Platform Digital Derek Penghasilan Petani

Pemanfaatan platform digital di sektor pertanian dapat menderek pendapatan petani. Dengan platform ini, mata rantai distribusi pertanian bisa dipangkas, sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani. Mau Coba?

Sebagian petani meraup untung besar di tengah pandemi. Mereka yang umumnya menikmati keuntungan itu karena memanfaatkan platform digital dalam pemasaran. Ternyata terjadi perubahan perilaku konsumen dalam memberi produk. Mulanya bisa memanfaatkan offline, tapi dengan diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai mengalihkan kebiasan belanja sehari-hari dengan cara online.

Walaupun harus diakui, masih banyak petani yang belum menikmati keuntungan di tengah pandemi ini. Mereka justru “buntung” karena pemberlakuan PSBB yang menyebabkan produk hasil pertanian tak mampu terserap pasar.

Pendapatan petani mingkat sampai 10 kali lipat/foto::http://blog.sayurbox.com/

Kementerian Pertanian dan pemerintah daerah (pemda) mendorong petani memasarkan hasil panen melalui platform digital. Kementerian mencatat, pemasaran produk hortikultura ke segmen rumah tangga melalui layanan digital meningkat 300% lebih selama masa pandemi ini. Sayurbox misalnya, telah menggaet 1.000 petani di beberapa daerah, termasuk Surabaya dan Bali. Head of Communications Sayurbox Oshin Hernis mengatakan, rata-rata pendapatan petani yang menjadi mitra meningkat 10 kali lipat, sebagaimana dikutip dari katadata.co.id, pada 4/9 lalu.

TaniHub Grup, umpamanya, mencatat pendapatan mitra petani meningkat 20-25% setelah bergabung. Perusahaan menggaet lebih dari 30 ribu petani per Maret 2020 dan ditargetkan  mencapai 1 juta dalam lima tahun ke depan.

TaniHub Grup juga meluncurkan TaniSupply untuk mengatasi persoalan rantai pasok. Saat ini, TaniHub memiliki lima pusat distribusi yakni di Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Perusahaan berencana membangun infrastruktur pertanian baru di luar Jawa dalam dua tahun ke depan. “Kami ingin menjamah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi,” kata Co-Founder sekaligus CEO TaniHub Ivan Arie Setiawan saat konferensi pers secara virtual, akhir bulan lalu.

Sementara Bank Indonesia  memperkenalkan pasar baru melalui media online yang diberi nama jualsayuran.com. Media pemasaran ini digagas oleh kelompok petani muda dengan nama “Agri Muda” yang merupakan bagian dari Gabungan Kelompok Tani Lembang Agri. “Mereka peraih juara pertama Klaster Championship Bank Indonesia Tahun 2018 dan juara pertama Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Terbaik Nasional tahun 2019,” tutur Herawanto, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat. Selain itu, BI berupaya mempertemukan mitra binaan UMKM dengan aplikasi digital lainnya. Sejalan dengan itu, BI pun meningkatkan kapasitas produsen atau pelaku UMKM binaan.

“Saat ini produk berlimpah, jangan sampai tidak tersalurkan dan mengalami rusak. Sebab ada produk yang mudah rusak seperti sayuran. Kita bantu melalui pasar digital,” tegas dia.

Herawanto menjelaskan, hal ini pun dilakukan agar petani tetap bersemangat menanam. Jangan sampai mengalami kerugian saat Covid-19, sehingga enggan bertani. Sebab, jika itu terjadi akan mengganggu stok pangan. Jadi, pasar digital ini menjadi salah satu cara untuk menjaga pasokan pangan di Jabar.

Pola distribusi penjualan sayur lewat internet atau sosial media sudah banyak dilakukan. Aplikasi menjual hasil tani pun tumbuh subur di Indonesia. Sebut saja di Apple Store, setidaknya belasan aplikasi jual beli sayur secara online. Salah satu aplikasi berbasis komunitas tani bahkan ada yang mengklaim bisa meningkatkan penjualannya usai bergabung dengan marketplace. Mereka bahkan bisa meningkatkan penjualan mencapai 1500 order di 3 bulan terakhir.

Namun demikian, tantangan besar yang dihadapi untuk mengimplementasi platform digital adalah masih banyaknya para petani yang gagap teknologi (gaptek). Hal ini yang harus segera diedukasi secara massif, sehingga para petani dapat meningkatkan nilai tambah dari proses pemangkasan supply chain produk pertanian sampai ke end user (konsumen).

padi siap panen, putus mata rantai distribusi/foto: https://paktanidigital.com

Sementara  di Jerman pun banyak bermunculan aplikasi penjualan hasil tani yang menyediakan layanan pembelian langsung dari petani dan juga delivery order. Hanya saja demi membedakan layanan online hasil tani yang satu dengan yang lainnya, petani atau pengembang aplikasi tani harus punya ide menarik.

Di Jerman, misalnya, salah satu yang populer adalah aplikasi sayur online yang menghadirkan pilihan penjualan sayur berdasar masakan yang akan dibuat dan jumlah orang yang bakal menyantapnya, sebagaimana dikutip dari cnnindonesia.com.

Beberapa tahun terakhir banyak startup  mengembangkan platform digital untuk membantu petani dan peternak meningkatkan taraf hidupnya. Platform tersebut memungkinkan petani mendapatkan berbagai informasi terkait kegiatan bertani atau beternak hingga menjual produknya dengan harga yang lebih baik.

PakTaniDigital, misalnya. Platform  dalam bentuk web maupun aplikasi berbasis Android ini memungkinkan petani atau peternak mendapatkan informasi yang akurat mengenai harga jual komoditas, tips untuk memaksimalkan produksi, dan membeli bibit atau peralatan pendukung.

Bagaimana dengan transaksi yang akan dilakukan apabila pembeli telah sepakat dengan penjual atau penyedia jasa? PakTaniDigital sifatnya hanya sebatas penyedia lapak saja, tentu hal tersebut ikut tergantung dengan kesepakatan yang dibuat.

“Mereka yang menentukan [transaksinya] bagaimana. Sejauh ini masih aman belum ada laporan penipuan dari pembeli terhadap penjual di platform kami. Saat ini tercatat sudah ada sekitar 60.000 user baik pembeli atau petani yang menjual produknya di platform kami,” papar Co-Founder sekaligus Chief Operation Officer (COO) PakTaniDigital, Yosephine Sembiring, sebagaimana dikutip dari bisnis.com, 27 Juli lalu.

Kini hampir semua petani di Indonesia dapat mengakses informasi tentang pertanian dengan mudah. Mulai dari media cetak, elektronik, bahkan sekarang juga banyak situs yang berisi tentang pertanian. Semua itu bisa kita akses dengan mudah melalui aplikasi pertanian smartphone. Terlebih lagi saat ini pemerintah juga menggalakkan program pertanian digital.

Dari sanalah kita bisa mendapatkan beragam pengetahuan baru dalam dunia pertanian. Tidak hanya mengenai hal teknis pertanian saja seperti bercocok tanam, prakiraan cuaca dan musim panen tetapi juga tentang distribusi hasil pertanian.

Di samping itu, bangun kemitraan dengan pelaku ekonomi, khususnya pelaku ekonomi digital. Pelaku ekonomi digital ini bisa berupa koperasi pertanian yang sudah menggunakan sistem digitalisasi. Hal ini sebagai cara untuk menghindari petani yang menjual produk hasil pertanian kepada para tengkulak.

Boleh jadi pemanfaatan platform digital di sektor pertanian dapat menderek pendapatan petani. Dengan platform ini, mata rantai distribusi pertanian bisa dipangkas, sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani. Mau Coba?[] Yuniman Taqwa/foto: blog.tanihub.com