logistik karena perdagangan dan industri juga lesu. Kita harapkan pemerintah bisa memberikan keringan pajak lebih banyak lagi dan menghapus pungutan-pungutan  supaya daya beli bisa mulai bangkit.

Ia menambahkan, segment logistik lain seperti trucking, 3PL (three partit atau perusahaan yang menyediakan jasa outsourcing layanan logistik kepada perusahaan atau individu untuk melakukan satu atau lebih sebuah fungsi yang berada di dalam supply chain management seperti Freight forwarder, gudang, shipping dan lain-lain juga drop.

Hal itu, menurut Zaldy disebabkan karena industri dan perdagangan juga drop. Logistik adalah enabler dari industri dan perdagangan. Akibatnya logistik juga kena imbasnya karena dropnya sektor pedagangan. Apalagi daya beli masyarakat turun, akhirnya juga membuat bisnis logistik terpukul..

Dalam rilis Februari 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kontribusi kelompok lapangan usaha transportasi dan pergudangan (sektor logistik) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2019 sebesar Rp 881,7 triliun atau 5,57% dari PDB yang bernilai Rp 15.833,9 triliun.

BPS mengelompokkan sektor logistik mencakup subsektor transportasi per moda, yatu rel, darat, laut, udara, serta sungai, danau, dan penyeberangan. Sektor logistik juga mencakup pergudangan (pergudangan dan jasa penunjang angkutan, serta pos dan kurir).

Hanya logistik yang berhubungan dangan e-commerce dan distribusi bahan pokok yang tetap stabil/Foto: JNE

Sementara Chairman Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, menyatakan bahwa sektor logistik Indonesia pada tahun 2019 bernilai sebesar 881,66 triliun yang berarti mengalami kenaikan 10,51% dari tahun sebelumnya. Tingkat pertumbuhan tersebut lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebesar 8,52%.

“Secara total bisnis logistik turun jauh dibandingkan 2019, hanya logistik yang berhubungan dangan e-commerce dan distribusi bahan pokok yang tetap stabil, sedangkan sektor yang lain drop. Malah menurut BPS sektor logistik turun sampai minus 30% di Q2 2020. Untuk Q3 dan Q4, prediksinya masih di bawah pertumbuhan 2019. Jadi logistik juga terdampak oleh pandemi bukan kebal,” kata Zaldy kepada pelakubisnis.com, minggu kedua September lalu.

Namun demikian menurut Rocky, prediksnya pada tahun 2021, mulai membaik. Berbagai indikator yang mungkin bisa menjadi acuan adalah ditemukannnya vaksin virus Corona, banyak negara sudah mulai membuka diri dan sebagainya. “Indonesia sendiri sudah mulai relaksasi dibandingkans semester I 2020. Walaupun kini ada PSBB lagi, tapi sekarang tidak seketat PSBB pada April lalu,”kata Rocky kepada pelakubisnis.com, pada 18/9 lalu. Rocky memberi contoh restaurant mulai buka dan lalu lintas masih ramai, bila dibandingkan April lalu.

Fenomena ini, tambah Rocky, menunjukkan aktivitas sebagian besar masih berjalan. Perkantoran masih buka, walau sebagian karyawan masih bekerja dari rumah. “Kalau kita lihat PSBB awal yang work from home banyak sekali. Sekarang swasta masih bisa buka 50%,” tandasa Rocky serius.

Zaldy Ilham meminta pemerintah memberikan stimulus tambahan kepada industri setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Kondisi tersebut diprediksi akan mendorong kinerja industri kembali menurun karena permintaan terhadap kargo menciut. “Dengan PSBB, artinya akan ada penurunan kebutuhan logistik lagi karena pabrik-pabrik dan retail ditutup,” tutur Zaldi, sebagaimana dikutip dari tempo.co, pada 10/9 lalu.

Menurut Rocky, stimulus yang diberikan pemerintah kepada pelaku usaha, sebagian masih ada yang salah sasaran. Misalnya pajak pendapatan (PPh) untuk karyawan. Di mana dalam batasan pendapatan tertentu, tidak perlu bayar PPh. “Sebetulnya kalau karyawan masih mendapatkan gaji, seharusnya tidak perlu dibantu. Ini artinya perusahaan tempanya bekerja masih survive.. Selama pendapatnya normal, spanding money juga masih normal. Dia belanja masih tetap normal. Sementara ini insentif itu akan menjadikan pendapatan mereka naik,” jelas Rocky.

Sebetulnya yang banyak  berdampak itu adalah perusahaan-perusahaan yang tidak bisa bertahan, sehingga dampak terhadap karyawan-karyawan yang dirumahkan,” katanya serius seraya menambahkan insentif seharusnya jangan kepada karyawa yang masih bekerja, bagaimana yang terkena PHK.

Sementara selama pandemi ini, kata Zaldi, pelaku bisnis logistik mencoba bertahan hidup dengan menjaga cash flow dan memanfaatkan semua stimulus yangg diberikan oleh pemerintah. “kita butuh lebih banyak lagi insentif atau stimulus dari pemerintah untuk bisa bertahan sampai akhir tahun 2020,” tandasnya serius.

Lebih lanjut ditambahkan, yang paling penting adalah pemerintah menurunkan dan menghapus semua biaya-biaya atau pengeluaran-pengeluaran, baik resmi dan liar di  semua pelabuhan, bandara, jalan sehingga bisa terjadi penghematan biaya logistik. “Masih banyak pungutan dari pemerintah dan BUMN yang berupa tarif dan PNBP yang memberatkan,” tandasnya serius.

Zaldy mengatakan, meski sudah memasuki era new normal, kegiatan logistik belum akan pulih seperti sedia kala. Sebab, bisnis logistik telah mengalami penurunan yang sangat tajam, yakni hingga 80 persen selama masa pandemi. “Sejak Januari sudah terasa, bahkan sejak Maret hampir tidak ada aktivitas. Tapi, sekarang mulai bergerak,” tutur Zaldy, sebagaimana dikutip dari kompas.com, pada 7/7.

Sementara Direktur Utama  PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE), Mohamad Feriadi mengatakan, dari hasil benchmark di negara lain yang sudah terkena pandemi lebih dulu dimana jasa pengiriman tetap beroperasi dengan menjalankan protokol kesehatan Covid-19 sesuai ketentuan pemerintahnya, maka Asperindo memberikan dukungan moral kuat kepada semua Anggota agar tetap beroperasi dan mampu tetap memberikan pelayanan prima..

Feriadi  menambahkan, trend Industri Pengiriman Jasa Pos (express & courier) pada 2020 tidak terlepas dari trend global yang terjadi. Secara global, dipicu oleh naiknya transansaksi perdagangan dunia melalui elektronik (e-commerce), maka telah terjadi pertumbuhan berkelanjutan di Industri ini.

“Salah satu pusaran pertumbuhan yang cepat di negara negara Asean adalah Indonesia. Indonesia sebagai negara destinasi, origin, sebagai hub logistik regional dan sebagai negara kepulauan yang sangat luas berpeluang meningkatkan volume pengiriman barang domestik maupun internasional di 2020,” katanya kepada pelakubisnis.com[] Siti Ruslina