Cara Kino Group Siasati Dampak Pandemi

Jakarta, 6 November 2020, pelakubisnis.com – Semua negara di seluruh dunia mengalami penurunan GDP akibat pandemi Covid-19. Namun demikian, di Indonesia ada yang terkena dampak, tapi  ada juga yang tidak! Pemerintah memberhentikan bisnis selama berbulan-bulan dengan diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hal itu yang membuat perusahaan menjadi kolabs.

Demikian disampaikan CEO PT Kino Indonesia Tbk (KINO), Harry Sanusi, pada acara webinar Indonesia Industry  Outlook 2021 yang diselenggarakan Inventure ( 6/11).

Menurut Harry, industri  FMCG (fast moving consumer goods)  cukup menarik, karena persainganya sangat ketat. Sektor ini memang sangat defensive! Meski pertumbuhannya turun, tapi  tidak negatif. “Kalau untung, untung sedikit tapi tidak sampai rugi,”kata Harry Sanusi.

Namun situasinya sekarang, kata Harry, tidak semua FMCG bisa selamat. Paling bagus tumbuhnya mungkin single digit, tapi yang  negatif  bisa sampai di atas 50%. “Sudah pasti, paling terdampak  orang yang beraktifitas menggunakan produk tersebut di luar rumah. Dia tidak bepergian keluar rumah jadi kebutuhan  bedak dan lipstick itu tidak dipakai,” urainya akibat pandemi.

Sementara secara psikologis para karyawan dari sisi operasional terpengaruh. Soalnya, untuk FMCG saat ini hampir 90% masih mengandalkan offline. Namun demikian KINO melakukan upgrade karyawannya untuk merubah pola kerja, sehingga bisa lebih  produktif.  “Manajemen mengumpulkan salesman, training semua dilakukan secara zoom dengan 400 orang. Ini trigger kita mencoba cara baru. Kalau dulu kita menyewa hotel, menyewa ballroom, sekarang sudah tidak perlu lagi,” jelas Harry.

Dari sisi konsumen terjadi perubahan ekspektasi dan perubahan frekuensi berkunjung ke toko menjadi berkurang. Efek lockdown mengakibatkan banyak perusahaan yang kolabs. Ada PHK kabarnya sudah mencapai 5 juta. Belum lagi bicara sekitar 15 juta orang yang tidak punya pekerjaan.

Hal ini yang menurut Harry, menyebabkan  daya beli masyarakat menurun. Tapi masih bisa memenej penghasilan  sedemikian rupa, dan dapat mengatur cash flow keluarga.  “Akhirnya terjadi pemilihan-pemilihan produk tertentu yang  harus mereka konsumsi. Kalau tidak terlalu perlu dikonsumsi mereka melakukan shifting, terjadi perubahan konsumsi. Sekarang masyarakat lebih sadar untuk hidup lebih sehat,” kata Harry.

Lebih lanjut ditambahkan, digitalisasi tidak bisa dihindari lagi. Sebelum pandemi pun tren digitalisasi mulai muncul. Konsumen di tengah pandemi  ini lebih nyaman memakai handphone untuk mendapatkan informasi dari satu pintu. Sehingga lebih mudah terkristalisasi pemain-pemain consumer goods untuk mendrive konsumennya dan  terukur.

Itu tantangan bagi pengusaha-pengusaha yang  mungkin 10 atau 20 tahun lalu sukses dengan konvensional.  “Sekarang 360 derajat communication berubah. Kalau dulu cuma dapat rating berapa, placement berapa, sekarang harus dianalisa semua. Itu yang membuat pemain yang eksisting tidak bisa serta merta  berubah. Kita harus bisa mentransformasikan  atau melakukan transisi kepada anak muda untuk melakukannya. “Saya rasa itu tantangan yang harus disadari pelaku bisnis itu sendiri,”papar  Sarjana Farmasi lulusan Universitas Pancasila, Jakarta ini.

Lantas, bagaimana menanggapi me too product yang hadir secara massif melakukan pola penjualan melalui social media?  “Itu yang menjadi challenge bagi kita dan  menjadi fokus melakukan hal yang sama karena ke depan akan terjadi pola seperti itu. Kami harus coba membuat  dua pola penjualan dengan segmen yang berbeda,” kata Harry.

Dari beberapa portofolio produk yang dilahirkan Kino Group diakuinya terjadi shifting juga. Seperti produk vitamin, minuman  dan produk sanitasi komposisinya  menjadi lebih besar.

Ia  menambahkan, Kino Group  tetap akan memproduksi produk-produk yang eksisting. “Tapi fokus kami memang ke produk-produk yang lebih menjadi tren sehingga pertumbuhan bisnis kami bisa lebih baik dari kompetitor,”ungkap Harry.[]sr