Kompleksitas Wanita di Era Kekinian
Berkarir bagi wanita di jaman kekinian tak lagi terpaku dalam kerangka berangkat kantor pukul sembilan pulang pukul lima sore. Dia harus bisa ’juggling’ antara pekerjaan kantor dan pekerjaan rumah. Karakter agility menjadi sangat dibutuhkan perempuan karena kompleksitas multitasking dan multiple stakeholders nya.

Di mata Amalia E Maulana, Ph.D, Konsultan Branding ETNOMARK Consulting, wanita mempunyai tanggung jawab lebih besar dibanding pria. Ada tambahan tugas yang tidak kalah berat, yaitu mengelola manajemen rumah tangga dan manajeman edukasi anak-anaknya. Multi tasking ini tidak sederhana, sangat kompleks, berhubungan dengan multiple stakeholder.
Sayangnya, kadang kemampuan ini tidak terlihat istimewa, karena bagi sebagian masyarakat, hal ini dianggap lumrah dan sederhana. Sudah biasa jika seorang wanita punya tugas menyediakan makanan, mengelola keuangan dan manajemen rumah tangga serta memastikan anak-anaknya berprestasi di sekolah. Itu pekerjaan sehari-hari yang tidak membutuhkan kemampuan manajemen tingkat tinggi.
“Padahal, kekuatan wanita justru datang dari kompleksitas multi tasking, multiple stakeholders yang sehari-hari dikerjakannya. Wanita itu mempunyai intuisi yang tinggi dalam identifikasi stakehoders needs dan mempunyai kemampuan memberikannya dengan baik. Ia tahu apa yang dibutuhkan keluarganya dan apa yang dibutuhkan atasan dan koleganya di kantor,” tambah Dosen BINUS University ini.
Karena itulah, kata Amalia, terekspose dengan ’kompleksitas rumah-kantor’ ini yang menempa dan membentuk seorang wanita untuk secara cepat bisa mengatur prioritas. Jika kata ’agility atau tangkas’ baru-baru saja dipopulerkan sebagai sebuah kata kunci kesuksesan manajer masa kini, karakteristik ’agile’ ini sudah lama menjadi karakter wanita profesional yang dengan tangkas pindah dari prioritas kantor-rumah dan kantor lagi, dan rumah lagi. Wanita karir harus sangat agile bila ia akan bersaing dengan rekan prianya yang tidak mempunyai tekanan yang sama.
Menyoal kiprah wanita Indonesia di dunia bisnis, ia menilai, sudah banyak wanita Indonesia menjadi pemimpin puncak di perusahaan. Ini membuktikan bahwa gender sudah bukan lagi menjadi variable untuk keputusan pemilihan leader di perusahaan. Kalaupun jumlah CEO wanita jumlahnya masih belum sebanyak pria, ini tinggal persoalan waktu saja. Jumlahnya akan bertambah seiring dengan lebih banyaknya wanita yang punya kesempatan sama dengan pria untuk mulai berkiprah di dunia bisnis.
Dari sisi kemampuan bisnis, sudah sejak lama beberapa tipe bisnis didominasi oleh wanita. Sebagai contoh, para ibu yang berdagang di pasar tradisional, mereka mempunyai kecermatan, ketahanan dan kemahiran dalam pengelolaan dagangannya, kadang melebihi pria. Contoh lain, penjualan melalui multi-level marketing, biasanya juga didominasi oleh wanita. Mereka memiliki kemampuan persuasif yang tinggi, dan tahan banting. Banyak penjualan properti dan asuransi yang bintang-bintangnya adalah para wanita. Tidak mengherankan jika banyak wanita yang memenangkan award di bidang penjualan dan bahkan prestasinya jauh melebihi pria.
Tips Untuk Kartini Muda

Mempunyai visi dan misi yang jelas dan tetap pada khitahnya, bahwa kehidupan keluarga merupakan tugas utama. Tentukan ’dream’ sejak awal. Jika diperlukan, siap untuk berhenti berkarir selama beberapa tahun karena prioritas keluarga ini tidak memungkinkan lagi untuk berada di beberapa tempat yang sama dalam waktu yang bersamaan. Berani memutuskan untuk ‘career break’ tanpa melepaskan tujuan akhir berkarir di masa yang datang.
Sosok “Kartini” itu adalah seorang wanita yang bisa seimbang antara kehidupan karirnya dengan kehidupan keluarganya. Berperan sebagai ibu merupakan tugas penting dan ini tidak bisa dikalahkan dengan kepentingan karir. “Pengalaman saya sendiri diwarnai dengan ‘buka’ dan ‘tutup’ artinya ‘berjalan’ dan ‘berhenti sejenak’, karena ada prioritas keluarga yang menjadi target jangka pendek, harus diutamakan.”ungkap istri Cahya Maulana ini yang kedua anaknya, sukses di dunia pendidikan. Putera pertama, Fauzan Reza Maulana, lulusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung, sudah bekerja, sedangkan Luthfan Rasyad Maulana, tingkat akhir, kuliah doublé degree Information Technology, Universitas Indonesia dan University of Queensland, Australia. Kini Amalia tinggal konsentrasi penuh mendidik si bungsu Emir Alexander Maulana yang masih duduk di kelas 6 SD.
Ia pun bersyukur karena Tuhan telah memberikan kesempatan padanya punya banyak pilihan dalam kehidupan berkarir. Pekerjaan beragam yang ia geluti sekarang, semuanya merupakan pilihan yang sesuai dengan passion. Dan ini yang membuatnya selalu berdoa agar Tuhan memperpanjang waktu sehari menjadi 40 jam agar ia bisa mengerjakan pekerjaan untuk lebih banyak orang, termasuk keluarga.
Tantangan Menjadi Leader Wanita
Menjadi leader berarti mampu melihat ’big picture’ dan sekaligus mengerti detail atau paham ’small picture’. Mampu melihat ke depan tetapi sambil memastikan apa yang dikerjakan hari ini tetap masuk dalam koridor mencapai cita-cita di masa mendatang.
Menurut Amalia, keterbatasan wanita perlu dikemukakan sejak awal kepada stakeholders, terutama pada partner dan team yang bekerjasama. Leader yang baik adalah yang mengutamakan proses, tetapi bertanggung jawab terhadap output – tujuan utamanya.
Kadangkala eksekutif wanita yang tidak bisa berada 24 jam di udara (di kantor, meeting sampai dini hari misalnya) semestinya harus bisa dijelaskan sejak awal dan tidak ada hubungannya dengan rendahnya komitmen terhadap pekerjaannya. Leader yang baik juga butuh mengelola teamnya agar bisa membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi dalam perusahaan sekaligus kadang kala bisa menjadi solusi dalam urusan-urusan pengelolaan keluarganya.
Amalia contohnya! Dalam kondisi terpaksa (karena harus meeting panjang dengan client, misalnya), ia meminta tolong pada staff untuk menjemput anaknya les bimbel. “Memang, ini akan dibaca sebagai keputusan yang tidak profesional karena mencampur urusan rumah tangga dan urusan kantor. Tapi hal itu bisa terjadi bila kita tidak mengkomunikasikannya sejak awal sebagai salah satu prioritas sebagai leader di kantor yang juga punya tugas mengelola edukasi anak dan rumah tangga,”ujarnya.
Untuk itu perlu dimengerti dan dihayati oleh team, maka mereka melihatnya dari kacamata yang berbeda. Bahwa dalam hidup, komitmen itu bukan seratus persen untuk kantor (atau client) saja. Komitmen untuk keluarga juga menjadi salah satu yang harus dipikirkan. ”Bahkan para staff wanita saya melihat ini sebagai inspirasi untuk dikemudian hari mereka melihat pentingnya bagaimana agar bisa ’juggling’ antara pekerjaan kantor dan pekerjaan rumah,”papar ibu tiga anak ini.
Yang tidak boleh dilakukan oleh wanita profesional adalah menggunakan ’keterbatasan’ waktu atau tugas tambahan di rumah ini sebagai alasan untuk mendapatkan keringanan-keringanan yang berlebihan dari counter part pria. Atau, meminta staff untuk mengerjakan pekerjaan non-kantor hingga di luar dari batas kewajaran. Jika ini dikerjakan, maka bisa dirasakan oleh orang disekitarnya dan mereka akan berkurang respeknya.
Paradigma Wanita Karir Dulu dan Sekarang

Di jaman digital ini menurut Amalia membuka banyak sekali peluang kerja, baik itu di bidang online commerce yaitu berjualan secara online, atau banyak pekerjaan-pekerjaan disain, komunikasi, atau pekerjaan programming dan pekerjaan lainnya yang bisa digarap dari rumah.
Berkarir bagi wanita sudah bukan lagi dalam kerangka harus berangkat dan pulang ke kantor dari jam 9-5 sore. Karir itu semakin luas dan mampu diciptakan dari rumah sendiri. Atau, menjadi bagian dari organisasi tetapi secara part time. Banyak pekerjaan yang dimungkinkan untuk digarap di coworking space dekat rumah, bertemu dengan rekan kerja atau client di kafe-kafe dalam beberapa jam saja, tidak harus seharian berada jauh dengan keluarganya.
Jika tidak mempunyai bakat entrepreneur, masih ada kesempatan untuk bergabung dengan banyak perusahaan start up atau yang established – yang sudah memberikan kesempatan untuk bekerja secara part time. Pertemuan fisik bisa digantikan dengan pertemuan digital. Online conference sangat praktis menghemat biaya dan energi yang dihabiskan untuk perjalanan ke kantor dan pulang kembali yang hingga 5-6 jam.
Tuntutan untuk profesional dan bertanggung jawab – ini yang sebenarnya sudah tertanam di dalam diri wanita sejak lama. Di dalam rumahnya ia diminta untuk membantu merawat adik, ikut memasak dan membersihkan rumah. Multi-tasking dan tanggung jawab serta kompleksitas sudah menjadi bagian dari keseharian sejak kecil. Untuk memberikan tanggung jawab tambahan – bekerja jarak jauh, secara online – seharusnya bukan sesuatu yang menjadi hambatan baginya.
Amalia sendiri kadang menyelesaikan beberapa pekerjaan dari rumah. Misalnya komunikasi dengan client, negosiasi via Whatsupp (online). Menyusun report, online conference, online focus group discussion, semua itu bisa ia lakukan di rumah. Di masa sekarang, bukan dimana bekerjanya, dengan channel apa nya yang lebih penting, tetapi komitmen dan kesungguhan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.
Tentu saja tidak semua pekerjaan bisa dilakukan secara online. Ada keterbatasan yang tidak bisa ditembus oleh online. Ada diskusi yang lebih efektif apabila pertemuannya face-to-face. Itu harus disadari juga. Dalam hal ini yang terutama adalah kapitalisasi kekuatan masing-masing channel komunikasi dan mengkombinasikannya agar lebih optimal hasilnya.
Kompetensi Bagi Wanita Karir
Amalia menjabarkan, kompetensi ada dua macam: hard skill dan soft skill. Hard skill dipelajari dari tempat kuliah baik itu di S1, S2 bahkan hingga S3. Soft skill merupakan kemampuan yang tidak bisa secara otomatis dikuasai dari Pendidikan formal. Sekarang sudah banyak lembaga-lembaga yang menawarkan melatih soft skill para leaders dan biasanya didukung oleh perusahaan. Di kampus dimana ia bekerja –BINUS University-red–, juga memperhatikan pengembangan soft skill dari dosen-dosennya. Dan ini berbeda dari dulu, dimana setiap orang atau karyawan, diminta untuk mengembangkan soft skill nya.
Dimensi soft skill kini semakin dibutuhkan saat berada di puncak pimpinan. Yang menjadi pembeda antara pemimpin yang inspirasional dengan yang transaksional kemampuan soft skill nya. Apabila ia mempunyai dimensi soft skill yang kuat dan teruji, maka kemampuan leadership nya menjadi lebih tinggi. ’Learning by doing’ menjadi sebuah faktor yang utama bagi seorang leader untuk bisa berhasil di pekerjaannya.
Belajar dari kesalahan – khususnya dalam pengembangan soft skill – menyumbangkan porsi terbesar bagi peningkatan kemampuan leadership. ”Tidak kuatir untuk mencoba, masuk ke dalam tantangan baru, semua itu akan membentuk kekuatan baru dan lentur dalam proses pengambilan keputusan,”tambah Amalia.
Membagi Waktu Kerja dan Kehidupan Bersosialisasi
”Tidak pernah cukup waktu karena itu tidak pernah bisa membagi dengan baik,”nilai Amalia soal bagaimana peran multi tasking perempuan membagi waktu kerja dan kehidupan bersosialisasi.
Menurutnya, kadang kita merasa sangat lelah jika terus menerus memikirkan tugas kantor yang masih bertumpuk. Untuk itu, kehidupan bersosialisasi menjadi salah satu yang meringankan beban kantor, bertemu dengan teman-teman yang menyenangkan, yang bisa menerima kita apa adanya, kelebihan dan kekurangannya. Bisa bercanda dengan bebas tanpa kemudian meninggalkan kesan yang tidak diinginkan.
Mencintai pekerjaan merupakan syarat mutlak, passionate pada apa yang dikerjakan. Berangkat ke kantor bukan sebagai beban tetapi sebagai cara untuk menyalurkan energi positif dan berbagi dengan yang lain. Pada saat mengalami kesulitan, pastikan kumpulan energi positif yang ada di dalam radius diri selalu mengingatkan akan ’the unfinished dream’ yang sedang kita kejar. Dengan dukungan moral mereka, maka kesulitan akan dilihat sebagai bagian dari ’paket lengkap’ kehidupan bahwa tidak pernah ada perjalanan tanpa kesulitan.
Amalia memberi semangat bagi wanita-wanita Indonesia, segera bangkit dan lanjutkan perjalanan ke titik tujuan yang lebih tinggi. “Saran saya, jangan ragu menceritakan apa saja dream yang sedang kita kejar dan ingin dicapai. Para soulmates yang ada di dalam kehidupan kita akan menjadi motor pencapai cita-cita, kehidupan yang tidak pernah surut,”tuturnya kepada pelakubisnis.com. []Siti Ruslina
