LinkAja: Melesat di Tengah Pandemi

Meski usianya baru seumur jagung, tapi kinerjanya melesat di tengah pandemi. LinkAja mencatat pertumbuhan penggunaannya mencapai 65% pada tahun lalu. Digital payment ini dibangun untuk akselerasi inklusi keuangan.

“Namaku ABI, lengkapnya Abisa aaaapa aja! Orang-orang pikir aku anak sultan karena aku bisa aaapa aja…,”demikian sosok anak muda yang muncul dalam iklan LinkAja  yang mengilustrasikan tentang kemudahannya bertransaksi menggunakan aplikasi LinkAja!

Digital payment (pemabayaran digital) ini bisa digunakan untuk berbelanja, mentraktir teman,  beli bensin ke SPBU Pertamina, naik transportasi  umum seperti kereta api, LRT, MRT, Trans Jakarta, naik taksi Bluebird, naik Grab, beli pulsa, sampai  makan di warteg bisa bayar pakai LinkAja! Tanpa uang tunai, cukup menyimpan aplikasinya di handphone lewat  digital payment.

Yap! Sejak diluncurkan Februari 2019 hingga November 2020 LinkAja sudah memiliki 58 juta pengguna yang mendaftar dan sudah digunakan di lebih dari 600 ribu local merchant UMKM dan lebih dari 200 ribu merchant nasional di seluruh Indonesia. Kemudian dapat digunakan di 134 moda transportasi di seluruh Indonesia serta digunakan di lebih dari 500 ribu pasar tradisional.

Direktur Utama LinkAja, Haryati Lawidjaja dalam Indonesia Industry Outlook 2021/Foto: pelakubisnis.com

LinkAja mencatat pertumbuhan pengguna hingga 65% sepanjang 2020 menjadi lebih dari 61 juta pengguna. Dari jumlah itu, 73% penggunanya berada di area tier 2 dan 3. Haryati Lawidjaja, Direktur Utama LinkAja, mengatakan sepanjang tahun lalu perusahaan dituntut untuk bisa terus beradaptasi di tengah pandemi.

“Untuk donasi digital LinkAja sudah bekerjasama dengan lebih dari 14 ribu partner dan lebih dari 1600 e-commerce,”jelas Haryati Lawidjaja dalam webinar “Indonesia Industry Outlook 2021” yang diselenggarakan Inventure November 2020 seraya menambahkan LinkAja juga bekerjasama dengan 140 ribu donasi partner dan lebih dari 1600 e-commerce. Bisa juga ambil tunai di ATM yang tergabung di Bank IMBARA, BNI, BRI,  BTN,  dan Bank Mandiri.

“LinkAja sangat bersyukur karena di tahun yang berat ini bisnis yang dijalankan oleh LinkAja dapat bertahan, bahkan mengalami peningkatan di berbagai lini. Terbukti dengan adanya peningkatan transaksi dan volume transaksi sebesar lebih dari empat kali lipat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” ujarnya dalam keterangan resmi, pada 13/1.

Menurut Haryati, tahun 2020 merupakan tahun yang penuh tantangan. Dituntut untuk bisa  beradaptasi, berkembang, dan berinovasi cepat dalam menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh pandemi. LinkAja bersyukur karena di tahun yang berat ini bisnis yang dijalankan oleh LinkAja dapat bertahan, bahkan mengalami peningkatan di berbagai lini. Terbukti dengan adanya peningkatan transaksi dan volume transaksi sebesar lebih dari empat kali lipat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Kami sangat berterima kasih terhadap kepercayaan para pengguna dan juga mitra yang percaya terhadap kinerja LinkAja. Pandemi dan berbagai tantangan lainnya tidak akan menyurutkan upaya LinkAja dalam memberikan kemudahan akses layanan keuangan dan ekonomi digital yang merata kepada seluruh masyarakat di Indonesia,” lanjut Haryati.

Ia menambahkan, pandemi berimbas besar pada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang membutuhkan pendampingan lebih untuk masuk ke dunia ekonomi digital. Beragam pelatihan virtual yang bertujuan untuk membangkitkan optimisme UMKM di tengah pandemi COVID-19 pun dilakukan. Bekerja sama dengan berbagai pihak lintas sektor, LinkAja mengajak seluruh UMKM, khususnya yang tergabung di dalam ekosistem LinkAja untuk sama-sama membekali diri dan meningkatkan potensi agar dapat menyesuaikan pola bisnis sesuai dengan perubahan perilaku konsumen khususnya di masa pandemi. Hal ini membawa peningkatan jumlah merchant UMKM yang tergabung di LinkAja sebesar dua kali lipat dibandingkan tahun 2019.

Adapun jumlah merchant lokal yang telah tergabung dalam ekosistem LinkAja sampai akhir tahun 2020 mencapai 900,000 merchant  yang tumbuh lima kali lipat dari tahun sebelumnya. Sementara jumlah merchant nasional mencapai lebih dari 315.000 merchant, atau tumbuh dua kali lipat dari tahun sebelumnya di seluruh Indonesia.

LinkAja juga saat ini menjadi alat pembayaran digital terlengkap untuk layanan transportasi publik dan online di 230 moda transportasi, 5,500 SPBU Pertamina, lebih dari 32.000 partner donasi digital, dan lebih dari 5000 e-commerce, pembayaran dan pembelian kebutuhan sehari hari seperti pulsa telekomunikasi, token listrik, tagihan rumah tangga, iuran BPJS, hingga berbagai layanan keuangan lainnya seperti transfer ke semua rekening bank dan tarik tunai tanpa kartu.

LinkAja dibentuk dari sinergi 10 BUMN dengan badan hukum PT Fintek Karya Nusantara (Finarya). Finarya merupakan anak usaha yang dibentuk dari semangat sinergi nasional 10 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan satu perusahaan teknologi swasta melalui anak perusahannya, yaitu PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), PT Mandiri Capital Indonesia, PT BRI Ventura Investama,  PT BNI Sekuritas, PT Pertamina Retail (Persero), PT Asuransi Jiwasraya (Persero), PT Danareksa Capital (Persero), PT Kereta Commuter Indonesia, PT Jasamarga Toll Road Operator,  dan PT Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (Persero), yang berdiri pada tanggal 21 Januari 2019. Sebagai anak usaha BUMN, Finarya juga terbuka untuk bersinergi dengan pihak swasta yang memiliki visi dan misi serupa. Di bulan Oktober 2020, Grab Pte.Ltd resmi menjadi salah satu pemegang saham Finarya.

Didukung oleh Telkomsel selaku operator selular terbesar di Indonesia dan jaringan besar Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dengan ratusan ribu titik akses transaksi keuangan, keberadaan Finarya sebagai platform sistem pembayaran produk-produk BUMN akan membantu mendorong ekosistem transaksi keuangan non-tunai dan inklusi keuangan yang holistik di Indonesia, dengan fokus pada kebutuhan pembayaran mendasar seluruh kalangan masyarakat Indonesia.

LinkAja mencatat pertumbuhan pengguna hingga 65% sepanjang 2020 menjadi lebih dari 61 juta pengguna/Foto: Instagram

Berdasarkan riset konsumen yang dilakukan Inventure ditemukan fenomena bahwa pandemi Covid-19 mendorong pembayaran secara cashlesscardless dan contactless menjadi prioritas konsumen saat bertransaksi. “Dari  629 responden sebesar 63,5% mengatakan setuju (menggunakan digital payment) sedangkan sebesar 36,5% mengatakan tidak setuju,”ungkap Yuswohady Managing Partner Inventure.

 Menurut Haryati, bila dulu para pemain bersaing dalam hal promo, tapi sekarang yang menjadi kunci memasarkan produk adalah kenyamanan. Seberapa relevan dan nyaman servis yang diberikan untuk masyarakat. “Ini pula yang memicu kami  mengeluarkan layanan syariah LinkAja. Saat ini LinkAja masih menjadi satu-satunya layanan digital payment dengan segala ekosistem yang lengkap,” lanjutnya.

LinkAja  mempunyai misi  mendorong kesejahteraan masyarakat. Digital payment ini dibangun untuk akselerasi inklusi keuangan. Memudahkan masyarakat mengakses keuangan secara mudah baik melalui bank maupun non bank.

Fokus LinkAja lebih banyak digunakan untuk transaksi seperti bayar bensin, beli pulsa  telepon, internet, berbelanja, kulineran dan sebagainya. Segmen utamanya bukan hanya kalangan BUMN melainkan masyarakat yang selama ini belum punya akses ke perbankan. Untuk itu banyak kerjasama dengan UMKM, pesantren-pesantren di daerah dan  pasar tradisional.

Menurut Haryati, tren  penggunaan digital payment ini diperkirakan akan terus berlanjut setelah pandemi nanti. Makanya sejauh ini selama pandemi para pelaku usaha termasuk layanan digital payment justru berkolaburasi untuk tumbuh bersama agar bisa keluar dari situasi pandemi.

“Kami  bersinergi dengan perbankan bahkan saling melengkapi. Dari kolaburasi ini melahirkan kesempatan  yang tidak terbatas, semuanya tergantung kreatifitas dan inovasi yang dilakukan,”ujar Haryati yang baru menjabat CEO sejak April 2020 lalu. Kolaborasi lain dengan pemerintah misalnya penyaluran stimulus bantuan prakerja. Sebelumnya bantuan sosial hanya melalui perbankan. Tetapi dalam program kartu prakerja digital payment  LinkAja juga dilibatkan.

Lebih lanjut ditambahkan,  sisi regulasi terkait digital payment  sudah semakin baik dan ke depan akan semakin baik lagi. Contohnya aturan mengenai interoperabilitas QRIS yang dibuat Bank Indonesia. Interoperabilitas ini merupakan sinergi dalam ekosistem pembayaran digital di Indonesia.

Haryati menambahkan, tidak hanya menyasar di puncak piramida seperti segmen BUMN, tapi LinkAja juga menyasar di bawah piramida. Ada misi pemerintah disitu.  “Kami juga engage UMKM dengan masuk ke pasar tradisional, kaki lima dan sebagainya. Harapannya mereka bisa naik kelas dan masuk ke perbankan,” jelasnya.

Ia menilai,  It’s Time to Win-Back “Reimagine, Recover, Regain” seperti tema yang diusung Indonesia Industry Outlook 2021. Di mana  kehadiran vaksin Covid-19 menjadi harapan  bagi masyarakat untuk bangkit di tahun 2021.  “Itu beberapa hal yang saya lihat menjadi tren dan sekaligus blessing dari pandemi ini. Kita lebih cepat bisa growing,  lebih cepat lagi pada saat Covid ini berlalu,” ujarnya.

Di tengah pandemi LinkAja  melakukan kolaburasi dengan pelaku usaha untuk tumbuh bersama dengan spirit win-win untuk semua orang. Di era pandemi ini kita melihat sinergi pemerintah dengan platform-platform semakin erat. Seperti  tagline “Kami Bangga Buatan Indonesia”, itu pemerintah bekerjasama dengan semua  platform dari  e-commerce, digital payment, semua bekerjasama membantu UMKM, untuk kembali  bangkit  bersama.

Demikian dengan penyaluran stimulus kartu prakerja. Kalau dulu bantuan sosial semua lewat perbankan. Sekarang, kartu prakerja ini dibuka dengan sistem uang elektronik (digital payment). Ini memudahkan  orang-orang yang belum punya akun bank. Sebetulnya bisa dilihat dari kecepatan transaksinya, tepat jumlah, tepat sasaran.

LinkAja  juga melakukan pilot project dengan pemerintah, Kemenko PMK,  BPMT dengan face geometric. Jadi tidak bisa dialihkan ke orang lain, karena kalau mukanya lain tak akan terbuka.

“Orang di daerah itu tak perlu bawa kartu, cukup scan bagian mukanya saja sudah dapat  terdeteksi,” lanjut Haryati.

Pada 14 April lalu, misalnya,  LinkAja  meluncurkan layanan syariah. Dalam waktu enam bulan, penggunanya sudah mencapai lebih dari 1 juta.  Banyak yang bisa dibantu. Termasuk untuk industri halal, UMKM-UMKM berjualan secara digital dan dalam hal mendapat akses permodalannya,”papar Haryanti.

Melihat potensi Indonesia yang berpeluang menjadi pusat ekonomi syariah global dan menyadari kebutuhan masyarakat muslim di Indonesia terhadap alat pembayaran elektronik berlandaskan kaidah syariah, LinkAja menghadirkan Layanan Syariah yang merupakan uang elektronik syariah pertama dan satu-satunya di Indonesia untuk memfasilitasi berbagai jenis pembayaran sesuai kaidah syariat Islam.

Layanan Syariah LinkAja dapat digunakan di seluruh ekosistem LinkAja dan memiliki ekosistem khusus Syariah, yang mencakup masjid, lembaga amil zakat, pusat kuliner halal, modern retail lokal, pesantren, bank syariah, sekolah Islam, dan Universitas Islam.  Hingga saat ini Layanan Syariah LinkAja telah memiliki lebih dari 1,6 juta pengguna, yang akan terus meningkat sejalan dengan adanya komitmen dari beberapa partner strategis seperti Pemerintah Daerah dan institusi lainnya untuk berkolaborasi demi perluasan ekosistem digital Syariah di seluruh Indonesia.

Merchant yang bekerjasama dengan LinkAja Syariah sudah memiliki sertifikasi halal. Misalnya belanja di sektor food and beverage, itu harus bersertifikasi halal. Demikian juga bila berbicara penampungan uang pelanggan, itu semuanya ditempatkan di bank syariah.  “Kami bekerjasama dengan bank syariah dan  fintech syariah. Dapat dipastikan sesuai dengan azas-azas syariah. Sehingga tidak ada unsur riba dan lainnya.  Bottom line nya adalah semua kelengkapan dari layanan LinkAja seperti donasi, wakaf, infaq, sedekah, semua bisa diakses dari layanan syariah tadi,” tandasnya.

Layanan syariah dari LinkAja  ini dijalankan dengan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah  syariah. Pun dalam implementasinya,   LinkAja mempunyai Pengawas  Dewan Syariah. ”Kami juga mendapatkan sertifikasi dari DSM UI untuk meyakinkan compliance nya dengan prinsip-prinsip syariah,” urai Haryanti.

Ia menambahkan, adapun difrensiasi dari layanan syariah ini adalah memberikan layanan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, sehingga tak hanya kaum muslim, tetapi non muslim juga. “Yang jelas keamanan dan user friendly. Itu yang utama,” terangnya.

Boleh jadi ke depan akan banyak yang mengikuti masuk ke segmen syariah. Itu tidak dapat ditolak! Sebetulnya sebagai perusahaan fintech, LinkAja membuka diri bekerjasama dengan fintech yang lain.  Contoh! Untuk pembiayaan yang bersifat syariah, Link Aja bekerjasama dengan fintech lain untuk pembiayaan syariah, termasuk bank-bank syariah.

Namun demikian, pasti ada kendala yang ditemui. Misalnya literasi keuangan dan digital. Tetap edukasi khususnya untuk bottom of the pyramid. Sangat limited untuk mendapatkan aksesnya. “Itu sih yang sedang kami pikirkan untuk mengedukasi pasar dengan membangun infrastruktur  dalam jaringan internet. Sejauh ini dari industri telekomunikasi sudah memudahkan kita,” ujarnya lagi.

Dengan semakin berkembangnya digital payment, yang menjadi pekerjaan rumah bersama adalah mengatasi Cyber Attack! Harus terus improve, karena cyber attack semakian canggih dan kita harus bisa mengikutinya.

Dari komposisi demografi,  milenial sudah mendominasi  33,75 % dari total populasi, sementara 9.2% generasi Z. Di generasi ini lebih  gampang menerapkan digital payment. “Long hanging fruit”lebih gampang untuk diadopsi digital payment.

Kemudian, Haryati melanjutkan, UMKM yang perlu dibantu berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UMKM, saat ini ada sekitar 55 juta yang masih bisa kita embrace, supaya bisa level up barengan.  Sekarang sudah ada perundang-undangan yang mengatur bantuan sosial.  Sementara di masa pandemic ini kita dipaksa Covid untuk go digital. Bank Indonesia yang sangat melindungi dalam hal keamanan bertransaksi.  Semua itu sudah diatur oleh BI.

Di tahun 2021 LinkAja akan tetap konsisten dalam meningkatkan performa produk dan layanan yang dimiliki untuk memenuhi beragam kebutuhan masyarakat. Selain itu berbagai kerja sama strategis pun akan semakin diperluas dengan mengajak berbagai pihak bergabung dalam ekosistem linkAja.

“LinkAja optimistis bahwa tahun 2021 Indonesia akan menjadi lebih baik. Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha, kami percaya dengan kegigihan LinkAja dibantu dengan kepercayaan dan dorongan dari para mitra dan pengguna, tujuan besar bersama untuk kesejahteraan masyarakat akan tercapai,” tutup Haryati Lawidjaja [] Siti Ruslina/Instagram