Menikmati Harapan Pertumbuhan Industri TPT

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) akan mulai menikmati pertumbuhan setidaknya 1-2 persen. Meski utilisasi belum begitu berbeda dari akhir tahun lalu. Industri ini kurang yakin tancap gas mengimbangi pertumbuhan ekonomi pada tahun ini.

Sejumlah lembaga ekonomi, baik dalam dan luar negeri merasa optimis ekonomi akan bangkit di tahun ini. Ekonomi Indonesia disinyalir akan tumbuh di kisaran 4  – 5 persen pada 2021. Meski disinyalir Pandemi Covid-19 pada tahun 2021 masih terus berlanjut. Tapi pemerintah mulai Januari 2021 akan melakukan program vaksinasi ke masyarakat secara bertahap. Program itu digadang-gadang dapat menggairahkan ekonomi yang terkontraksi cukup dalam akibat pandemi Covid-19.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Prof. Nury Effendi, Ph.D., memproyeksikan perekonomian domestik maupun global perlahan akan membaik pada 2021. Sekalipun pandemi Covid-19 masih terus eskalasi, ekonomi global diperkirakan akan tumbuh sekitar 4 – 5 persen pada 2021.  “Intinya untuk 2021, hampir semua lembaga menyatakan optimistis,” ujar Prof. Nury, sebagaimana dikutip dari laman Unpad, pada 14/12 lalu.

Sementara industri manufaktur di Indonesia  masih positif di tengah gempuran dampak pandemi Covid-19. Ini tercermin dari capaian Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada  Februari dengan menempati posisi 50,9. Indeks di atas 50 menandakan  industri manufaktur berada dalam level ekspansif sesuai yang dirilis oleh IHS Markit.

Menteri Perindustrian: Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia, akan terus dipertahankan

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita optimis dengan berbagai kebijakan dan stimulus yang telah diluncurkan pemerintah dalam upaya membangkitkan kembali gairah pelaku usaha dan pemulihan ekonomi nasional, PMI Manufaktur Indonesia bakal terus tembus di level ekspansif. “PMI Manufaktur Indonesia selama enam bulan ini berturut-turut di level ekspansif. Kami akan terus pertahankan dan tingkatkan,” ungkapnya.

Sementara  survei konsumen Bank Indonesia (BI) pada Februari 2021 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi membaik. Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Februari 2021 sebesar 85,8, sedikit meningkat dari 84,9 pada Januari 2021.

“Keyakinan konsumen terpantau menguat pada responden dengan tingkat pengeluaran Rp1-3 juta per bulan. Secara spasial, keyakinan konsumen membaik di 7 kota yang disurvei, dengan kenaikan tertinggi di kota Surabaya, diikuti oleh Manado dan Makassar,” demikian dilansir dalam siaran pers BI, Senin (8/3).

Disebutkan, keyakinan konsumen yang membaik pada Februari 2021 ini didorong oleh persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini, baik dari aspek ketersediaan lapangan kerja, penghasilan, maupun ketepatan waktu pembelian barang tahan lama.“Sementara itu, ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan tetap positif dan relatif stabil dibandingkan dengan ekspektasi pada bulan sebelumnya, ditopang oleh ekspektasi terhadap penghasilan ke depan,” dikutip dari rilis  Departemen Komunikasi, Bank Indonesia.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Rizal Tanzil Rakhman mengatakan secara industri tren ekspansi pelaku industri cenderung naik sejalan dengan survei IHS Markit di mana periode Januari tercatat naik di level 52,2. Menurutnya pendorong utama masih berasal dari ekspor.

Di tambah permintaan pada produk tengah atau intermediate cukup terjaga karena adanya safeguard. Meski ekspor menjadi pendorong, tetapi Rizal mengemukakan hambatan kelangkaan kontainer ekspor juga tidak bisa dihindarkan. Meski hal itu lebih berpengaruh pada margin perusahaan yang mengecil, sebagaimana dikutip dari bisnis.com, pada 2/2 lalu.

Sedangkan untuk bahan baku yang masih impor yakni kapas memang sempat mengalami kenaikan harga. Namun, adanya bahan baku rayon dan poliester yang masih bisa didapat dari dalam negeri cukup menjadi substitusi saat ini. “Selain ekspor produk dyeing finishing printing juga mulai menggeliat. Meski kenaikan harga bahan baku berdampak pada biaya produksi tetapi tidak terlalu fluktuatif.” ujarnya.

Sekretaris Jenderal API Rizal Tanzil Rakhman, secara industri tren ekspansi pelaku industri cenderung naik/foto: ist

Atas kondisi tersebut, Rizal pun memproyeksi kuartal I/2021 ini industri tekstil akan mulai menikmati pertumbuhan setidaknya 1-2 persen. Meski utilisasi belum begitu berbeda dari akhir tahun lalu.

Kementerian Perindustrian memproyeksi kinerja tekstil tahun lalu akan minus 5,41 persen dan tahun ini mulai bergerak positif meski masih tipis di level 0,93 persen. Sementara untuk pakaian jadi kinerja akan diproyeksi minus 7,37 persen pada 2020 dan membaik pada posisi 3,75 persen pada 2021 ini. Rizal menyebut untuk produsen yang berorientasi ekspor saat ini tercatat memiliki utilisasi tertinggi yakni di level 90 persen.

Namun demikian, pelaku industri TPT tidak cukup yakin pertumbuhan sektornya mampu mengimbangi target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4-5 persen di tahun 2021. Pandemi Covid-19 yang terus bergulir hingga saat ini, secara umum masih menekan industi TPT dalam negeri.

Rizal menilai pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT) sulit mengimbangi target pertumbuhan ekonomi 2021 yang dipatok pemerintah, yakni sebesar 4-5 persen. Menurut Rizal, beratnya langkah untuk mengimbangi target pemerintah tidak lepas dari signifikannya dampak pandemi Covid-19 terhadap industri pertekstilan di Indonesia. “Pada Mei-Juni 2020 utilitas industri tekstil sampai di bawah 20 persen. Artinya, kami harus memulai dari dasar sekali untuk memulih­kan ke kondisi normal,” ujar Rizal, sebagaimana dikutip dari bisnis.com pada 7/10 tahun lalu.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Jemmy Kartiwa Sastraatmadja, untuk menunjang kebangkitan industri TPT, disayangkan masih adanya ganjalan besar yang harus dihadapi oleh banyak pelaku industri. Salah satunya adalah masalah sulitnya akses permodalan.  Ini menambah panjang deretan permasalahan yang dihadapi setelah  terjadinya banyak penundaan kontrak dan pembayaran, kenaikan harga bahan baku, nilai tukar yang bergejolak, kesulitan transportasi logistik selama pandemi, pengurangan pegawai, pembatasan jam operasional, hingga kenaikan biaya pengapalan dan masih banyak lagi lainnya.

Atas berbagai permasalahan ini, kata Jemmy, dibutuhkan adanya insentive dan berbagai kelonggaran karena  industri TPT di tanah air masihlah sangat berpotensi untuk kembali bangkit di tengah pandemi Covid-19 dan kembali berkembang.

Dia menjelaskan, industri TPT mengalami perlambatan pertumbuhan pada Q1 dan Q2 tahun 2020 akibat berhentinya kegiatan perdagangan di dalam dan luar negeri karena pandemi. “Tetapi, pada Q3 dan Q4 industri TPT berhasil bangkit kembali. Terbukti dengan meningkatnya tingkat utilisasi, penyerapan tenaga kerja, serta PMI industri manufaktur,” kata Jemmy.

Pada QI 2021, lanjutnya,  terjadi lagi penurunan performa karena penerapan kebijakan PPKM Mikro karena pembatasan jam buka peritel dibatasi sehingga otomatis membatasi akses konsumen. “Oleh sebab itu, industri TPT mengharapkan adanya pelonggaran PPKM Mikro agar dapat member lebih banyak ruang untuk percepatan pemulihan ekonomi nasional;” lanjut Jemmy, dalam acara PARA Syndicate Webinar Nasional bertajuk INDONESIA SEHAT dan MAJU: Kebangkitan Ekonomi Pascapandemi, pada 10/3 lalu.

Selain pelonggaran, untuk mengatasi persoalan industri ini, Jemmy juga menandaskan pentingnya inovasi agar IKM lebih mudah dijangkau oleh masyarakat. “Solusinya bisa dilakukan melalui pemberdayaan dan digitalisasi IKM melalui sinergi antara pemerintah, lembaga perbankan, dan para pelaku industri,” kata Jemmy seraya menggarisbawahi berbagai manfaatnya.

Bagi pemerintah, melalui digitalisasi IKM ini, mereka berkesempatan untuk membantu secara signifikan dalam memberdayakan ekonomi masyarakat, dalam kemudahan pemberian modal kerja yang terkontrol, serta dalam meningkatkan kepatuhan terhadap perpajakan.

Bagi industri, digitalisasi sangat membantu penyerapan hasil produksi dalam negeri dan untuk peningkatan daya saing produk TPT Indonesia di luar negeri. Sementara bagi perbankan, melalui digitalisasi ini, mereka juga bisa memberikan modal kerja yang tepat sasaran sekaligus menjadikan IKM menjadi bankable, sehingga bisa melepaskan IKM dari jerat rentenir.

Selain melalui program digitalisasi, menurut Jemmy, program pemberdayaan juga bisa dilakukan melalui optimalisasi penggunaan non-tariff measures (NTMs). Atas permasalahan yang ada, berharap pemerintah bisa memberikan bantuan kebijakan melalui skema pembiayaan perbankan, kelonggaran-kelonggaran dan insentif yang diperlukan sebagai stimulus untuk mendorong pemulihan dan utilisasi industri TPT.

Sementara Sektretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Wirawasta mengatakan, selain itu didorong atas penerbitan safeguard garmen yang diharapkan segera terbit pada kuartal I/2021. Begitu safeguard garmen (diterbitkan), demand kain lebih besar. Lalu, pemerintah kurangi impor kain. Harusnya pertumbuhan industri tekstil bisa naik di atas 5 persen di tahun ini,” katanya, pada 10/1, sebagaimana dikutip dari fin.co.id, pada 11/1 lalu.

Tindakan pengamanan perdagangan (safeguard) saat ini ditunggu-tunggu pelaku industri TPT. Instrumen ini dapat menekan produk-produk TPT impor yang masuk ke Indonesia. Kita tunggu political will pemerintah untuk segera mengeluarkan kebijakan itu! [] Yuniman Taqwa