Industri Farmasi Tumbuh Positif

Industri pengolahan nonmigas mengalami pemulihan pada 2021, termasuk di dalamnya industri farmasi. Industri ini didorong mandiri dan dipacu perkembangan Industri Fitofarmaka karena bahan baku yang melimpah di Indonesia.

Indonesia International Institute for Life Science (i3L) memproyeksikan adanya pertumbuhan terhadap industri farmasi di masa pandemi. Menurut Leonny Yulita Hartiadi, Ketua Program Studi Sarjana Farmasi i3L, adanya keterlibatan pemerintah dengan memberikan insentif pajak dan subsidi dapat memicu pertumbuhan industri, termasuk industri farmasi untuk menghadapi kesulitan di masa pandemi.

“Adanya relaksasi pajak dan subsidi bagi pelaku usaha telah memberikan angin segar bagi industri farmasi,” kata Leonny dalam keterangan resminya, seraya menambahkan pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 16 Tahun 2020 yang mengatur mengenai Ketentuan dan Tata cara Penghitungan Nilai Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) Produk Farmasi untuk mendorong peningkatan daya saing dan kemandirian industri Farmasi, terutama produksi bahan baku obat.

Menurut Leonny, industri farmasi sudah dapat beradaptasi dengan situasi pandemi. Kesulitan yang dihadapi ketika awal pandemi seperti penurunan permintaan obat-obatan dari fasilitas kesehatan dan kesulitan mendapat suplai bahan baku yang diimpor dari luar sudah tertangani, sebagaimana dikutip dari Antara, 28/10 lalu.

Industri farmasi kesulitan bahan baku/foto: ist

Menurut catatan, di era pandemic Covis-19, industri farmasi mengalami dampaknya. Bahan baku farmasi nasional sebagian besar  diimpor baik dari China maupun India. Saat pandemic melanda dunia, mengakibatkan kedua negara pemasok bahan baku tersebut menutup akses (lockdown), pasokan  bahan baku farmasi nasional terhambat. Kondisi ini mengganggu proses bisnis perusahaan farmasi.

Dengan adanya kendala tersebut, industri farmasi nasional mulai mengembangkan untuk mendiversifikasi rantai pasok bahan baku. Artinya, tak hanya tergantung dari China dan India tetap impor juga dari negara lain. Selain itu tidak semua industri farmasi nasional memiliki portofolio yang beragam, sebagaimana dikutp dari gpfarmasi.or.id, 27/10 lalu.

Masih menurut sumber yang sama, perusahaan seperti ini biasanya tidak bergantung pada produksi obat-obatan tertentu yang digunakan untuk penyakit langka atau penyakit nonkritis. Hal ini sangat penting karena layanan kesehatan tertentu seperti layanan dokter gigi hampir seluruhnya dihentikan selama pandemi. Jumlah pasien yang berkunjung ke rumah sakit dan menerima perawatan untuk penyakit kronis (yang tidak terkait Covid-19) selama pandemi ini pun turun signifikan.

Sedangkan perusahaan farmasi yang memiliki produk terkait pandemic Covid-19, baik dalam bentuk produk promotif, preventif dan kuratif mampu bertahan dan terus tumbuh. Bentuk promotif bisa berupa multivitamin, kuratif sesuai regimen terapi Covid-19 secara nasional serta preventif, misalnya vaksin.

Industri farmasi sedang menghadapi kondisi moderate raised di mana permintaan produk-produk farmasi yang berkaitan dengan penanganan Covid-19 mengalami peningkatan signifikan, tetapi di sisi lain permintaan produk yang tidak berkaitan langsung dengan Covid-19, tidak mengalami pertumbuhan atau mengalami penurunan.

Menurut Direktur Utama Phapros Tbk, Hadi Kardoko, dalam artikelnya bertajuk Revolusi Industri Farmasi di Tengah Pandemi Covid-19, yang dimuat pada gpfarmasi.or.id, secara langsung beberapa produk Phapros juga mengalami dampak akibat wabah Covid-19 seperti Antimo yang identik dengan traveling, cukup tertekan di sepanjang 2020. Begitu juga dengan produk etikal/resep, khususnya yang diindikasikan bagi penyakit yang tidak berhubungan dengan Covid-19, karena jumlah dokter atau dokter gigi yang praktek dan jumlah kunjungan pasien non Covid-19 ke rumah sakit menurun tajam.

Sementara perusahaan multinasional jasa pemeringkat kredit Moody memperkirakan bahwa  tingkat pertumbuhan industri farmasi global bakal tetap stabil di tengah pandemi COVID-19 yang melanda banyak negara di dunia termasuk Indonesia, sebagaimana dikutip Antara 13/10 lalu.

Rilis Moody yang memprediksi pertumbuhan EBITDA (Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) atau pendapatan perusahaan yang belum dikurangi bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi  industri farmasi akan meningkat 2-4 persen dalam jangka waktu 12-18 bulan ke depan, sedikit lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya yang sekitar 1-3 persen.

Hal senada pun diakui Ekonom Senior Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri memprediksi bahwa hampir semua industri pengolahan nonmigas mengalami pemulihan pada 2021, termasuk di dalamnya industri farmasi

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin Eko Cahyanto mengatakan terdapat lima subsektor industri yang diproyeksi tumbuh positif sepanjang 2021 yakni berkaitan dengan pandemi Covid-19. “Industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional,” katanya.

Kepala BPSDMI, Kemenperin,Eko Cahyanto, industri farmasi satu dari lima industri yang tumbuh di tahun 2021

Kementerian Perindustrian memproyeksi industri pengolahan nonmigas akan mengalami pertumbuhan sebesar 3,95 persen pada tahun 2021. Perkiraan ini didasarkan pada asumsi pandemi COVID-19 telah dapat dikendalikan dan vaksin tersedia secara bertahap di masyarakat.sebagaimana dikutip dari kontan.co.id, 30/11 lalu.

Adapun subsektor yang mendukung perbaikan kinerja manufaktur nasional selama masa pandemi saat ini, antara lain adalah industri farmasi, produk, obat kimia dan obat tradisional, industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia, industri logam dasar, serta industri makanan.

“Sementara untuk tahun 2021, kami optimis seluruh subsektor industri pengolahan nonmigas sudah membaik sehingga mampu mendorong pertumbuhan secara keseluruhan yang lebih tinggi lagi,” tutur Eko.

Sementara Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengungkapkan, terdapat empat sektor yang berpotensi paling cuan untuk membantu pemulihan ekonomi nasional tahun depan. Keempatnya adalah sektor farmasi dan alat kesehatan, pertambangan, energi, dan infrastruktur. Hal demikian disampaikan oleh Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia dalam webinar, 8/11 lalu.

Tak dipungkiri, industri farmasi dan alat kesehatan saat ini menjadi salah satu sektor yang justru kecipratan berkah pandemi. Ke depan, pemerintah tampaknya tak mau menunggu adanya wabah baru lagi untuk menggenjot sektor ini, sebagaimana dikutip dari starbanjar.com, 8/12 lalu.

Sebab itu, industri farmasi dan alat kesehatan (alkes) tengah digenjot untuk bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi agar pasar domestik tak lagi bergantung pada impor. Pasalnya, di tengah kebutuhan yang mendesak, angka importasi bahan baku obat ternyata menyentuh 90%.

Industri farmasi dan alkes merupakan salah satu sektor yang mampu mencatatkan kinerja gemilang di tengah pandemi Covid-19. Hal ini disebabkan tingginya permintaan domestik terhadap produk dari kedua sektor strategis tersebut.

“Kementerian Perindustrian bertekad  mewujudkan kemandirian industri obat dan alat kesehatan di Indonesia, serta mendorong sektor ini agar dapat menjadi pemain utama dan tuan rumah di negeri sendiri,” kata Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Muhammad Khayam pada webinar bertajuk “Efek COVID-19, Urgensi Ketahanan Sektor Kesehatan”, pada 21/12.

“Saat ini, pemerintah mendorong industri farmasi nasional untuk terus membangun struktur yang lebih dalam dan terintegrasi, sehingga mampu menghasilkan produk-produk dengan inovasi baru dan bernilai tambah tinggi,” paparnya. Guna mencapai sasaran itu, diperlukan iklim usaha yang kondusif, dengan didukung ketersediaan bahan baku dan penguasaan teknologi..

“Potensi pasar yang besar bagi industri farmasi ini juga menjadi peluang untuk menarik para investor untuk bisa mengembangkan bahan baku obat di Indonesia,” ujar Khayam. Dalam hal ini, Kemenperin berkomitmen untuk terus mendorong kemandirian industri farmasi di tanah air,yang merupakan sektor penting dalam menopang pembangunan kesehatan nasional.

Adapun langkah strategis yang sedang dijalankan Kemenperin, yakni membangun dan mengembangkan industri bahan baku obat di dalam negeri serta mengembangkan industri yang menghasilkan Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) berbahan tanaman herbal dalam negeri. “Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan TKDN farmasi, sehingga dapat memaksimalkan penggunaan obat dalam negeri melalui pengadaan obat pada sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN),” terangnya.

Muhammad Khayam mengatakan, industri jamu menjadi perhatian  pemerintah untuk terus dikembangkan. Sektor ini  memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional. “Keunggulan yang dimiliki industri jamu,antara lain tersedianya bahan baku di tanah air yang sangat melimpah,” ujarnya. Indonesia dinilai memiliki keanekaragaman hayati terbanyak di dunia, seperti jahe, lempuyang, pala, dan nilam. Bahan baku tersebut merupakan modal utama dalam upaya membangun kemandirian untuk memproduksi obat.

Pertumbuhan pasar obat tradisional di Indonesia masih perlu dioptimalkan.“Oleh karena itu, Indonesia harus meningkatkan kualitas dan daya saing produk, serta menerapkan strategi pemasaran yang tepat. Sebab peluang pasar produkobat tradisional dan obat herbal, paling tidak diwilayah Asia, masihterbuka lebar,” ungkapnya.

Berdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) tahun 2020, terdapat 129 industri obat tradisional, dengan 22 perusahaan yang telah memproduksi obat herbal terstandar (OHT). Lima perusahaan di antaranya telah mengembangkan fitofarmaka. Selebihnya, tergolong dalam industri ekstrak bahan alam. “Saat ini, yang telah terdaftar di Badan POM sekitar 11 ribu produk jamu, tetapi yang merupakan produk OMAI sejumlah 23 produk fitofarmaka dan 69 OHT,” imbuhnya.[] Yuniman Taqwa/foto ilustrasi utama: ist