Refleksi Venus pada Bab “Surga dan Neraka” dari “Kosmos” karya Carl Sagan
Oleh: Abrar Rizq Ramadhan
Disclaimer. Aku bukan anak astronomi atau fisika, lahir dari disiplim ilmu alam saja tidak. Jadi jelas tanggapanku bisa jadi keliru secara kaidah astrofisika. Karena tulisan ini dibuat sepintas setelah membaca bab berjudul “Surga dan Neraka” dari buku karya Carl Sagan yang berjudul Kosmos.
Dalam seperempat akhir bab tersebut, Sagan membawa kita berkenalan dengan seorang psikiatris berkebangsaan Rusia bernama Immanual Velikovsky. Velikovsky kemudian menulis sebuah buku populer berjudul Worlds in Collision yang dalam salah satu pembahasannya terdapat penjelasan asal usul planet Venus. Di buku ini ia berpendapat bahwa Venus adalah planet yang baru terbentuk—di luar skema awal pembentukan alam semesta—sebagai sebuah komet di sistem Jupiter yang bergerak melewati orbit dan beberapa kali berpapasan dengan Bumi, menyebabkan pembelahan Laut Merah oleh Nabi Musa secara tidak sengaja. Setelah pengembaraan panjang dalam ruang antarplanet, komet ini sampai di satu titik orbit yang berdekatan dengan Matahari, Bumi dan menjadi Venus.
Teori Velikovsky keliru karena teknologi dan sains modern telah membuktikan banyak hal, diantaranya adalah kandungan dalam struktur Venus yang miskin hidrogen tidak berkorelasi dengan tempat asalnya Jupiter yang keseluruhan planetnya tersusun dari hidrogen.
Para astronom keberatan dengan kemungkinan gagasan tumbukan besar yang terjadi baru-baru ini—bukti mengenai kawah tumbukan berusia tua di Venus didapat sebagian dari wahana Pioneer.
Secara budaya, masyarakat peradaban Romawi Kuno yang masih menganut paganisme, menyebut bahwa Venus adalah seorang dewi yang mewakili kecantikan dan kesuburan. Bahkan jauh sebelum itu, peninggalan prasasti Mesopotamia Kuno menyebutkan eksistensi Venus sebagai representasi keindahan.
Secara posisi, Venus termasuk planet yang berdekatan dengan planet kita sehingga sering disebut sebagai saudari Bumi. Ia lebih dekat dengan matahari sehingga suhunya pasti jauh lebih panas. Tapi, pernahkan kalian—terutama yang awam dengan dunia astronomi—bertanya mengenai posibilitas manusia untuk tinggal di Venus? Seperti apa iklimnya? Terbuat dari apa dia? Apakah ia seperti Mars yang berkawah atau bumi yang dihiasi dengan air? Sagan membantu kita memecahkan pertanyaan-pertanyaan itu.
On Venus
Venus memiliki massa, ukuran, dan kerapatan yang hampir sama dengan bumi kita. Sehingga jika dilihat dari jarak jauh, ia terlihat seperti titik pucat kuning yang bersebelahan dengan titik pucat biru. Galileo Galilei adalah orang pertama yang melihat Venus melalui teleskop. Sayang sekali di era kita, melihat benda-benda langit harus diakomodir beberapa perkakas astronomi dan tempat yang jauh dari pusat urban seperti kota—polusi cahaya dan gedung pencakar langit membuat bintang-bintang menghilang menyisakan bulan. Kalau bisa, kita pergi ke daerah pegunungan saja sekalian dan memantau langsung ke langit hitam penuh bintang. Jika kita mengobservasi Venus pada malam hari atau sore hari, kita bisa melihat warna kuning samarnya yang tampak diliputi awan tebal.
Ketiadaan yang tampak dari Venus membuat spekulasi para astronom bahwa planet ini dipenuhi dengan rawa-rawa seperti Bumi zaman Karbon. Hal itu bisa terjadi karena awan yang mengandung air menyebabkan permukaan Venus dipenuhi dengan cairan dan membentuk rawa-rawa. Penelitian lebih lanjut mengungkapkan bukti-bukti yang jauh lebih kompleks dan menggiring kita untuk percaya bahwa Venus tidak seindah yang dibayangkan. Terkadang apa yang tampak indah bisa menipu dan menyimpan “neraka” di dalamnya.
Penelitian untuk mengidentifikasi struktur Venus dilakukan dalam berbagai cara seperti menggunakan spektrum cahaya tampak atau inframerah dekat. Namun, pada 1956, Naval Research Laboratory (NRL) yang dipimpin oleh C.H. Mayer menangkap gelombang radio tinggi dari arah Venus yang mengindikasikan suhu ekstrem dari planet tersebut. Dan hal ini divalidasi oleh wahana antarika milik Uni Soviet bernama Venera yang pertama kali menembus awan tebal Venus dan mendarat di permukaannya. Hasilnya, kita semua keliru. Tidak ada rawa-rawa atau lautan, melainkan permukaan yang panas mendidih. Banyak kawah tumbukan berukuran dangkal di sekitar permukaannya. Selain itu, banyak bukit-bukit besar berpuncak rata, lembah, dan gunung berapi serta gunung setinggi Everest.
Satu hal yang selalu mengubah persepsi kita atas Venus adalah suhunya yang sangat panas diakibatkan peningkatan efek rumah kaca. Pengukuran langsung wahana antarika menyatakan suhu Venus sekitar 480°C atau 900°F. Jelas itu angka yang sangat tinggi dan panasnya mencapai tahap ekstrem. Wahana Antariksa milik Soviet dan Amerika saja—per buku Kosmos ditulis (1980)—hanya dapat bertahan selama satu jam untuk pengambilan sampel dan pemotretan di permukaan Venus. Selain itu, atmosfer Venus mengandung 96% karbon dioksida. Terdapat juga sejumlah kecil nitrogen, uap air, argon, karbon monoksida dan gas-gas lainnya hidrokarbon dan karbohidrat dengan kadar kurang dari 0,1 ppm. Tidak hanya itu, awan Venus mengandung larutan pekat asam sulfat dan sejumlah kecil asam klorida dan asam fluorida. Jika manusia biasa tanpa perlengkapan menembus awan Venus, dapat diperkirakan dampak berbahaya apa yang diterima. Kontak tipis asam sulfat ke kulit manusia bisa menyebabkan luka bakar kimia dan kerusakan jaringan permanen sebagai perbandingan.
Setelah memahami struktur permukaan dan lingkungan Venus, rasanya sangat ironis jika kita sebagai manusia menganggapnya sebagai dewi kesuburan. Suhu panas ekstrem, tekanan yang menghimpit, gas berbahaya di mana-mana, dan permukaan tak menarik dipenuhi padang dengan batuan tak berbentuk yang berserakan. Apa yang kita lihat sebagai surga, jelas dapat menipu ketika kita mengungkap adanya neraka di dalamnya. Sagan bahkan menyebut bahwa Venus adalah bencana seluas planet. Belum jika kita membahas pantulan radiasi yang dipancarkan Venus dengan spektrum cahaya inframerah.
Saudari planet kita satu ini sungguh tempat yang tidak nyaman meskipun ia memikat secara estetika dari pengamatan—ingatlah bahwa beberapa peradaban kuno menjadikan Venus sebagai dewi kesuburan dan cinta. Sedikit yang para leluhur kita tahu bahwa keindahan itu menjelma menjadi bencana andai mereka terbang untuk mengintip keindahannya dalam jarak yang dekat. Planet kita, Bumi, jauh lebih terasa seperti surga daripada Venus yang dicintai itu. Namun, bukan berarti Bumi tidak bisa menjelma menjadi neraka.
On Earth
Di bumi dan di planet-planet lain Tata Surya memiliki bukti perusakan katastrofis—kerusakan lingkungan atau malapetaka masif yang mematikan banyak organisme hidup dan berlangsung secara alamiah atau buatan. Bumi yang juga mengalami efek rumah kaca seperti Venus—atas pengaruh kandungan karbon dioksida dan uap air—bisa berpotensi mengalami peningkatan suhu seperti saudarinya itu. Sedikit efek rumah kaca adalah hal yang baik karena menjaga bumi tetap hangat. Andai saja Bumi lepas dari orbitnya dan mendekat ke matahari, karbon dioksida yang tersimpan dalam batuan kapur akan terangkat dan meningkatkan efek rumah kaca yang lebih kuat, artinya peningkatan suhu permukaan. Faktor-faktor alam seperti meletusnya gunung berapi, kebakaran hutan, atau aktivitas laut yang mengalami perubahan suhu dan sirkulasi arus juga menjadi sebab meningkatnya efek rumah kaca.
Namun, di dunia abad 21 yang sangat industrialis ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri atas potensi peningkatan rumah kaca berdasarkan sebab-sebab buatan dari tangan manusia. Sumber energi industri kita saat ini adalah bahan bakar fosil yang berupa sisa-sisa organisme purba dan mengalami proses dekomposisi tanpa oksigen menjadi minyak bumi, gas alam, dan batu bara.
Kita selalu melepaskan gas buang termasuk karbon dioksida ke atmosfer lewat aktifitas pembakaran bahan bakar ini dan menjadi sebab peningkatan efek rumah kaca. Deforestasi massif tanpa adanya praktik reboisasi menjadi penyebab tak langsung berkurangnya penyerapan karbon dioksida. Hasilnya bukanlah keteraturan (cosmos) tapi kekacauan (chaos) yang disebabkan kerakusan kita sendiri. Aktifitas industrial itu bahkan telah menodai stratosfer kita dengan tetes-tetes asam sulfat tanpa kita sadari. Sungguh kita melupakan efek jangka panjang dari keabaian atas Bumi kita sendiri.
Pemerintah masing-masing negara perlu menetapkan regulasi ketat dalam kontrol produksi industri. Selain urusan ketenagakerjaan yang juga bermasalah secara sosial, Bumi yang kita cintai ini juga dapat terdampak dan rusak secara bertahap. Tentu kita tidak ingin tempat tinggal kita berubah menjadi Venus yang tampak indah dari luar, tapi menyiksa di dalam.
Bumi adalah planet yang sangat cocok untuk kita—Venus terlalu panas, Mars terlalu dingin—dan evolusi manusia telah membuktikan proses adaptasi panjang dari seleksi alam yang kita lalui secara lambat. Maka sebaiknya tugas kita di dunia ini juga menjaga kebersihan dan kenyamanan si “titik biru pucat”. Perlu lah timbul kesadaran bagi masyarakat awam kalau eksistensi kita di bumi adalah beberapa persentasi kecil dari keseluruhan miliaran tahun evolusi yang panjang. Bumi kita telah hidup selama 4.6 miliar tahun dan melewati pelbagai bencana—benturan komet, kerusakan katastrofis, dll. Maka bukankah seharusnya kita berutang budi?
Kesadaran lingkungan nyatanya masih di tahap yang mengkhawatirkan dan perlunya penyuluhan intensif sejak dini soal perawatan lingkungan. Hadirnya teknologi di era postmodern ini jangan digunakan sebagai pengganti kerja manusia. Gunakanlah sebagai pembantuk yang dapat mengolah pemikiran kita menuju tingkat kesadaran tertinggi yang diantaranya sadar bahwa kita hanya berdiri di tepi lautan kosmik. Juga sadar bahwa hukum kausalitas berlaku di dunia ini.
Jika kita abai, bumi akan semakin rusak, dan surga yang kita tempati bisa beralih menjadi neraka. Sagan mencoba memperingatkan hal ini kepada kita di pengujung bab dalam buku Kosmos tersebut. Venus adalah sample yang mengerikan jika kita masih saja mengotori lingkungan dan terus melepaskan karbon dioksida ke atmosfer. Dan itu hanya contoh kecil dari banyaknya pengrusakan lingkungan yang terjadi secara massif di Bumi ini.[]foto iustrasi: wikipedia
*Penulis adalah alumnus UNNES, Jurusan Ilmu Sejarah
