Strategi Rumah Sakit Menghadapi Pandemi Covid

Rumah sakit perlu membangun  trust di tengah masyarakat. Apalagi pandemic Covid-19 belum jelas kapan berakhirnya. Manajemen rumah sakit harus smart. Bagaimana bisa reduce cost, tapi dia tidak mengurangi mutunya. 

Sebetulnya sejak Februari 2020 rumah sakit sudah mendapati beberapa kasus yang terindikasi Covid-19.  Namun saat itu belum bisa mengeluarkan diagnosa bahwa itu indikasi  Covid-19. Baru pada awal  Maret dinyatakan Indonesia mendapatkan kasus Covid -19.

Dr. dr. Lia Gardenia Partakusuma, Sekretaris Jendral Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) mengatakan, pasien-pasien non Covid tidak berani ke rumah sakit.  Sampai Agustus  mereka menganggap kalau ke rumah sakit bakal ketularan Covid-19.  Sehingga dari pihak rumah sakit merasa perlu berbenah soal bagaimana pengamanannya?  Sekarang kita lihat setiap ke rumah sakit harus ada screening, pemeriksaan suhu dan mungkin ada test dulu dan sebagainya.  Untuk menjamin pasien-pasien yang non Covid ini jangan sampai ketularan.

“Pihak rumah sakit masih ragu-ragu, sangat menularkah sampai orang medis datang harus menggunakan cara-cara tertentu. Semua masih tanda tanya besar,  penyakit apa ini? Tanda-tandanya seperti apa? Sangat menularkah? “ kata Lia menggambarkan kecemasan manajemen  rumah sakit saat itu.

Hingga rumah sakit waktu itu untuk mendatangkan staf medis sekalipun harus dengan cara-cara tertentu. Mengatur staf agar secara bergantian  harus hadir. “Kedatangan penyakit berinfeksi, berarti harus diisolasi,” ujarnya seraya menambahkan lay out rumah sakit pun berubah. Jalur pasien yang bukan infeksi dipisahkan .

Tak pelak, lanjut Lia, manajemen rumah sakit melakukan penataan kembali urusan logistik. Dilakukan inventarisir.  Rumah sakit punya alat apa, punya kemampuan apa dan sebagainya. Semua kebutuhan didata kembali. Terakhir adalah bagaimana sistemnya?

“Antara pasien dan petugas rumah sakit juga belum saling percaya (trust), Sampai sekarang seperti itu. Akhirnya, kalau dulu target  rumah sakit  quality and safety (patient safety) atau hospital  safety. Sekarang kami balik menjadi safety and quality.  Itu yang mesti kami lakukan,” tandas Lia dalam acara webinar  Indonesia Industry Outlook 2021, yang diselenggarakan Inventure, Minggu pertama November lalu.

Namun demikian, tidak mudah melakukan screening.  Perlu waktu  konfirmasi dan  melakukan test. Tidak semua  rumah sakit  punya laboratorium. “Kami di rumah sakit harus mempunyai sistem keamanan yang tinggi. Pasien-pasien Covid ini tidak bisa menunggu lama lagi. Kami punya kasus-kasus penyakit kronis seperti jantung, diabetes dan sebagainya,” jelas Lia. Apalagi sebagian  rumah sakit bukan rumah sakit  khusus Covid . Tapi apa boleh buat, manajemen rumah sakit harus betul-betul menseleksi pasien dan membuat   lay out sedemikian rupa.

Akhirnya disiapkan oleh pemerintah  rumah sakit khusus Covid, ada rumah sakit Covid non Covid, ada juga rumah sakit yang benar-benar khusus Covid. Rumah sakit khusus Covid harus punya ruang isolasi.  “Jadi rumah sakit harus menyesuaikan model bisnisnya untuk tetap survive,” lanjut Lia

Setelah Agustus, tambah Lia,  jumlah pasien mulai meningkat. Tetapi mereka memilih rumah sakit yang bisa menjamin keamanan. Trennya sekarang sistem diubah  menjadi safety and  quality. Itu yang secara bisnis  harus dilakukan rumah sakit.

“Sekarang  yang dipentingkan adalah rumah sakit harus mempunyai operasional yang cukup  untuk bisa me-maintenance  pasien-pasien .  Mengubah strategi  buka hanya pasien-pasien yang datang ke rumah sakit, atau mungkin  kami yang mendatangi pasien. Makanya ada blood thrue,  homecare,  kemudian dengan kegiatan telemedicine dan sebagainya,” jelasnya.

Sejauh ini menurut Lia, pemerintah sudah banyak mengeluarkan regulasi yang mengatur mengatur pelayanan rumah sakit.  Kementerian Kesehatan  juga membuat aturan untuk rumah sakit, integrasi antar fasilitas kesehatan dan bagaimana penanganan masalah Covid ini  dilaksanakan. “Dalam hal ini kami punya pengendalian infeksi. Demikian juga dalam hal teknologi, seakan-akan saat ini dipaksakan teknologi begitu cepat datangnya. Sekarang ini teknologi digital dipaksakan untuk diterapkan di berbagai sektor termasuk di sektor kesehatan,” tambahnya.

Rumah sakit diperkenankan  melakukan telehealth/teleconsultation.  Prinsipnya ada pelayanan telemedicine  di Permenkes no.20/2019. Rumah sakit  diperbolehkan melaksanakan kegiatan telemedicine,  walaupun  tadinya hanya untuk antar fasilitas kesehatan. Jadi telekonsultasi ini langkahnya seperti pasien mendaftar,  kemudian tim medis mencarikan rekam mediknya. “Untuk rumah sakit yang mempunyai elektronik  rekam mediknya menjadi sangat mudah. Setelah pasien mendapatkan rekam mediknya, dokter melayani seperti praktek biasa. Dan dokter harus punya SEP (Surat Eligibilitas Peserta-red)/STR (Surat Tanda Regitrasi-red). Jadi layaknya praktek seperti biasa.

Kini boleh jadi layanan digital menjadi primadona selama pandemi COVID-19 termasuk layanan telemedicine. Layanan telemedicine menjadi alternatif utama untuk bisa mengakses layanan kesehatan sementara konsumen masih khawatir dan enggan pergi ke rumah sakit.

Seperti ditunjukkan hasil riset Inventure, hal ini diperkuat dengan tingginya permintaan konsumen terhadap layanan telemedicine dari rumah sakit, dimana hampir semua responden yaitu 95,3% dari 441 responden mengatakan bahwa rumah sakit harus menyediakan layanan telemedicine.

Yang menarik, rupanya konsumen lebih mempercayai layanan telemedicine yang disediakan oleh rumah sakit/klinik dibandingkan layanan dari startup teknologi. Sekitar 71 % responden mengatakan lebih percaya layanan digital ini  yang disediakan oleh rumah sakit/klinik.

“Temuan ini menjadi insight luar biasa bagi rumah sakit/klinik di Indonesia untuk gerak cepat menyediakan layanan telemedicine, sebelum kuenya terlanjur diambil oleh para pemain startup teknologi,” kata Yuswohady, Managing Partner Inventure.

Sementara kalau pasien ingin berkunjung, lanjut Lia,  harus ada appointment dulu. Ini yang dulunya hanya berlaku di rumah sakit swasta, sekarang juga berlaku di rumah sakit pemerintah.  Jam kedatangannya diatur sehingga pasien tak usah lama-lama di rumah sakit.

 

Menurut Lia,  di beberapa rumah sakit , setelah pasien melakukan telekonsultasi dengan dokter, kemudian dokter  memberikan obat.  Obat pun bisa diantar dengan beberapa layanan antar. Hal ini memudahkan pasien dan menghindari pasien terkendala dari pengobatan rutin.

“Memang setiap negara mempunyai local wisdom masing-masing.  Kalau anak-anak muda sangat percaya dengan telekonsultasi. Orang-orang tua dulu di daerah, kalau berobat ke puskesmas, cuma datang saja ketemu dokter merasa langsung sembuh.  Sugestinya untuk di Indonesia masih tinggi,” tandasnya.

Makanya ketika  rumah sakit buka layanan telekonsultasi, kelihatan segmen pasarnya beda. Ada segmen pasar yang mesti datang ketemu dokternya. Beberapa bulan terakhir ini justru meningkat orang yang datang ke rumah sakit. Walaupun rumah sakit menawarkan telekonsultasi. Mungkin ada satu hal yang agak menyulitkan. Saat ini BPJS/JKN belum menanggung biaya telekonsultasi. Sementara pasien-pasien rumah sakit pemerintah  80-90% pasien BPJS. Karena telekonsultasi ini belum ditanggung oleh insurance maka mereka masih ingin datang.

Dari PERSI berharap ada kebijakan untuk layanan telekonsultasi ini bisa dipercepat. Sekarang ini rumah sakit membatasi  jumlah kunjungan pasien.  Seperti pasien rawat inap hampir semuanya menerapkan tidak ada jam bezuk.  Bayangkan banyak orang yang tidak mau dirawat karena  tidak ada yang bezuk. Karena tenaga medis juga tidak bisa memeriksa semua orang apa terbebas dari Covid atau tidak. “Sekitar April 2020 saya pernah diserbu serombongan keluarga pasien. Rumah sakit macam apa ini tidak boleh membezuk keluarga yang sakit? Habis saya dimarahi dan itu pengalaman nyata,” cerita Lia.

Lebih lanjut ditambahkan, bisnis rumah sakit ini seperti bisnis sosial. Walau bisnis rumah sakit itu harus ada margin.  Margin itu bagi rumah sakit diperuntukkan untuk melayani pasien, pelayanan yang berkesinambungan. Di masa mendatang makin banyak kegiatan yang menggunakan ilmu teknologi yang makin canggih. “Sehingga dibutuhkan pengembangan-pengembangan . Maka  bisnis rumah sakit sebaiknya memiliki margin yang sehat,” katanya.

“Saya tidak bilang margin itu semata-mata untuk ambil keuntungan bisnis semata.   Rumah sakit harus bisa memenuhi harapan  dari pasien-pasiennya. Mudah-mudahan masyarakat tidak  menganggap kalau rumah sakit mengambil margin itu mencari bisnis semata. Rumah sakit itu selalu butuh operasional,  butuh pengembangan. Sementara masyarakat itu butuh safety, butuh keamanan dan itu ada cost  nya,” jelas Lia.

Contoh!  Pasien  sempat marah-marah karena  bayar PCR mahal. Pernahkah para pasien memikirkan bahwa  staf  rumah sakit tak usah melakukan PCR karena dianggap mahal. Harus ada check up dari para staf dalam melayani pasien. “Jadi jangan dianggap pelayanan rumah sakit itu sebagai bisnis yang hanya mencari keuntungan materil saja.  Orang yang berbisnis di rumah sakit harus mengerti itu,” jelasnya.

RS Universitas Indonesia, kapasitas perawatan pasien Covid-19/foto:/rs.ui.ac.id/

Kalau ada pasien datang ke IGD, kata Lia, tak punya uang lalu ditolak, itu tidak boleh. Bisnis rumah sakit mesti menyadari adanya resiko tersebut.  “Saya berharap  di tahun 2021 safety  harus  mengorbankan agresif,” tandasnya.  Pihak rumah sakit  juga belum tahu pandemic  ini kapan berakhir. Yang penting, mampu melayani pasien,  mampu  membangun trust terhadap pelayanan itu akan lebih bagus lagi,” tambahnya.

Memang trust penting untuk masyarakat. Manajemen rumah sakit harus smart. Bagaimana bisa reduce cost, tapi dia tidak mengurangi mutunya.  Kalau kita jor-joran menerima semua pasien, itu juga harus hati-hati.

Kalau dari 100 orang pasien,  ada lima yang kena Covid, itu akhirnya berdampak berat buat rumah sakit.  Resikonya stafnya bisa kena, pasien bisa kena  dan itu resiko tahun 2021 harus betul-betul dipikirkan matang.  Harus punya mitigasi yang tinggi  untuk hal-hal semacam itu.

Bagaimana bisa survive di 2021? Menurut Lia yang paling penting harus memetakan pasar sebuah rumah sakit  berada dimana? Di samping itu, harus bisa melihat apakah pasien-pasien tersebut ada harapan atau kans datang ke rumah sakit? Kalau rumah sakit  terletak di suatu tempat yang memang potensi pasar di Pelayanan Geriatri  (pasien usia lanjut yang multi penyakit-red) ini problem yang sangat besar karena mereka punya angka kesakitan yang lain seperti  diabetes militus, hipertensi dan sebagainya. Betul-betul mereka high risk untuk Covid juga. Itu harus bisa dipetakan, apakah ada pasar yang datang ke rumah sakit tersebut.  Itu harus dibuat pangsa pasar tersendiri.

Jadi sekarang lebih ke arah individual artinya lebih mempelajari precision mix masing-masing yang tadinya sebulan menjadi 3 bulan. Siapa tahu nanti ada teknologi mungkin di 2021 nanti misalnya EKG (Electrocardiogram) taruh di rumah.  Pakai digital,  data masuk misalnya. Yang diabetes juga misalnya dia bisa kirim POCT (point of care testing) berapa gula darahnya dari rumah.  Ini akan menjadi sebuah pengobatan berbasis data. Tapi memang berbasis teknologi. “Di tahun 2021 saya rasa akan banyak kegiatan seperti itu.  Jadi ada inovasi teknologi dimana pemeriksaan jarak jauh tapi  tetap akurat sehingga analisanya tepat,” kata Lia.

Yang dilakukan banyak rumah sakit mereka menurunkan pasien-pasien yang elektif (tidak begitu penting-red) untuk menunda kegiatan berobatnya. Pembatasan pasien itu memang dilakukan karena melakukan kegiatan pasien yang cost nya tinggi, itu akan menyulitkan rumah sakit. Dengan arti kata, dia harus menyediakan biaya yang tinggi untuk sebuah layanan yang sebetulnya cost nya tidak bisa recovery secepatnya.  Kalau 5% dari 100 orang kena Covid, itu yang membuat rumah sakit harus putar otak mencari strategi jitu. [] Siti Ruslina