Obsesi  Martin Widjaja Membangun Kampus Pisang

Pensiun dari posisi Managing Director, Martin Minar Widjaja   pindah kuadran terjun menjadi petani pisang.  Merintis dari hilir dengan berjualan buah, kini ia memilih bergerak ke hulu mengelola lahan perkebunan.  Kampus Pisang dan kebun percontohan seluas 40 hektar menjadi mimpinya melahirkan petani-petani Indonesia  professional.

Martin Minar Widjaja (posisi depan): Dulu berdasi, kini memilih jadi petani/Foto: dok. pribadi

Sejak pensiun tahun 2018 dari PT Segar Sewu Nusantara (SSN),   Martin Minar Widjaja  membangun usaha yang  tak jauh-jauh dengan pekerjaan sebelumnya.  Pengalaman selama 20 tahun bekerja  di industri fresh fruit  (buah segar) membawanya  terjun ke bisnis distribusi buah dan membangun usaha O2O  Fruit Retail (Toko buah Offline to Online) dengan brand GoFruit di BSD Serpong Tangerang.  “Tapi sekarang sudah di-take over  ke teman karena saya mau konsentrasi di lahan perkebunan,”ujar Martin Widjaja kepada pelakubisnis.com.

Martin beralasan,  toko buah ini hadir ketika perilaku konsumen di tanah air di era pandemic  sudah jarang  ke supermarket dan akhirnya mencari pola belanja online. Makanya dibangun sistem penjualan O2O (offline to online).

Di awal pensiun Martin Widjaja menjalankan bisnis O2O Fruit Retail/Foto: dok. pribadi

Lantas passionnya  di industri  buah-buahan segar menggelitik Martin untuk mencoba peruntungan di bidang pemasaran dan distribusi pisang bermerk Manise and  Family.  Untuk mendorong distribusi pisang Nusantara Manise yang merupakan pemasar buah premium dengan sistem  Reseller Channel  dibuatlah  Java Fruit Company sebagai Community Reseller Platform  yang didirikan Martin pada Maret 2020.

Unit usaha  ini  adalah platform membangun komunitas reseller dengan sistem online. “Saat ini baru memiliki sekitar 100 pengunjung reseller yang tersebar di wilayah Jabodetabek,”ujar  Sarjana Keuangan lulusan University of Iowa, Amerika Serikat ini.

Dalam mendisitribusikan pisang Manise and Family, ia bekerjasama dengan 12 investor di tanah air yang memiliki sekitar 10 hektar lahan pisang cavendish.  “Awalnya mereka mengelola lahan tebu. Namun tanaman tebu saat ini hanya menghasilkan sekitar Rp 15 juta/hektar, Sedangkan bila menanam pisang, nilainya bisa mencapai Rp 80 juta/hektar,”ungkap Mantan Manager Marketing PT Argo  Pantes Tbk ini.

Ia menambahkan, di tengah pandemic, terutama pada masa PSBB 1, banyak orang takut keluar rumah,  dan disusul dengan PSBB2, membuat pasar modern menurun cukup drastis.  Untung kegiatan di pasar tradisional tidak terganggu banyak karena konsumennya tak banyak uang sementara  perlu stok makanan untuk satu minggu, sehingga kegiatan ekonomi di pasar tradisional tidak terlalu berdampak.

Menurutnya saat ini   konsumen lebih memilih buah basic seperti pisang dan pepaya yang cukup murah.  Akibatnya buah basic yang murah naik omzetnya  sedangkan buah yang agak mahal seperti anggur dan apel  mengalami penurunan.

“Permintaan produk hortikultura yang dasar mengalami kenaikan dikarenakan ada perasaan konsumen ingin “menabung” di masa sulit ini dimana kepastian kerja dan pengurangan karyaman mengancam di semua level pekerja. Saya rasa produk agrikultura  masih akan  terus mengalami kenaikan,  dan dari teman-teman  pebisnis banyak yang mau beralih ke bisnis agri  juga karena kelihatan lebih sustainable di masa depan,”papar  pehobbi jogging ini.

Konsumsi pisang di tanah air saat ini mencapai Rp 27 trilliun/tahun/Foto: dok.pribadi

Menurut Martin,  ratio konsumsi pisang di tanah air saat ini mencapai Rp 27 trilliun/tahun, sementara  total nilai  konsumsi semua jenis buah  di Indonesia  mencapai Rp 150 trilliun / tahun. “Konsumsi  pisang di tanah air  40kg/ kapita. Sedangkan data  WHO menyebutkan jumlah yang semestinya dikonsumsi 75kg/kapita.  Sementara negara seperti Jepang sudah mengkonsumsi 200 kg/kapita,”papar mantan Manager Director PT Segar Sewu Nusantara  (produsen Sunpride) ini.

Untuk itu ia fokus mengembangkan usaha perkebunan pisang. Yang awalnya hanya menjual pisang ke berbagai channel distribusi dari modern market, tradisional market juga ke pasar horeka (hotel, resto dan kafe), kini ia mulai  bergerak ke hulunya dengan membangun kebun percontohan dan membangun kampus  guna mengedukasi para petani untuk menjadi petani professional.

Ia  membuat lahan pisang seluas 40 hektar di Kerawang Timur di tanah pribadi. Disitu akan menjadi kampus pisang yang bisa mengajarkan seluruh petani di seluruh di Indonesia untuk membuat perkebunan pisang yang lebih professional . Karena nilainya lebih tinggi hingga tujuh kali lipat  dari komoditi lain seperti padi dan kopi.

Melalui PT Situ Waringin Agro, ia membangun   Showcase Plantation, Invesment and Banana Campus. Ia pun membangun program  ‘Pisang Rakyat’. Yang membuatnya tertarik membangun program ini pertama karena tren makan buah meningkat. Pisang  dan pepaya menjadi salah satu hortikultura yang meningkat daya konsumsinya. Selain itu Indonesia mempunyai lebih dari 100 jenis pisang dari pisang raja, pisang ambon, pisang kepok dan lain-lain. Saat ini menurutnya muncul tren kenaikan hingga dua kali lipat untuk permintaan buah pisang dan pepaya dibanding sebelum pandemi.  “Kita mah seperti ketiban rejeki.”ujarnya.

Dan, kebun percontohan yang dibangunnya di Kerawang Timur ini,  nantinya ia menjalin kerjasama dengan petani  melalui kampus. Dari platform ini  dilakukan komunikasi melalui zoom.  Para petani diberi edukasi tentang tata cara bercocok tanam dimana setiap petani akan dididik untuk bisa menghasilkan pisang berkualitas  dan dikemas lebih professional. Para petani binaan ini diharapkan nantinya membeli  bibit dari Situ Waringin Agro , untuk kemudian diimplementasikan di kebunnya masing-masing untuk menghasilkan buah pisang yang memiliiki kualtas sesuai standar yang diharapkan.  Ketika panen, pihaknya akan menampung dan memasarkan hasil panen para petani yang tergabung dalam komunitasnya.

“Sekarang sudah kerjasama dengan banyak petani di Lampung dan Jawa Barat. Bibit dari kita dan mereka tanam. Rencananya November mulai ada kelas. Nanti juga ada YouTube channelnya,”imbuh Martin.

Martin melanjutkan,  karena  usahanya di bidang horti buah,  diakuinya ia  tidak ada kesulitan mendapatkan  client investor yang mau mulai berkebun buah pisang-pisang nusantara . Selain pisang, ia juga mengembangkan lahan  Kelapa Pandan Wangi,  Kopyor dan Alpukat.

“Yang terjadi sekarang,  horti buah yang dimakan yang mengalami peningkatan penjualan. Kalau bicara tanaman seperti tepung singkong justru harganya turun dari Rp 1300/kg sekarang hanya Rp 600/kg. Terjadi over supply.  Konsumsi tepung menurun, gaji karyawan sampai dipotong  karena harga  mengalami penurunan drastis.   Demikian juga dengan tanaman karet, mengalami penurunan,”terang Martin.

Coco Delight, brand kelapa kopyor besutan Martin Widjaja/Foto: dok. pribadi

Satu hal yang menarik ditandai dari pertumbuhan di sektor pertanian saat ini adalah munculnya anak-anak muda yang berpendidikan terjun menjadi petani.  Bahkan Martin yang dulu berdasi pun ikut terjun menjadi petani.  “Anak-anak muda ini bukan dari lulusan sekolah pertanian, rata-rata mereka praktisi bisnis yang mengerti pasar.  Itu sah-sah saja. Kita negara agraris, bahkan menanam pohon di dalam kota saja bisa tumbuh,” ungkap  Founder and Director  PT Coconesia Semesta Nusantara ini.

Saat ini Martin mengelola 5 perusahaan yang berkecimpung di bidang pertanian khususnya mengelola perkebunan pisang, kelapa kopyor dan alpukat.  “Kita tidak usah bicara ekspor dulu. Kita tingkatkan saja konsumsi di dalam negeri,”katanya .

Pensiunan dari Sewu Group ini juga memiliki usaha perkebunan kelapa kopyor. Menurutnya saat ini  kelapa kopyor sangat menjanjikan. Betapa tidak, dari petani dijual dengan harga Rp 2000/butir, di swalayan dijual dengan harga Rp 30 ribu. Makanya ia berkolaburasi dengan investor lain mengelola kelapa kopyor dan kelapa pandan wangi  yang diambil dari hasil para petani di wilayah Pati, Jawa Timur, Lampung hingga Aceh.  Untuk itu ia mendirikan  PT Coconesia Semesta Nusantara,  dengan positioning “ Integrated Value Coconute Plantation” (perkebunan kelapa bernilai tambah-red).

Sedangkan untuk perkebunan alpukat, diakuinya saat ini masih dalam prospek bisnisnya ke depan.  Namun demikian, berdasarkan kalkulasinya  alpukat-alpukat yang dijualnya nanti memiliki harga yang lebih tinggi dari harga pasaran karena alpukat yang dijual merupakan alpukat dengan kualitas premium. []Siti Ruslina