Fasilitas TOD Jadi Daya Tarik Membeli Rumah

Masyarakat yang ingin membeli rumah lebih memilih kawasan yang dekat dengan fasilitas TOD (Transit Oriented Development). Tren pilihan masyarakat dalam memilih rumah di kota-kota besar di Indonesia mengarah ke situ!

Pandemi Covid-19 membuat bisnis properti mengalami kelesuan. Hal ini beralasan karena konsumen masih menahan pengeluaran mahal, sehingga membeli rumah bukan menjadi prioritas setidaknya sampai kondisi ekonomi mulai stabil. Hasil survei yang dilakukan Inventure, mayoritas responden yaitu 69,4% menjawab dengan adanya pandemi, mereka menunda membeli rumah dan cenderung mementingkan alokasi anggaran dana darurat.

“Di masa pandemi, prioritas konsumen bergeser “back to the bottom of the pyramid“, yaitu mengutamakan kebutuhan-kebutuhan esensial seperti groceries, makanan-minuman, dan produk kesehatan, dan menunda pembelian produk-produk non-esensial dan bernilai besar termasuk rumah,” ujar Yuswohady, Managing Partner Inventure.

Sementara itu, hunian yang mengunggulkan fasilitas TOD (Transit Oriented Development) masih lebih diminati. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Inventure, hanya 46,3% responden yang setuju jika akses hunian dengan transportasi umum menjadi tidak begitu penting. Sementara itu, 61% responden juga tidak setuju jika pengembang properti tidak mempertimbangkan akses transportasi umum.

Millenial cendrung milih rumah yang ada fasilitas TOD/foto: ist

Konsep TOD sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi Tahun 2018 – 2029. Aturan itu menyatakan, pemerintah mengatur pengurangan penggunaan kendaraan pribadi dan memacu orang untuk menggunakan transportasi publik.

Memang masalah transportasi massal menjadi masalah di kota-kota besar. Umumnya masyarakat perkotaan dalam memilih rumah – selalu mempertimbangan integrasi transporasi massal – dari tempat hunian ke pusat-pusat kota. Perumahan-perumahan atau apartment-apartment yang berada dalam fasilitas TOD akan memiliki nilai jual tersendiri di mata konsumen.

Apalagi kota-kota besar, seperti Jabotabek  (Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi) – suatu wilayah yang terintegrasi akan selalu dihadapi dengan kemacetan lalu lintas. Bila penghuni rumah di wilayah tersebut memaksa menggunakan kendaraan pribadi – selain memperparah kemacetan – menyebabkan biaya transportasi akan membengkak untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Menurut Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia (CII), Ferry Salanto, situasi pasar properti yang penuh tekanan terkait pandemi justru membuat situasinya menjadi demand market karena banyak keuntungan bagi konsumen. Artinya, bila konsumen membeli saat ini ketika perekonomian tengah lesu, saat situasi mulai membaik maka harga propertinya akan meningkat.

Lebih khusus lagi, proyek properti yang dekat dengan transportasi masal maupun dikonsep transit oriented development (TOD) menjadi semakin menarik untuk jangka panjang. Hal ini salah satunya didorong oleh perkembangan lifestyle hingga time travel atau kepastian waktu tempuh menggunakan transportasi publik yang nyaman sehingga jarak tidak lagi menjadi kendala utama., sebagaimana dikutip dari rumah.com, pada 28/7.

“TOD merupakan konsep hunian yang mengintegrasikan berbagai moda transportasi di dalam kawasan sehingga memudahkan penghuni untuk mengakses berbagai lokasi dengan mudah dan cepat. Pemahaman mengenai kemudahan maupun lifestyle yang ditawarkan di tempat ini  tidak mengurangi minat masyarakat untuk menjadikan produk LRT City Bekasi-Green Avenue ini menjadi pilihan utama huniannya kendati ada situasi pandemi,” ujarnya.

“Prospek hunian berkonsep TOD di tahun 2020 sangat bagus karena transportasi massal semakin berkembang, seperti MRT, LRT dan kereta cepat. Sehingga, masyarakat semakin sadar terhadap kelebihan-kelebihan hunian yang dekat atau bahkan terintegrasi langsung dengan transportasi massal seperti produk hunian dari LRT City,” ujar Direktur Pemasaran ACP Indra Syahruzza, sebagaimana dikutip dari propertynbank.com, pada 10/7 lalu.

Salah satu proyek TOD yang merespon situasi ini yaitu LRT City Bekasi-Green Avenue di Jalan HM Joyomartono, Bekasi, hasil pengembangan PT Adhi Commuter Properti (ACP), anak usaha BUMN PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Menurut Project Director Green Avenue Indra Riyanto, pihaknya merasakan pertumbuhan pengetahuan (awareness) konsumen yang lebih aktif mencari informasi proyek TOD ini melalui berbagai sumber.

Bahkan ACP pun  segera me-launching dua produk properti high-rise terbaru yakni LRT City Cibubur dan Oase Park. Direktur Utama PT Adhi Commuter Properti (ACP) Rizkan Firman melalui keterangan tertulis pada 15/1 menjelaskan LRT City Cibubur dengan pengembangan awal sekitar 5 hektare terintegrasi langsung dengan Stasiun LRT Harjamukti di Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat, sebagaimana dikutip dari bisnis.com.

Fasilitas TOD jadi daya tarik konsumen memilih pemukiman/foto: ist

Seluruh proyek ACP pada 2020  meliputi 10 proyek terdiri LRT City MTH, LRT City Sentul, LRT Bekasi – Eastern Green, LRT City Bekasi – Green Avenue, LRT City Jatibening, LRT City Ciracas, LRT City Tebet, Cisauk Point – Member of LRT City, Adhi City Sentul dan Grand Central Bogor telah mencapai target yang membanggakan yakni realisasi penjualan tercapai 100 persen dari target.

Boleh jadi melihat pembangunan infrastruktur yang pesat di Indonesia, ACP berencana ekspansi ke beberapa kota besar di Indonesia yang memiliki rencana pembangunan transportasi massal seperti Bandung, Medan, dan Surabaya. “Proyek tersebut sejalan dengan visi perusahaan, yakni hunian berkonsep TOD. Namun, saat ini kami masih memfokuskan pada pengembangan di Jabodetabek,” jelasnya.

Tak berlebihan bila survei Inventure di tengah pandemi saat ini bahwa masyarakat yang ingin membeli rumah lebih memilih kawasan yang dekat dengan fasilitas TOD. Tren pilihan masyarakat dalam memilih rumah di kota-kota besar di Indonesia mengarah ke situ. [] Yuniman Taqwa/foto ilustrasi utama: ist