Optimis Industri FMCG 2021 Jauh Lebih Baik

Setiap krisis akan kembali normal. Tahun depan Industri FMCG –fast moving consumer goods- lebih baik dibandingkan tahun ini. Pasalnya,  pemerintah tidak akan melakukan lockdown. Kalau melakukan lockdown lagi, sama saja melakukan bunuh diri!

Padahal awal tahun 2020, seluruh pertumbuhan industri sangat positif. Tapi 2 Maret 2020, ketika Presiden Joko Widodo mengatakan ada terjangkit Covid-19, hal tersebut merubah peta industri, peta permintaan semua perusahaan. Apa yang terjadi pada kuartal dua (Q2) itu Gross Domestic Product (GDP) secara makro menghadapi tantanganan minus 5,2%, market consumer goods saat itu masih relatif flat.

Direktur Keuangan Unilever Indonesia, Arif Hudaya, pada waktu itu kita masih mempunyai lebaran, walau dalam fungsi terbatas. Konsumen masih shock dengan apa yang terjadi dengan covid-19, sehingga mereka melakukan pembelian lebih di Q2.

Tapi konsumen industri pun tergerus pada Q3. Kenapa? Pertama, kegiatan industri sangat terbatas akibat diberlakukan PSBB. Kedua, dampak ekonomi  dari Covid-19 yang mulai mengena setiap individu. Ketiga Covid sampai sekarang masih berlangsung, bahkan terjadi peningkatan 2 dan 3 minggu yang lalu, maka kegiatan ekonomi yang terbatas  dan menciptakan keraguan konsumen masih terjadi.

Banyak gerai ritel baik modern maupun tradisional sepi pengunjung. Hal ini dikarenakan orang menghindari kerumunan karena takut tertular virus Covid-19. Sebagai gantinya konsumen mulai melirik toko-toko online. Pandemi membuat aktivitas belanja online mengalami peningkatan. Jika sebelumnya, konsumen berbelanja di e-commerce hanya untuk kebutuhan sekunder bahkan tersier, kini konsumen juga berbelanja kebutuhan bahan pokok yang merupakan kebutuhan primer di e-commerce.

Ketika konsumen mulai nyaman berbelanja online, kedepannya saat “tanggal gajian” konsumen akan cenderung membelanjakan uang untuk kebutuhan bulanan di e-commerce dibandingkan di retail offline. Selain lebih praktis dan lengkap, harga yang ditawarkan bisa lebih murah. Kondisi ini diperkuat dengan hasil survei yang dilakukan oleh Inventure dan Alvara, yaitu sebanyak 69,6% responden dari 629 masih takut berbelanja di pasar tradisional sedangkan 65,9% responden mengatakan masih takut berbelanja di ritel modern meskipun vaksin sudah diproduksi. Tantangan yang dihadapi yaitu bagaimana kemudian penyedia jasa logistik bisa memberikan layanan pengiriman barang yang cepat dan terjangkau untuk mengantisipasi e-commerce boom.

Menanggapi temuan menarik ini Mohammad Feriadi, Presiden Direktur JNE, dalam diskusi di Indonesia Industry Outlook 2021, 4-6 November 2020 mengungkapkan bahwa kini migrasi konsumen ke ranah online berlangsung kian dalam (deepening). “Kami di JNE mengamati adanya shifting konsumen dimana belanja kebutuhan pokok kini mulai dilakukan secara online, termasuk untuk produk kesehatan dan frozen food,” ujarnya. Seperti diketahui maraknya belanja online sebagai dampak dari pandemi membawa berkah luar biasa kepada jasa pengiriman seperti JNE.

Saat ini semua produk yang menjanjikan anti virus dan bakteri akan laris di pasaran. Maka jurus “aji mumpung” pun dengan sigap dijalankan oleh para produsen produk kebersihan dengan meluncurkan produk dengan value proposition anti-bacteria.

Mulai dari produk pembersih baju seperti SoKlin dan Molto, hingga sabun pencuci piring Sunlight saat ini berlomba-lomba mengomunikasikan keunggulan produk mereka dengan janji anti-bacteria.

Arif Hudaya mengatakan,  tidak  bisa memberi pandangan ke depan, tetapi kalau kita melihat dalam new normal adalah cara pola bekerja. Sebelum krisis  kita berpikir satu central point, krisis ini membuat kita beajar  dengan scenario planning, seperti kita mempunyai pandangan yang apa terjadi, tapi juga kita mempunyai pandangan apa yang akan menjadi lebih baik atau optimis. Dalam konteks tersebut, seharusnya kita bisa meningkat seperti apa yang  pemerintah jabarkan bahwa jika semuanya berhasil sesuai rencana,  maka GDP Indonesia akan kembali ke range sekitar 4 sampai 5 persen. Itu sebagai panduan utama.

Ketika GDP kembali membaik, maka marketpun akan  growth. Kalau GDP meningkat  5%, maka market growth consumer goods , mungkin average bisa diangka 3 – 4%. Apa yang terjadi  dalam konsumen banyak berbeda. Tapi yang paling penting dalam market  average, terjadi perbedaan tingkat pertumbuhan, di setiap segmen dan di setiap kategori.

Meskipun pendapatan masyarakat Indonesia mengalami penurunan, namun optimisme masyarakat terhadap pemulihan ekonomi mengalami peningkatan. Hasil survei Inventure menyebutkan, dari 1.121 responden, sebesar 47,2% menyatakan optimis pandemi Covid-19 hilang di akhir tahun 2020. Sedangkan sebesar 51,4% mengatakan bahwa kondisi keuangan mereka akan kembali normal pada akhir tahun 2021.

Namun demikian, pemulihan ekonomi Indonesia akibat krisis pandemi tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Untuk bangkit dari keterpurukan dua krisis kesehatan dan ekonomi dibutuhkan kerjasama semua elemen bangsa untuk mengatasinya termasuk kalangan entrepreneurs dan pelaku usaha.

Menurut Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam acara Indonesia Industry Outlook #IIO2021 Conference secara daring yang diselenggarakan oleh Inventure, Indonesia bisa cepat keluar dari krisis pandemi. Indonesia saat ini sudah memasuki masa pemulihan. Pemerintah yakin momentum pemulihan ini akan terus berlangsung hingga tahun 2021. Keyakinan tersebut muncul dari berbagai indikator kinerja ekonomi nasional yang mulai membaik.

Airlangga Hartarto: Indonesia berada di range pertumbuhan ekonomi lebih baik dari negara lain

Di tahun 2020 Indonesia akan mencapai pertumbuhan berkisar -1,6% hingga 06% sehingga Indonesia akan berada di range pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari negara lain. Utilisasi sektor industri sudah membaik rata-rata di angka 55%. Di samping itu,  terjadi penurunan risiko investasi dimana nilai indeks saham membaik dan kapitalisasi pasar mulai pulih kembali.

Sementara peningkatan aktivitas ekonomi mulai menggeliatnya industri manufaktur tercermin dari indeks PMI (Purchashing Manager Index) yang diharapkan berada di jalur di atas 50 (ekspansif). Sektor industri dasar dan aneka industri mengalami pemulihan di mana sektor-sektor tersebut naik 50% dibanding Maret 2020.

Airlangga melihat upaya pemulihan ekonomi menunjukkan tren positif, sehingga berimbas pada bangkitnya sektor manufaktur. Bangkitnya industri pengolahan ini terlihat dari peningkatan impor bahan baku dan barang modal, dan neraca perdagangan di triwulan ketiga surplus menjadi $8 miliar. Triwulan keempat diharapkan semuanya akan positif terutama daya beli masyarakat dan peningkatan investasi.

Perbaikan tak hanya di sektor riil, tapi juga di pasar modal dan sektor keuangan. Indeks harga saham Indonesia sudah mencapai 5159 dan kurs rupiah sudah mencapai Rp 14.585 per 3 November. Kinerja emiten juga 63% masih membukukan profit, dan sejalan dengan kondisi yang membaik, investment grade Indonesia berada di posisi BBB pada  Agustus 2020 lalu.

Sementara pelaku industri barang konsumen yang bergerak cepat atau fast moving consumer goods (FMCG) menaruh prospek positif untuk kinerja pada 2021 seiring dengan momen pemulihan ekonomi. Meski demikian, para pelaku usaha FMCG masih memandang 2021 sebagai momen penuh tantangan.

Sementara mengutip dari bisnis.com, Wakil Ketua Umum Asosiasi Peritel Indonesia  (Aprindo) Fernando Repi yakin penjualan retail barang konsumsi bakal tetap positif pada 2021 karena didorong momentum pemulihan ekonomi dan keberadaan vaksin.

Hal ini didukung pula oleh kian beragamnya kanal penjualan yang ditawarkan peritel, baik lewat gerai maupun secara daring. Dia mengatakan pandemi telah mengakselerasi perkembangan omnichannel yang awalnya diramal baru dilakukan 3 tahun lagi. Beragamnya kanal penjualan, kata Fermandoini memberi tantangan tersendiri. Terlebih untuk mengimbangi kebiasaan konsumen yang cenderung membeli barang konsumsi dalam jumlah banyak dalam sekali belanja.

Menurut Chief Executive Officer PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk, Hardianto Atmadja, proyeksi tahun 2021, akan jauh lebih baik. Banyak aspek yang dilihat bahwa tahun depan akan baik. Dengan adanya vaksin, apalagi telah didistribusikan 50% penduduk Indonesia, maka  rantai pandemic akan berakhir. Masyarakat akan beraktivitas kembali sehingga lebih bergairah.

Namun demikian, lanjut Hardianto, meskipun menjaga daya beli itu tugas pemerintah, tapi Garudafood berusaha menjaga daya beli konsumen dengan melakukan value for money, di mana isi kemasan Garudafood 20% lebih banyak. Inilah opportunity yang kita lihat, meskipun  ada penurunan. Tapi konsumen Indonesia itu suka   nyemil (makanan ringan), tapi dengan kondisi seperti ini mereka ingin sesuatu yang baru tapi value for money.

Industri FMCG bertahan dari gempuran pandemi/foto:ist

Lebih lanjut ditambahkan, dengan kejadian Covid ini, maka di tahun 2021 sebagian orang akan kembali ke habit semula seperti di beberapa negara lain yang mulai terbebas dari Covid. Tapi ada juga habit baru, terutama orang yang konsen terhadap kesehatan. Setelah Covid orang tidak hanya beli sekedar snack, tapi beli snack yang sehat dan brand-nya reputable.

Hardianto menambahkan, konsumen masih tetap mengkonsumsi produk-produk Garudafood karena di masa Covid ini Garudafood menjaga  branding, agar dekat dengan konsumen. Diantaranya  melakukan adverting di tv dan media digital. Itulah yang mungkin bisa menjaga konsumen. Misalnya minuman coklat serbuk yang  dulu banyak dikonsumsi dengan air hangat, setelah pandemic banyak ibu-ibu dan anak-anak mulai belajar memasak. Produk-produk seperti itu dibuat kue dan pudding. “Kita buatkan resep, kita viralkan di medsos,” kata Hardianto.

Sementara CEO PT Kino Indonesia Tbk (KINO), Harry Sanusi, menilai psikologis masyarakat terhadap Covid-19 mulai menurun bila dibandingkan empat lima bulan yang lalu. Hal itu disebabkan karena tingkat kesembuhan Covid semakin meningkat, sedangkan tingkat kematian semakin menurun. “Ini yang membuat fundamental ekonomi semakin membaik. Walaupun pencatatan data ada tertunda, sehingga membaca data bisa salah bila tidak detail,” kata Harry serius.

Harry menyarankan, bagi pelaku bisnis  FMCG  harus tetap optimis. Pasalnya setiap krisis akan kembali normal. Tapi yang terpenting adalah jagalah cashflow sebaik mungkin, sehingga daya tahan semakin panjang. “Ibarat lari marathon. Walaupun asumsi bahwa vaksin bisa menyelesaikan masalah, tapi tetap saja ada faktor-faktor  yang tidak diketahui. Artinya harus tetap hati-hati kemungkinan yang terjelek yang terjadi di tahun depan,” kata Harry.

Tapi secara pribadi Harry yakin tahun depan akan lebih baik dibandingkan tahun ini. Sebab, ia yakin pemerintah tidak akan melakukan lockdown lagi. Kalau melakukan lockdown lagi, sama saja melakukan bunuh diri!!  [] Yuniman Taqwa