Siasat Pemain FMCG Hadapi Momen Festive

Perlu strategi menangkap peluang di momentum festive selama bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Bila salah strategi, momen itu tak maksimal menghasilkan value!

Pandemi Covid-19 pada  tahun 2020 merupakan   tantangan berat hampir semua industri terutama yang bukan bergerak di bidang kesehatan, hygiene. Para industri berharap dengan usaha pemerintah menyebarkan vaksin yang cepat dan kesadaran masyarakat untuk menerima vaksin, keadaan ekonomi akan lebih baik di tahun 2021 ini.

CEO PT Kino Indonesia Tbk (KINO), Harry Sanusi, pada acara webinar Indonesia Industry  Outlook 2021 yang diselenggarakan Inventure pada 6/11, mengatakan, FMCG (fast moving consumer goods)  cukup menarik, karena persainganya sangat ketat. Sektor ini memang sangat defensive! Meski pertumbuhannya turun, tapi tidak negatif. “Kalau pun untung, untung sedikit tapi tidak sampai rugi.

Hal ini yang menurut Harry, menyebabkan  daya beli masyarakat menurun. Tapi masih bisa memenej penghasilan  sedemikian rupa, dan dapat mengatur cash flow keluarga.  “Akhirnya terjadi pemilihan-pemilihan produk tertentu yang  harus mereka konsumsi. Kalau tidak terlalu perlu dikonsumsi mereka melakukan shifting, terjadi perubahan konsumsi. Sekarang masyarakat lebih sadar untuk hidup lebih sehat,” kata Harry.

Menurut Corporate Finance Director  PT Kino Indonesia Tbk, Budi Muljono, meskipun pembatasan masih dilakukan, namun masyarakat sudah lebih banyak beraktifitas sehingga roda ekonomi akan lebih baik. Selama kondisi ini bisa berjalan terus, perekonomian berangsur membaik dan seharusnya tahun 2021 ini penjualan akan lebih baik dari tahun lalu untuk semua segmen, tidak hanya di minuman, tapi juga di segmen lain personal care dan snack.

Sementara di tengah ekonomi mulai menunjukkan tren membaik dan memasuki momen bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1442H,  pemerintah mengeluarkan kebijakan larangan mudik. Padahal momentum Ramadhan dan lebaran  merupakan peak season yang akan mendongkrak peningkatan penjualan signifikan. Pertanyaannya, sejauhmana dampak momen Ramadhan dan larangan mudik Lebaran terhadap sektor FMCG tahun ini?

Di kategori biskuit dari tahun ke tahun sebelum pandemic permintaan bisa tumbuh double digit pada saat moment festive/Foto: Ist

Di sektor makanan dan minuman (mamin), misalnya, menurut Direktur Pemasaran PT Mayora Indah Tbk, Awin Sirait, seberapa besar permintaan saat Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, tergantung dari kategori produknya. Ambil contoh di kategori biskuit dari tahun ke tahun sebelum pandemic permintaan bisa tumbuh double digit pada saat moment festive dibandingkan periode non-festive “Namun during pandemic suatu tantangan untuk memprediksi karena banyaknya variable yang mempengaruhi seperti mudik, keterbatasan kegiatan dan lain lain,” katanya kepada  pelakubisnis.com, minggu ketiga April lalu.

Awin menambahkan, biasanya awal bulan puasa tren permintaan sudah mulai naik, hal ini ditandai dengan aktifitas pemasaran yang sudah mulai terlihat di toko dan tayangan iklan di televisi. Ada tren tersendiri, seperti kita lihat dari tahun ke tahun biasanya ada beberapa kategori produk mamin yang identik dengan Hari Raya Idul Fitri seperti sirup, biskuit, sereal dan lainnya.

Lebih lanjut ditambahkan, langkah-langkah yang dilakukan seperti mempersiapkan forecast penjualan, konsep produknya yang akan dijual seperti apa, kemasannya, harga dan promosinya. Kendala atau risiko ada seperti seberapa akurat memprediksi/forecast penjualan, kenapa harus akurat karena demand  seperti di hari raya ditentukan beberapa faktor, tidak boleh kurang tidak boleh lebih. Kalau kurang kita kehilangan sales, kalau lebih untuk kemasan khusus Lebaran sulit untuk dijual kembali.

Namun demikian, persaingan sangat ketat karena setiap pemain akan mau cepat mengambil kesempatan dalam momen tersebut. Tapi persaingan masih dalam batas wajar, biasanya persaingan dalam harga karena biasanya beberapa brand berjuang untuk mendapatkan konsumen yang sama, sehingga masing-masing berlomba untuk merebut hati konsumen dengan memberikan value yang terbaik.

“Mayora market leader di kategori biskuit, kita beruntung punya image yang bagus di mata konsumen , image brand Roma yang bagus, kualitas bagus dan terpercaya,”  tambah Awin seraya menambahkan  tahun lalu Mayora cukup beruntung, penjualan kita masih tumbuh. Tahun ini akan semakin bagus karena melihat tren penjualan naik polanya. Dan optimis kedepannya sekolah buka dengan tetap pada prokesnya, merupakan suatu kesempatan untuk bisa dekat lagi dengan konsumen. kita masih mengalami pertumbuhan secara overall dibanding tahun lalu, hal ini kemungkinan karena kita beroperasi di kategori makanan minuman yang merupakan kebutuhan dasar.

Selama bulan Ramadhan Kino Group menaikkan penjualan terutama di produk minuman seperti Cap Kaki Tiga dan Cincau Cap Panda/Foto: Kinostore

Sementara pihak Kino Indonesia, menurut Budi Muljono,  menyediakan produk yang memang dibutuhkan dan dicari konsumen selama bulan Ramadhan ini supaya juga bisa menaikkan penjualan terutama di produk minuman seperti Cap Kaki Tiga dan Cincau Cap Panda.

Budi Muljono mengatakan, Cincau Cap Panda merupakan minuman yang dapat diterima berbagai lapisan masyarakat dimana sebelumnya menjadi salah satu minuman yang disukai untuk berbuka puasa serta dalam perayaan festive. “Tapi kami meyakini bahwa potensi nya akan menjadi minuman rekreasi sehari-hari dalam momen apapun, bukan hanya selama festive ini. Kami ingin Cincau Cap Panda dapat menjadi pilihan utama masyarakat untuk melepas dahaga karena rasanya yang enak,” kata Budi kepada pelakubisnis.com, awal Ramadhan tahun ini.

Berdasarkan data, festive itu 12 minggu atau tiga bulan. Dimana terjadi peningkatan yang signifikan biasanya di enam minggu terakhir. Di mana biasanya akan ada hubungan dengan kapan THR dibagikan. Apakah ada permintaan khusus? Pastinya ada terutama produk dengan kemasan khusus, dijual secara paket pasti akan meningkat dibanding bulan-bulan biasanya. Produk-produk yang naik biasanya seperti biskuit, minuman soda, sirup, cooking oil, chocolate dan lain-lain. Beberapa kasus, menjelang lebaran produk seperti cologne, juice, air freshner juga meningkat mendekat ke hari H.

Sementara itu, Executive Director Retailer Vertical Nielsen Indonesia, Wiwy Sasongko menyebutkan festive season yang akan datang dalam beberapa bulan ke depan bisa menjadi katalisator kinerja bagi bisnis ritel modern. Namun, pelaku usaha diharapkan terus melihat perkembangan tren konsumen pada 2021 yang masih dipenuhi ketidakpastian.

“Pelaku usaha harus gesit menghadapi situasi pada 2021 karena masih adanya ketidakpastian tentang kondisi pandemi dan ekonomi. Pastikan juga selalu melihat perubahan perilaku konsumen secara berkala,” kata Wiwy, sebagaimana dikutip dari tempo.id, pada 23/2 lalu.

Langkah yang disiapkan adalah ketersediaan produk, program promosi di berbagai channel yang sesuai dengan target produk dan target market. Kendala pasti ada karena semua produk akan berlomba-lomba untuk menang sedangkan ketersedian termpat di outlet juga terbatas. Dalam hal transportasi, pengiriman juga bisa menjadi salah satu kendala. Dan penjualan e-commerce yang mulai naik pastinya juga akan ikut meramaikan festive. Cara mengatasi tentunya dengan perencanaan yang baik, produk yang berkualitas dan unik. [] Siti Ruslina/Foto: Shutterstock