Blibli.com: Store Going Omni

Jakarta, 7 November 2020, pelakubisnis,com- Aktifitas belanja online meningkat selama pandemic. Tren belanja online atau dalam jaringan (daring) tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir bahkan sebelum pandemic dan semakin pesat saat masa pandemi yang memaksa sebagian besar orang untuk tinggal di rumah. Namun, saluran tradisional melalui offline atau luar ruangan (luring) diyakini  Kusumo Martanto, CEO Blibli.com, tak sepenuhnya hilang. Karena itu, para pelaku bisnis diharpakan untuk mengkombinasikan dua saluran tersebut dalam memasarkan produknya.

“Saya enggak percaya, bahwa offline ini akan mati totally. Kuncinya adalah harus ada dua-duanya ,” ujar Kusumo Martanto  dalam sessi hari kedua (5/11) webinar “Indonesia Industry Outlook #IIO2021 Conference yang  bertema: 2021: It’s Time to Win-Back “Reimagine, Recover, Regain” yang diselenggarakan oleh Inventure, Kamis (5/11).

Tahun ini, lanjutnya, transaksi belanja online secara keseluruhan di Indonesia tumbuh 25% hingga 30%. Bahkan beberapa e-commerce yang populer, seperti Blibli.com pertumbuhannya jauh lebih besar.

Kusumo memprediksi tahun depan  pertumbuhan transaksi online masih double digit seperti pada tahun ini, meskipun dampak pandemi pada tahun depan belum sepenuhnya hilang, sebagaimana tercermin dari data defisit APBN yang masih berada di atas 3% PDB.

“Tetapi apa pun terjadi di tahun ini, kalau kita milih melihat itu sebagai opportunity, itu berarti sudah menjadi benih. Kalau orang mulai shift ke online itu artinya benih yang terus dipupuk, tahun depan orang semakin terbiasa. Habit itu akan terus terbentuk dan mulai semakin menjadi bagian hidup sehari-hari dari konsumen Indonesia,” tukasnya.

Karena itu, Kusumo mengajak para pelaku usaha maupun calon entrepreneur Indonesia untuk menggunakan strategi omni channel dari berbagai saluran yang ada baik offline maupun online dalam memasarkan produknya. “Saya mengajak pengusaha atau pun yang baru menjadi entrepreneur gunakan semua chanel di mana konsumennya ada,” ujarnya.

Studi yang dilakukan oleh Inventure mengungkapkan selama masa pandemi pusat perbelanjaan atau mal sebagai salah satu saluran disribusi offline praktis sepi pengunjung.  Hal ini  diperkirakan masih akan berlaku hingga masa next normal yaitu saat vaksin sudah didistribusikan. Masyarakat masih takut untuk berkunjung ke mal. Dari studi yang dilakukan Inventure, mayoritas responden sebesar 61,6% dari 629 responden masih mengaku khawatir pergi ke mal.[]rr