Meski Industri Mamin Tumbuh 6,51 Persen, Tapi Gas Industri dan Bahan Baku Masih Perlu Perhatian


Jakarta, 20 Oktober 2026, pelakubisnis.com – Industri makanan dan minuman (mamin) tumbuh 6,51 persen pada triwulan II 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sebesar 5,32 persen dan ekonomi nasional 5,29 persen. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengakui kontinuitas pasokan dan harga gas industri serta bahan baku masih perlu mendapat perhatian agar sektor ini dapat tumbuh lebih tinggi.

“Ada beberapa hal yang masih memerlukan dukungan, misalnya terkait gas industri serta bahan baku yang kontinuitas pasokan dan harganya masih perlu mendapat perhatian kita bersama. Pemerintah akan terus memberikan dukungan agar industri, khususnya makanan dan minuman, dapat tumbuh lebih tinggi lagi,” kata Sarmuji kepada wartawan seusai membuka The 25th ALLPACK Indonesia Expo 2026 di Jakarta, Selasa (20/10).

Sarmuji menyebut industri mamin sebagai penyangga industri nasional. Produk mamin Indonesia, menurutnya, juga makin diminati di pasar global dan menjadi salah satu penopang ekspor. “Industri makanan dan minuman kita sedang sangat baik dan menjadi penyangga bagi industri nasional. Produk-produk Indonesia juga semakin diminati di luar negeri, mulai dari biskuit hingga mi instan yang banyak kita jumpai di berbagai negara,” ujarnya.

Sarmuji menilai pertumbuhan industri pengolahan nonmigas yang melampaui ekonomi nasional menjadi kabar baik. “Ini menunjukkan bahwa perekonomian nasional sedang bergerak menuju keadaan yang semakin baik,” katanya.

Pada triwulan II 2026, industri pengolahan nonmigas menyumbang Rp1.102,88 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) dan 38,98 persen terhadap realisasi investasi nasional. Sepanjang Januari–Agustus 2026, sektor ini berkontribusi 82,40 persen terhadap total ekspor nasional.

Sarmuji menambahkan, pertumbuhan industri juga makin merata. Sebanyak 14 dari 15 subsektor industri pengolahan nonmigas tumbuh positif pada triwulan II 2026. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi peningkatan permintaan produk kemasan, seiring berkembangnya industri mamin, farmasi, kosmetik, kertas, dan mesin.

Sarmuji menilai ALLPACK Indonesia Expo 2026 memperlihatkan perkembangan positif dalam penerapan teknologi modern dan prinsip ekonomi sirkular di sektor industri. “Saya juga melihat beberapa peserta pameran yang sudah memproduksi barang-barang hasil daur ulang. Ini menunjukkan bahwa industri mulai menerapkan prinsip ekonomi sirkular,” ujarnya.

Ia menegaskan pengembangan industri kemasan ke depan harus memperhatikan aspek lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat. “Kita terus mendorong agar industri kemasan semakin peduli terhadap isu lingkungan hidup dan kesehatan,” kata Sarmuji.

Sebagai bentuk dukungan, Kemenperin mendorong modernisasi teknologi melalui Program Restrukturisasi Mesin dan Peralatan, berupa penggantian sebagian biaya pembelian mesin atau peralatan bagi industri yang memenuhi persyaratan, termasuk sektor mamin, hasil hutan dan perkebunan, serta industri kecil dan menengah (IKM).

Kemenperin juga mendukung pengembangan kemasan ramah lingkungan (green packaging), termasuk bioplastik sebagai alternatif plastik konvensional. Langkah ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular melalui penggunaan kembali (reuse) dan daur ulang (recycle) kemasan, serta tanggung jawab produsen atas kemasan pascakonsumsi (Extended Producer Responsibility/EPR).

Dari sisi standardisasi, Kemenperin telah menetapkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 6 Tahun 2025 mengenai pemberlakuan SNI wajib untuk kertas dan karton sebagai bahan baku kemasan primer pangan. Kebijakan ini sejalan dengan Peraturan BPOM Nomor 11 Tahun 2026 tentang Kemasan Pangan, guna meningkatkan keamanan dan mutu kemasan pangan yang beredar di masyarakat.

“Pameran ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pelaku industri, penyedia teknologi, asosiasi, dan pemerintah dalam meningkatkan produktivitas, memperluas pasar ekspor, serta memperkuat pemenuhan kebutuhan pasar dalam negeri,” pungkas Sarmuji.[]sp