Industri Fesyen Muslim Masih Menjanjikan

Konsumsi fesyen muslim di Indonesia pada tahun 2019 sebesar USD16 miliar atau terbesar kelima di dunia setelah Iran, Turki, Arab Saudi dan Pakistan. Ini menunjukkan peluang Indonesia untuk dapat berada pada urutan pertama dan menjadi salah satu pusat fesyen muslim dunia terbuka lebar!

Industri fesyen muslim di Indonesia terus berkembang, baik dari segi variasi produk yang semakin beragam maupun kualitas produk yang kian bersaing. Di samping itu, potensi pasar di dalam negeri yang cukup besar, membuat bisnis industri fesyen masih prospektif ke depannya.

“Kementerian Perindustrian aktif mendorong tumbuhnya industri fesyen. Hal ini seiring dengan implementasi roadmap Making Indonesia 4.0, yang memasukkan industri tekstil dan pakaian sebagai salah satu sektor yang mendapat prioritas pengembangan,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, pada 24/3.

Beberapa tahun terakhir, Kementerian Perindustrian giat memacu pertumbuhan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Tanah Air. Berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN), industri TPTmerupakan salah satu sektor manufaktur yang dikategorikan strategis dan prioritas dalam perannya menopang perekonomian.

Menurut Agus, selama ini industri tekstil dan produk tekstil (TPT) berperan penting dalam memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional melalui penerimaan devisa dan penyerapan tenaga kerja. “Kinerja ekspor industri pakaian jadi sepanjang tahun 2020 mencapai USD7,04 miliar. Industri fesyen yang juga sangat erat hubungannya dengan sektor industri tekstil memberikan kontribusi sebesar 6,76 persen pada PDB industri pengolahan nonmigas di tahun 2020,” ujarnya.

Sementara  perkembangan jumlah umat muslim dunia menjadi salah satu pemicu utama yang mendorong pertumbuhan industri fesyen muslim. The State Global Islamic Ecomony Report 2020/2021 yang baru saja dirilis, melaporkan konsumsi fesyen muslim dunia tahun 2019 mencapai USD277 miliar.

”Pada tahun ini konsumsi fesyen muslim dunia memang agak menurun akibat pandemi Covid-19. Namun, kami yakin akan kembali pulih pada tahun 2021,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih di Jakarta, pada 23/11 tahun lalu. Untuk konsumsi fesyen muslim di Indonesia pada tahun 2019 sebesar USD16 miliar atau terbesar kelima di dunia setelah Iran, Turki, Arab Saudi dan Pakistan.

Gati Wibawaningsih: Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai negara yang mengembangkan fesyen muslim terbaik di dunia/foto: ist

“Peluang pasar fesyen muslim global maupun domestik masih sangat besar dan harus diisi oleh industri fesyen muslim Indonesia,” imbuhnya. Merujuk The State of Global Islamic Economy Report 2020/2021, pengembangan fesyen muslim Indonesia mempunyai prestasi di dunia internasional.

“Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai negara yang mengembangkan fesyen muslim terbaik di dunia setelah Uni Emirat Arab dan Turki. Hal ini menunjukkan peluang Indonesia untuk dapat berada pada urutan pertama dan menjadi salah satu pusat fesyen muslim dunia,”tegas Gati.

Industri fesyen muslim yang merupakan bagian dari industri pakaian jadi memiliki kontribusi cukup besar terhadap perekonomian nasional. Kemenperin mencatat, kinerja ekspor industri pakaian jadi sepanjang tahun 2019 mencapai USD8,3 miliar dan pada periode Januari-September tahun 2020 untuk ekspor industri pakaian jadi telah menembus USD5,36 miliar.

“Industri fesyen merupakan salah satu sektor industri penopang ekonomi nasional dan harus terus dipertahankan serta ditingkatkan kinerjanya,” ujar Gati. Industri pakaian jadi juga sangat erat hubungannya dengan sektor industri tekstil. Berdasarkan data Kemenperin, sektor industri tekstil dan produk tekstil memberikan kontribusi pada PDB industri pengolahan nonmigas sebesar 6,75 persen pada triwulan III tahun 2020.

“Melihat segala potensi dan keunggulan sektor industri fesyen muslim di Indonesia maka pada kesempatan tersebut kami juga mengajak para desainer, pemerintah, pelaku industri, market place, akademisi serta seluruh stakeholder terkait untuk dapat bersama-sama memaksimalkan potensi dan terus mempromosikan dan memperkenalkan industri fesyen muslim Indonesia,” tandasnya.

Guna mengoptimalkan potensi industri TPT tersebut, Kemenperin sedang gencar mendorong industri fesyen muslim nasional. Langkah ini guna mewujudkan target Indonesia menjadi kiblat fesyen muslim dunia. “Untuk itu, tahun ini kami kembali menggelar kompetisi Modest Fashion Project (MOFP),” tutur Gati Wibawaningsih, di Jakarta, pada 24/3.

Kemenperin sedang gencar mendorong industri fesyen muslim nasional: foto: ist

Gati menyampaikan, MOFP merupakan ajang kompetisi desain dan konsep bisnis fesyen muslim yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal IKMA Kemenperin sejak tahun 2018. Pada tahun 2021, MOFP kembali diselenggarakan dan merupakan penyelenggaraan yang keempat kalinya.

“MOFP menjadi sebuah kompetisi desain dan konsep bisnis fesyen muslim yang pesertanya  berpeluang untuk mendapatkan hadiah sebagai juara sekaligus berhak untuk mendapatkan program pembinaan dari Ditjen IKMA bagi peserta yang dinyatakan lolos sebagai finalis 20 besar,” paparnya.

Sebagai salah satu langkah dalam upaya mempromosikan kompetisi MOFP, Ditjen IKMA Kemenperin telah menyelenggarakan webinar sosialisasi MOFP beberapa waktu lalu, yang dihadiri para perwakilan Dinas Perindustrian Daerah selaku pembina pelaku industri fesyen yang masih berskala kecil dan menengahserta para pelaku IKM fesyen dari berbagai daerah.

Tema yang diusung pada acara tersebut adalah Strategi Peningkatan Bisnis melalui Kompetisi Fashion, di mana Kemenperin selaku pemerintah ingin menyampaikan pentingnya aspek desain dari sebuah produk fesyen yang berimbas pada pengembangan bisnis fesyen para pelaku IKM,” kata Direktur Industri Aneka dan IKM Kimia, Sandang dan Kerajinan, E. Ratna Utarianingrum.

Kemenperin melihat bahwa para desainer muda membutuhkan sebuah wadah dan panggung untuk dapat meningkatkan kapasitas serta kemampuan diri, khususnya sebagai wirausaha di bidang fesyen muslim serta mempromosikan dan memperkenalkan potensi produk fesyen muslim dalam negeri.

“Kami menyadari para desainer memiliki peranan yang sangat penting dalam mengembangkan industri fesyen,di mana para desainer dapatmemberikan inovasi dan menentukan arah tren desain khususnya dalam industri fesyen di Indonesia,” ujar Ratna.

Ratna berharap,para peserta webinar yang hadir dapat menjadi generasi desainer dan pengusaha fesyen yang mampu berkarya di kancah dunia untuk mempromosikan potensi industri fesyen nasional.Selain menyosialisasikan kompetisi MOFP, acara webinar juga diisi dengan Talkshow Fashion Business yang diisi oleh para dewan juri MOFP yang merupakan pakar berpengalaman di bidang bisnis dan industri fesyen.

Menurut Ratna, perkembangan jumlah umat muslim dunia menjadi salah satu pemicu utama yang mendorong pertumbuhan industri fesyen muslim. Berdasarkan The State Global Islamic Ecomony Report 2020/2021,konsumsi fesyen muslim dunia pada tahun 2019 diperkirakan mencapai USD277 miliar, sedangkan konsumsi fesyen muslim dunia pada tahun 2024 diproyeksi bakal menembus USD311 miliar.

“Sementara konsumsi fesyen muslim Indonesia sendiri pada tahun 2019 senilai USD16 miliar, terbesar kelima di dunia setelah Iran, Turki, Saudi Arabia dan Pakistan,”sebut Ratna. Kemenperin melihat hal ini sebagai peluang pasar bagi pelaku industri fesyen muslim nasional untuk mampu mengisi pasar domestik maupun global.

Ratna juga menyampaikan bahwa pengembangan fashion muslim di Indonesia juga mempunyai kinerja yang diakui dunia internasional, berdasarkan The State of Global Islamic Economy Report 2020/2021, Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai negara yang mengembangkan fashion muslim terbaik di dunia setelah Uni Emirat Arab dan Turki.

“Semoga MOFP dapat dijadikan sebagai batu loncatan bagi teman-teman sekalian para desainer fesyen maupun pelaku industri fesyen untuk dapat menjadi seorang wirausaha baru di bidang fesyen muslim yang mampu memberikan dampak positif bagi perkembangan industri fesyen nasional,” pungkasnya.[] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa/ foto ilustrasi utama: ist