Purwakarta: Pertumbuhan Investasi Kian Meningkat

Beberapa tahun terakhir ini, realisasi investasi di Kabupaten Purwakarta selalu melampaui target. Letak geografi  yang strategis dan diapit dengan fasilitas infrastruktur yang lengkap di sekitarnya, menjadi daya tarik investasi di sana.

Pemerintah Kabupaten Purwakarta boleh bangga atas prestasi  dalam menarik investasi. Pasalnya, di tengah kondisi pandemi Covid-19 tahun lalu, Pemkab ini masih mampu merealisasikan target invetasi. Sampai akhir 2020, realisasi investasi Purwakarta bertengger di angka Rp 69 triliun. Padahal target yang ditetapkan hanya Rp 60 triliun.

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Purwakarta mengklaim nilai investasi di Purwakarta justru mengalami kenaikan, baik dari penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalan negeri (PMDN). Menurut Kepala DPMPTSP Kabupaten Purwakarta Muchamad Nurcahya, selama pandemi investasi di wilayahnya cenderung stabil. Bahkan, setiap tahunnya nilai investasi tersebut selalu naik.

Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika bersama Kepala DPMPTSP Kabupaten Purwakarta, Muchamad Nurcahya : Optimis investasi tahun 2021 tercapai/foto: Diskominfo Purwakarta

Ambil contoh, kata Nurcahya, pada 2018 lalu, realisasi nilai investasi di wilayahnya mencapai Rp56,5 triliun dari target Rp48 triliun. Sedangkan, untuk 2019 realisasinya di angka Rp62,7 triliun dari target yang ditetapkan sebesar Rp55 triliun. Adapun nilai investasi ini, merupakan akumulasi dari realisasi investasi PMA dan PMDM. “Setiap tahun, kenaikannya rata-rata di angka 11 persen dari target,” jelasnya.

Sementara  DPMPTSP Kabupaten Purwakarta menargetkan nilai investasi di Purwakarta pada tahun 2021 sebesar Rp 65 triliun. Angka ini naik dari target tahun sebelumnya hanya sebesar Rp 60 triliun. “Kami optimis target tersebut bisa terealisasi. Di tahun 2020 kemarin saja, realisasi investasi kami bisa tercapai angka Rp 67,5 triliun atau melebihi target yang ditentukan,” kata Nurcahya.

Nurcahya menambahkan, sejak 2020 ada beberapa investasi yang sedang berjalan. Seperti, Proyek Strategis Nasional (PSN) Pembangunan Kereta Cepat Indonesia-Cina (KCIC) Jakarta-Bandung. Kemudian, pembangunan Jalan Tol Jakarta-Cikampek Japek Selatan, serta pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Terapung 145 MW di perairan Waduk Cirata. “Sejak beberapa tahun ini nilai investasi cenderung stabil, bahkan kerap melebihi target,” kata Nurcahya.

Nilai investasi ini, merupakan akumulasi dari realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalan negeri (PMDN). Untuk jumlah investor sendiri, hingga 2020 kemarin mencapai 836 investor, dengan rincian  sebanyak 564 PMA dan 272 PMDN, sebagaimana dikutip dari ayopurwakarta.com, pada 23/2 lalu.

Salah satu faktor yang mendongkrak kenaikan realisasi investasi ini yakni akan adanya Kawasan Industri Multi Optima Sejahtera (KIMOS). Dia menjelaskan, kawasan industri ini ini berada di Kecamatan Babakan Cikao. Adapun Luas lahan untuk kebutuhan KIMOS ini mencapai 1.200 hektar. Lokasi KIMOS berada lima desa di Kecamatan Babakancikao. Di antaranya, Desa Hegarmanah, Babakancikao, Mulyamekar dan Cigelam.

Nurcahya menuturkan, saat ini progress pembangunan KIMOS sudah pada tahapan pembebasan lahan dan pengerasan. Lahan yang telah dibebaskan mencapai 90 persennya. Sisanya, dalam proses balik nama. Kawasan industri baru ini, sambung dia, rencananya mampu menampung sekitar 5.000 perusahaan. Estimasinya, satu perusahaan membutuhkan minimal satu hektar lahan. Sedangkan, untuk penyerapan tenaga kerjanya, dibutuhkan lebih dari 100.000 jiwa..”Purwakarta diuntungkan dengan adanya kawasan industri baru ini. Meskipun, perusahaan yang akan berdiri di kawasan itu, mayoritas merupakan perusahan padat modal,” ujar Nurcahya.

“Purwakarta diuntungkan dengan adanya kawasan industri baru ini. Meskipun, perusahaan yang akan berdiri di kawasan itu, mayoritas  perusahan padat modal,” ujarnya. Dia menambahkan, salah satu perusahaan yang sudah mengincar kawasan baru ini, yakni Wings Grup.

Dengan adanya kawasan industri baru ini, pihaknya berharap bisa mendongkrak laju perekonomian masyarakatnya. Dengan banyaknya perusahaan di kawasan ini, tentunya akan berimplikasi pada pengurangan jumlah pengangguran secara signifikan.

Sementara Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Purwakarta, Gatot Prasetyoko, SH, mengapresiasi Pemkab Purwakarta yang membuka investasi perusahaan padat modal.“Berdirinya kawasan industri yang sudah dimulai pembangunannya, akan menjawab tuntutan meningkatnya angka pengangguran ke depannya,” kata Gatot, pada 1/3, sebagaimana dikutip wartaindustri.id.

Selain KIMOS, Purwakarta juga  akan mengembangkan proyek kota mandiri. PT Multi Optimal Sentosa  mengembangkan proyek kota mandiri dan kawasan industri seluas 1.181,82 hektar bertajuk Jatiluhur Industrial Smart City (JISC). Sebelumnya, perusahaan telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Perum Tirta Jasa II dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk atau PGN untuk mengembangkan kawasan industri ini pada 5/11/2018 silam.

Penandatanganan MoU pengembangan kawasan industri JISC dilakukan antara Direktur Utama Perum Jasa Tirta II Djoko Saputro, Direktur Utama PGN Gigih Prakoso, dan Kuasa Direksi PT Multi Optimal Sentosa Hadi Setiadarmaho. Dalam pengembangan dan pembangunan kawasan industri JISC, perusahaan menggandeng PGN dan Perum Jasa Tirta II untuk menyediakan fasilitas yang dibutuhkan pihak industri, sebagaimana yang dikutip dari kompas.com, pada 2 Desember 2020.

Nilai investasi proyek tersebut sekitar Rp 4 triliun. Pengembangan proyek JISC terdiri dari tiga fase yakni, fase pertama dengan pengembangan seluas 369,62 hektar, fase 2 seluas 440,58 hektar, dan fase 3 seluas 371,63 hektar.

Master plann JISC/ foto:.instagram.com/purwasukaurban.development

Pada fase pertama seluas 369,62 hektar akan dikembangkan dalam lima zona yakni, area industri seluas 145,52 hektar, residensial dan taman lingkungan seluas 77,43 hektar, dan pusat komersial seluas 33,53 hektar. Kemudian, zona infrastruktur, kolam, jalan, jalan tol, area hijau dengan total luas 112,79 hektar.

Lalu pada fase kedua seluas 440,58 hektar akan dikembangkan dalam empat zona yakni, area industri (termasuk kantin) seluas 238,43 hektar, residensial dan taman lingkungan seluas 57,13 hektar, dan pusat komersial seluas 24,57 hektar.

Sementara pada zona infrastruktur, jalan, jalan tol, dan area hijau akan menempati luas 118,7 hektar. Sama halnya dengan fase kedua, tahap tiga juga akan mencakup pengembangan empat zona yaitu area industri menempati luas 211,31 hektar. Selanjutnya, residensial dan lingkungan taman seluas 1,45 hektar, pusat komersial dengan luas 15,63 hektar, serta area infrastruktur, kolam, jalan, jalan tol dan area hijau seluas 127,56 hektar.

Jatiluhur Industrial Smart City diciptakan untuk memiliki sistem kelola infrastruktur dan utilitas di atas standar. Semua infrastruktur dibangun secara efisien, mulai dari pengolahan air sampai jaringan telekomunikasi. Semuanya diharapkan berjalan dengan lancar agar kebutuhan penghuni kota pintar tersebut dapat terpenuhi dengan baik.

JISC merupakan smart cityyang berlokasi strategis. Kawasan industri itu nantinya akan dikelilingi oleh 8 infrastruktur berskala internasional. Infrastruktur yang dimaksud adalah sebagia berikut: Bandara Soekarno-Hatta (108 km), Tanjung Priok (89 km), Pelabuhan Karawang (21 km), Pelabuhan Patimban berjarak (62 km), Bandara Husein Sastranegara berjarak (62 km), Bandara Kertajati berjarak (74 km), Bandara Purwakarta berjarak (7 km) dan Stasiun Karawang (20 km).

Kehadiran JISC akan menambah daya tarik investasi di Pemkab Purwakarta. Dan ke depan Purwakarta akan meraih berkah dengan akselerasi pembangunan kawasan tersebut, sehingga menimbulkn multiplier effect bagi kemaslahatan masyarakat Purwakarta. Semoga. [] Yuniman Taqwa/foto ilustrasi utama: doc. DPMPTSP