PLN Derek EBT, Lirik Industri Baterai

Meskipun konsumsi rumah tangga di tengah pandemic Covid-19 meningkat, tapi konsumsi listrik sektor industri dan bisnis menurun. Bagaimana landscape bisnis PLN ke depan?

Di masa pandemi portfolio bisnis Perusahaan Listrik Negara (PLN) memang sedikit terganggu. Pasalnya, masa pandemi banyak orang diam di rumah, karena semua kegiatan dilakukan dari rumah (work from home, belajar dari rumah, ibadah dari rumah dan sebagainya)

Bila dilihat dari kategorinya,  jumlah pelanggan PLN terbanyak di sektor rumah tangga, menyusul bisnis dan industri.  Namun demikian konsumsi yang terbesar justru industri. Bahkan ada industri yang beroperasi 24 jam yang membutuhkan listrik . Selain itu, mall, pertokoan juga konsumsinya besar, tapi masih di bawah industri.

Menurut  Muhammad  Ikhsan Asaad, Direktur Mega Project dan EBT PLN, kondisi pandemi  banyak berpengaruh bagi PLN. Jakarta, misalnya,  pada Mei – Juni lalu  konsumsi listriknya turun  mencapai 10%, di bandingkan tahun lalu. Di Jakarta memang dominan dikonsumsi sektor bisnis (mall, pusat perkantoran dan lain-lain). Sementara di sektor industri pun belum menggeliat. Banyak industri yang mengurangi jam operasi.

Sementara   diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSB) yang menyebabkan aktivitas banyak dilakukan di rumah, ternyata  tidak cukup menaikkan konsumsi  listrik secara nasional. Walaupun konsumsi listrik  di segmen rumah meningkat di kisaran 8 – 10 persen, khususnya di Jawa – Bali, tapi tidak mendongkrak  konsumsi listrik secara keseluruhan.

Perbincangan Muhammad Ikhsan Asaad, Direktur Mega Project dan EBT PLN bersama Managing Partner Inventure, Yuswohady dalam webinar “Indonesia Industry Outlook 2021″/Foto: pelakubisnis.com

Meskipun konsumsi rumah tangga meningkat, tapi secara value per-KwH tidak terlalu besar kontribusinya. Apalagi 73% konsumsi listrik berada di Jawa – Bali. “Konsumsi listrik rumah tangga meningkat di kisaran 8 – 10 persen, tapi konsumsi bisnis  mengalami penurunan,” kata Ikhsan, dalam acara Indonesia Industri Outlook 2021 yang diselenggarakan Inventure, pada 4-6 November secara virtual.

Menurutnya, September – Oktober lalu, konsumsi listrik mulai meningkat 1,2 persen. Harapannya Covid segera berakhir, sehingga industri terus menggeliat, ekonomi kita bisa tumbuh kembali. “Kalau ekonomi tumbuh 1 persen, maka pertumbuhan konsumsi listrik mencapai 1,5 sampai 2 kalinya.  Tap 5 tahun terakhir hanya tumbuh 1 persen. Bahkan tahun 2019 hanya tumbuh 1 persen,” katanya menjelaskan elastisitas pertumbuhan listrik. Beda halnya 6 – 7 tahun yang lalu, kalau ekonomi tumbuh 5%, maka listrik bisa tumbuh dua kalinya atau 10%.

Ke depan menurut Ikhsan, ada komiten dari pemerintah agar kontribusi Energi Baru Terbarukan (EBT) terhadap listrik nasional pada tahun 2025 bisa mencapai 23%. Sampai saat ini kontribusi EBT baru mencapai 14%. Memang  energi terbarukan terus digenjot penggunaannya. Belakangan ini solar sell mulai meningkat, walaupun harganya masih mahal, tapi ke depan harganya makin murah. “Kalau di Portugis harga listrik solar sell atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mencapai US$ 1,3 cent per-KwH, tapi di Indonesia masih mahal sekali,” kata Ikhsan

Lebih lanjut ditambahkan PLN pun kini tengah mengkonversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang tersebar di seluruh Indonesia. Sekitar 2000 MW  yang  dikonversikan menjadi EBT dengan menggunakan solar sell (PLTS).”Saya kira hal ini sangat strategis, karena di daerah-daerah tersebut hanya menyala 6 jam. Padahal jaman sekarang semua orang sudah peduli internet ,” katanya seraya menambahkan dengan meningkatnya penggunaan internet juga akan meningkatkan penggunaan listrik, walau tidak terlalu signifikan.

Ikhsan menambahkan, kalau PLN menggunakan PLTD, di mana minyak masih impor, maka pertanyaannya bagaimana menurunkan biaya pokok produksi PLN tersebut? Misalnya biaya pokok produksi listrik PLN di Papua lebih dari Rp4000 per-KwH. “Di Maluku, misalnya, minyaknya diantar pakai kapal, tapi mohon maaf pelanggannya hanya 40-an. Inilah tugas PLN, sebagai public service. Tapi kalau di Jawa nggak seperti itu, kan. PLN ini menjalankan mandat negara, ingin memajukan ekonomi  dan mensejahterakan masyarakat,”tuturnya.

Kalau PLTD-PLTD itu, kata Ikhsan, dapat diganti dengan  EBT, maka akan mengurangi impor BBM. Banyaknya PLTD itu, mengakibatkan  belanja BBM setahun mencapai Rp 26 triliun. Nah, berapa besar penghematannya bila pembangkit-pembangkit diesel tersebut dikonversi dengan EBT? Multiplier  effect-nya luar biasa besar. Mengurangi impor BBM, listrik menyala 24 jam di sana. “Karena keterbatasan keuangan kami, dan tingginya biaya pokok produksi, maka selama ini listrik hanya menyala di daerah-daerah  yang listriknya dari PLTD  hanya 6 jam sampai 12 jam dalam sehari,” ujarnya. Dengan program konversi ke EBT, listrik bisa menyalakan  24 jam.

Program konversi  itu, kata Ikhsan, dapat meningkatkan potensi wisata. Misalnya di Pulau Mentawai, yang ombaknya begitu besar, sehingga potensi wisata di sana bisa tumbuh. Misalnya di Pulau Seram, di Maluku, potensi ikan di sana luar biasa besar. Namun demikian, cold storage di sana tidak bisa berfungsi . Kalau pakai genset mahal sekali, tapi kalau pakai listrik PLN – apalagi dengan EBT – industri  perikanan bisa tumbuh.

Namun demikian, adanya tudingan bahwa PLN memonopoli bisnis listrik, menurut Ikhsan , ada benar dan tidaknya. Walaupun sebetulnya  lebih dari 50% pembangkit listrik yang ada di Indonesia itu bukan milik PLN, tapi milik IPP (Independent Power Producer) atau pembangkit swasta. “IPP menjual listrik ke PLN, baru PLN medistribusikan listrik tersebut ke pelanggan,” katanya.

Saat ini masyarakat semakin sadar menggunakan energi berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap (rooftop). Walau saat ini masih sebagai lifestyle karena harganya masih mahal. Tapi ke depan, harganya semakin murah, sehingga masyarakat sadar akan penggunaan EBT. Apalagi semakin banyak produsen dalam negeri yang memproduksi solar sell. Penggunaan solar sell di Jakarta makin banyak, tapi penggunaan masih  di segmen rumah-rumah mewah karena harganya masih  relatif mahal, yaitu Rp 15 juta per-Kilo Watt (KW). “Ke depan harganya makin murah, sehingga akan banyak orang beralih ke solar sell,”  urai Ikhsan. PLN sangat mendukung program itu, karena itu merupakan salah satu strategi untuk mencapai target 23% kontribusi EBT pada 2025.

Aturan ini dimaksudkan untuk membuka peluang bagi seluruh konsumen PT PLN (Persero) baik dari sektor rumah tangga, bisnis, pemerintah, sosial maupun industri untuk berperan serta dalam pemanfaatan dan pengelolaan energi terbarukan untuk mencapai ketahanan dan kemandirian energi, khususnya energi surya.

Listrik yang dihasilkan dari sistem tersebut dapat seluruhnya dimasukkan ke dalam jaringan yang diatur dengan Feed-in-Tarif (Fit), atau digunakan untuk konsumsi sendiri dengan pengukuran net metering. Melalui sistem net metering tersebut, produksi listrik oleh pelanggan akan mengimbangi energi listrik dari sistem jaringan (PLN).

Di mana konsumen dapat menjadi produsen listrik yang dapat menjual listrik ke PLN. Sementara PLN perlu melihat PLTS Rooftop sebagai peluang bisnis yang menjanjikan. Implementasikan sistem PLTS atap ini, selain mengurangi tagihan listrik bulanan, juga ada peran serta nyata masyarakat ikut mengembangkan energi baru terbarukan.

Sementara tren motor listrik sebelum pandemi mulai  muncul, produsennya sudah mulai ada, tinggal menunggu produsen besar dari Jepang yang akan segera masuk. Menurut Ikhsan kalau kita hitung 2 juta  mobil listrik, maka kebutuhan listrik sama dengan pembangkit sekitar 1000 MW. Masa depan kita di situ.

PLN akan masuk ke industr baterai/foto: ist

“Saya pasang 20 charge station kendaraan listrik di Jakarta untuk memberi kemudahan kepada masyarakat yang  ingin men-charge baterai kendarannya,” . Ikhsan menambahkan. Kalau konsumen  men-charge baterai di rumah pada malam hari, PLN akan kasih diskon 30% bila melakukan charge dari jam 10 malam sampai 5 pagi. Ini salah satu upaya PLN mendorong masyarakat beralih menggunakan kendaraan listrik.

Tidak hanya itu, PLN rencananya masuk ke industri baterai. “Kita ingin pabrik baterai-nya ada di Indonesia. PLN sedang menjajaki dengan pabrik baterai terbesar di dunia, di Korea. Kita mendorong hilirisasi, sehingga value-nya dapat kita nikmati,”ungkap Ikhsan.

Memang sekarang, tambah Ikhsan, kendaraan listrik di Indonesia masih mahal. Namun demikian, pemerintah saat ini sedang menyusun regulasi-regulasi kendaraan listrik, sehingga ke depan harga kendaraan listrik lebih murah.

Boleh jadi ke depan, lanjutnya,  penggunaan kendaraan listrik akan menjadi lifestyle. Di samping itu, menggunakan kendaraan listrik tidak menimbulkan polusi dan yang paling penting lagi hemat energi. Bayangkan 1 KwH bisa menempu 60 – 70 km.  Kalau dikonversikan dengan rupiah 1 KwH hanya Rp3000. Bayangkan kalau kita pakai BBM, sudah berapa banyak dana yang dikeluarkan untuk menempuh jarak sejauh itu?

“Teknologi mobil listrik semakin canggih. Saya  juga belum punya mobil listrik, tapi ke depan kita harus punya mobil listrik,” tandasnya.

Tapi bagaimana mengedukasi masyarakat supaya bisa beralih ke kendaraan listrik. Apalagi masyarakat sudah berpuluh-puluh tahun  menggunakan mobil konvensional. Bagaimana langkah PLN melakukan edukasi ke masyarakat?

Menurut Ikhsan PLN mengedukasi ke masyarakat beralih ke kendaraan listrik. Memang mobil listrik tidak ada suaranya. Tapi lama-lama masyarakat terbiasa dengan menggunakan kendaraan listrik  tanpa suara itu.” Di situlah seninya. Tidak ada polusi suara dan ramah lingkungan,” lanjutnya sambil menambahkan PLN sudah menjalani kerjasama dengan 20 entitas bisnis. Diantaranya dengan Grab, Gojek dan entitas yang banyak menggunakan kendaraan untuk operasionalnya.

“Kami beberapa kali melakukan campaign di Jakarta dan Depok bertajuk Jakarta Langit Biru, dan juga bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan, bagaimana mendorong masyarakat menggunakan kendaraan listrik,” tambahnya mengunci percakapan.[]Yuniman Taqwa/foto utama: sanspower.com