Mengintip Rencana Merger 3 Bank Syariah

Rencana pemerintah menggabungkan PT Bank BRIsyariah, PT Bank Syariah Mandiri dan PT Bank BNI Syariah disambut positif. Bila tidak ada aral melintang, awal tahun depan legal merger akan terealisasi. Bagaimana landscape bank syariah hasil merger tersebut?

Tahun depan Indonesia akan melahirkan bank syariah dengan performance yang tak kalah dengan bank konvensional papan atas. Penandatanganan Conditional Merger Agreement (CMA) dilakukan anggota Himbara selaku perusahaan induk ketiga bank syariah nasional yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk bersama PT Bank BRIsyariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah.

Merger tiga bank syariah akan menjadi kekuatan ekonomi syariah di Indonesia/foto: doc. BNI Syariah

Direktur Utama Bank BNI Syariah, Abdullah Firman Wibowo mengatakan, mendukung penuh upaya pemerintah melakukan penggabungan bank syariah milik BUMN serta siap bekerja sama dan bersinergi.  “Insya Allah, merger ini akan menghasilkan bank syariah yang lebih kuat, solid, dan terbesar di Indonesia. Sudah saatnya kita sebagai negara berpopulasi muslim terbesar di dunia memiliki bank syariah yang besar. Oleh karena itu, kami siap bekerja sama, bergotong royong, untuk memajukan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia. Bahkan tidak hanya di Indonesia, karena ke depan, kita bisa berikhtiar menjadi pemimpin ekonomi syariah dunia,” kata Firman.

Sementara lembaga pemeringkat internasional, S&P Global Ratings memproyeksikan potensi merger anak usaha perbankan syariah akan meningkatkan pembiayaan syariah di Indonesia. Meskipun detail merger masih dalam tahap perumusan, S&P memperkirakan Bank Mandiri kemungkinan memiliki saham yang lebih besar di entitas hasil merger, mengingat Bank Syariah Mandiri (BSM)  akan memberikan kontribusi lebih dari 50% dari aset entitas hasil merger.

Komposisi pemegang saham bank hasil penggabungan yakni, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk 51,2%, PT Bank Negara Indonesia  (Persero) Tbk 25%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk 17,4%, DPLK BRI-Saham Syariah 2 persen dan publik 4,4 persen.

“Karenanya kami berharap merger ini berdampak positif bagi profil bisnis Mandiri. Efek pada dua bank lainnya akan netral secara luas mengingat kontribusi aset syariah yang relatif kecil dan kepemilikan mereka yang lebih kecil di entitas yang digabung,” tulis riset S&P.

Lembaga rating yang juga anak perusahaan dari McGraw-Hill ini memandang, entitas yang digabungkan nanti, akan menjadi bank pemberi pinjaman terbesar ketujuh di Indonesia dengan aset secara rupiah Rp 215 triliun atau setara US$ 14,5 miliar. Jumlah aset tersebut, mewakili pangsa pasar perbankan domestik sekitar 2,5%, sebagaimana dikutip dari cnbcindonesia.com.

Pengumuman merger tiga bank syariah BUMN tersebut sejalan dengan rencana pemerintah untuk mempromosikan pembiayaan berbasis syariah dengan menciptakan bank syariah yang kuat. Bank hasil merger akan menguasai sekitar setengah dari aset sektor perbankan syariah.

Ketua Project Management Officer (PMO) Merger Bank Syariah BUMN, Hery Gunardi mengatakan sejumlah rencana akan dilakukan bank hasil merger tiga bank syariah BUMN. Beberapa rencana yang akan dilakukan setelah merger yakni fokus pada bisnis wholesale banking (corporate banking) di keuangan syariah yang dinilai masih cukup lambat bertumbuh di bank-bank syariah plat merah.

Hery yang juga Wakil Direktur Utama BSM ini mengatakan, penggabungan ini, ditaksir pada 2025, nilai aset perusahaan ini tembus Rp 390 triliun, kemudian target pembiayaan bisa menembus Rp 272 triliun, dan pendanaan sekitar Rp 335 triliun.

Lebih lanjut ditambahkan,  seluruh proses dan tahapan-tahapan setelah ringkasan rencana merger tersebut akan terus dikawal hingga tuntasnya integrasi ketiga bank peserta penggabungan. “Integrasi ini lebih dari sekadar corporate action. Mewakili PMO, saya terus mengawal tidak hanya sampai legal merger, tapi juga memastikan hadirnya bank syariah nasional terbesar ini benar-benar dapat memberikan manfaat bagi orang banyak dan membawa nama Indonesia ke kancah global sebagai pusat ekonomi syariah dunia,” kata Hery melalui siaran pers, pada 21/10.

Indonesia  berpenduduk muslim terbesar di dunia, memiliki potensi ekonomi Syariah yang besar tapi belum optimal. Oleh karena itu, bank syariah hasil merger disebut akan memiliki modal, aset, sumber daya manusia, sistem teknologi, dan produk-produk yang mumpuni untuk memenuhi kebutuhan nasabah sesuai dengan prinsip syariah. Merger diharapkan dapat meningkatkan penetrasi aset syariah sehingga menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat keuangan syariah global, sebagaimana dikutip dari kompas.com.

Direktur Utama BRIsyariah, Ngatari menambahkan, akan masih ada sejumlah tahapan sampai tuntasnya penggabungan ini. Seperti penggabungan karyawan hingga nasabah. “Masih ada serangkaian proses dan milestone yang harus dilalui dan kami pastikan semuanya dilakukan dengan saksama, sesuai dengan regulasi, dan mengedepankan karyawan, nasabah, mitra usaha, dan manfaat sebesar-besarnya untuk masyarakat. Kami juga memastikan kepada para nasabah bahwa layanan tetap berjalan normal dan optimal,” ujarnya., sebagaimana dikutip dari jawapos.com, pada 21/10.

Sementara Anton Sukarna Directof of Distribution &  Sales  BSM  mengatakan, kita harus berani menawarkan  sesuatu yang memang punya value syariah. Contoh, dulu selalu berangkat dari bank konvensional bahwa para penyimpan dana itu, cenderung mempertimbangkan  pendapatan yang disimpan sebagai hal utama menyimpan uang.

Menurut Anton sejak dua  tahun yang lalu, BSM men-develop produk yang sebenarnya tidak ada bagi hasilnya. Yang ditawarkan ke konsumen adalah layanannya. Kemudian beberapa gimmick terutama untuk transaksi-transaksi, tabungan, debit card, ATM yang diperbaiki. “Ternyata mereka tidak memilih bagi hasil  sebagai pilihan utama menyimpan uangnya,” kata Anton dalam webinar Indonesia Industry Outlook 2021  yang diselenggarakan Inventure awal  November lalu.

Value syariah menjadi nilai pribadi

Anton menambahkan,  setelah BSM berdiri cukup lama, ternyata nilai-nilai atau value-value syariah itu menjadi nilai pribadi. Kalau dulu BSM  jualan produk saja, tapi  sekarang bagaimana BSM bisa mengumpulkan orang-orang yang punya aktivitas syariah untuk kemudian dijadikan basis customer.

Berdasarkan data, sekitar 21% masyarakat Indonesia  mempunyai ketertarikan  syariah yang kuat.  Namun demikian, BSM tidak menjual produk dulu, tapi ke jamaah  mana yang bisa  jadikan sebagai  nasabah syariah yang kuat. ”Alhamdulillah dengan pendekatan itu, BSM  bisa tumbuhkan syariah,” lanjut Anton.

Tahun depan , tambah Anton,  optimis bahwa market akan selalu tumbuh. Di masyarakat kita pasarnya sudah ada. Problemnya kita tidak menggarap cukup baik. Padahal daya saing relatif  sama. Tinggal kemudian bagaimana kreativitas kita menghadirkan konten-konten yang membuat orang-orang yang diundang itu kemudian terlibat  menjadi pendukung.

“Saya rasakan  itu pertumpuhan dana pihak ketiga lebih tinggi dibandingkan  sebelum pandemic. Ini sesuatu yang luar biasa. Walaupun kecendrungan pendapatan yang disimpan lumayan positif di sisi pembiayaan,” tambah Anton.

Di samping itu, pertama, tingkat confidence  masyarakat terkait syariah  belum begitu bagus. Kedua, misalnya, produk-produk murni syariah seperti  transaksi-transaksi zakat, infaq dan sadaqoh, ketika dilayani dengan jaub lebih mudah, lebih sederhana,  tapi dengan tingkat akuntabilitas yang baik, misalnya,  ternyata pertumbuhanhya juga luar biasa.

Anton melanjutkan, di BSM itu pertumbuhan membayar zakat  dan sodaqoh sangat tinggi. Ini menunjukkan bahwa value-value syariah  kita coba create masuk ke dalam produk-produk yang  bisa diakses dengan mudah dengan  teknologi itu ternyata bisa diakui masyarakat.

Bahkan, belakangan ini, transaksi-transaksi baru yang dikembangkan seperti  wakaf kini sedang tren. Mudah-mudahan bisa  mendorong pertumbuhan model filantropis Islam. Dan akhirnya membawa kemaslahatan umat.

Sementara ketika masuk ke merger dengan ukuran  asset yang meningkat hampir dua  kali lipat, misalnya,  maka “mainan” mungkin tidak cukup di segmen itu. “Mulai masuk ke planning view yang berbeda. Karena kelas kita sudah berbeda. Seperti pemain tinju kelas ringan berantem di kelas ringan, kalau di kelas berat berantem di kelas berat. Nah,  kita perlu main di level yang sama dengan bank-bank di kelas yang sama. Sifatnya universal. Kemudahan teknologi, kemudian bisa juga terkait dengan  price yang bisa di-maintain dan keragaman produk yang harus kita miliki,” ujar Anton.

Menurutnya, walaupun value-value syariah tetap menjadi andalan, tapi value syariah itu dikemas dalam  bentuk  universal, diterima orang sebagai  sebuah keumuman. Contoh, integritas,  keramahtamahan juga sudah menjadi value syariah, kemudian ketepatan melayani juga bagian dari value syariah kecepatan juga bagian dari value syariah. Yang terpenting bagaimana kita bisa menjaga  kepercayaan atau amanah dari nasabah yang bisa diterima secara universal.

Paska merger, menurut Anton, arah syariah akan seperti bank konvensional. Syariah  kan hanya sebuah sistem. Artinya  ujian dari sistem ini ketika  dipercaya banyak orang, apa pun  latarbelakangnya.  Contoh sistem Islam itu berbicara keadilan. Bagi hasil, umpamanya,   baru teruji  dengan benar bila  bisa  terima semua orang.

Bila tidak ada aral melintang, legal merger kemungkinan awal tahun depan. Ketika merger, tidak lagi melihat dari sisi market. Bagaimana bisa punya kebebasan  di ritel syariah sebagai bank yang modern?  “Levelnya sudah mendekati  skala nasional yang kuat. Mungkin  global terkait syariah, sehingga masyarakat  punya keyakinan dan harapan serta bisa bertransaksi melalui bank syariah,” kata Anton mengunci percakapannya dengan Yuswohady dari Inventure  di acara webinar Indonesia Industry Outlook 2021. [] Yuniman Taqwa