APBN Tetap Kredibel, Menumbuhkan dan Melindungi

Jakarta, 10 Oktober 2026, pelakubisnis.com – Perekonomian Indonesia tetap resilien dan mampu menjaga momentum pertumbuhan di tengah dinamika global, didukung permintaan domestik yang solid, daya beli masyarakat yang terjaga, serta investasi yang terus tumbuh. APBN terus dioptimalkan sebagai instrumen strategis untuk menumbuhkan aktivitas ekonomi dan investasi, melindungi masyarakat, serta mendukung pelaksanaan agenda pembangunan prioritas Pemerintah, dengan tetap menjaga kredibilitas dan kesinambungan fiskal.

Demikin rilis yang disampaikan Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu, Deni Surjantoro, pada 9/10.

Hingga 30 September 2026, APBN menunjukkan kinerja yang makin solid, tecermin dari pertumbuhan Pendapatan Negara yang kuat, peningkatan Belanja Negara yang produktif, serta defisit yang tetap terkendali. Kinerja tersebut menunjukkan peran APBN yang terus dioptimalkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, memberikan perlindungan kepada masyarakat, dan mendukung agenda pembangunan nasional, dengan tetap mengedepankan pengelolaan fiskal yang prudent dan kredibel.

Realisasi Pendapatan Negara mencapai Rp2.341,5 triliun atau 74,2% APBN. Realisasi ini tumbuh 25,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kinerja tersebut terutama didorong oleh Penerimaan Pajak sebesar Rp1.607,6 triliun dengan pertumbuhan 24,1% (yoy), Penerimaan Kepabeanan dan Cukai sebesar Rp240,1 triliun yang tumbuh 8,5% (yoy), serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp492,3 triliun yang tumbuh 41,7% (yoy).

Di sisi lain, Belanja Negara terealisasi Rp2.660,5 triliun atau 69,2% APBN, tumbuh 19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Belanja Pemerintah Pusat (BPP) mencapai Rp2.061,3 triliun, yang terdiri atas Belanja Kementerian/Lembaga (K/L) sebesar Rp1.069,4 triliun atau tumbuh 33,5% (yoy) dan Belanja non-K/L sebesar Rp991,9 triliun atau tumbuh 25,7% (yoy). Sementara itu, Transfer ke Daerah (TKD) terealisasi Rp599,2 triliun atau 86,5% dari APBN. Pelaksanaan TKD terus dioptimalkan untuk mendukung penyediaan layanan dasar dan pembangunan di daerah.

Kinerja fiskal berjalan dengan baik dan dikelola secara kredibel, tecermin dari defisit APBN sebesar 1,24% terhadap PDB. Selain itu, APBN mencatat surplus keseimbangan primer sebesar Rp125,5 triliun. Perkembangan ini menunjukkan pengelolaan fiskal dilakukan secara prudent untuk menjaga kesinambungan fiskal.

PMI Manufaktur Indonesia September 2026 kembali berekspansi ke level 52,4, meningkat signifikan dari 49,8 pada bulan sebelumnya. Penguatan ini mencerminkan permintaan yang semakin solid, produksi yang kembali ekspansif, serta peningkatan aktivitas pembelian dan persediaan input. Momentum tersebut menunjukkan pemulihan aktivitas manufaktur dan menguatnya prospek pertumbuhan sektor industri nasional.

Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 kembali menguat menjadi USD3,55 miliar. Kinerja ini didukung oleh ekspor yang tetap tumbuh solid, sementara pertumbuhan impor tetap terkendali. Secara kumulatif Januari–Agustus 2026, neraca perdagangan mencatat surplus USD7,3 miliar, mencerminkan kinerja perdagangan yang tetap positif dan mendukung ketahanan eksternal perekonomian nasional.

Inflasi Indonesia tetap terkendali dalam rentang sasaran, didukung inflasi inti dan administered prices yang relatif stabil. Permintaan domestik tetap tumbuh dan daya beli masyarakat tetap terjaga. Stabilitas harga tersebut menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan aktivitas ekonomi dan pertumbuhan nasional.

Aliran modal masuk ke pasar keuangan Indonesia meningkat, terutama ditopang oleh SBN dan SRBI. Hingga awal Oktober 2026, capital inflow secara kumulatif mencapai Rp131,1 triliun. Perkembangan ini menunjukkan tetap terjaganya daya tarik aset keuangan domestik dan kepercayaan investor terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia, sekaligus mendukung penguatan pasar keuangan nasional.

Pasar SBN terjaga dengan baik, mendukung biaya utang yang efisien. Spread yield SBN rupiah 10Y terhadap UST 10Y menyempit menjadi 188 bps, jauh mengecil dibanding kurun waktu dua dekade lalu yang dapat mencapai 1.000 bps. Kondisi ini mencerminkan kepercayaan investor yang tetap kuat serta fundamental pasar keuangan domestik yang terjaga.

Ke depan, Pemerintah akan terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui optimalisasi peran APBN dan penguatan sinergi kebijakan. Kebijakan fiskal akan terus diarahkan untuk mendorong aktivitas ekonomi dan investasi, memperkuat daya beli serta kesejahteraan masyarakat, dan mempercepat pelaksanaan agenda pembangunan prioritas, dengan tetap menjaga stabilitas ekonomi dan kesinambungan fiskal.

Pemerintah berkomitmen untuk terus menghadirkan APBN yang Menumbuhkan, APBN yang Melindungi, dan APBN yang Tetap Kredibel. APBN dioptimalkan untuk menjadi katalis pertumbuhan ekonomi dan investasi, melindungi daya beli dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menjaga kesehatan fiskal melalui penguatan pendapatan, belanja yang semakin efektif dan produktif, serta defisit yang dikelola secara sehat dan terkendali. APBN terus berperan dalam menjaga momentum pertumbuhan, memperkuat kesejahteraan masyarakat, dan mendukung stabilitas perekonomian nasional.[]sp