LinkAja,  Mudahkan Masyarakat  Menggunakan Akses Digital Payment

Jakarta, 5 November 2020, pelakubisnis.com– Data per November 2020,  digital payment  LinkAja sudah memiliki lebih dari 58 juta pengguna yang terdaftar dan sudah bisa digunakan di lebih dari 600 ribu local merchant/UMKM dan lebih dari  280 ribu merchant nasional di seluruh Indonesia.

Selain itu,  digital payment hasil konsorsium 10 BUMN di tanah air ini juga  sudah bisa digunakan  di 134 moda transportasi dan bisa digunakan di  lebih dari 500 pasar tradisional.  “Untuk donasi digital LinkAja sudah bekerjasama dengan lebih dari 14 ribu partner dan lebih dari 1600 e-commerce,”jelas Haryati Lawidjaja, CEO LinkAja, dalam webinar “Indonesia Industry Outlook 2021” yang diselenggarakan Inventure yang berlangsung Rabu (4/11).

Berdasarkan riset konsumen yang dilakukan Inventure ditemukan fenomena bahwa pandemi Covid-19 mendorong pembayaran secara cashlesscardless dan contactless menjadi prioritas konsumen saat bertransaksi. “Dari  629 responden sebesar 63,5% mengatakan setuju (menggunakan digital payment) sedangkan sebesar 36,5% mengatakan tidak setuju,”ungkap Yuswohady Managing Partner Inventure.

LinkAja dibentuk dari sinergi 10 BUMN di tanah air yang misinya adalah untuk kesejahteraan masyarakat. Digital payment ini dibangun untuk akselerasi inklusi keuangan. Memudahkan masyarakat untuk mengakses keuangan secara lebih mudah baik melalui bank maupun non bank.

Fokus LinkAja lebih banyak digunakan untuk transaksi seperti bayar bensin, beli pulsa  telepon, internet, berbelanja, kulineran dan sebagainya. Segmen utamanya bukan hanya kalangan BUMN melainkan masyarakat yang selama ini belum punya akses ke perbankan. Untuk itu banyak kerjasama dengan UMKM, pesantren-pesantren di daerah dan  pasar tradisional.

Menurut Haryati, tren  penggunaan digital payment ini diperkirakan akan terus berlanjut setelah pandemi nanti. Makanya sejauh ini selama pandemi para pelaku usaha termasuk layanan digital payment justru berkolaburasi untuk tumbuh bersama agar bisa keluar dari situasi pandemi. “ Kami juga bersinergi dengan perbankan bahkan saling melengkapi. Dari kolaburasi ini melahirkan kesempatan  yang tidak terbatas, semuanya tergantung kreatifitas dan inovasi yang dilakukan,”ujar Haryati yang baru menjabat CEO sejak April 2020 lalu.

Kolaborasi lain dengan pemerintah misalnya dalam penyaluran stimulus bantuan prakerja. Sebelumnya bantuan sosial hanya melalui perbankan. Tetapi dalam program kartu prakerja digital payment  LinkAja juga dilibatkan.

Selain ada kolabroasi dan sinergi, Haryati mengatakan dari sisi regulasi terkait digital payment juga sudah semakin baik dan ke depan akan semakin baik lagi. Contohnya aturan mengenai interoperabilitas QRIS yang dibuat Bank Indonesia. Interoperabilitas ini juga merupakan sinergi dalam ekosistem pembayaran digital di Indonesia.

Ia menilai,  It’s Time to Win-Back “Reimagine, Recover, Regain” seperti tema yang diambil Indonesia Industry Outlook 2021 dimana  angka kesembuhan yang terkena COVID-19  dan kehadiran vaksin menjadi harapan  bagi masyarakat untuk bangkit di tahun 2021 nanti.  “Itu beberapa hal yang saya lihat menjadi tren dan sekaligus blessing dari pandemi ini karena seolah-olah mempersiapkan kita lebih cepat untuk bisa growing lebih cepat lagi pada saat Covid ini berlalu,” ujarnya.

Di tengah pandemi, persisnya 16 April lalu, LinkAja  meluncurkan layanan syariah untuk meng-engage masyarakat yang selama ini konsern untuk kenyamanan dan keamanan dalam bertransaksi dengan prinsip-prinsip syariah. Dalam waktu enam bulan setelah peluncuran, Haryati mengatakan penggunanya sudah mencpai lebih dari 1 juta. “Indonesia adalah negara yang penduduk muslim terbesar di dunia. Banyak hal yang bisa kita contribute disana. Termasuk untuk industri halal, UMKM-UMKM yang perlu dibantu untuk berjualan secara digital dan dalam hal mendapat akses permodalannya,”papar Haryanti.[]sr