Konsumen Indonesia Optimis Bangkit Dari Krisis Pandemi  

Oleh: Yuswohady

Dalam buku Industry Megashift 2021 After Pandemic, ada 4 karakter  industri di tahun 2021 yang kami sebut Industry Megashift , karena kami melihat ada pergeseran industri yang dahsyat dan ekstrim. Secara sederhana pergeserannya dikelompokkan ke dalam 3 bagian besar yakni, Mega (Change), Macro (competition) dan Micro (customer).

Pergeseran di tingkat mega berhubungan dengan bidang teknologi, politik, regulasi, sosial ekonomi hingga lingkungan. Sedangkan tingkat Macro, mencakup perubahan besar yang menghasilkan peta  kompetisi  baru di era pandemic. Pada tingkat ini pandemic menghasilkan landscape industri baru yang ditandai dengan 4 karakteristik, yakni higienitas menjadi prioritas  utama. Selain itu low touch economy, kalau di perbankan contactless payment menjadi kunci. Industri yang tidak dapat beradaptasi dengan low touch akan tersingkir. Ketiga, Less Crowd dan Low Mobility.

Sementara pada tingkat Micro, terdapat 4 New Value Propositions. Karena pandemic Covid-19 muncul empati kepada sesama dan sarat solidaritas sosial. Lalu, gaya hidup baru tinggal di rumah karena adanya social distancing. Ketiga, karena kontak menghindari kontak fisik, mereka menggunakan medium digital. Dan keempat, pada tingkat ini mengacu pada Piramida Maslow, kebutuhan konsumen kini bergeser dari puncak piramida ke dasar piramida yang lebih memprioritaskan makan, kesehatan dan keamanan jiwa raga.

Konsumen mengakui jumlah tabungan dan investasi mereka menurun angkanya cukup besar masing-masing: 48,6% dan 57,6%/Foto: Inventure

Krisis ekonomi yang diakibatkan oleh COVID-19 berdampak pada kondisi keuangan keluarga dan pribadi. Berdasarkan riset yang dilakukan Inventure pada Agustus-September terhadap 1.121 responden yang tersebar di seluruh Indonesia, 67,6% mengatakan bahwa pendapatan mereka berkurang selama pandemi. Namun di sisi yang lain 35,3% mengatakan pengeluaran mereka justru meningkat.

Menariknya, kalau di awal-awal pandemi lalu jumlah tabungan masyarakat cenderung meningkat sebagai dana cadangan menghadapi ketidakmenentuan akibat krisis pandemi, maka kini mereka mengakui jumlah tabungan dan investasi mereka menurun angkanya cukup besar masing-masing: 48,6% dan 57,6%.

Hal ini mengindikasikan bahwa pengaruh krisis pandemi di akhir tahun 2020 ini semakin dalam dan dirasakan masyarakat.

Dari 1.121 responden, sebesar 47,2% menyatakan optimis pandemi COVID-19 berakhir di akhir tahun 2020/Foto: Inventure

Meskipun pendapatan masyarakat Indonesia mengalami penurunan namun menariknya rasa optimisme masyarakat terhadap pemulihan ekonomi mengalami peningkatan. Dari 1.121 responden, sebesar 47,2% menyatakan optimis pandemi COVID-19 berakhir di akhir tahun 2020. Sedangkan sebesar 51,4% mengatakan bahwa kondisi keuangan mereka akan kembali normal pada akhir tahun 2021.

Menanggapi hasil temuan ini, Stanley Atmadja, Presiden Direktur Mandiri Utama Finance dalam paparannya di “Indonesia Industry Outlook 2021” 4-6 November 2020 yang diselenggarakan oleh Inventure mengatakan, “Selama ini banyak orang keliru bahwa pengaruh dahsyat pandemi hanya dialami oleh sektor turisme, perhotelan, atau restoran. Namun kenyataan tidak demikian, dampak ke industri multifinance juga sangat dahsyat.

Stanley yang juga pendiri Adira Finance ini memprediksi bahwa pemulihan bisnis multifinance tidak akan terjadi di tahun depan. “Saya kira pemulihan 100% akan terjadi pada akhir 2022 dan menjelang 2023.” Artinya, para pelaku di industri ini harus memiliki daya survival dan resiliensi yang tinggi setidaknya 2-3 tahun ke depan.[]

Penulis adalah  Managing Partner Inventure