Tol Manado-Bitung Dorong Invetasi Sulut

Tiga proyek dipresentasikan dalam webinar bertajuk investasi ‘Road to Indonesia Investment Day 2020’, pada  minggu pertama September lalu. Dengan diresmikannya tol Manado-Bitung menjadi daya tarik investasi di Sulawesi Utara.

Presiden JokoWidodo akhir September lalu meresmikan jalan tol Manado-Bitung ruas Manado-Danowudu, Provinsi Sulawesi Utara. Peresmian tersebut dilakukan secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Kepala Negara mengatakan, jalan tol Manado-Bitung dirancang terintegrasi dengan kawasan industri dan pariwisata di Sulawesi Utara (Sulut) sehingga kawasan tersebut menjadi mudah dan cepat diakses,  kemudian menjadi mudah dikenal dan cepat dikembangkan. “Kawasan strategis pariwisata Manado, Bitung, Likupang, termasuk akses ke Pulau Lembeh semakin mudah dijangkau,” ungkap Presiden.

Tol Manado-Bitung: terintegrasi dengan KEK Likupang?foto ist

Menurut Jokowi, Sulut memiliki potensi ekonomi di bidang industri perikanan, pertanian, dan sektor perkebunan. Presiden meyakini dengan tersambungnya kawasan perekonomian tersebut akan mendatangkan banyak investasi, menumbuhkan usaha-usaha baru, serta meningkatkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Sulut.

“Kawasan pariwisata semakin mudah dijangkau. Sehingga diharapkan pariwisata di Sulut berkembang lebih baik setelah berakhirnya pandemi COVID-19. Dengan tersambungnya Jalan Tol Manado-Bitung, saya yakin investasi akan meningkat dan lapangan pekerjaan juga bertambah sehingga sulut semakin berkembang,” ujar Presiden.

Selain itu, jalan tol Manado-Bitung juga diharapkan dapat meningkatkan daya saing Sulut karena biaya logistik yang menjadi lebih rendah. “Ini saya kira nanti tugasnya Gubernur untuk menarik investasi sebanyak-banyaknya ke KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) di Bitung,” pesan Presiden Joko Widodo.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dalam laporan saat acara peresmian di Gerbang Tol Manado mengatakan, pembangunan ruas tol Manado-Bitung merupakan salah satu dukungan yang signifikan bagi pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung dan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Super Prioritas Manado–Bitung–Likupang.

“Kami laporkan pula bahwa saat ini sedang dilaksanakan juga pembangunan berbagai infrastruktur pendukung pariwisata lainnya, seperti jalan akses Manado-Likupang, Jembatan Marinsow, SPAM Malalayang, TPA Mamitarang dan pengendali banjir,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari liputan6.com, pada 29/9.

Jalan tol Manado-Bitung memiliki panjang 40 kilometer dan saat ini telah beroperasi ruas Manado-Danowudu sepanjang 26 kilometer, sementara sisa 14 kilometer masih dalam tahap pembangunan. Dengan adanya jalan tol ini mempersingkat jarak tempuh antara Manado dan Bitung yang semula membutuhkan waktu 1,5 jam menjadi 30 menit. Gerbang Tol Manado berjarak sekitar 9 kilometer dari Bandar Udara Sam Ratulangi dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 12 menit.

Dengan dibangunnya jalan tol ini diharapkan daerah di sekitarnya dapat lebih terintegrasi dan lebih mudah dijangkau. Diharapkan pula dapat mengembangkan KEK Bitung dan membuka banyak lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat sekitar.

“Biaya logistik dari Pelabuhan Internasional Bitung dapat ditekan lebih rendah sehingga lebih efisien, daya saing juga otomatis akan meningkat,” papar Kepala Negara.

Sementara Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung berlokasi di Provinsi Sulawesi Utara dan ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2014. KEK Bitung memiliki lokasi yang sangat strategis dan merupakan pintu gerbang ekonomi ke negara-negara di Asia Pasifik. Aksesibilitas tersebut didukung dengan adanya Pelabuhan Hub Internasional Bitung sebagai hub perdagangan bagi Kawasan Timur Indonesia. Berjarak 44 km dari Ibukota Manado, KEK Bitung diharapkan dapat menjadi pusat pertumbuhan dan distribusi barang serta penunjang logistik di kawasan timur Indonesia.

KEK Bitung targetkan tarik investasi Rp 35,2 triliun/foto ist

Dengan total area seluas 534 ha, KEK Bitung berbasis pada keunggulan komoditas daerah Provinsi Sulawesi Utara. Sebagai salah satu penghasil ikan terbesar di Indonesia, KEK Bitung fokus pada industri pengolahan perikanan untuk menghasilkan komoditi ekspor berkualitas internasional. Selain perikanan, KEK Bitung juga fokus pada industri kelapa beserta produk turunannya yang memiliki pasar yang sangat luas dan diminati baik dalam skala nasional maupun internasional.

Berdasarkan potensi wilayah dan keunggulan geostrategis, KEK Bitung diharapkan mendorong hilirisasi dan mendongkrak daya saing sektor perikanan, agro, farmasi dan diproyeksikan menarik investasi sebesar Rp.32,89T dan diproyeksikan dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 34.710 tenaga kerja hingga tahun 2025.

Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) mencatat total komitmen investasi sampai Agustus 2019 lalu yang masuk ke KEK Bitung  sebesar Rp1,79 triliun. Komitmen investasi tersebut berasal dari empat perusahaan.

KEK Bitung Sulawesi Utara ditargetkan menyerap investasi Rp 35,2 triliun dan 34.710 tenaga kerja. Kegiatn utama di KEK, meliputi pengelolaan kepala, perikanan dan logistik. Proyek ini diprediksi mampu menyumbang peringkat ekonomi nasional Rp 92,1 triliun pada  tahun 2025.

Sekretaris Dewan Nasional KEK Enoh Suharto Pranoto merinci empat perusahaan tersebut, yakni PT Futai Sulawesi Utara, PT Indojaya Fortuna, PT Mapalus Makawanua, dan PT Puri Bitung Gemilang. Dari seluruh perusahaan tersebut, terdapat dua perusahaan yang telah merealisasikan investasinya di Bitung, yakni Futai dan Indojaya Fortuna, sebagaimana dikutip dari cnnindonesia.com, pada 4/9/2019.

Sementara Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo, berkomitmen  memajukan sektor kelautan dan perikanan di Sulawesi Utara. Di antaranya, menghidupkan kembali Kota Bitung sebagai kawasan ekonomi khusus perikanan.

“Saya melihat Sulawesi Utara punya potensi yang sangat besar. Wilayah penangkapan ikannya sangat luas, di sebelah utaranya laut, selatannya juga laut, belum lagi di daratannya banyak sekali sumber perairan darat yang bisa dioptimalkan,” kata Menteri Edhy dalam acara Penandatanganan Perjanjian Pembiayaan Penyerapan Ikan dalam Sistem Resi Gudang oleh PT Perikanan Nusantara dengan PT Kliring Berjangka Indonesia, di Pelabuhan Tumumpa, Kota Manado, Sulawesi Utara, 12/6,lalu

“Kami melihat banyak hal yang hanya satu kebijakan saja kita ambil, semua bisa berjalan. Salah satunya adalah bagaimana kita akan menghidupkan Bintung menjadi Kawasan Ekonomi Khusus dan kita akan mengembangkan potensi perairan di seluruh pesisir Sulawesi Utara ini, jelasnya, sebagaimana dikutip dari fajar.co.id.

Sementara Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven Kandouw, mengatakan, ada tiga proyek investasi yang bersifat ready to offer di Sulawesi Utara. Hal itu disampaikan pada dalam seri ketiga seminar daring investasi ‘Road to Indonesia Investment Day 2020’.

Hal itu terungkap dalam webinar yang diselenggarakan KBRI Singapura, bekerjasama dengan Bank Indonesia dan Perwakilan Badan Koordinasi Penanaman Modal di Singapura (IIPC). Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI Singapura Didik Eko Pujianto, Senin (7/9).

Data BKM menunjukkan, realisasi investasi di Sulawesi Utara  dari Singapura untuk kuartal kedua 2020 adalah US$22,1 juta dari 54 proyek. Jumlah ini naik 122% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yaitu US$ 10 juta dari 47 proyek. Kuartal kedua ini didominasi oleh investasi pertambangan.

Gubernur Bank Indonesia, PerryWarjiyo mengatakan, pentingnya menjaga stabilitas makro dan keuangan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Sementara kepala BKPM Bahlil Lahadalia menyampaikan  komitmen BKPM senantiasa siap menfasilitasi para investor yang akan melakukan invetasi di Indonesia, mulai dari perizinan, pemberian insentif dan jaminan kemudahan investasi.

Tiga proyek yang dipresentasikan dalam webinar tersebut adalah KEK Bitung, KEK Likupa dan Jembatan Bitung-Lembeh. Wakil Gubernur , Steven Kandouw mengatakan,  kesiapan pemerintah daerah dalam mendukung realisasi investasi.[] Yuniman Taqwa/foto ilustrasi utama: YouTube