Industri TPT Terkoreksi di Tengah Pandemi

Industri Tekstil Produk Tekstil (TPT) terpaksa “menelan pil pahit” karena terkoreksi cukup dalam. Padahal industri ini menyerap banyak tenaga kerja dan memberi sumbangan Produk Domestik Bruto (PDB) 6,93 persen dari sektor industri pengolahan non migas.

Beberapa tahun terakhir ini  industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dalam negeri mengalami “lesu darah” akibat derasnya produk TPT impor. Kondisi itu diperparah lagi dengan pandemi Covid-19 yang mulai masuk ke Indonesia Maret tahun lalu.  Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mendata volume produksi industri TPT pada awal pandemi anjlok 85 persen menjadi 1 juta ton. Adapun, utilisasi rata-rata pabrikan terjerumus menjadi 5,05 persen.

Tak urung pabrikan harus melepas 80,01 persen tenaga kerja atau sebanyak 2,15 juta tenaga kerja pada minggu kedua April 2020. Adapun, jumlah tenaga kerja industri TPT sebelum pandemi menyerap  2,69 juta orang. Kemudian  industri TPT nasional kembali menyerap hampir 1,07 juta tenaga kerja per Agustus 2020.

Dengan kata lain, masih ada sekitar 1 juta tenaga kerja yang harus diserap industri TPT nasional pada 2021. Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Wirawasta mengatakan, industri tekstil berorientasi ekspor masih dapat bertahan selama pandemi.

Redma mendata utilisasi industri serat pada kuartal IV/2020 telah pulih ke level 75 persen. Sementara, utilisasi industri kain telah naik ke atas level 70 persen. Angka tersebut tumbuh dari realisasi kuartal II/2020 di bawah posisi 60 persen, sebagaimana dikutip dari bisnis.com, pada 10/1 lalu.

Walaupun kinerja Industri TPT Indonesia mengalami penurunan akibat pandemi Covid-19 yang mengakibatkan  ekspor TPT nasional  terkontraksi sebesar -22,5% yoy menjadi USD4,3 milliar pada Januari – Mei 2020. Pada FY2019, pangsa negara tujuan ekspor TPT terbesar adalah Amerika Serikat (AS) sebesar 35%, disusul oleh Jepang, Jerman, Korea dan Tiongkok, masing-masing sebesar 10%, 7%, 4,7%, dan 4,1%, sebagaimana dikutip dari koranbumn.com, pada  1/8 tahun lalu.

API prediksi industri tekstil akan pulih tahun 2021 atau 2022/foto: doc Kemenperin

API memperkirakan industri TPT bisa kembali pulih pada akhir 2021 atau 2022. Pada awal Juli 2020, produksi industri TPT mulai mengalami kenaikan dengan tingkat utilisasi 35%. Walaupun tingkat utilisasi telah meningkat, namun para pengusaha masih menghadapi sejumlah kendala, seperti penurunan daya beli masyarakat.

Sementara menurut Jemmy Kartiwa Sastraatmadja, Ketua API, penurunan kinerja industri TPT tidak lepas dari melemahnya demand pasar dalam negeri, karena pangsa pasar yang direbut produk impor  diakibatkan dari regulasi  yang memudahkan impor. Kondisi ini bermuara pada konsumsi  masyarakat  yang lebih rendah terhadap produk dalam negeri  karena dominasi produk impor.

Selain sepinya pasar domestik dan ekspor, namun industri tetap dituntut untuk membayar sejumlah tagihan rutin mulai dari tagihan listrik, BPJS ketenagakerjaan hingga bunga tagihan perbankan. Sekjen API Rizal Tanzil mengatakan, industri harus mampu bertahan semaksimal mungkin daripada tutup. Namun, ia mengaku ada banyak pelaku tekstil yang harus gulung tikar. Saat ini setidaknya ada 1,8 juta pekerja kena PHK dan dirumahkan di sektor TPT akibat pandemi corona, sebagaimana dikutip dari cnbcindonesia.com, pada 8/3  tahun lalu.

Selain hantaman Covid-19, industri tekstil juga akan mendapat ancaman dari impor China. Industri tekstil China saat ini memang sedang mulai kembali berproduksi pasca serangan Covid-19 beberapa waktu lalu. Impor garmen dari China inilah yang ditakutkan oleh pengusaha karena dapat merebut posisi di pasar domestik, sehingga asosiasi meminta pemerintah melakukan safeguard untuk memperkuat industri tekstil di pasar domestik.

“Penting untuk penguatan struktur industri tekstil dengan menjaga dan proteksi dalam negeri seperti yang dilakukan Turki yang melakukan safeguard sebanyak 30 persen lebih untuk hampir semua produk tekstil, untuk mempercepat pertumbuhan industri nasional, dan ini bisa diikuti oleh Indonesia,” kata Rizal.

Boleh jadi selama pandemi industri TPT termasuk salah satu sektor industri manufaktur yang sangat terpukul.  Padahal, industri ini memiliki rentang hulu-hilir yang panjang dan mampu menyerap banyak tenaga kerja dan melakukan padat karya.

Sebagai catatan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal II tahun 2020, industri TPT memberikan kontribusi terhadap PDB sektor industri pengolahan non migas sebesar 6,93 persen. Sementara untuk kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, industri TPT menempati urutan keempat menjadi kontributor terbesar yang mencapai 1,24 persen.

Kementerian Perindustrian aktif mengajak seluruh pemangku kepentingan terkait dalam upaya memacu kinerja industri TPT karena merupakan salah satu sektor yang terdampak cukup berat akibat pandemi Covid-19. Langkah strategis yang sedang dijalankan antara lain adalah meningkatkan nilai ekspor dari produk unggulan nasional tersebut.

“Industri TPT menjadi bagian dari sektor yang mendapat prioritas pengembangan lantaran punya peran sebagai penyumbang devisa dan penyerap tenaga kerja yang banyak. Maka itu, industri TPT termasuk dari tujuh sektor dalam peta jalan Making Indonesia 4.0,” kata Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Muhammad Khayam di Jakarta, yang dikutip dari rilir  kemenperin 18/10 tahun lalu.

Dirjen IKFT menjelaskan, struktur industri TPT meliputi sektor hulu (industri serat), sektor antara (industri benang dan kain), dan sektor hilir (industri pakaian jadi). “Walaupun memiliki karakteristik yang berbeda, setiap sektor memiliki keterkaitan yang kuat antara satu dengan yang lain. Padat modal di hulu dan padat karya di hilir,” ungkapnya.

Pada sektor hilir di industri TPT, Indonesia telah memiliki kapasitas tinggi dengan potensi sejumlah pabrik garmen dengan skala besar dan berorientasi ekspor, bahkan industri kecil menengah (IKM) di sektor ini mampu menjadi pemasok kebutuhan dalam negeri. “Jadi, masing-masing memiliki pasar dan peran sendiri,” terang Khayam.

Secara umum, industri TPT nasional telah memiliki struktur industri yang cukup lengkap dan terpadu. Di sektor hilir misalnya, terdapat industri stapel dan filamen yang memiliki kapasitas produksi sebanyak 1 juta ton per tahun dan terintegrasi dengan industri bahan baku kimianya.

Selain itu, di sektor hulu, sejak tahun 2019, industri rayon mengalami peningkatan kapasitas produksi dari 536.000 ton menjadi 856.000 ton per tahun. “Perkembangan industri rayon terus kami dorong untuk menjadi substitusi impor bahan baku kapas yang selama ini bergantung dari pasokan luar negeri. Pada industri benang, kita juga memiliki kapasitas yang cukup besar hingga 3,2juta ton per tahun yang juga menjadi andalan ekspor setelah pakaian jadi,” paparnya.

Kemenperin: memfasilitasi kolaborasi Industri TPT skala besar dengan skala kecil/foto: doc. Kemenperin

Selain mendorong substitusi bahan baku impor dan perlindungan industri dalam negeri, peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi fokus Kemenperin dalam pengembangan industri TPT. “Yang tidak kalah penting adalah peningkatan kompetensi SDM. Sekarang kami turut melatih generasi muda dan dengan sertifikasi melalui berbagai macam pelatihan dan capacity building untuk membangun soft skill dan hard skill,” imbuhnya.

Selanjutnya, Kemenperin memfasilitasi kolaborasi antara industri skala besar dengan pelaku IKM untuk kemudahan memperoleh bahan baku melalui Indonesia Textile Industry Smart Hub & Material Center. “Kami terus berupaya meningkatkan kemampuan ekspor melalui berbagai program, antara lain mendorong eksportir langsung, edukasi prosedur ekspor, jaminan ketersediaan bahan baku, fasilitasi pembiayaan kepada IKM, optimalisasi kemudahan KITE, pembuatan market brief, akses industri ke e-commerce global serta memfasilitasi pameran di dalam dan luar negeri,” sebutnya.

Mengenai potret kinerjanya, Kemenperin mencatat laju pertumbuhan industri TPT di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2019, industri TPT mampu tumbuh sebesar 15,35% atau naik signifikan dibanding dengan 2018 yang mencapai 8,73%. Sementara itu pada 2017, industri ini tercatat tetap mengalami pertumbuhan di angka 3,83%. Pertumbuhan ini didukung tingginya produksi pakaian jadi di sentra industri TPT.

Dalam peta jalan Making Indonesia 4.0, industri TPT nasional ditargetkan masuk ke dalam jajaran lima besar pemain dunia pada tahun 2030. Daya saing sektor ini tercermin dari kinerja ekspornya sepanjang tahun 2019 yang mencapai USD12,89 miliar, dan pada periode Januari-Juli 2020 telah menembus hingga USD6,15 miliar. Selain itu, sebagai sektor padat karya, industri TPT di Indonesia telah menyerap tenaga kerja lebih dari 3,6 juta orang.[] Yuniman Taqwa/foto ilustrasi utama/doc. Kemenperin