Prospek Industri TPT di Tengah Pandemi

Industri TPT kuartal 1 dan 2  tahun 2020 sempat terkoreksi cukup dalam akibat pandemi Covid-19. Meski tempat bangkit pada Q3 dan Q4, tapi kembali mengalami perlambatan pada Q1  tahun ini. Namun demikian, optimisme tetap “berkibar” bersamaaan dengan program vaksinasi yang terus berlanjut.

Pandemi Covid-19 merontokkan sektor industri  cukup signifikan. Salah satu industri yang terkoreksi   cukup dalam adalah industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT). Padahal neraca perdagangan sektor TPT sejak 2015 sampai Desember 2020 masih surplus.

Tercatat, utilisasi TPT  kuartal 1 (Q1) tahun 2020 hanya mencapai  65%. Sementara pertumbuhan TPT Q to Q hanya mencapai 0,5% dan year to year (YtoY) sebesar -0,4%. Angka itu terperosok lebih dalam pada  Q2, di mana utilisasi TPT hanya mencapai 30%. Sedangkan pertumbuhan QtoQ terkoreksi   sebesar -8,7% dan YtoY -8,6%.

Baru pada  Q3 mulai bangkit, di mana utilisasi meningkat menjadi 50%, dengan pertumbuhan QtoQ sebesar 3,0% dan pertumbuhan YtoY   mencapai -19,8%. Dan Q4 utilisasi industri TPT meningkat menjadi 70%, dengan pertumbuhan QtoQ – 5,2% dan YtoY -6,1%

Menurut Ketua Umum Aosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Jemmy Kartiwa Sastraatmadja,  , perlambatan pada Q1 dan Q2 pada tahun  lalu karena  berhentinya kegiatan perdagangan di dalam dan di luar negeri  karena  pandemic covid-19.

“Meski demikian pada Q3 dan Q4, industri TPT bangkit kembali, terbukti dengan meningkatnya tingkat utilisasi, peningkatan penyerapan tenaga kerja serta peningkatan PMI indutri manufaktur,” kata Jemmy dalam  acara, Syndicate Forum, Webinar Nasional Setelah Setahun Pandemi Covid-19 bertajuk Indonesia Sehat Indonesia Maju : Kebangkitan Ekonomi Pascapandemi, yang berlangsung pada. 10/3 lalu.

Sementara tenaga kerja yang dirumahkan pada semester satu tahun 2020 mulai dipekerjakan pada semester dua. “Ini  merupakan hasil kerja pemerintah yang mulai membenahi tata niaga. API sangat berterima kasih dengan Kemenperin sudah mendengarkan keluhan anggota API.  Kemenperin akan menggaungkan apa yang disebut dengan Neraca Komoditas. Neraca Komoditas itu artinya mereka memerlukan data kemampuan industri nasional berapa, kebutuhan produk TPT berapa dan kekurangannya baru diberikan quota impor,” kata Jemmy.

Tapi, di tengah peningkatan tersebut, kata Jemmy, pemerintah memberlakukan  penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang dilanjutkan dengan PPKM skala mikro pada awal tahun 2021. Kegiatan ekonomi dibatasi dengan pembatasan jam buka toko-toko, sehingga akses konsumen semakin terbatas.  Hal ini sedikit terjadi  perlambatan pada Q1  tahun 2021.

Di samping itu,  terjadi bencana alam di berbagai daerah yang juga menjadi hambatan kegiatan ekonomi. Oleh sebab itu, industri TPT mengharapkan adanya pelonggaran PPKM mikro  agar dapat memberikan lebih banyak ruang bagi percepatan pemulihan ekonomi nasional.

“Tapi saya yakin setelah vaksinasi ini berlanjut, maka pemulihan industri tekstil pada Q2 akan terus berlanjut,” jelas  Jemmy seraya menambahkan, industri tekstil dari hulu sampai hilir ada di Indonesia.  Sementara industri garmen atau pakaian jadi untuk pasar ekspor kebanyakan kategori perusahaan  besar. Perusahaan ini mayoritas berada di kawasan berikat, di mana bahan bakunya kebanyakan impor dari buyer dan hasil produksinya diekspor kembali.

Sementara menurutnya, mayoritas yang mengisi pasar kebanyakan  Industri  Kecil dan Menengah (IKM) Indonesia. IKM tersebut  kebanyakan  berada di Jawa Barat. Dulunya IKM bekerja di perusahaan besar, tapi karena  industri besar relokasi ke Jawa Tengah untuk mencari  Upah  Minimum  Provinsi (UMP) yang lebih kecil, maka terbentuklah banyak pengusaha kecil di wilayah ini.

IKM garmen punya potensi dikembangkan menjadi IKM garmen yang tangguh/foto: doc. Kemenperin

Namun demikian IKM garmen ini, kata Jemmy, sudah puluhan tahun bekerja di industri garmen besar , tapi tidak mudah alih profesi. “Di Jawa Barat, seperti di Bandung, Subang, Sukabumi, tumbuh banyak kampung-kampung IKM garmen yang punya potensi untuk dikembangkan menjadi IKM garmen yang tangguh,” kata Jemmy.

Lebih lanjut ditambahkan IKM-IKM tersebut dibantu inovasi, dibantu supply raw material, sehingga perlu kerjasama dengan Kementerian Perindustrian untuk memajukan IKM garmen.  “ Usulan API Digitalisasi IKM garmen , sedangkan UKM-nya adalah pedagangnya. Jadi produksi IKM garmen biasa dibeli oleh UKM,” kata Jemmy. API ingin  bagaimana IKM dan UKM kita naik kelas.

Umumnya IKM dan UKM garmen, menurut Jemmy belum tertib administrasi. Bila ingin pinjam uang ke bank, mereka belum siap laporan keuangannya. Di mana uang untuk usaha dan uang untuk kebutuhan sehari-hari masih bergabung  “Kita bekerjasama dengan pemerintah agar IKM dan UKM tersebut bisa tertib administrasi. Saya berharap kalau IKM dan UKM ini tertib administrasi, sehingga penyerapan  produksi TPT dalam negeri pasti akan meningkat,”  katanya.

Sekarang ini Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah bekerja sama dengan perbankan menggelontarkan banyak pinjaman pembiayaan. Diharapkan bila IKM dan UKM siap dengan laporan keuangan yang rapi, tertib perpajakan, maka mereka akan menjadi bankable. Sehingga bisa meminjang uang dengan bunga yang  murah dan keluar dari jeratan rentenir.

Dan tak kalah penting lagi, menurut Jemmy adalah  program pemberdayaan bagi  industri TPT dalam negeri. Diantaranya optimalisasi penggunaan non-tariff  measures (NTMs).

Sebagai upaya perlindungan ekonomi dan industri,  beberapa negara saat ini menerapkan kebijakan trade remedies, diantaranya Turki dan Amerika Serikat.  Selama ini Indonesia banyak menghadapi tuduhan antidumping dari negara tersebut yang kemudian menjadi hambatan baru bagi ekspor TPT nasional.

Kemudian, kata Jemmy, Indonesia juga dapat mengambil langkah dalam rangka perlindungan pasar  dalam negeri. Caranya melalui pemberlakuan kebijakan  non-tariff measures yang sesuai dengan ketentuan WTO. Misalnya metode Sanitary and Phytosanitary measures (SPS) bagi barang impor agar mematuhi ketentuan standar SNI yang berlaku di Indonesia. Laiknya ketentuan yang berlaku bagi barang produksi lokal yang beredar di wilayah Indonesia.

Instrumen-instrumen tersebut – bila dijalankan oleh seluruh stakeholder di industri TPT, maka bukan tidak mungkin sektor ini bisa cepat puliha dari keterpurukan akibat pandemi. Dan akhirnya ke depan sektor ini bisa memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Semoga…![] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa/foto ketua API: ist