Transformasi TIKI Menghadapi Tantangan Bisnis Kurir

Transformasi TIKI mengikuti kebutuhan pelanggan di tiap eranya berpegang pada tiga area yaitu operational excellences, customer intimacy dan product and service quality leadership. Bagaimana transformasi ini menderek kinerja perusahaan kurir itu?

Di tengah pandemi Covid-19, jasa kurir dan logistik makin  memiliki peran krusial dalam pendistribusian dokumen dan barang. Pasalnya, aktivitas ekonomi tetap harus berjalan, meski pergerakan orang terbatas karena  Pemberlakukan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Di tengah pandemi jasa kurir dan logistik sangat berperan dalam pendistribusian dokumen dan barang/Foto:theiconomics

Di sisi lain, terjadi perubahan pola belanja masyarakat dari offline menjadi online. Perubahan pola belanja itu boleh jadi yang menyebabkan meningkatnya pertumbuhan jasa kurir dan logistik. Menurut  Ester Wiraseputra, Vice President Director, PT Citra Van Titipan Kilat (TIKI),  rata-rata pertumbuhan per tahun dari bisnis logistik di Indonesia sekitar 14-15% dimana peningkatan konsumsi masyarakat, dan pertumbuhan bisnis e-commerce menjadi salah satu pendorong perkembangan industri kurir.

Namun demikian, yang akan mengubah bisnis kurir dan logistik  akibat pandemi adalah semakin terbiasanya masyarakat  mengunakan layanan digital untuk melakukan transaksi pengiriman mulai dari booking, tracking hingga metode pembayaran. Masyarakat semakin teredukasi dengan berbagai layanan digital yang dimiliki perusahaan kurir dan semakin percaya untuk memanfaatkannya.

Pertumbuhan bisnis TIKI selama semester I  2020 mencapai 15%.  Proyek pertumbuhan bisnis hingga akhir  2020 ditargetkan  mencapai pertumbuhan rata-rata tahunan TIKI sebesar 25%.  “Pengiriman paling banyak antara Jawa, disusul Sumatera dan Sulawesi,” katanya kepada pelakubisnis.com, minggu ketiga September lalu.

Meskipun terjadi penurunan daya beli, tapi bisnis logistik masih dibutuhkan dalam membantu pelaku bisnis. Selama bisnis logistik bisa mengikuti tren/tuntutan masyarakat, masih terbuka peluang  cukup besar. Yang dibutuhkan adalah pengembangan teknologi, karena tuntutan masyarakat  beralih melakukan transaksi secara digital.

Ester menambahkan, selama tiga tahun terakhir, TIKI banyak melakukan pembenahan internal untuk dapat mengikuti perkembangan teknologi di era digital. Pada  2017, misalnya,  TIKI mengadakan  riset pasar mengenai keinginan pelanggan terhadap jasa kurir di era teknologi digital. Terhadap empat  prioritas utama pelanggan, yaitu pertama, kompetitif (Harga Kompetitif dan terjangkau), kedua cepat (kiriman diterima tepat waktu dan dalam kondisi baik), ketiga jemput (memperbanyak pilihan drop off untuk konsumen termasuk layanan barang dijemput di lokasi konsumen tanpa minimum jumlah barang dan tidak dikenakan biaya), keempat. Real Time Status (sistem pelacakan kiriman yang real-time sehingga konsumen bisa mengetahui keberadaan barangnya).

“Untuk menjawab perkembangan jaman, TIKI melakukan strategi TIKI Go Digital dengan menyediakan produk dan layanan yang berbasis teknologi yang bertujuan untuk memberikan kemudahan akses bagi konsumen dengan memperbanyak kanal bagi konsumen untuk melakukan pengiriman tanpa perlu terkendala waktu,” lanjut Ester.

Di TIKI, menurut Ester  sudah memiliki seluruh fasilitas digital.  Ke depan akan terus kembangkan dan mengoptimalkan teknologi yang telah miliki untuk mengakomodasi ekspektasi pelanggan yang semakin digital savvy.

Lebih lanjut ditambahkan, TIKI fokus pada pengembangan dan inovasi teknologi baik teknologi backbone operasional maupun teknologi interface dengan pelanggan. Sebagai informasi seluruh teknologi yang dimiliki perusahaan dikembangkan sendiri oleh tim IT internal. “Kami juga penguatan kompetensi digital seluruh karyawan secara regular mulai dari kurir, customer service, staf operasional dan staff office dengan berbagai pelatihan dan uji kompetensi,” tambah Ester serius.

TIKI fokus dalam  pengembangan jaringan distribusi agar dapat menjangkau lebih dari 90% wilayah Indonesia/Foto: kabarsumatera.com

“Target TIKI 3-5 tahun ke depan untuk dapat terus mempertahankan kepemimpinan kami di industri ini dengan fokus dalam  pengembangan jaringan distribusi agar dapat menjangkau hingga lebih dari 90% wilayah Indonesia. Pengembangan dan perluasan cakupan produk dan layanan kami di seluruh Indonesia antara lain layanan TIKI Drive Thru 24 hours, TIKI PUTAR dan TIKI SERLOK,  inovasi untuk layanan korporat serta memperkuat infrastruktur operasional dengan mengutamakan teknologi otomasi dan teknologi digital,” jelas Ester.

Namun demikian, berdasarkan data yang kutip dari Supply Chain Indonesia, biaya logistik di Indonesia masih di kisaran 24% terhadap PDB.

Tingginya biaya logistik tersebut disebabkan selain akses infrastruktur, juga satu yang mengakibatkan biaya logistik dari dan ke wilayah Indonesia menjadi besar adalah volume muatan barang antar wilayah yang sering tidak seimbang dan tidak dapat menutupi biaya operasional angkutan akibat kekurangan muatan balik dari wilayah-wilayah dengan pertumbuhan ekonomi rendah. Perlu adanya pemerataan dan pertumbuhan komoditas unggulan di daerah-daerah yang harus terus ditingkatkan sehingga diharapkan terjadi keseimbangan arus volume barang dari dan ke wilayah-wilayah tersebut.

“Harapannya pemerintah dapat mengkaji ulang biaya atau infrastuktur yang ada untuk logistik via jalur laut. Mengingat Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat luas, sehingga menjadi tantangan bisnis logistik dalam pendistribusian untuk pemenuhan masyarakat,” tambah Ester

Menurut Ester, selama lima dekade ini menjadi bukti nyata bagaimana TIKI selalu berkomitmen untuk bertransformasi mengikuti perkembangan kebutuhan pelanggan di tiap eranya dengan berpegang pada tiga area yaitu operational excellences (kualitas pelayanan terbaik dengan kapabilitas operasional yang mumpuni), customer intimacy (selalu mengutamakan kebutuhan dan kepentingan konsumen) dan product and service quality leadership (keunggulan produk dan kualitas layanan).

Hal ini menjadi semangat TIKI untuk terus menerus mengembangkan jaringan distribusinya. Diawali dengan dua cabang utama di Pangkal Pinang dan Semarang, saat ini TIKI telah memiliki jaringan operasional yang meliputi 66 kota besar di Indonesia, didukung oleh lebih dari 500 kantor perwakilan, lebih dari 3700 gerai dan lebih dari 6.000 karyawan di seluruh Indonesia. TIKI melayani 514 kabupaten atau kota di seluruh Indonesia,  menjadikannya perusahaan jasa pengiriman milik swasta dengan jaringan pengiriman terluas di Indonesia. Perusahaan ini juga sudah bisa melayani 88% dari total 514 wilayah kota/kabupaten di Indonesia. Dan mayoritas dari 82.505 kelurahan/desa di Indonesia juga sudah terlayani oleh TIKI.

“Saat ini TIKI memiliki 3.000 mitra keagenan yang tersebar di seluruh Indonesia yang membangun usahanya bersama dengan TIKI dan telah sukses mengembangkan bisnisnya di jasa kurir, dan telah mempekerjakan lebih dari 6.000 karyawan di seluruh Indonesia,” tandas Ester serius.

TIKI juga turut mengembangkan kapabilitas pelaku bisnis terutama UMKM dengan berbagi pengalaman terkait pengelolaan sistem distribusi. TIKI berkolaborasi dengan mitra keagenannya dan market place untuk memberikan pembekalan bagi UMKM terkait aspek-aspek penting dalam pengiriman dan membuka dialog untuk memahami kendala-kendala yang sering mereka alami dan bagaimana jasa pengiriman dapat membantu memberikan solusi.

Semester pertama tahun 2020, TIKI mengeluarkan 2 (dua) inovasi produk & layanan baru untuk mengakomodasi kebutuhan pasar yaitu:  TIKI PUTAR (Jemput Antar). Ini produk baru TIKI yang memberikan pilihan pengantaran dalam hitungan jam di hari yang sama, dan lebih cepat dari produk Same Day Service. Kurir akan menjemput barang ke titik penjemputan yang telah ditentukan pelanggan, dan akan langsung mengantarkan barang ke titik tujuan. Untuk saat ini, TIKI PUTAR baru berlaku untuk pengiriman dari dan ke wilayah di DKI Jakarta, dengan harga flat Rp 15.000 per 2 kg.

Kemudian TIKI SERLOK (Seller Online Booking) – Hanya untuk Jakarta. Layanan baru bagi para online seller yang menawarkan berbagai kemudahan dalam melakukan transaksi pengiriman dengan TIKI, antara lain gratis pick up barang, diskon 18 persen biaya pengiriman, kemudahan pembayaran mulai dari fasilitas Cash on Delivery hingga pelunasan H+2 setelah transaksi.

“Kami melakukan pelatihan secara berkala dan pengawasan kinerja dilakukan setiap hari. Kami juga bersama-sama dengan pimpinan cabang melakukan review bisnis mingguan dan bulanan. Dari pelatihan, pengawasan, dan review yang kami lakukan, pertumbuhan (continous improvement) dan target bisa terjaga dengan baik. Pertumbuhanan dan target bukan hanya penjualan tetapi termasuk di dalamnya adalah operations dan kualitas layanan,” kata Ester mengunci percakapan [] Siti Ruslina