Keniscayaan Membangun Optimisme

Oleh: Yuniman Taqwa Nurdin

Optimisme adalah suatu keniscayaaan. Ia menjadi pendorong kita untuk melangkah lebih percaya diri.  Apa pun problem atau tantangan yang dihadapi, selalu  disikapi dengan “energi  positif”  untuk menatap bahwa di ujung sana ada harapan yang hendak digapai. Itu sebabnya , mereka yang berpikir positif – selalu mempunyai keyakinan – menatap hari esok jauh lebih baik dibandingkan hari ini.

Mereka yang beruntung bila hari ini lebih baik dibandingkan kemarin dan hari esok akan lebih baik dibandingkan hari ini. Bukan justru sebaliknya!  Hari ini justru lebih buruk dibandingkan kemarin.  Bila demikian, mereka termasuk orang yang merugi. Kita tak ingin mendapat stigma orang merugi.

Itu sebaiknya pikiran kita harus diarahkan ke hal-hal positif. Untuk membangun kondisi demikian, biasakan membangun budaya optimisme. Namun demikian, membangun budaya optimis jangan terjebak dalam fantasi. Melihat  hari esok atau atau mengenang masa silam hanya  sebuah frame  ilusi. Bukan melihat masa silam sebagai introspeksi diri – memperbaiki diri – yang dinilai kurang, untuk menatap hari esok dengan semangat dan kerja keras.

Semangat itu yang seharusnya di reform  dalam tatanan budaya pragmatisme. Segala ukuran hanya dipandang sepihak, sehingga “terlihat indah”, tanpa didukung pondasi yang kuat  untuk menatap Indonesia ke depan jauh lebih baik.  

Walaupun saya hanya orang awam dalam pendekatan futuristik, tapi ada semacam “getaran” dalam melihat pembangunan bangsa ini beberapa tahun terakhir. Pembangunan infrastruktur yang dilakukan secara massif, membuat saya tercengang. Pembangunan jalan tol, misalnya, bukan lagi sebagai ilusi, bukan lagi sebagai pemanis dalam topping-topping  dalam membuat cake  yang boleh jadi hanya sedap dipandang mata. Tapi pembangunan itu merupakan sikap optimisme pemimpin dalam mengantarkan republik ini  menuju kemaslahatan.

Berdasarkan riset yang dilakukan Inventure pada Agustus-September terhadap 1.121 responden yang tersebar di seluruh Indonesia, 67,6% mengatakan bahwa pendapatan mereka berkurang selama pandemi. Namun di sisi yang lain 35,3% mengatakan pengeluaran mereka justru meningkat.

Meskipun pendapatan masyarakat Indonesia mengalami penurunan akibat pandemic Covid-19, namun menariknya rasa optimisme masyarakat terhadap pemulihan ekonomi mengalami peningkatan. Dari 1.121 responden, sebesar 47,2% menyatakan optimis pandemi Covid-19 berakhir di akhir tahun 2020. Sedangkan sebesar 51,4% mengatakan bahwa kondisi keuangan mereka akan kembali normal pada akhir tahun 2021, lihat Opini Konsumen Indonesia Optimis Bangkit Dari Krisis Pandemi, oleh Yuswohady, Managing Partner Inventure, November 2020, pelakubisnis.com.

Mengapa hasil riset tersebut trennya mengarah ke optimisme? Ya, tidak berlebihan karena pemerintah membangun pondasi bagi “anak negeri” untuk melangkah lebih optimis. Bayangkan, pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp695,2 triliun untuk penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Di samping itu, strategi “gas dan rem” untuk menjaga keseimbangan antara pemulihan ekonomi dan kesehatan merupakan langkah yang tepat, sehingga menemukan titik keseimbangan yang membuat optimisme masyarakat makin meningkat.

Hasil survei IHS Markit Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia menunjukkan peningkatan baru pada manufaktur Indonesia pada November 2020.  Hasil survei dari Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari IHS Markit yang naik hampir tiga poin menjadi 50,6 pada November 2020 dari sebelumnya di level 47,8 pada Oktober 2020.

Hal ini menunjukkan indikasi bahwa sektor industri mulai menunjukkan arah ekspansi. Diharapkan tahun depan angkanya terus meningkat. Peningkatan PMI disebabkan karena pemerintah mulai melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta pada pertengahan Oktober, sehingga perusahaan meningkatkan produksi pada  November 2020. 

Sementara penanganan Covid-19 di Indonesia masuk dalam 15 besar negara dengan kasus kesembuhan terbanyak di dunia. Hingga Selasa (10/11/2020) Indonesa tercatat memiliki 375.741 penyintas Covid-19 alias pasien sembuh. Data ini positif karena secara jumlah kasus Indonesia masih di urutan 21 dengan 444.438 kasus. Hal ini mencerminkan persentase kasus kesembuhan di RI cukup tinggi dan mengalahkan sejumlah negara lain di dunia.

Dan secara pararel pun pemerintah telah mendatangkan vaksin Sinovac sebanyak 1,2 juta dosis. Pada awal Januari 2021, pemerintah akan mendatangkan 1,8 juta dosis vaksin lainnya, sedangkan 15 juta dosis vaksin dalam bentuk bahan baku akan didatangkan pada Desember ini. Sementara pada Januari mendatang, akan datang sebanyak 30 juta dosis vaksin dalam bentuk bahan baku yang nantinya akan diproses lebih lanjut oleh Bio Farma selaku BUMN produsen vaksin.

Apa yang dilakukan pemerintah itu merupakan pondasi dalam membangun optimisme masyarakat. Itu sebabnya, bila masyarakat optimis pada tahun depan pemulihan ekonomi mulai menunjukkan hasil positif.

***

Saya menaruh harapan dari sikap pemimpin demikian. Saya bukan orang politisi yang acap mengeksploitasi rakyat hanya untuk kekuasaan. Saya bukan pakar yang  pernyataan-pernyataannya  kerap dijadikan rujukan untuk merumuskan kebijakan atau mengimplementasikannya. Semua itu jauh panggang dari api. Tapi saya masih punya harapan bahwa kelak anak-anak dan cucu-cucu kita ke depan dapat bangga mengatakan bahwa ia orang Indonesia…! Penuh keragamanan, penuh keramatamahan yang terikat kuat dalam kebhinekaan. Saya bangga atas keterikatan itu.

Tapi keterikatan itu coba dikoyak oleh banyak pihak. Banyak kepentingan orang di negeri seberang yang tak ingin “Bumi Pertiwi” ini menjelma menjadi Negeri Gemah Ripah Loh Jinawi. Itu sebabnya, kekuatan yang ada di negeri ini terus “digoyang” agar tercerai berai. 

Sejarah mengajarkan kita – politik divide et impera – yang menyeret nusantara  dalam genggaman banyak negara.  Apa kita ingin terus agar mata rantai “genggaman” itu tetap melekat dalam intervensi mereka. Walaupun republic ini telah merdeka, tapi tak kuasa menentukan jati diri sebagai bangsa merdeka dalam global village saat ini?. Apa itu yang kita inginkan?

Tentu tidak! Kita harus melawan kepentingan-kepentingan yang mampu melemahkan  nilai sebuah kemerdekaan. Kemerdekaan bukan simbolis  dari “boneka-boneka” yang kelihatannya  memikat, tapi dikendalikan pengasuhnya. Sehingga jadilah kita hanya sebagai pajangan  yang bagaikan “taman penuh  bunga”, tapi hasil madunya tak sepenuhnya menjadi otoritas  karena sudah termariginalkan oleh pengasuh-pangasuh dari seberang sana…!

Sekali lagi, banyak pihak yang tak ingin melihat negeri ini maju! Kita jangan mudah “terperangkap” hanya sekedar diberi“gula-gula” untuk kepentingan pragmatisme belaka. Kepentingan itu  boleh jadi jauh lebih menyakitkan dari sebuah bangsa yang merdeka.  Hanya bermodal “gula-gula”, kemudian dicarikan momentum dengan menggunakan “simbol-simbol SARA (suku, agama dan ras), maka tercerai-berai ikatan kita.

 Kebhinekaan yang telah puluhan tahun terawat dan teruji dalam dinamika sejarah,  terus dicoba untuk dilemahkan. Ingat  filosofi “sapu lidi”. Sapu lidi itu baru bermanfaat dan berarti bila bersatu dalam ikatan. Tapi bila tercerai-berai, maka elemen-elemen tersebut  tak lagi mampu memberi manfaat bagi kita. Itulah kesederhanaan saya dalam melihat  pluralisme di Indonesia.

Saya tetap optimis bangsa ini tetap utuh dalam ikatan Pancasila yang bukan hanya sekedar  ucapan, tapi terpancar dalam perilaku. Mari kita bangun rasa optimisme untuk mengantarkan bangsa ini lebih beradab di antara bangsa-bangsa di dunia.***

Penulis pimpinan redaksi pelakubisnis.com